Istri Simpanan Artis

Istri Simpanan Artis
ketakutan yang berlebihan


__ADS_3

"Ya ampun, kamu kok bisa seperti ini sih?"


Kirana masuk keruangan Hugo sembari menghampiri anaknya dengan wajah yang sangat cemas. Ia membuka kaca mata hitamnya dan menggantungnya di kancing bajunya paling atas. Di belakang perempuan itu ada seorang pria yang mungkin tiga tahun umurnya di atas Hugo. Pria itu memakai kaos yang berlengan pendek, lengannya di gulung keatas menampilkan tatonya yang memenuhi bahunya kiri kanan dan di lehernya menjuntai kalung rantai putih.


Sudah dua hari Hugo disana dan baru hari ini Kirana datang kesana. Katanya ia sedang liburan di luar kota. Perempuan itu memeluk anaknya lama sekali.


"Udah ma, sesak ni.." Hugo meminta mamanya melepaskan pelukan.


"Mama sangat cemas tau"


"Aku gak apa-apa"


"Kenapa bisa kecelaaan sih?"


"Mobilnya ngungsep masuk jurang"


"Ya ampun untung kamu selamat"


"Ya ma, masih untung kalau gak udah di kubur kalii"


"Kamu ini ngomongnya, kalau kamu meninggal mama sama siapa?'


"Biasanya mama sama siapa?"


Kirana diam karena merasa bersalah. Ia jarang bertemu Hugo sekali ketemu pasti untuk membahas uang.


"Trus, sekarang bagaimana keadaan kamu?"


"Udah mendingan"


Kirana melihat ke sebelah Hugo disana ada Mey bersama Adyaka. Wajah perempuan itu berubah sinis melihat dua orang itu.


"Kok kamu ada disini?" tanyanya sama Mey.


"Mau dia dimana ya terserah dia" jawab Adyaka membela Mey.


"Diakan sudah cerai sama Hugo dan kamu sudah cerai dengan Vivian" ujar Kirana blak-blakan.


"Hubungannya sama kamu apa?"


"Ya karena dia itu dekat-dekat sama anakku lagi"


"Memangnya yang punya anak kamu saja"


"Ma, pa sudah! aku pusing" lerai Hugo pada kedua orang itu. Kadang Hugo bingung mengapa ia bisa ada di antara kedua orang yang selalu ribut itu.


"Oh ya Hugo kenalkan ini Stev teman mama, dan Stev ini putraku" Kirana saling mengenalkan dua orang itu. Pria yang bernama Stev itu mengulurkan tangan pada Hugo tapi Hugo tidak membalasnya dengan alasan tangannya sakit.

__ADS_1


"Aku permisi keluar sebentar " pamit Mey dan bangkit dari kursinya tapi baru saja ia beranjak Hugo sudah bangun ingin ikut dengannya seperti anak kecil padahal jalan saja menggunakan kruk.


"Aku gak jadi pergi" ujar Mey kembali duduk. Wajahnya kesal pada Hugo karena tidak membiarkan dirinya pergi sebentar pun dari sana.


"Jangan pasang wajah seperti itu dong, lagi sakit nih" Hugo mengeluarkan jurus andalannya, memelas.


Mey memeriksa ponselnya tidak ada panggilan maupun pesan dari dokter Surya. Notifnya kosong padahal ia yakin jika makanan yang di bawakan oleh pekerja rumah sakit tadi adalah dari dokter itu.


Kirana mengasih perhatiannya pada Hugo dengan bertanya banyak hal mulai dari makan, makan obat dan istirahat. Perhatiannya wajar sebagai seorang ibu tapi kadang yang bikin kesal adalah tingkah mamanya yang kelewat batas seperti saat ini masa membawa pria yang jauh lebih muda untuk di perlihatkan padanya.


"Kamu kenapa gelisah Mey?" tanya Adyaka pada Mey karena memutar ponselnya dengan wajah penuh rasa bersalah.


