
Farel kembali masuk sekolah. Ia memutuskan berkegiatan seperti biasanya, meskipun ibunya belum kembali pulang. Toh, ditinggal oleh ibunya juga hal biasa bagi Farel. Namun karena pagi-pagi dia sudah dipanggil oleh kepala sekolah, dia baru bisa masuk ke kelas di saat jam pelajaran mau mulai. Farel melongo ke dalam kelas dan suasananya masih ricuh. Itu berarti belum ada guru yang masuk kelas. Farel pun melangkah masuk.
"Farel!" seru seseorang yang membuatnya terhenyak. Sontak semua mata tertuju padanya. Farel mengerjapkan matanya, mendapati seluruh isi kelas kini menatapnya. Ngomong-ngomong, siapa tadi yang memanggil namanya?
"Farel! Akhirnya lu masuk!" seru seorang laki-laki yang mendatanginya. Dia adalah teman sekelasnyabyang langganan mengajaknya main di lapangan. Farel hanya menaikkan kedua sudut bibirnya hingga akhirnya ia ditarik dan dipeluk oleh teman sekelasnya itu. Tak selang berapa lama, beberapa murid laki-laki juga mendatanginya, termasuk Hans—Ketua Kelas mereka.
"Farel! Lu ke mana aja? Empat hari lu ngilang! Gue kira lu pindah sekolah!" sahut Hans.
"Iya, di lapangan gak ada lu, gak rame, tau, Rel!" seru teman sekelasnya yang tadi memeluknya.
"Iya! Gak ada temen duel, adek-adek kelas juga jadi sepi, gak ada yang nontonin kita di lapangan, haha!" seru yang lainnya.
"Uhm, gue ...." Tiba-tiba pandangan Farel malah terkunci pada Thalia yang diam-diam meliriknya. Hal itu malah mengundang senyum di wajah Farel. Namun, gadis itu segera memalingkan pandangannnya, membuat Farel tertegun sampai tiba-tiba pundaknya dicolek.
"Woy, lu lihat ke mana? Malah senyum-senyum! Ngelihatin siapa, sih?" seru Hans yang memandang arah pandang Farel. Farel segera menggeleng.
"Enggak, gue gak lihat ke mana-mana. Cuman lagi bayangin hal yang bagus aja," bohong Farel sambil cengengesan.
"Yeu ... Bayangin apa? Mikir jorok lu, ya!" gurau Hans lagi yang malah mengundang tawa. Namun, tiba-tiba wali kelas mereka datang.
"Woy, balik-balik!" seru Hans selaku Ketua Kelas. Semua anak pun kembali ke tempat duduknya.
Wali kelas pun duduk di kursinya.
"Selamat Pagi, Anak-anak," seru Wali Kelas yang langsung diasambut anak-anak murid lainnya.
"Hari ini, Ibu sengaja mengambil setengah dari jam pelajaran pertama kalian untuk memberikan kabar duka dari teman kita, Farel ...." Sontak semua murid kembali menatapnya yang duduk di belakang, tetapi Farel tetap memasang senyum tipisnya.
"Sabtu kemarin, baru saja kami dapat kabar, bahwa Ayahanda dari teman kita Farel meninggal dunia," ucap Wali Kelas mereka lagi hingga hampir satu kelas tercengang.
"Saya, mewakilkan jajaran guru di SMP Pelita Bangsa turut berduka cita, semoga Farel diberikan kekuatan dan ketabahan serta Ayahanda diberikan tempat terbaik di sisi-Nya," ucap Wali Kelas mereka lagi, Para murid serentak menyahut Amin atas doa Wali Kelas mereka.
"Bagi yang mau memberikan bantuan untuk teman kita yang sedang berduka, silakan dikolektif melalui Hans—Ketua Kelas, ya. Nanti Hans, jika sudah terkumpul, bisa dikolekttif lewat Ibu, karena juga ada bantuan dari Kelas lain dan guru-guru," ucap Wali Kelas mereka lagi. Hans langsung menyanggupinya.
Wali Kelas mereka pun undur diri dan keluar kelas. Seketika Farel langsung dikerubungi.
"Rel, Kita turut berduka cita, ya," sahut Hans.
"Jadi, ini alasannya lu gak masuk? Sabar, ya, Rel ...." sahut teman yang duduk di depannya.
__ADS_1
Farel hanya mengangguk.
"Iya, terima kasih, ya," ucapnya. Sejujurnya, di saat seperti ini, dia juga bingung harus menanggapi belasungkawa seperti apa. Hari ini hatinya sudah tidak seterpuruk kemarin. Sejujurnya, ia baik-baik saja sekarang.
