
Hari ini Syafa sedang duduk depan rumah nya, dia duduk sendiri sambil memegang perutnya.
Para tetangga masih ada juga yang julit dengan kehamilan Syafa,bahkan Suara sering dengar kalau dia hamil anak haram. Syafa hanya bisa diam, membela diri pun dia tidak mampu karena tidak ada buku nikah untuk membungkam mulut mereka.
" Syafa kamu sebentar lagi lahiran kan. katanya kamu punya suami,tapi kita belum pernah lihat dia datang kemari ya.. " ucap Bu Ani
"Ibu" saya memang sudah menikah tetapi saya sudah bercerai.saya tidak tau sedang hamil ketika suami saya menceraikan saya.. " ucap Syafa
" Kalau kamu pernah menikah, lalu di mana buku nikah kalian. kata Bu Rt kok kamu ngga punya buku nikah ya.. " ucap Bu sukma
" Saya nikah siri ibu", jadi saya tidak punya buku nikah.. " ucap Syafa
" Mungkin jadi istri simpanan kamu ya, jadi dinikahi siri.mungkin suaminya takut sama istri pertama kali ibu " ... ucap Bu Ani tertawa
Mereka menertawakan kehamilan Syafa.Syafa yang tidak kuat mendengarnya, dia masuk ke rumah dan pergi kamar.
Syafa menangis sambil mengelus perutnya
" Sayang jangan dengarkan omongan ibu" tadi ya, kamu bukan anak haram. kamu punya ayah... " ucap Syafa meneteskan air mata
Bayinya menendang perut Syafa, seakan memberi jawaban atas perkataan ibunya.
Syafa yang merasakan tendangan bayinya, dua tersenyum bahagia karena bayinya aktif di dalam perutnya
Sedangkan Galang masih terus mencari keberadaan Syafa.dia hampir putus asa karena sudah beberapa bulan mencari,tetapi sampai sekarang tidak juga di temukan.
Syafa habis melaksanakan sholat duhur, tapi tiba" perutnya merasakan sakit. Dia menahan sakitnya, mungkin hanya kram pikirnya. Tetapi lama kelamaan sakitnya semakin terasa
" Nek.. nenek, tolong aku nek. perutku sakit.. " ucap Syafa memegangi perutnya
Nenek Siti yang habis mencari kayu bakar, beliau masuk ke kamar Syafa.
" Ya Alloh nduk... kamu kenapa?.. "ucap Nenek panik
" Perutku sakit nek.. " ucap Syafa
" Mungkin kamu mau melahirkan Nduk, ayo kita ke puskesmas... " ucap Nenek
Syafa berjalan keluar,dan Nenek Siti minta tolong ke tetangga untuk mengantar mereka ke puskesmas.
Anak Bu Tuti mengantarkan mereka ke Puskesmas dengan motor,
Bu Tuti kasihan melihat Syafa yang kesakitan,tapi tidak ada yang mau mengantarkan nya.akhirnya dia menyuruh anak laki" nya untuk mengantarkan Syafa dan neneknya ke puskesmas.
Di puskesmas Syafa di bawa ke ruang bersalin, kebetulan di sana banyak dokter yang sedang bertugas. Salah satu dari dokter tersebut ternyata mengenali Syafa.
" Syafa.. bukankah dia Syafa.. " ucap Wildan
Dia berlari ikut masuk ke ruangan,saat melihat Syafa yang di bawa masuk oleh suster.
Syafa sudah berada di ranjang pasien, dia terus merasa kesakitan.
Neneknya ikut mendampingi Syafa ke ruang bersalin.
Salah satu suster berbicara dengan nenek Siti
" Nek.. suami dari Ibu Syafa mana ya... " ucap Suster
__ADS_1
" Maaf suster,suaminya berada di luar kota.. " ucap Nenek
" Ooh ya sudah kalau begitu, nenek urus dulu persyaratannya ya di kasir.. " ucap Suster
Syafa meneteskan air mata, dia merasakan sakit berjuang sendiri di saat mau melahirkan.
" Ya Alloh kuatkan aku dan anakku.. " ucap Syafa dalam hati
Wildan mendekati Syafa, kebetulan dia juga dokter kandungan. Dia akan membantu dokter lain yang sedang menangani Syafa
" Dokter Wildan, tolong anda beri kekuatan pada pasien... " ucap Dokter Dina
Wildan berjalan mendekati Syafa, dia memegang tangan Syafa untuk memberikan kekuatan. Wildan yang melihat Syafa kesakitan, dia tidak tega.apalagi dia berjuang sendirian.
" Ayo Bu, tarik nafas lalu keluarkan... " ucap Dokter Dina
Syafa meremas tangan Wildan, dia mengejan sekuat tenaga.Wildan juga terus memberikan kekuatan pada Syafa.
