Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Orang seperti Mereka


__ADS_3

Farel tidak mau berputus asa, meskipun air mata sudah mulai membasahi pipinya. Ya, dia tidak kuasa lagi menahan rasa sakit hati akibat kelakuan Thalia and the geng. Sebenarnya apa kesalahannya hingga mereka bersikap buruk padanya. Apa karena penampilannya? Atau karena dirinya yang merupakan penerima subsidi bayaran sekolah? Atau karena apa?


Kenapa mereka menyalahkan kesalahan Thalia pada dirinya? Kenapa ia harus tunduk pada mereka? Kenapa apapun yang dia lakukan semuanya salah dan kenapa mereka harus menyiksa dirinya? Apakah diri mereka yang sempurna tidak cukup sampai harus menindas orang kecil seperti Farel?


Namun langkah kaki remaja itu berhenti ketika ia sampai di tempat pembuangan sampah terakhir. Ia melihat petugas kebersihan sedang memilah-milah sampah dan kebingungan dengan sebuah tas berwarna hitam di sana. Farel langsung bisa mengenali tas berwarna hitam dengan bahan poly ester itu. Siswa SMP itu pun segera menghampiri Sang Petugas Kebersihan.


"Pak, boleh saya lihat tas itu!" seru Farel spontan. Air matanya langsung surna begitu saja ketika melihat tas itu. Setidaknya ia tidak kehilangan barangnya, palingan hanya kotor. Jika bukunya rusak, ia bisa menyalinnya di buku lain.


"Ini, dek?" Sang Petugas Kebersihan langsung memberikan tas itu pada Farel. Tanpa menunggu, Farel segera memeriksa isinya. Ia pun bisa bernapas lega ketika menemukan semua bukunya di sana. Namun tasnya memang agak bau karena tercampur dengan sampah basah.


"Itu punya adek?" tanya Sang Petugas. Farel pun mengangguk cepat sambil tersenyum semringah.


"Iya, makasih, ya Pak ..." ujar Farel gembira.


Sang Petugas Kebersihan hanya mengernyitkan dahinya.


"Kok bisa, sih, tas adek ada di tempat sampah?" tanya Sang Petugas Kebersihan yang sontak menohok hati Farel.


"Anak jaman sekarang kalau bercanda memang keteraluan!" guman Petugas Kebersihan, tetapi masih bisa didengar Farel.


Lelaki berkacamata itu pun hanya bisa terdiam. Ia diam-diam menggertakkan giginya. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun, tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk melawan.


Farel pun menguatkan dirinya dan berusaha tersenyum. Ia berterima kasih lagi pada Sang Petugas Kebersihan kemudian langsung kembali ke kelas.


Ia tahu jam pelajaran pasti sudah dimulai sekarang. Tadi saat mencari tasnya ia mendengar suara bel masuk. Masa bodo jika dirinya harus dihukum lagi. Toh, jika ia tetap berada di kelas, apa yang bisa ia lakukan jika bukunya tidak ada?


"Mereka memang jahat, jahat tanpa alasan ..." gumam Farel.


"Mungkin bagi mereka gue cuman lelucon ... Tahan Farel, tahan. Lu cuman bisa sekolah di sini," ujarnya sampai ia menghentikan langkahnya ketika mendengar dua gadis yang sedang berdebat, Farel kenal suaranya, bisa jadi dua gadis ini barasal dari kelasnya. Farel pun bersembunyi untuk mendengarkannya.


"Lu harus ngelawan dia, Shei! Kak Alan 'kan cowok lu!" protes Reyna. Dia adalah teman sekelas Thalia dan Farel yang barusan tidak sengaja mendengar kehebohan Thalia tentang Alan. Namun sahabatnya, Sheilla atau yang akrab dipanggil Shei—Gadis yang sepertinya belum lama jadian dengan Alan malah bersikap santai seolah tak peduli.


"Biarin aja. Bagus kalau nanti Kak Alan bakal mutusin aku," ujar Shei yang masih sibuk membaca komik online favoritnya melalui ponsel. Toh, Shei tidak pernah berharap punya hubungan dengan kakak kelasnya yang super populer itu. Hubungannya sekarang hanyalah ketidaksengajaan yang sebentar lagi pasti akan berlalu. Apalagi jika dia harus bersaing dengan manusia dominan seperti Thalia. Bagi Shei, itu hanya merepotkan dirinya saja.

__ADS_1


"Shei, gak gampang loh dapetin hati Kak Alan! Lagipula, hidup itu penuh persaingan!" seru Reyna bersemangat. Ia sudah mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan Shei pada Alan, hingga akhirnya Alan mau mengajak seorang Shei untuk jadi pacarnya.


