
Keluarga itu pecah untuk kedua kalinya dan penyebabnya hanya satu, Hugo ingin pergi darisana lalu orang tua yang berjuang setengah mati mengumpulkan kekayaan itu menjadi sedih karena hari tuanya yang sudah diimpikan sejak dulu tidak jadi kenyataan. Adyatama bermimpi jika ia sudah tua dan kaya raya ia akan berkumpul dengan anak cucunya di rumahnya yang besar lalu mereka akan sarapan bersama dan makan malam bersama dengan keluarganya itu.
Alasan Adyatama memang klasik ia sedih jika tidak bersama cucunya itu. Cucu pertama yang dulu sering kencing saat di gendongannya. Cucu yang selalu menjadi alasan baginya untuk selalu bahagia. Dulu ia pergi karena Hugo pergi di bawa Kirana dan cucunya itu ibarat di jual oleh perempuan itu demi pundi-pundinya sendiri.
Dua anak Adyatama membujuk untuk jangan pergi lagi karena rasanya tidak mungkin mereka juga pindah kenegri sakura tersebut tapi Adyatama tetap kukuh tidak mau disana lagi sampai akhirnya Hugo turun tangan dan menarik tangan kakeknya tersebut padahal sudah akan pergi dan kawal oleh lima orang pengawalnya. Helikopter pribadinya pun sudah disiapkan untuk berangkat malam itu juga.
"Rumah kakek disana sudah aku jual" beritahu Hugo santai coba itu kata Adyaka atau Adyaksa sudah tau pasti saat itu juga Adyatama langsung mengutuk mereka jadi batu.
"Aku bisa pindah ke Singapura, tinggal di hotel disana"
"Hotel disana di pegang oleh paman Adyaksa, kakek tidak tau kejamnya paman? dia bisa buat kakek bangkrut, lebih baik kakek disini saja, aku juga sudah menjual apartement aku kok"
"Maksud kamu apa???"
"Kakek di sini saja, jangan pergi"
Adyaksa dan Adyaka kesal pada Hugo melarang pergi pakai acara berbelit-belit tapi yang namanya sayang apapun yang dibilangnya pasti akan menurut.
"Kamu benar ya? sudah menjual apartement kamu?" tanya Adyatama bertanya ulang.
"sudah, kita barengan jualnya ya kek, kakek jual rumah aku jual apertement setelah itu kita mancing pakai yach selama sebulan"
"Kapan itu?" tanya Adyatama antusias.
"Secepatnya"
Hanya itu? Adyaksa dan Adyaka kesal padahal mereka telah membujuk papanya itu dengan lemah lembut dan berbagai cara tapi tidak berhasil, giliran Hugo langsung mau. Adyatama membatalkan perjalanan saat itu juga dan ia berjalan bersama Hugo masuk rumah.
"Kamu sudah seleisakan masalah kamu dengan Kikan?" tanya Adyatama.
"Sudah"
__ADS_1
"Dia hamil cicit aku kan?"
"Kakek meminta orang untuk mencari siapa itu Kikan lalu kakek bertanya padaku?"
"Siapa tau kamu masih bodoh, oh ya kamu memang bodoh! kamu menceraikan Mey"
"Dia dan aku butuh waktu kek, Mey banyak menderita karena aku"
"Makanya bahagian dia"
"Sudah terlambat kek''
"Yang kepalanya di tabok dan di usir malam kemaren siapa?"
Hugo kesal itu yang cerita pasti Vino, awas saja dia.
Ia mengantarkan Adyatama sampai ke kamarnya paling ujung mansion itu. Kamar ukuran delapan kali delapan itu bisa berganti walpaper sesuai dengan tema yang didinginkan dan juga bisa melihat lepas ke kebun buah keluarga yang berada belakang mansion.
