Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S3 : Atur Ulang


__ADS_3

Farel terdiam mendengar ajakan Thalia. Di kepalanya masih terbayang bagaimana Marina, Vannessa dan Renata menekannya untuk menjauhi Farel. Cowok itu menatap wajah Thalia yang sejak tadi menantikan jawabannya. Ah, mungkin saja cowok jabrik yang menghajarnya kemarin adalah suruhan salah satu dari ketiga sahabat Thalia agar Farel menjauh. Jika ia memaksakan tetap berteman, mungkinkah mereka berdua akan baik-baik saja?


"Farel?" tegur Thalia yang tak kunjung dapat jawaban, tetapi Farel hanya tersenyum tipis.


"Kayaknya kalau jadi teman—"


"Ini rahasia!" ujar Thalia buru-buru. Tidak. Jangan sampai ia harus tersiksa lagi menahan keinginannya untuk berinteraksi dengan Farel, tersenyum untuknya, bicara dengan bebas seperti sekarang dan banyak hal lagi yang ingin ia lakukan bersama cowok di hadapannya ini.


"Ra-rahasia?" ulang Farel yang langsung dapat anggukan kepala Thalia. Gadis cantik itu segera memegang tangan Farel seraya menatapnya lekat-lekat.


"Maaf, mungkin akan sulit seperti sebelumnya. Namun aku janji, kali ini aku akan perlahan-lahan membujuk ketiga sahabatku untuk mau menerima kamu. Mereka cuman gak tahu orang seperti apa kamu, Farel," tutur Thalia penuh harap.


Farel hanya memandang manik mata Thalia yang membesar itu. Ia tahu, pasti sulit membuat tiga cewek beringas itu mau menerimanya, tetapi juka Thalia berjanji, kenapa ia harus meragukannya. Sekalipun kejam, Thalia tidak pernah berbohong atau mengingkari janji. Farel pun mengangguk.


"Oke," jawabnya. Seketika sebuah senyum bersemi di wajah Thalia.


"Beneran? Farel? Aku gak mimpi, 'kan?" sahut Thalia dengan senyum lebarnya.


"Apaan, sih? Harusnya aku yang bilang gitu!" timpal Farel yang membuat Thalia menatap serius ke arahnya.


"Hah? Kamu?" Ia tidak salah dengar, 'kan? Apa maksud ucapan Farel barusan?


Farel menunduk sambil menubruk-nubrukkan ujung jarinya.


"Uhm, aku ... Se-sebenarnya aku ...." Farel garuk-garuk belakang kepalanya.


"Apa? Sebenarnya kamu kenapa?" cecsr Thalia yang kini jantungnya berdebar tak karuan.


Farel pun mengangkat kepalanya seraya menatap Thalia lekat-lekat sekalipun wajah Thalia tampak agak buram, tetapi ia masih bisa menikmati paras cantiknya.

__ADS_1


"Aku .... Aku tidak apa-apa jika kita berteman secara diam-diam. Yang penting, aku bisa ketemu kamu, denger suara kamu, ngobrol sama kamu ...." Farel benar-benar bingung harus mengungkapkannya bagaimana. Mau jadi rahasia selamanya juga tidak apa-apa.


Farel lebih berharap kalau Thalia tidak lagi berteman dengan orang-orang seperti tiga sahabatnya sekarang. Teman macam apa yang mengatur lingkaran sosial temannya sendiri? Memangnya Farel merugikan Thalia? Farel bahkan tidak pernah minta apa-apa dari gadis ini.


Thalia tertegun mendengar penuturan Farel.


"Bertemu, Mendengar suaraku dan ngobrol sama aku? Uhm, Apa selama ini sebenarnya kamu ...."


Farel langsung mengangguk.


"Sejujurnya, aku kangen sama kamu, Thalia!" ungkap Farel yang membuatThalia membeku. Rasanya jantungnya mau copot! Farel merindukannya? Bagaimana bisa?


"Pesan ... Pesan yang waktu itu aku kirim ..."


Thalia tertegun, ia ingat terakhir kali ke rumah ini sebenarnya untuk menanyakan pesan apa yang Farel kirim ke ponselnya.