"Teman-teman, kalau begitu, ayo kita patungan buat kasih bantuan ke Farel! Sisihkan uang jajan kalian untuk teman kita—"
"Najis!" seru Renata yang membuat seluruh kelas menatapnya, begitu juga Thalia yang duduk di belakangnya.
"Renata! Apa-apaan, sih, lu?" sahut Hans dengan suara yang meninggi.
"Heh, asal kalian tau, ya, Farel itu pakai alasan bapaknya meninggal untuk mengeruk uang kalian!" tukas Renata yang berdiri dari bangkunya dan menghadapkan tubuhnya ke arah Farel.
"Bilang aja, lu bukan cuman mau jadi parasit dari uang beasiswa, tapi juga mau jadi parasit uang jajan kita, 'kan, anak miskin? Pake sok-sokan sedih. Dasar Anak Durhaka lu! Pakai alasan bokap lu meninggal, Cuih!" tuding Renata.
"Iya!" sahut Marina yang membuat Thalia membelalak.
"Aslinya, lu seneng, 'kan bokap lu meninggal? Jadinya lu bisa jual belas kasihan ke temen-temen! Dasar munafik lu!" tukas Marina lagi.
"Bener! Gue lihat-lihat, muka lu dari tadi gak sedih, tuh Bokap lu meninggal! Malah senyam-senyum!" tambah Vannesaa.
"Kalian jangan mau ketipu, sama muka dua si Culun ini! Dia tuh mau manfaatin kalian doang!" kompor Renata.
"Iya, juga!" sahut salah satu teman mereka hingga membuatbarah oandang seluruhnkelas berpindah.
Hans hanya geleng-geleng kepala.
"Wah, parah, sih! Temen kita lagi sedih, lu pada malah mojokin! Sadar, woy!" ujar Hans tak habis pikir.
"Bodo amat! Nalar gue masih jalan, jadi gue males mau nyumbang buat orang munafik kayak Farel!" sahut Renata yang kembali duduk ke bangkunya.
"Gue juga! Otak gue masih jalan! Yang ada gue makin dosa bantuin orang berbuat jahat!" tambah Marina.
"Sama! Gue juga!" sahut Vannessa ikut-ikutan, kemudian melirik Thalia yang dari tadi diam saja. Vannessa langsung mencolek Thalia.
"Thal! Lu mau nyumbang buat si Culun Muna?" tegur Vannessa.
Thalia hanya meremas kedua tangannya.
"Aku—"
__ADS_1
"Iya, gue juga males jadinya nyumbang!" sahut teman yang lain.
"Gue juga!"
"Iya, gue juga ogah!"
"Gue juga!" Beberapa teman lain akhirnya memutuskan untuk tidak menyumbang.
"Parah kalian! Gue gak habis pikir, hatinya pada tertutup semua!" ujar Hans lagi.
"Bukannya hati kita tertutup, ya, Hans! Justru karena otak kita masih normal! Jadi pilih-pilih, gak sembarangan ngasih uang kita ke orang muna kayak Farel!" timpal Renata.
"Kalian—" Farel langsung menahan tangan Hans hingga sang Ketua Kelas menoleh padanya.
"Udah, Hans. Gak apa-apa," bisik Farel. Hans pun hanya bisa mendengus kesal karena hatinya terasa panas.
"Ya udah, yang mau nyumbang, silakan nyumbang, yang gak mau, gak apa-apa," ujar Hans yang menjalankan mandat dari wali kelas. Padahal di kelas ini semuanya dari keluarga orang menengah ke atas. Hanya Farel yang anak beasiswa, tetapi sikap mereka acuh seperti ini.
Hans pun berkeliling untuk mengumpulkan uang sumbangan, tetapi akhirnya yang mau menyumbang tidak sampai jumlah setengah dari mereka.
"Gue ingetin lagi, cuman segini yang mau nyumbang?" ujar Hans yang kini berdiri di depan kelas. Namun tidak ada yang menyahut.
Hans pun menghela napas kasar.
"Oke, kalau gitu, gue ke Wali Kelas dulu. Awas lu pada ribut pas guru datang!" katanya yang langsung keluar dari kelas.
"Gak nyangka, gak cuman parasit, lu muna juga, Rel!" tukas Renata lagi.
"Tau!"
"Jijik banget gue!"
"Muna dasar!"
"Muka dua!"
Berbagai cacian malah Farel dapatkan dari lebih dari setengah teman sekelasnya. Namun Farel hanya terdiam sambil menunduk.
'Tahan! Tahan! Tahan!' batin Farel.
__ADS_1
BRAK!
Tiba-tiba ada seseorang yang menggebrak meja hingga menarik atensi seluruh kelas.