Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Tak Tertolong


__ADS_3

Blub ... Blub ... Blub ...


Kepala Farel dimasukkan dan ditekan ke dalam westafel berisi air sementara kedua tangannya di satukan di punggung oleh Aldo dan temannya yang berambut jabrik. Farel hanya bisa memejamkan mata menahan perihnya air yang bercampur dengan besi yang berkarat. Ia yang dari tadi berusaha menahan napas agar tak ada air yang masuk juga mulai merasa pusing.


'Angkat ... angkat ... please ...' mohon Farel dalam hati, jika kepalanya dicelupkan lebih lama lagi, mungkin sisa oksigen di dalam tubuhnya alan habis. 'Please ...' jeritnya dalam hati hingga akhirnya rambutnya ditarik dan ia bisa menghirup udara kembali. Sontak tawa senior-seniornya itu meledak melihat dirinya yang hampir kehabisan napas. Napasnya kini terengah-engah dan berusaha memandang satu per satu orang yang mengerjainya.


Aldo menjambak rambut Farel sampai kepalanya ketarik ke belakang. Lelaki 14 tahun utu menyeringai.


"Gimana? Enak?" kekeh Aldo.


Farel hanya bisa bungkam sambil memgeraksna rahangnya.


'Ini pasti usul Thalia!' duganya dalam hati. Ia ingat, kemarin Thalia mengancamnya jika dia tidak berhasil membuat gadis itu jadi lebih cantik.


"Woy, jawab!" Aldo langsung menjambak rambut Farel, membuat lelaki berkacamata itu meringis.


"E-enggak, Kak!" sontak Farel.


"Enggak enak? Celupin lagi, Bro! Dia belum ngerasa enaknya!" perintah Aldo sembari melepas jambakan rambut Farel. Teman-temannya pun menahan tubuh Farel kemudian menariknya mendekati wastafel berisi air. Kepala Farel pun kembali dimasukkan ke dalam sana.


Sekali lagi Farel merasa tak bisa bernapas. Hidungnya terasa perih karena air yang terus berusaha masuk lewat hidungnya.


'Gue gak kuat lagi! Sumpah—' Tiba-tiba kepalanya ditarik keluar.


"Kayaknya gak seru kalau kayak gini doang!" seru Aldo.


"Gimana kalau kita hajar aja, bos!" seru salah satu anak buah Aldo.


"Boleh juga! Kebetulan, gue lagi mau mengasah kemampuan tinju gue!" seru Aldo sambil menyeringai dan menunjukkan bogemnya.


Farel yang merasa kekuarannya habis karena menahan napas dari tadi tubuhnya langsung dihempaskan ke dinding kemar mandi. Kedua tanganbya di tahan oleh dua orang. Sementara Aldo berjalan sambil menyerigai. Farel hanya bisa menelan saliva.


"Oke, lu semua, pegangin dia! Biar gue uji coba bogeman gue!" seru Aldo. Sontak Farel memejamkan matanya erat-erat.


Sebuah bogeman langsung mendarat dengan mulus ke perut Farel membuat lelaki 13 tahun itu memuntahkan ludah. Ia langsung meringis menahan rasa sakitnya. Dengan sisa kekuatannya Farel mengangkkat kepalanya dan berusaha menatap tajam ke arah Aldo.


Aldo yang tadinya menyeringai, perlahan menurunkan sudut bibirnya. Tentu ia menyadari kilatan tajam dari mata seorang Farel. Ia diam-diam mendelik kesal sambil mengangkat kening Farel.


"Lu berani natap gue? Lu mau nantangin gue?" geram Aldo yang sinar matanya mulai hilang. Dahi Farel mengernyit dan malah menajamkan tatapannya.

__ADS_1


"Sialan! Mati Lu! DASAR ANAK CUPU MENJIJIKAN!" sergah Aldo menghantam kepala Farel dengan keras ke dinding.


"KALIAN SEMUA! HAJAR DIA SEPUASNYA!" printah Aldo.


***


Setelah puas menghajar Farel pum Aldo and the geng keluar dari toilet di gedung sekolah yang tak terpakai.


"Wah, gue lega banget!" seru Aldo girang.


"Tapi, Bos, itu anaknya biarin aja?" tanya salah satu anak buah Aldo yang terakhir keluar.


"Ngapain lu mikirin dia? Dia udah bikin cewek gue sedih, dia pantes dapat itu semua! Biar aja, biar sekalian hilang dari muka bumi ini, haha!" tawa Aldo.


Anak buahnya itu kembali menoleh ke belakang dengan raut khawatir, tetapi Aldo langsung membalikkan kepala Sang Anak Buah.


"Heh, kalau menatap, tuh ke depan! Ngapain lihat ke belakang? Masa lalu itu harusnya ditinggalkan!" sahut Aldo kemudian tertawa terbahak-bahak dan meninggalkan gedung tak terpakai itu.


Sayang, tanpa mereka sadari, ada seseorang yang diam-diam bersembunyi dan mendengar semua ucapan mereka.


"Yang benar, masa lalu itu harus dijadikan pelajaran, bodoh!" ujarnya yang berusaha menahan amarahnya. Selain Thalia, ada lagi cecunguk yang suka berbuat seenaknya seolah dunia adalah miliknya.


