
Mata Farel mengerjap, mendengar pertanyaan Thalia. Ia mengusap wajahnya sambul meringis. Kemudian malah tersenyum getir.
"Uhm, bendera kuning itu ...."
"Ayahku!" jawab Farel seraya menatap Thalia dengan tatapan pilu. Cowok itu menggigit bibir bawahnya.
"Ayahku meninggal, Thalia ...." Suara Farel berubah jadi berat. Ia mengeraskan rahangnya untuk menahan gejolak kesedihan yang sejak kemarin terus saja meluap-luap.
"A-ayahmu?" ulang Thalia yang menatap Farel penuh simpati. Gadis cantik itu mengusap pundak Farel.
"Ayah meninggal karena tenggelam," tutur Farel.
"Tenggelam? Bagaimana bisa?" sahut Thalia. Memangnya apa pekerjaan Ayah Farel di sana?
"Ayah sedang mencari tempat wisata untuk aku dan Mama nikmati di akhir tahun nanti. Makanya, Ayah survei tempat wisata di sana," jelas Farel yang sesekali terisak.
"Sayangnya, saat Ayah sedang menikmati wisata kapal, cuaca tiba-tiba buruk dan mengakibaykan kapal tenggelam." Suara Farel kembali berubah jadi berat.
"Saat kemarin aku dan Mama dikabari, mayat Ayah sempat dinyatakan hilang, tetapi dua hari kemudian, mayat Ayah ditemukan." Farel menatap kedua tangannya. Kemudian menoleh ke arah Thalia yang masih setia mendengarkannya.
"Kemarin, aku baru memakamkan Ayahku di sana, Thalia. Karena biaya untuk memakamkan Ayah di sini agak mahal," cerita Farel lagi.
"Tangan ini .... Tangan ini kemarin menggebdong tubuh Ayah yang berat dan mengantarkannya ke liang lahat ...." Suara Farel tercekat.
"Mayat Ayah dikubur dan .... Dan ...." Farel tak sanggup berkata-kata. Ia hanya bisa menutup matanya. Sesungguhnya ia sudah lelah menangis sejak kemarin, tetapi air matanya terus saja berderai tanpa henti.
Namun, tiba-tiba Thalia malah menarik tubuhnya untuk bersandar di pundaknya. Sontak mata Farel membulat.
"Thalia—" Tiba-tiba tangan gadis cantik itu malah mengelus pipinya.
"Maaf, maaf ... Maaf karena aku bertanya," ucap Thalia dengan suara yang bergetar. Berbeda hal dengan Thalia, Farel sangat membanggakan ayahnya bahkan menjadikan ayahnya sebagai inspirasi. Thalia jelas tahu, bagaimana rasanua ketika ditinggalkan oleh orang yang menjadi inspirasinya. Gadis itu memeluk Farel dengan erat. Hatinya berdenyut tiap mendengar isakan tangis cowok ini.
Di sela kesedihannya, terlukis sebuah senyuman kecil di wajahnya. Diam-diam Farel memegang tangan Thalia.
"Gak apa-apa, Thalia," ucap Farel lagi yang kemudian melepas pelukannya dan menatap wajah Thalia.
"Justru aku bersyukur, karena kamu menanyakannya," lanjut Farel seraya tersenyum tipis pada gadis itu.
Thalia ikut tersenyum sembari mengelus lembut pipi Farel. Namun, tak bertahan lama, wajah Farel kembali berubah jadi murung.
"Sekarang ... Sekarang aku benar-benar bingung, apakah aku harus melanjutkan sekolah atau tidak," cetus Farel yang membuat dahi Thalia mengernyit.
__ADS_1
"A-apa maksud kamu, Farel? Kamu gak mau sekolah lagi?" cecar Thalia.
Farel malah menunduk.
"Bagaimana, Thalia. Aku anak beasiswa. Aku gak bebas berulah seperti kalian yang bayar penuh biaya sekolah. Akhir-akhir ini, nilaiku mengalami penurunan, bahkan kemarin aku alfa tiga hari. Sekolah pasti gak mau lagi membiayai sekolahku," murung Farel, tetapi tiba-tiba Thalia malah menepuk pahanya.
"Enggak, Farel! Kamu harus tetap sekolah!" tegas Thalia yang kini menatap Farel dengan mantap. Sontak Farel memandang wajah keras Thalia.
"Ta-tapi gimana, Thalia? Bahkan aku udah gak punya semangat lagi. Dulu, aku semangat buat sekolah, sekalipun setiap hari rasanya berat, cuman karena pesan Ayahku, jadilah orang yang berhasil agar bisa melindungi Mama karena Ayah akan mencari nafkah di tempat yang jauh ...." Farel meringis, mengingat penuturan Ayahnya.
"Sekarang, jika sekarang Ayah sudah pergi, terus, bagaimana denganku? Aku benar-benar bingung, Thalia ...."
