Istriku Ternyata Seorang CEO

Istriku Ternyata Seorang CEO
Saudara angkat


__ADS_3

Keesokan paginya…


Seperti biasa Ara akan mengantarkan ibu glaudi ke rumah sakit. Pada saat lampu merah Ara menoleh ke arah ibu glaudi yang menggendong babby Al.


"Bu bi sitay kan…"


"Bi Siti raa" sela ibu glaudi.


"Sama aja,,bi Siti kan pulang kampung,,gimana klo de Al di asuh sama aku dulu Bu,,ibu fokus rawat ayah ajaa" usul Ara.


"Memangnya kamu tak repot?" tanya ibu glaudi.


Ara pun menggeleng dan menginjak pedal gas karena sudah lampu hijau. "Tidak bund,,tenang saja amaan" ucap Ara sambil fokus menyetir.


"Ya sudah,,tapi jangan sampai lecet yaa" ujar ibu glaudi menyetujui nya.


Ara pun tersenyum dan membelokkan mobilnya ke parkiran rumah sakit. Mereka bertiga pun langsung menuju ke ruangan ayah arka.


"Assalamualaikum" salam Ara dan ibu glaudi serempak.


"Waalaikumsalam" sahut Axel. Sedangkan ayah arka tidak berbicara karena struknya.


Ara dan ibu glaudi pun langsung menyalami ayah arka. Setelah itu Ara mengambil alih babby Al karena ibu glaudi akan menyuapi ayah arka.


"Kalian tidak ke kantor?" tanya ibu glaudi saat menyuapi ayah arka.


"Iya Bu ini mau ke kantor kok" ujar Ara. Sedangkan Axel hanya mengangguk setuju dengan ucapan Ara.


"Kami pergi dulu ya Bu,, assalamualaikum" pamit Axel sambil menyalami mertuanya. Ara pun melakukan hal itu sambil menggendong babby Al.


Mereka berdua berjalan di koridor rumah sakit menuju parkiran mobil rumah sakit.


"Kok baby Al nya di bawa?" tanya Axel saat menyadari sedari tadi Ara terus menggendong babby Al.


"Bi Siti pulang kampung,,klo tinggal di rumah sakit sama ibu kan repot mending ma aku" jawab Ara santai sambil bermain bersama adik angkatnya itu.


"Emang nya kamu ga repot?" tanya Axel kembali. Axel merasa Ara akan kesusahan bilang mengurus babby Al sambil bekerja.


Ara pun menggelengkan kepalanya. "Nggak kok,,malahan seneng. Lagi pula hari ini Aiden bakal ke perusahaan ku jadi ada yang bantuin deh" jelas Ara.


"Siapa aiden?" tanya Axel mengintimidasi Ara.

__ADS_1


"Temen di Amerika,, sama-sama seangkatan dulu waktu kuliah.. Ya bisa di bilang dia satu-satunya temen laki-laki ku" jelas Ara yang membuat Axel terbakar api cemburu dan mengeluarkan aura menyeramkan miliknya.


Ara yang merasakan aura itu pun tersenyum. "Sloww Aiden sama aku udah kek adik kakak kok,,ga usah cemburu deh" ujar Ara membuat kecemburuan Axel mereda.


"ohh,,ya udah sana turun aku mau berangkat ke perusahaan Anata nih" usir Axel secara halus karena mereka telah sampai di depan perusahaan Leonard.


"Aku kerja dulu yaa suamiku,, assalamualaikum" pamit Ara sambil menyalami Axel dan keluar dari mobil tersebut sambil membawa tas milik babby Al.


Sesampainya di pintu masuk salah satu satpam disana meminta izin untuk membawakan tas babby Al dan Ara pun menyetujuinya karena dia kerepotan membawa tas itu.


Sesampainya di ruangan milik ayah arka. Ara langsung mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


"Ke perusahaan Leonard sekarang" titah Ara sambil menutup sambungan itu.


Beberapa menit kemudian asri pun datang dengan nafas terengah-engah.


"Ada apa Bu bos?" tanya asri.


"Jaga babby Al sebentar sampai Aiden datang" titah Ara yang langsung duduk di kursi kebesaran milik perusahaan Leonard.


Jari Ara pun dengan lihai berselancar di atas keyboard itu. Sampai beberapa saat kemudian kegiatannya terhenti karena kedatangan Aiden.


Dengan senang hati Ara menerimanya. "Main sama Al dulu,,ntar klo gue dah selesai kita ngobrol okeh" ucap Ara dengan jari yang berbentuk Ok..