"Sinting mereka!" seru Alan yang tak menyangka akan mendapati keadaan mengenaskan dari seorang Farel. Alan langsung menghampiri Farel kemudian memeriksa denyut nadinya.


"Untung nasih hidup, lu selamat Aldo!" geram Alan. Ia segera menelpon supirnya. Setidaknya tindakannya tidak boleh teralu mencolok.


Di sisi lain, Bel masuk tengah berbunyi. Para anak murid mulai berdatangan dan duduk di temoat masing-masing karena pelajaran pertama adalah matematika.


Namun tidak untuk Farel yang tempat duduknya masih kosong. Thalia yang duduk di sampingnya pun sesekali melirik ke tempat duduk yang masih kosong itu.


"Dia kemana? Awas aja ngilang dan gak ada pas aku mau suruh dia!" gumam Thalia kesal.


Namun tak seperti biasanya, guru datang agak lama. Akhirnya anak-anak pun menggunakan waktu kosong untuk bermain-main. Tak selang berapa lama, wali kelas pun masuk ke kelas, membuat para murid bingung. Seharusnya ini bukan jam pelajaran wali kelas mereka.


Wali kelas pun berdidi di depan meja guru, sedangkan anak-anak langsung kembali ke te pat duduk ketika melihat wajah serius wali kelas mereka.


"Ibu ada pengumuman ... Teman kalian Farel masuk rumah sakit karena kecelakaan," ucap ibu wali kelas, membuat Thalia membulatkan matanya. Seketika tubuhnya terasa lemas.


'Ke-kecelakaan? Dia baik-baik saja tadi!' herit Thalia dalam hati.

__ADS_1


Di sisi lain, Marina, Vannesa dan Renata berbisik-bisik. Tentu mereka menduga bahwa kecelakaan hanyalah alibi.


"Jadi, ibu mohon doanya, semoga Farel bisa lekas sembuh dan bergabung bersama kalian lagi. Uhm, Thalia, bisa bantu ibu bereskan barang Farel dan serahkan ke kantor guru. Ibu akan mengantar barang Farel ke rumah sakit," perintah Ibu Wali Kelas kemudian keluar kelas. Thalia pun langsung menganggukkan kepala. Gadis itu dengan sigap membereskan barang teman sebangkunya.


Tepat wali kelas mereka keluar, guru mata pelajaran yang seharusnya pun datang.


"Thalia, segera kembali setelah menyerahkan barang Farel, ya," pesan gurunya. Thalia mengangguk dengan cepat dan langsung keluar kelas. Sedangkan ketiga sahabatnya malah melongo heran. Sejak kapan Thalia jadi penurut begitu?


Thalia pun mengejar wali kelasnya yang belum sempat sampai di kantor guru.


"Ibu ... tunggi sebentar!" cegat Thalia. Ibu guru pun berhenti.


"Ada apa, Thalia?"


"Uhm, Ibu ... Apa ibu tahu, Farel dirawat di rumah sakit mana?" tanya Thalia. Setidak ya ia harus melihat keadaan Farel. Jantungnya berdetak keras sekarang karena takut. Di otaknya sudah mulai banyak sepkulasi terburuk yang terjadi pada Farel.


"Uhm, Ibu juga belum tahu, yang tahu guru piket, nanti kalau sudah tahu, ibu beri tahu, ya ..."


Thalia mengangguk.


"Terima kasih, Bu ..." ucap Thalia kemudian langsung kembali ke kelas.


Namun di otaknya masih terbayang darah yang mungkin saja keluar dari tubuh Farel akibat kecelakaan. Seketika kakinya lemas hingga akhirnya ia terjatuh.


"Aww ..." rintihnya karena lututmya membentur tanah. Namun pikirannya tak bisa lepas daei keadaan Farel sekarang.


"Farel ... apa yang terjadi dengannya? Sebebarnya apa yang dia lakuin sampai bisa kecelakaan—" Tiba-tiba terbesit sebuah pradufa di benak Thalia.


"Apakah Farel dihajar?" gumam Thalia.


"Tapi ... tidak mungkin Farel dihajar jika bukan aku yang minta ..." ujar Thalia lagi. Kakinya pun melangkah pergi ke tempat ia memberikan cokelat—tempat terakhir ia berjumpa dengan Farel. Mungkin ia bisa mendapatkan petunjuk. Thalia pun berlari dengan kencang ke sana, mengabaikan rasa sakit di lututnya.


Ketika sampai di tempat terakhir ia berteu dengan Farel, Thalia langsung bisa menemukan cokelat pemberiannya yang jatuh berserakan dan hampir tak berbentuk. Begitu juga toplesnya yang retak.


"I-ini ... ini jelas-jelas bukan kecelakaan. Pasti telah terjadi sesuatu pada Farel!" duga Thalia.


Ia berusaha berpikir, siapa selain dirinya yang suka memerintah anak itu.


"Aldo—" tebaknya, tetapi ia segera sadar, Aldo tidak akan pernah bergerak tanpa permintaan Vannesa. Kini Thalia benar-bebar bingung, rasanya ia sangat marah dengan dugaan itu, tetapi apa ia sanggup marah untuk Farel pada Vannesa? Hal itu nalah membuat dirinya ingin meledak.

__ADS_1


__ADS_2