Rahang Thalia mengeras dan tangannya malah melayang kemudian mendarat dengan keras ke pipi Farel. Sontak tangisan Farel berhenti. Cowok itu langsung menatap bingung ke arah Thalia. Bukankah barusan ia ditampar? Kenapa?
Kini Thalia menatapnya dengan tajam.
"Sadar Farel! Kamu harus sadar!" tekan Thalia.
"Sa-sadar? Apa yang harus aku sadari?" timpal Farel frustasi.
"Ayahmu memang pergi dari dunia ini, tetapi bukan berarti dunia kamu juga berhenti!" tegas Thalia. Gadis ini sangat paham rasanya. Dulu ia juga pernah merasa dunianya hancur saat mendapati mendiang sang Mama terbaring kaku di kamarnya. Namun, setelah menangis selama tiga hari berturut- turut, ia sadar bahwa air mata tidak akan menangani kesedihannya!
"Tapi, sampai akhirnya, duniaku memang berhenti. Aku sama sekali tidak bisa berpikir—"
"Hasutan?" bingung Farel.
"Kesedihan akan kehilangan memang boleh kita rasakan, Farel. Namun, jangan jadikan hal itu alasan untuk kita patah semangat! Justru sebaliknya!" tegas Thalia lagi.
"Se-sebaliknya?"
"Harusnya, kamu lebih fokus pada apa yang Ayahmu inginkan! Sekarang aku tanya, apa yang Ayahmu inginkan dari kamu?"
Dahi Farel mengernyit.
"Ayah ... Ayah mau aku berhasil—"
"Apa yang berhasil?" cecar Thalia lagi.
"Yang berhasil? Sekolahku, pendidikanku, karirku ..."
"Untuk apa? Kenapa kamu harus berhasil?"
__ADS_1
"Untuk ... Untuk bisa melindungi Mama dan ..." Farel mengangkat kepalanya seraya menatap Thalia yang menatapnya lekat-lekat.
"Dan apa?" tanya Thalia lagi.
"Dan untuk melindungi orang yang aku sayangi," ucap Farel tanpa melepas tatapannya dari mata Thalia. Sontak gadis itu tertegun dan langsung memalingkan wajah. Seketika jantungnya berdebar barusan. Kenapa Farel menatapnya secara mendalam sambil bicara begitu?
"N-nah! I-itu kamu tahu, 'kan?" Thalia kembali memandang Farel segelah detak jantungnya ia kondisikan. Farel mengangguk sambil mengernyitkan dahinya, seolah sedang memikirkan hal berat.
"Ja-jadi ... Jadi, kamu tetap harus semangat! Gapai keinginan Ayahmu karena waktu terus berjalan!" semangat Thalia yang melukiskan sebuah senyum di wajah Farel.
Cowok itu mengangguk.
"Kamu benar, Thalia!" seru Farel yang kini perasaanya jauh lebih lega dari sebelumnya. Seakan beban yang sejak tiga hari lalu ia panggul di pundaknya perlahan-lahan menghilang. Jsutru, ia seolah mendapatkan energi baru dari ucapan Thalia.
"Harusnya, aku berpikir seperti kamu!" Farel kini menatap Thalia seraya tersenyum lebar.
"Terima kasih, Thalia!" ucap Farel.
"Aku gak tahu, kalau kamu gak dateng, mungkin aku udah terpuruk dan gak masuk sekolah bahkan sampai bulan depan ..." ucap Farel.
"Mungkin, aku udah dikeluarin," tambah Farel lagi.
Thalia mengusap pundak Farel.
"Tenang, kamu masih alfa tiga kali, belum empat kali. Jadi kemungkinannya kecil kalau kamu dikeluarin," hibur Thalia.
'Kalaupun Farel bakal dikeluarin, maka aku harus minta bantuan Papa supaya Farel tetap dipertahankan!' batin Thalia yang masih setia memasang senyumnya.
Farel mengangguk.
"Kamu bener juga, Thalia. Lagian, kalau sampai Mama dipanggil, aku punya alasan yang jelas," ujar Farel lagi yang kini pikirannya jadi lebih terbuka.
"Kamu bener!" ujar Thalia kemudian Farel tiba-tiba mengambil kedua tangan Thalia sambil tersenyum cerah, membuat gadis itu bingung.
"Fa-farel—"
"Terima kasih, Thalia. Sekali lagi, terima kasih karena kamu udah datang hari ini," tutur Farel lagi.
"Aku gak tahu, apa yang akan terjadi sama aku kalau kamu gak datang. Hari ini, aku benar-benar beruntung karena kamu datang," tambahnya lagi yang membuat Thalia tertegun.
"Uhm, Farel," sahut Thalia.
__ADS_1
"Ya, Thalia?"
"Ka-kalau menurut kamu, begitu ... A-apa sekarang, bagi kamu, aku bukan lagi pembawa sial?"