"Aku bingung harus bagaimana"


"Papa ngerti Mey tapi kamu harus ikuti kata hati kamu, kamu harus menyelesaikan satu di antara dua"


Telinga Hugo langsung berdiri mendengar percakapan Mey dan papanya. Pasti membicarakan dirinya dan dokter itu. Mengapa dirinya di jadikan pilihan sih, harusnya dia di posisi satu-satunya. Huft, dokter kampret mengapa datang ke kehidupan rumah tangganya. Kikan juga kampret karena mengaku mengandung anaknya dan dirinya..... juga kampret karena bodoh.


"Mey, kalau kamu pergi mendingan aku mati deh"


"Seperti anak kecil" balas Mey kesal.


"Ya udah, kalau gak peduli, pergi saja sana" Hugo bangkit dari tempat tidur nya di bantu Kirana tapi dia menolak.


"Kamu mau kemana sih?" tanya mamanya itu.


"Aku bantuin" Mey menawarkan bantuan mengasihkan kruk ke Hugo tapi pria itu membantingnya ke lantai. Suasana hening sejenak. Adyaka dan Kirana juga terdiam karena drama anak mereka.


"Kalau mau pergi, pergi sama Mey! jangan pedulikan aku! kamu pergilah!!" suara Hugo serak karena sedih. Mey mematung di depan Hugo.


"Pada akhirnya kamu akan pergi juga meninggalkan aku kan? kamu hanya mengasih harapan sama aku Mey"


Mey mengambil kruk Hugo dan mengasihkannya pada pria itu.


"Kalau kamu mau jalan-jalan aku temani"


Hugo tertawa sinis tapi air matanya mulai merembes "setelah itu?"


"Aku harus pergi"


Hugo makin meradang mendengar Mey ingin pergi. Ia benar-benar lemas dengan hal itu.


"Kamu mau meninggalkan aku?" tanya Hugo meringis. Rasanya segala daya upayanya sudah habis ia tidak tau harus ngapain.


"Kamu ingin ikut?"


"Melihat kamu menikah?"

__ADS_1


Adyaka memegang bahu anaknya lembut "kasih Mey nafas ia butuh waktu untuk berpikir"


"Kenapa mencinta sesakit ini sih pa?"


"Yang sakit itu kamu, sekarang kamu tau kan rasanya perjuangan itu" Adyaksa heran anaknya sudah jadi bapak tapi bodohnya kelewatan.


"Anaknya bukan di bela malah di gituin " celetuk Kirana sambil melihat Mey dengan sudut matanya. Mey lagi, Mey lagi. Kenapa anaknya gak bisa move on dari Mey? anaknya bukan semakin waras malah makin parah.


"Ini masalah mereka gak ada pembelaaan di dalamnya" ujar Adyaka 'kamu juga, lebih baik kamu bawa pacar kamu sana"


"Iri saja sama aku"


"Pa, tante..ini rumah sakit" Mey mengingatkan.


Kirana melihat Adyaka dengan sinis setelah itu ia pamit pada Hugo dan mengajak pria yang bernama Stev itu untuk pergi. Setelah itu Adyaka juga pamit pergi keluar dan tinggallah Hugo dan Mey disana.


"Mengapa kamu ngambek seperti anak kecil sih?" tanya Mey pada Hugo "tuh semua jadi pada pergi kan?"


"Aku juga mau pergi" Hugo meraih kruknya.


"Kemana?"


"Bunuh diri"


"Ngebet bangat ini mati"


"Iyalah"


"Sana mati"


"Jadi beneran kamu pengen aku mati!!!" mata Hugo berkaca-kaca.


"Kamu juga pengen mati, kamu tau gak sih bagaimana rasanya menunggui kamu tergeletak disini? aku juga mau mati tau gak? tapi sekarang kamu seenaknya bilang pengen mati tanpa di pikir dulu!"


Hugo terdiam tapi air matanya merembes lagi "Aku berlebihan ya Mey?"


"Iya, kamu jadi cengeng" Mey sendiri juga menghapus air matanya.


"Melihat kamu saja bersamanya aku cemburu Mey apalagi melihat kamu menikah dengannya, aku bisa mati"


"Aku kan sudah bilang aku cinta sama kamu"


"Aku juga"


"Tapi kenapa kamu tidak bisa percaya sama aku?"


"Aku takut Mey, kamu pergi lagi"

__ADS_1


__ADS_2