
Renata langsung memegang tangan Thalia tanpa melepas tatapannya. "Thalia, lu harus jujur sama gue dan kita-kita," tekan Renata. Dagi Thalia mengernyit, tetapi tanpa ragu ia menganggukkan kepalanya.
Ketiga sahabatnya saling pandang. Renata lalu mengambil napas dalam-dalam. "Please jujur, lu sama Farel ada apa?" Sontak mata Thalia membulat. Marina buru-buru memicingkan matanya. Sementara mata Thalia mengerjap.
"Aku sama Farel?" Peluh Thalia langsung mentes di pelipis. Bola matanya bergetar sembari memandang ketiga sahabatnya satu per satu. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. 'Aku sama Farel ...' Tiba-tiba di kepalanya malah muncul wajah Farel barusan yang begitu perhatian dengannya hingga tanpa sadar Thalia malah mengeluarkan senyum tipisnya.
"Thalia!" tegur Vannessa yang langsung membuyarkan lamunan Thalia. Tatapannya langsung fokus ke arah Vannessa. "Uhm, aku sama Farel, tentu aja dia babu aku selamanya! Dia sudah tahu caranya bersikap, jadi setidaknya dia lebih penurut. Bukannya itu bagus," beber Thalia.
Ketiga sahabatnya kembali saling pandang. "Begitu? Kamu yakin?" cecar Marina.
Thalia mengangguk dengan sangat percaya diri. Sementara Marina menelaah ekspresi wajah sahabatnya itu.
"Oke, lagian gak mungkin banget Thalia ada apa-apa sama Farel. Gak level banget 'kan?" seru Vannessa. Renata ikut mengangguk.
"Atau Farelnya?" cetus Marina yang kini menatap lurus ke arah Thalia. Sontak Vannessa dan Renata langsung menoleh ke arah Marina.
Sontak Thalia terkesiap. Seketika jantungnya berhenti berdetak barusan. 'Farel suka aku? Mungkinkah?' batin Thalia.
"Lu apaan, sih Mar? Otak lu lagi error, ya? Mana mungkin Farel ke Thalia? Ewh ..." sahut Vannessa lagi.
"I-iya! Lagian aku ini mau fokus, ya sama Kak Alan. Pengganggu kayak Sheilla udah kita singkirkan. Jadi sekarang, jalanku untuk Kak Alan akan makin mulus," ujar Thalia sambil menaikkan dagunya.
"Aww! Gak sabar, nanti kalau Thalia dan Kak Alan jadian! Pasti serasi banget, deh!" girang Renata.
Sementara Marina masih mengernyitkan dahinya. 'Awas aja, gue bakalan tanya ke Farel!' batin Marina lagi.
Farel pun muncul sambil membawa sedotan. Lelaki itu langsung menghampiri Thalia.
"Thalia, ini sedotannya," ujar Farel sambil menyodorkan sedotan berwarna pink itu. Thalia menerimanya.
__ADS_1
"Udah, sana kamu balik ke bangku kamu!" usir Thalia. Farel mengangguk dan kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Marina diam-diam menatap sinis ke arah cowok berkacamata itu.
***
Sepulang sekolah, Farel membereskan barangnya juga barang Sheilla. Tadi wali kelas memintanya untuk membawakan barang Sheilla ke rumah sakit tempat Sheilla dirawat sekarang. Namun tiba-tiba ada seorang gadis yang mendatanginya. Farel mengangkat kepalanya dan kaget saat seorang gadis berkulit kuning langsat dan berponi kini menatapnya sinis.
"Marina? Ada apa?" tanya Farel.
Marina melihat ke sekeliling kelas. Ketiga sahabatnya sudah pulang duluan. Kini atensinya kembali pada Farel. Marina langsung menarik kerah baju Farel dengan kasar.
"Marina!" panik Farel.
"Jujur sama gue! Lu suka 'kan sama Thalia?" tukas Marina.
Dahi Farel langsung berkerut.
"Sikap lu beda ke Thalia! Lu pikir gue gak sadar? Apa maksudnya tadi tatap-tatap Thalia kayak gitu?" cicit Marina sinis.
"Tatap-tatap apa? Sumpah, gue cuman lakuin apa yang Thalia minta. Gue udah janji sama dia. Lu juga denger sendiri!" beber Farel panjang lebar sambil menunjukkan jari telunjuk dan hari tengahnya.
Marina melempar kerah Farel dengan kasar.
"Oke! Sekarang lu selamat! Tapi gelagat lu gak akan lepas dari pantauan gue!" tekan Marina sambil menatap tajam ke arah Farel.
"Lu harus ingat! Mau bagaimanapun diri lu, lu gak pernah pantas untuk sahabat gue Thalia Gwen Septiadi!" tekan Marina kemudian pergi meninggalkan Farel.
Farel langsung membenarkan dasinya yang miring sembari memandang kepergian Marina. Farel memegangi dada kirinya. Jantungnya sejak tadi berdetak lebih cepat.
"Untung aja gue gak diapa-apain! Dasar cewek aneh!" gumam Farel. Ia kemudian menggendong tas Sheilla di punggungnya dan menggendong tasnya di depan.
__ADS_1
Farel berjalan sambil membalas pesan ke Alvin yang sekarang ada di rumah sakit bersama Sheilla. Berdasarkan informasi dari Alvin, Sheilla didiagnosis demam berdarah oleh dokter.
"Nyamuk memang serangga paling mengerikan," gumam Farel. Ia langsung membalas akan segera pergi ke rumah sakit tersebut.
Namun saat ia sedang berjalan menysuri trotoar, tiba-tiba ada sebuah mobil city car berwarna kuning membunyikan klakson. Farel yang masoh fokus pada ponselnya malah berjalan menjauhi bahu jalan. Namun klakson mobil itu tak berhenti.
"Farel!" Sontak Farel menghentikan langkahnya. Ia tentu sangat kenal suara cempreng ini. Farel pun menoleh dan menemukan wajah Thalia dari dalam mobil sedang tersenyum cerah.
"Farel! Ayo ikut aku!" ajak Thalia girang. Dahi Farel mengernyit, kenapa gadis ini begitu bahagia? Apa karena Alan yang kini sudah bukan milik siapa-siapa? Ah, tapi bukannya sejak awal Thalia tahunya Alan tidak punya pacar? Apa ada hal yang tidak Farel ketahui?
"Uhm, maaf, Thalia. Aku gak bisa ..." ujar Farel agak ragu. Seketika senyum di wajah Thalia memudar.
"Kenapa?" ketus gadis cantik itu.
Farel menunjuk tas Sheilla yang ia gendong di punggungnya.
"Aku diminta sama wali kelas bawain tasnya Sheilla ke rumah sakit," beber Farel.
Dahi Thalia berkerut.
"Kenapa harus kamu, sih? Emang gak ada orang lain?" gerutu Thalia.
"Uhm, masalahnya, aku 'kan teman sebangkunya. Uhm ... mungkin aku bisa ikut kamu besok—"
"Harus sekarang! Pokoknya kamu harus ikut aku sekarang!" paksa Thalia.
"Tapi ... tas Sheilla—"
"Ayo, aku anterin juga, abis itu kamu ikut aku!"
__ADS_1