"Bawa Alfi pulang"
"Aku sudah berjanji pada Mey untuk tidak membawa Alfi"
"Dengan kamu Alfi akan tercukupi"
"Tidak dengan kasih sayang kek, aku tidak pintar merawat Alfi seperti Mey merawatnya"
***
Lepas dari kamar Adyatama, Hugo jalan pintas ke belakang mansion agar segera sampai dimana gedung kamarnya berada. Desau angin dan bunyi air mancur dari kolam memecah hening. Ia mencoba menghirup udara sedalam-dalamnya untuk mengurangi sesak yang dirasa.
Rasanya sangat kosong tanpa Mey dan Alfi, sedang apa mereka sekarang? apakah mereka tidur nyenyak tanpa dirinya. Apakah Mey masih menangis seperti malam kemaren seperti saat di kereta?
__ADS_1
Suara isak tangis menghentikan langkah Hugo dan mencari sumber suara itu. Ternyata berasal dari belakang pokok cemara tidak jauh darinya. Disana ada sebuah bayangan seorang perempuan yang sedang tersedu-sedu sambil memegang botol ditangannya.
"Maafkan mama yang tidak bisa mempertahankan kamu, kamu tidak akan sanggup melihat dunia ini, dunia ini sangat kejam lebih baik kita jangan tinggal di sini lagi, kita pergi bersama-sama"
Perempuan itu mengelus perutnya lalu kemudian membuka tutup botol dan menenggaknya tapi dengan cepat Hugo menyingkikan botol itu.
"Minuman apa ini?" Hugo melihat kemasan botol di sana terdapat gambar tengkorak.
"Kamu mau minum racun, Kikan? kalau mau mati jangan kayak gini, rugi!" Hugo menyingkirkan botol itu dari Kikan "kau tau? akibat perbuatan kamu aku rasanya juga ingin melakukan hal yang sama, kau dengar!!!!"
Hugo melemparkan botol itu ke pohon cemara di depannya hingga botol itu berkeping.
"Kamu membohongi aku hingga aku mengambil keputusan yang salah, kau kira mudah bagiku berpisah dengan Mey dan anakku? kamu mengatakan bahwa di adalah anakku ternyata dia sudah ada sebelum kamu datang kenegara ini"
Kikan terisak tanpa bangkit dari duduknya direrumputan.
"Aku tidak menyangka Kikan, kamu seperti ini padaku, kamu kira bisa kisah itu berulang tanpa ada sisa cinta?" Hugo bertanya dengan marah sambil menunjuk Kikan.
"Aku harus bagaimana? katakan padaku? aku adalah korban dari kejahatan, aku di jual oleh papaku waktu di Belanda untuk membayar hutangnya pada rentenir, dan anak ini adalah anak laki-laki bajingan yang membeli aku yang kemudian aku bunuh"
Kikan bangkit dari duduknya sambil terus menangis "aku berharap anak ini mempunyai keluarga sebelum aku di penjara makanya aku memilih kamu karena kamu adalah orang yang tepat tapi ternyata egoku terlalu rakus yang kemudian ingin memiliki kamu, aku cemburu pada Mey dan pada setiap perempuan yang kamu dekati"
Kikan menghapus air matanya "aku minta maaf"
"Hobi kamu Kikan, minta maaf setelah semuanya hancur"
***
Mulai malam itu keesokan harinya Kikan berubah tidak ceria lagi dan ia juga jarang keluar dari kamarnya. Sementara itu keluarga Vivian, mamanya tidak sedang baik-baik saja. Mereka sering terlibat perang dingin. Akhirnya Vivian juga sama seperti Kikan, jarang berkumpul bersama di meja makan.
Sedangkan Hugo menyibukkan diri dengan stars entertainment pergi pagi pulang malam bersama Vino yang juga tinggal di mess mansion itu bersama para pelayan disana. Bagi Vino tidak ada bedanya tinggal disana maupun di apartement karena semua falisitas di sana di cukupi. Tapi wajahnya tidak kalah murungnya sama seperti Hugo karena tidak ada Alfi yang di kasuhnya.
__ADS_1
Satu minggu Hugo tidak bertatap sapa dengan Kikan pada suatu sore ia berpapasan dengan Kikan di dekat lorong mess. Wajah perempuan itu sangat pucat jauh beda dari Kikan yang biasanya.