Aiden pun mengangguk dan bermain dengan bayi usia 4 bulan itu. Sering kali Aiden membuat bayi itu menangis sehingga asri kelimpungan dibuatnya.


"Aiden jangan bikin nangis babby Al nya" pekik Ara ketika babby Al menangis kesekian kalinya.


"Sorry habis nya dia gemes kek lu,,andai lu kagak punya suami udah gua ambil keknya" ujar Aiden.


"Hmm terserah" ketus Ara dan kembali fokus pada laptopnya.


Beberapa menit kemudian Ara telah selesai dengan pekerjaannya dan duduk di karpet berbulu bersama Aiden dan asri.


"Apa lu udah tau tentang Aulia?" tanya Aiden. Aiden memang kenal dengan Aulia karena gadis itu selalu menelpon Ara dan memanggilnya dengan sebutan Buna.


"Udah,,aula itu anak nya ayah arka yang di nyatakan meninggal beberapa tahun yang lalu kan?" tebak Ara.


Aiden pun mengangguk karena yang di ucapkan Ara memang benar. "Apa ibu dan ayah lu ga tau?" tanya Aiden kembali.


"Belum waktunya den,,lu ga tau yang nyulik aula waktu bayi itu seorang ketua mafia" jelas Ara.

__ADS_1


"Iya juga sih,,terus rencana lu gimana? masa mau diem terus. Kagak kasian apa sama aula and orang tua lu? kan mereka juga perlu tau siapa anaknya. Ya kali ntar si anak manja itu bakal terus nguntilin elu sambil manggil lu pake sebuatan buna" cerocos Aiden yang membuat ara mendadak pusing.


"Nak jika sudah lahir jangan kayak uncle Aiden yaa" gumam Ara sambil mengelus perutnya yang sudah nampak membuncit.


"Eh mending kek uncle Aiden aja ganteng tampan dan pinter lagi,, ga kayak ibu mu itu tuh yang otaknya kadang gesrek" seloroh Aiden yang membuat Ara mendengus kesal.


"Gini ya den,,pertama gue ga mau bikin Ara terluka.. Seperti yang lu tau kan klo ayah angkatnya si Aulia itu seorang mafia. Dan yang kedua lu juga tau gimana kondisi ayah arka sekarang,,gue ga mau dia drop den" jelas Ara.


"Ohh gitu,,ngomong kek dari tadi biar gue ngerti kenapa lu ga mau ngasih tau tentang Aulia yang sebenernya" ucap Aiden.


"Tapi elu dah pasti dia saudara angkat elu?" sambung Aiden kembali yang masih penasaran.


"Yakin lah orang gue yang nyelidikin" ucap Ara.


"Tapi elu jangan cerita sama siapa-siapa dulu yee" sambung Ara.


"siap boss" ucap Aiden sambil meletakkan tangan nya di kepala sebagai tanda hormat.


Ara pun terkekeh geli dengan tingkah Aiden. "Sorry gue bukan bendera yang harus lu hormatin" celetuk Ara.


"Hahaha iya tapi elu kan ibu negara gue,,apa pun perintah dari elu gue berusaha turutin" balas Aiden.


"Beneran yaa turutin" tantang Ara.


Aiden pun merasakan firasat buruk karena perkataan nya tadi. "i-iya emang lu mau apa?" tanya Aiden.


"Lu harus jadi suaminya……" ucap Ara yang sengaja di gantung supaya Aiden penasaran.


"Siapa?" tanya Aiden yang sudah penasaran.


"Suaminya mbak kunti,,ga boleh ada penolakan" tegas Ara. Aiden pun langsung membulatkan matanya dan menatap tajam pada Ara.


Aiden langsung menyentuh kening Ara,,tanpa Aiden sadari pawangnya Ara sudah berada tepat di belakang mereka.


"Harap kondisikan tangan mu atau akan terlepas dari tubuh mu" ucap seseorang dengan aura dingin nan menyeramkan miliknya.


'Omg pawangnya datang' batin Aiden menjerit ketakutan dengan aura milik Axel. Sedangkan Ara hanya terkekeh geli melihat wajah tegang Aiden.


...----------------...


Jangan lupa like dan komen nya yaa.. Dede tunggu dukungan dari kalian para readers.. Sampai jumpa lagi di episode selanjutnya. i love you para readers ❤️

__ADS_1


__ADS_2