
Memangnya, Apa ucapan Thalia saat di lapangan? Sejujurnya, Farel tak mendengar apapun karena suara histeris para adik kelas yang memanggilnya. Yang Farel tahu, Thalia adu cekcok dengan Sheilla.
"Farel!" tegur Thalia yang membuatnya tersentak.
"E-eh? I-iya ... Uhm, tadi kamu tanya a-pa?" Ucapan Farel terputus-putus saat mendapati wajah Thalia yang kusut. Habislah sudah.
"Uhm, denger ..."
Sontak Thalia terkesiap.
"Kamu dengar? Kamu dengar apa aja?" cecar Thalia.
Farel menyatukan alisnya sambil menggerakkan kedua bola matanya ke atas.
"Dengar apa aja? Uhm ..." Ia sama sekali tidak bisa memikirkan apapun sehingga hanya bisa cengengesan. Farel pun memandang Thalia yang masih menunggu jawabannya. Cowok Berkacamata itu langsung menunduk sambil memegang kedua lututnya.
"Maaf, Thalia! Aku gak denger apa-apa!" ungkap Farel jujur.
Sontak kedua mata Thalia membulat, tetapi di sisi lain ia juga lega. Namun matanya tak sengaja menangkap sosok Marina yang sedang bersembunyi di balik pohon besar di taman. Ia pun memandang Farel yang masih setia menunduk.
"FAREL!" jerit Thalia yang membuat Cowok Berkacamata di depannya menutup telinganya.
"Ma-ma—"
"Cepat duduk bersimpuh di bawah!" titah Thalia yang langsung diikuti oleh Farel.
"Maaf, Thalia ..." lirih Cowok Berkacamata.
"Kamu, tuh kebiasaan, ya!" tukas Thalia yang sekarang berdiri di hadapan Farel.
"Setiap aku tanya, kamu gak pernah dengar! Fokus kamu kemana, sih?" omel Thalia yang membuat Farel tak berani mengangkat kepalanya.
Gadis cantik itu kini berkacak pinggang.
"Apa jangan-jangan kamu mikirin adik-adik kelas yang suka sama kamu itu?"
"Enggak, Thalia! Mana pernah aku kepikiran begitu!" bela Farel.
"Terus?" Thalia menoyor kepala Farel. Farel diam-diam menggigit bibir bawahnya.
"Heh, Farel! Aku tanya kamu! Kamu ngerti bahasa manusia 'kan?" tekan Thalia.
Farel mengangguk.
"A-aku cuman gak denger ucapan kamu tadi karena terlalu ramai ..." Farel mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Memangnya apa yang harus aku dengar, Thalia? Apakah itu hal penting—"
"Gak usah tahu!" pekik Thalia lagi.
"Udah, kamu gak usah tahu!" ulang Thalia lagi yang kini melipat tangannya sembari melirik ke arah Farel. Ia menggigit bibir bawahnya melihat sosok Cowok Pujaan Hatinya yang terlihat tak berdaya ini. Dia juga sungguh berdosa karena malah menoyor kepala Farel dengan jari lentiknya.
Thalia pun memalingkan pandangannya.
"Udah, kamu pergi sana! Aku bete lihat wajah kamu!" titah Thalia dengan ketus.
"Hah? Kamu yakin aku pergi? Kamu gak apa-ap—"
"Pergi sana!" pekik Thalia lagi yang membuat Farel berdiri.
"Iya-iya, aku pergi. Dah Thalia!" ujar Farel sambil melambaikan tangannya kemudian langsung berlari meninggalkan Thalia sendirian. Seketika tubuh Thalia langsung jatuh ke bangku taman.
"Dasar!" keluh Thalia yang diam-diam melirik ke arah tempat persembunyian Marina. Sepertinya sudah tidak ada orang. Thalia pun menghela napas seraya memandang langit.
"Kenapa aku harus terjebak di situasi begini?" gumamnya.
"Kira-kira, apa yang Farel pikirkan, ya?" lanjutnya sembari memandang tangan yang menoyor kepala Farel tadi.
"Sepertinya aku harus menjelaskan situasinya pada Farel ... Tapi, apakah dia mau mengerti?" pesimis Thalia.
...****************...
Farel malah kembali ke kelas, padahal harusnya ia main di lapangan. Namun tudingan Thalia di taman tadi membuatnya terngiang-ngiang.
"Kenapa juga adik-adik kelas itu manggil nama gue? Bikin masalah aja ..." gerutu Farel sambil mengusap bekas toyoran Thalia di kepalanya.
"Padahal udah lama banget semenjak Thalia terakhir noyor kepala gue. Kena lagi 'kan gue! Bisa gawat kalau gini terus. Nanti Thalia yang baik bisa berubah lagi jadi nenek sihir!" merinding Farel yang langsung menggelengkan kepalanya.
"Amit-amit, jangan samp—"
"Woy, Farel!" Tiba-tiba terdengar suara bentakan dari pintu kelas, membuat Cowok Berkacamata itu membalikkan badannya. Terlihat Marina, Vannessa dan Renata masuk ke dalam kelas bersamaan.