"Yah, penuh persaingan, tetapi jika bersaingnya demi suatu tujuan. Jadi pacar Kak Alan bukan tujuanku," ujar Shei sangat santai.


Farel yang mendengarnya, mengernyitkan dahi. Tentu kabar Thalia yang tergila-gila dengan Alan bukan rahasia lagi. Semua anak angkatannya tahu. Makanya tidak ada anak laki-laki yang berani mengejar Thalia karena standar seorang Thalia cukup tinggi.


Namun siapa sangka, gadis seperti Shei adalah pacar seorang Alan. Jika itu benar, maka itu adalah sebuah keajaiban. Pasalnya, meskipun Shei bukanlah orang kecil seperti dirinya, tetapi penampilan Shei tidak secantik Thalia, bahkan seorang Shei terkesan cuek. Bagaimana mungkin seorang Alan tertarik pada seorang Shei?


"Sudah pasti elu dikerjain!" sontak Farel. Ia memang mengidolakan Alan, maka dari itu ia tahu cewek seperti apa yang disukai idolanya itu.


Shei dan Reyna pun menoleh pada Farel yang tiba-tiba muncul.


"Ih, apaan, sih lu, Rel! Kayak kabel listrik aja, deh! Main nyambung obrolan orang" protes Reyna ilfeel.


Farel pun jadi terdiam dan merutuki dirinya yang tidak bisa mengendalikan diri.


"So-sorry, gue denger pembicaraan kalian, tapi ..." Farel jadi canggung, tetapi hatinya berusaha mendorong agar ia memperingatkan seorang Shei.


"Shei ... gue kasih tau, kalau lu jadian sama Kak Alan, mendingan lu cepet-cepet putus!" Akhirnya Farel mengatakannya juga.


Shei yang dari tadi fokus pada ponselnya pun beralih pada Farel.


"Kak Alan ... bisa jadi dia ngerjain lu doang—"


"Heh, Farel!" sentak Reyna.


"Gue tahu, lu sama aja kayak orang-orang yang kolot, bepikir yang ganteng harus sama yang cantik, terus yang jelek—"


"Bukan!" potong Farel.


"Gue cuman mau memperingatkan Shei ... Kak Alan itu ..."


"Udah! Mending lu gak usah sok ikut campur! Emangnya lu siapa dan ... Ugh!" Reyna menutup hidungnya ketika tak sengaja menciun bau busuk.

__ADS_1


"Lu abis darimana, sih Rel? Bau banget!" tukas Reyna.


Farel tertegun, pasti bau tak sedap itu berasal dari tasnya. Ia pun menggenggam erat tasnya.


"So-sorry ... Tas gue tadi ada di tempat sampah ... jadi ..." Farel malah merasa bersalah.


Sementara Shei hanya terdiam seraya memperhatikan seorang Farel. Tentu ia bisa menebak ulah siapa yang membuat tas Farel ada di tempat sampah.


"Kamu beruntung, Bu Susan gak masuk, jafo kelas kosong," seru Shei tiba-tiba, membuat atensi Farel beralih pada gadis bertubuh gemuk dan berkulit sawo matang itu.


Shei kemudian memberikan ponselnya pada Reyna.


"Pegangin dulu, Rey ... aku mau ambil totebag sama kantong plastik dulu," ujar Shei yang membuat Reyna mengernyitkan dahi.


"Loh? Buat apa, Shei—" Belum sempat Reyna mengoceh, Shei sudah keburu masuk kelas dan mengambil barang yang ia butuhkan.


Tal selang berapa lama, Shei sudah kembali dengan membawa sebuah totebag besar dan kantong plastik.


"Buka tas kamu," perintah Shei.


Farel malah kebingungan, tetapi ia tahu kalau Shei mau menolongnya. Remaja itu pun hanya mengikuti semua perintah Shei.


"Nah, sekarang kamu cuci tangan. Nanti yang ada di dalam orang-orang pada protes lagi," ujar Shei.


Farel sekali lagi dibuat tertegun, matanya malah berkaca-kaca.


"Shei ... sorry," lirih Farel. Kini dirinya diselimuti rasa bersalah. Benar kata Reyna, dia sama saja seperti orang lain.


"Kok malah minta maaf?" Shei malah bingung.


"Pokoknya gue minta maaf! Gue sama jahatnya kayak mereka!" Lelaki itu sudah tak tahan lagi, ia menjerit, perasaanya kini campur aduk. Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya di hadapan dua gadis yang sempat berdebat dengannya.


***

__ADS_1


__ADS_2