"Pesan itu ...." Thalia dan Farel saling bertatapan. Cukup lama hingga wajah mereka berdua memerah. Reflek, mereka memalingkan pandangangan.


"Pesan? Aku ... Aku gak baca, makanya waktu itu aku ke rumah kamu ...." jujur Thalia yang diam-diam melirik ke arah Farel, tetapi ternyata Farel juga meliriknya. Sontak mereka mengalihkan pandangan lagi.


"Uhm ... Pe-pesan itu, apa isinya?" tanya Thalia yang suaranya agak bergetar karena detak jantungnya tak karuan sekarang. Ia bahkan memegangi dada kirinya.


"Aku kangen kamu. Boleh, gak aku ke rumah kamu."


Thalia langsung menoleh ke arah Farel dengan mata yang membulat. Namun siapa sangka, Farel juga sedang menatapnya dengan tatapan mendalam. Thalia menelan salivanya ketika mendapati tatapan Farel yang mendebarkan. Tatapan ini agak berbeda dari biasanya. Terlebih perlahan-lahan Farel malah mendekatkan wajahnya.


'Fa-farel mau apa?' jerita Thalia dalam hati yang langsung memejamkan matanya.


'Apa dia mau menciumku? Enggak! Kita masih teman! Gak mungkin dia mau cium aku!' panik Thalia dapam hati. Hingga ia merasakan pipinya disentuh dengan lembut oleh jari-jemari Farel.

__ADS_1


'Ini ... Fix! Farel mau cium aku! Tenang, Thalia. Relax! Jangan panik ....' batinnya berusaha menenangkan diri, tetapi tidak bisa! Thalia pun membuka matanya dan mendapati Farel yang tengah memakai kacamata. Cowok itu kemudian kembali menatap Thali sambil tersenyum.


"Nah, kalau begini lebih jelas!" sahutnya yang langsung membuat Thalia bersungut-sungut, meskipun sebenarnya ia malu setengah mati.


"Uhm, maaf, Thalia. Aku gak bisa lihat wajah kamu terlalu jelas, jadi aku pakai kacamata dulu," ujar Farel yang membuat Thalia semakin malu. Gadis itu hanya bisa memonyingkan bibirnya saja.


"Uhm, soal pesanku ... Pasti kedengeran aneh, ya?" Tiba-tiba cowok itu kembali ke topik! Thalia sampai lupa kalau mereka sedang membicarakan pesan Farel untuknya.


"Uhm, itu ...." Thalia menggeleng. "Itu wajar, kok. Emangnya kenapa kalau kamu kangen sama aku?" tanya Thalia sambil mengatur perasaannya yang campur aduk karena perlakuan Farel yang disalahpahaminya.


"Ya, kayak kata kamu, dulu aku, 'kan wajib ngikutin semua perintah kamu. Aneh aja, 'kan kalau tiba-tiba aku kangen. Aku gak berhak merasakan itu."


"Kenapa? Kenapa kamu gak berhak?" cecar Thalia.


Farel tak berani menatap Thalia yang kini menatap lurus ke arahnya.


"Yah, gimana, ya?" Lagi-lagi Farel menggaruk belakang kepalanya.


"Aku cuman orang yang harus nurutin perintah kamu, tapi aku rasa ... Aku .... Aku gak menganggap kamu begitu ...." Farel kini menatap wajah Thalia yang masih setia mendengarkannya.


"Kamu anggap aku apa, Farel?" tanya Thalia yang kini jantungnya berdebar dengan keras.


"Aku ..." Farel mengepalkan tangannya seraya memandang Thalia lamat-lamat. Wajah Tgalia kini tampak makin jelas setelah ia mengenakan kaca mata.


'Kenapa Thalia cantik banget, sih?' gerutunya sambil menelan salivanya.


"Apa? Apa aku punya arti khusus buat kamu?"


Sontak Farel terkesiap.

__ADS_1


'Arti khusus? I-itu ....' Farel melipat bibirnya, ia harus menjawabnya bagaimana? Tiba-tiba jantungnya malah berdebat dan kepalanya jadi pusing.


__ADS_2