"Waduh, apa lagi, nih?" gumam Farel was-was. Cowok itu pun langsung bangkit dari tempat duduknya. Sementara ketiga sahabat Thalia kini berdiri di hadapannya. Kemudian Renata malah mendorong bahu Farel dengan kasar, tetapi Farel bergeming karena tubuhnya yang lebih besar. Sontak Renata melotot.
"Heh, kok lu masih berdiri? Duduk!" bentaknya. Farel benar-benar sudah berubah, padahal dulu jika didorong sedikit saja, Cowok ini pasti langsung jatuh. Selain itu, Renata tidak bisa memungkiri, kalau otot bahu Farel agak keras.
Farel pun langsung mengikuti perintah Renata. Diam-diam, gadis itu tersenyum.
'Cih, badannya doang yang tambah gede, tapi nyalinya masih ciut!' hinanya dalam hati.
"Uhm, Ka-kalian ada urusan apa, ya?" bingung Farel, tetapi malah mendapat gebrakan meja yang keras dari Marina.
__ADS_1
"Urusan?" tekan Marina sambil menarik kerah Farel.
"Ya, jelas kita ada urusan!" pekiknya sambil melempar kerah Farel dengab kasar, tetapi sekali lagi, Farel hanya goyah sedikit dan kembali duduk tegak.
"A-apa ini soal Thalia—"
"Pake nanya lagi!" bentak Renata.
"Heh, Cu-culun!" sahut Vannessa, sejujurnya, ia merasa Farel tidak terlalu culun sekarang, tetapi itu memang panggilannya dari dulu 'kan?
Marina dan Renata yang menyadari suara Vannessa tidak bulat pun langsung meliriknya sinis. Vannessa pun memperbaiki suaranya seraya menaikkan dagu.
"Woy, Culun, lu berani-beraninya, ya deketin Thalia! Lu pikir, lu siapa?" tantang Vannessa. Untungnya ia bisa bicara dengan lantang dan jelas.
"Hah? De-deketin? Maksud kalian apa, sih?" bingung Farel. Apa mereka tidak sadar kalau Farel masih jadi "Anjing Setia" Thalia. Ya, meskipun kalau di luar sekolah mereka teman, tetapi itu juga karena Farel merupakan "Anjing Setia" Thalia yang selalu berusaha mengabulkan keinginan gadis itu.
Renata langsung menendang kaki kursi Farel dengan kasar.
"Masih nanya lagi! Ini buktinya apa? Lu duduk sebangku sama Thalia? Lu kira lu pantes? Harusnya lu gak duduk di sebelahnya! Tapi lu jadi sandaran kakinya! Ngerti, gak lu?" tekan Renata.
Farel sama sekali tidak bisa berkata-kata. Bukannya tadi pagi, Thalia sendiri yang mau duduk dengannya? Kenapa malah teman-temannya ini menyalahkan Farel?
"Tahu! Lu kira, lu bisa dapat kemurahan hati Thalia dengan pura-pura baik sama dia?" tukas Marina.
"Hah? Pura-pura baik?" ulang Farel lagi.
"Iya, lu pikir, kita gak merhatiin sikap lu ke Thalia selama ini? Lu sok nurut, sok menghibur dia, padahal sebenarnya lu menghina dia di belakang 'kan?" tukas Marina.
Dahi Farel mengernyit. Farel memang dulu suka menghina Thalia di belakang gadis itu, tetapi entah kapan terkahir kali ia melakukan itu. Semenjak perubahan sikap Thalia dan hubungan ganda mereka terjalin, Farel bahkan tidak tahu, hinaan apa lagi yang pantas untum Thalia.
"Atau, jangan-jangan, lu diam-diam mempengaruhi pikiran Thalia supaya menjauhi kita!" tukas Vannessa yang makin membuat mata sayu Farel membulat.
"E-enggak—"
"Halah, jangan bohong lu!" Renata sekali lagi mendorong bahu Farel, tetapi sekali lagi itu tak mampu membuatnya jatuh.
"Kalau gitu, jauhin Thalia! Jauhin dan jangan sok deket lagi sama dia!" pekik Marina.
"Tapi ..." Farel menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa ia merasa gelisah mendengar ucapan Marina. Entah karena takut dengan omelan Thalia karena dirinya menjauhinya atau karena Farel hanya tidak ingin jauh dari Thalia? Namun kenapa? Bukankah justru bagus kalau dia bisa lepas dari Thalia? Ini tujuannya 'kan? Alan bahkan memintanya untuk menjauhi Thalia. Sekarang, Farel bukan hanya didukung oleh Alan, melainkan juga ketiga sahabat Thalia.
Farel pun kini mengeraskan rahangnya sambil menatap ketiga gadis di hadapannya dengan tatapan yang serius.
"Oke. Oke kalau itu mau kalian—"
"Ya udah, sana pindah lu ke belakang! Ini bukan tempat duduk lu!" sahut Renata sambil menarik tas Farel yang digantung di kursi dan melemparnya asal ke belakang kelas. Farel hanya bisa bangkit sambil memungut tasnya yang tergeletak di lantai. Ia pun terpaksa mengambil kursi kosong di belakang sambil diam-diam melirik ketiga sahabat Thalia yang kini tertawa puas. Semoga saja Thalia tidak murka setelah ini.
__ADS_1