" Kasihan sekali kamu Syafa,harus berjuang sendiri. kamu bertaruh nyawa, dan tidak ada yang mendampingi kamu.. " ucap Wildan dalam hati
" Huh... huh... Aaaakkkkhhh..." Syafa menarik napas dalam" dan berteriak saat bayinya berhasil keluar
Oe... oe... oe... suara bayi Syafa
" Alhamdulillah selamat ya Bu Syafa,bayi ibu perempuan dan cantik.. " ucap Dokter Dina
Syafa memejamkan matanya sejenak, dia meneteskan air mata
" Alhamdulillah Ya Alloh. aku berhasil melahirkan putri kecilku. aku akan berjuang demi anakku.. " ucap Syafa dalam hati
" Syafa... " ucap Wildan
Deg.. Syafa melihat siapa yang memanggilnya
" Kamu, bukankah kamu Pak Wildan. yang dulu menolongku.. " ucap Syafa
" Iya, aku yang dulu mengantarkan kamu pulang.. " ucap Wildan
Pada saat mereka mengobrol, tiba" suster datang memberikan bayi nya pada Syafa.
" Maaf Bu, ini bayinya silahkan di adzani dulu.. " ucap Suster
Syafa membopong Putrinya, dia memandangi dan mengelus wajah putrinya yang masih merah.
" Syafa kalau boleh izinkan aku untuk mengadzani putrimu... " ucap Wildan
Syafa menatap wajah Wildan, sebenarnya dia tidak ingin merepotkan orang lain. tetapi putrinya juga harus di adzani
Wildan yang mengerti maksud Syafa, dia berkata pada Syafa
" Aku ikhlas, bukankah tidak ayah putrimu jauh?... " ucap Wildan
Syafa menganggukkan kepalanya, dan memberikan putrinya pada Wildan.
Pada saat Wildan mengadzani putrinya, Syafa meneteskan air mata. dia merasa gagal menjadi seorang ibu.dia sangat merasa bersalah pada putrinya.
"Putriku maafkan ibu nak, Ibu tidak bisa menghadirkan ayahmu di sisimu... " ucap Syafa
__ADS_1
Nenek Siti masuk dan langsung mendekati Syafa dan putrinya
"Nduk, Alhamdulillah kamu sudah melahirkan.Biaya puskesmas masih kurang banyak nduk, bagaimana ini.. " ucap Nenek
Wildan yang mendengar pembicaraan Mereka menjadi kasihan.
" Syafa, nek.. kalian ngga usah khawatir. aku akan bantu kalian membayar semua biaya di sini.. " ucap Wildan
" Tapi Pak aku tidak mau merepotkan kamu terus.. " ucap Syafa
" Syafa, kamu sama sekali tidak merepotkan aku. malah aku senang bisa bantu kamu.. " ucap Wildan
Kini Wildan membayar semua biaya puskesmas, dan dia juga membelikan perlengkapan bayi buat putri Syafa. karena Wildan melihat hanya beberapa potong baju dan kain saja bahkan itu mungkin bekas dari tetangga.
"Pak Wildan terimakasih kamu sudah banyak membantuku.. " ucap Syafa
" Tidak apa" santai saja. aku antar kamu pulang ya.. " ucap Wildan
Memang Syafa sudah boleh pulang karena dia dan putrinya sehat.
Kini Syafa di antar pulang oleh Wildan, Wildan bertanya tentang Syafa.
" Fa kalau boleh tau, suami kamu kerja di mana?.. " ucap Wildan
" Aku sudah bercerai Pak,aku dinikahi secara siri dan suamiku tidak pernah menemui ku.aku di cerai saat aku sedang hamil muda. dan aku terpaksa kembali ke desa.. " ucap Syafa
" Jadi kamu menikah siri, dan sekarang sudah bercerai.. " ucap Wildan kaget
Syafa menganggukkan kepalanya, Wildan merasa iba pada Syafa.
Kini Syafa sudah sampai di rumah. Wildan yang melihat rumah nenek Siti menjadi sangat iba,dia melihat sekeliling.dia tidak bisa membayangkan kalau hujan pasti banyak yang bocor, dan rumahnya hampir roboh
" Ya ampun kasihan sekali mereka,rumah yang hampir roboh dan pasti kalau hujan banyak bocor di mana".. " ucap Wildan dalam hati
" Maaf den,rumah nenek jelek dan tidak bagus.." ucap Nenek
" Iya Nek, ngga apa ".. " ucap Wildan
Syafa menaruh bayinya di kasur usang miliknya. Wildan tambah tidak tega dengan keadaan Syafa dan bayinya
" Syafa apa tidak apa" putrimu di tidurkan di situ.. " ucap Wildan
" Tidak apa" Pak. lagian ini juga sudah lebih baik dari pada tidur di bawah.. " ucap Syafa
" Fa ngomong" jangan panggil Pak dong, lagian kita kan paling beda satu atau dua tahun.. " ucap Wildan
" Tapi Pak, rasanya aku tidak pantas, jika harus memanggil dengan sebutan nama. " ucap Syafa
" Pokoknya aku tidak mau kamu panggil aku Pak.Panggil Mas juga ngga apa "... " ucap Wildan tersenyum
" Baiklah Mas.. " ucap Syafa
" Ya sudah aku pamit pulang dulu karena sudah sore, besok aku kesini lagi.. " ucap Wildan
" Iya hati" dan sekali lagi Terima kasih atas bantuan Mas Wildan pada kami.. " ucap Syafa
Wildan menganggukkan kepalanya, dan dia pergi dari rumah Nenek Siti
__ADS_1