Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Thalia yang Aneh


__ADS_3

Thalia sama sekali tak memedulikan ocehan ibu sambungnya yang wajah dan baju mahalnya belepotan karena disiram adonan yang sedang diaduk oleh Farel secara sengaja. Ya, Thalia sangat yakin laki-laki itu sengaja karena melihat seringai puasnya yang mampu membuat tubuh Thalia sempat merinding.


Thalia pun melototi Farel hingga membuat lelaki itu menghentikan tawa puasnya sembari membuang mukanya.


"Usir dia sekarang juga!" pekik Wanita itu sambil menunjuk ke arah Farel.


Atensi Thalia pun beralih. Gadis itu menatap tajam Ibu Sambungnya.


"Dia temanku, dan hanya aku yang berhak menyuruhnya!" tekan Thalia langsung meraih tangan Farel yang membuat lelaki berkacamata itu kaget setengah mati.


'Duh, gue mau diapain, nih abis ini?' panik Farel.


"Permisi!" sahut Thalia kemudian pergi dari dapur sambil menarik tangan Farel yang kebingungan sekaligus ketakutan dengan situasi ini. Pasalnya wajah dan baju mereka juga belepotan karena adonan, tetapi Thalia tak memedulikan itu dan terus membawanya ke kamar.


"Tha-thalia ... Ma-maaf ... Gu—uhm, maksudnya aku gak berniat sama sekali buat bikin kue kamu gagal apa lagi bikin kamu kecipratan adonan ..." ujar Farel, mulutnya tak bisa berhenti saking ketakutan dengan hukuman yang mungkin akan ia dapatkan.


"Dan, so-soal perempuan tadi, a-aku ... aku gak bermaksud—"


Langkah Thalia terhenti begitu mereka masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu melepas genggaman dari tangan Farel. Farel bisa merasakan aura intimidasi seorang Thalia hingga membuat lidahnya kelu. Tak ada lagi gunanya kata maaf.


"Tha-thalia ..." Farel langsung bersimpuh dan menangkupkan kedua tangannya.


"Ampun, Thalia ..." mohon Farel yang tak tahu lagi harus minta maaf bagaimana.


"Ampun? Kenapa?" tanya Thalia sinis yang membuat Farel makin bergidik ngeri.


"A-tas se-semua yang aku lakuin—"


Tiba-tiba tawa Thalia meledak, membuat Farel mengangkat kepalanya sambil kebingungan.


"Farel, Farel ..." Tawa Thalia sambil duduk di hadapan Farel dan memegang kedua pipi lelaki itu dengan wajah penuh kebanggaan.


"Uhm ... i-iya ..." Farel agak takut bahwa ini jebakan, bisa saja tawa Thalia ini menandakan hal lebih buruk akan ia hadapi.


"Good job, Farelku!" seru Thalia sambil menunjukkan jempolnya.


"Kamu hebat! Keren!" seru Thalia sambil menepuk-nepuk pundak Farel yang makin membuat Farel tak mengerti. Ada apa sebenarnya?

__ADS_1


"I-iya ... Uhm, ta-tapi ada apa, ya Thalia? Ka-kamu gak marah?" tanya Farel memberanikan diri, setidaknya ia harus siap mental jika Thalia menyemprot sumpah serapah padanya.


Namun Thalia malah menggeleng.


"Ya, enggak lah! Kenapa aku marah? Uhm, apa karena ini?" Thalia menunjuk wajahnya yang masih belepotan dengan adonan.


Farel pun mengangguk dengan agak takut-takut. Namum Thalia malah tertawa lagi, bahkan semakin geli. Gadis itu bahkan mengelap sisa adonan yang mengenai kacamata Farel.


"Kamu lebih gak karuan lagi, tau!" geli Thalia.


Sementara Farel hanya ternganga tak mengerti, ia mau ikut tertawa juga, tetapi tidak berani.


"Y-yah ..." Farel malah garuk-garuk belakang kepalanya karena bingung apa reaksi yang harus ia keluarkan di saat begini.


"Mending kamu bersihin diri kamu dan ganti baju, gih ... Nanti aku jelasin semuanya, yah? Pft!" Thalia tertawa sekali lagi.


Sedangkan Farel mengernyitkan dahi.


"Ta-tapi, Thalia, aku gak bawa baju ..."


"Ma-maaf, nanti aku cuci aja bagian baju ini yang kotor, terus pakai lagi!" seru Farel buru-buru tanpa berani melihat wajah gadis cantik di hadapannya.


"Sebentar," ujar Thalia kemudian beranjak dan membuka lemarinya. Gadis itu mencari sesuati di lemarinya, membuat Farel agak penasaran. Setelah menemukannya, Thalia menunjukkannya pada Farel dua hoodie berwarna ungu dan pink.


"Ada dua hoodie-ku yang ukurannya agak besar. Badan kamu kurus, tapi kamu tinggi ... Pilih salah satu," suruh Thalia.


Farel terdiam, sebenarnya kedua hoodie itu sama sekali tidak bisa ia pilih. Masalahnya hoodie berwarna ungu ada gambar kelinci dengan mata berkilau dengan pipi yang merah di bagian tengahnya, sedangkan hoodie berwarna pink ada gambar putri tidur versi chubby. Bukankah terlalu feminim jika ia pulang dengan mengenakan salah satu dari hoodie tersebut.


"Farel! Pilih salah satu!" suruh Thalia yang membuatnya terhenyak.


"Kamu gak mungkin pulang dengan baju kotor begitu 'kan?" sahut Thalia yang membuat Farel tertegun, kenapa gadis ini seolah memberikan perhatian padanya.


"Uhm, i-iya ... Boleh yang wa-warna ..." Farel berpikir sekali lagi, setidaknya hoodie yang mana—yang bisa membuatnya terlihat tidak terlalu girly.


"Cepat, Farel! Aku capek menunjukkannya begini ke kamu!" protes Thalia.


"Y-yang ..." Farel segera berdiri dan menghampiri Thalia dan kembali berpikir.

__ADS_1


"Kayaknya yang ungu, deh ..." ujar Farel. Setidaknya gambar kelinci lebih umum daripada putri tidur.


"Oke, ambil ini! Berarti aku pakai yang ini," ujar Thalia sambil menyodorkannya. Farel pun mengambilnya.


"Ganti baju di kamar mandiku, ya. Jangan lama-lama, aku juga udah lengket, nih," cetus Thalia sambil memasang wajah memelas.


Farel tak berani menatap wajah Thalia dan hanya mengangguk.


"Udah, sana!" suruhnya, Farel pun langsung pergi ke kamar mandi Thalia dan membersihkan dirinya. Tepat saat Farel masuk ke dalam kamar mandi, Thalia langsung mengipas-ngipasi dirinya yang sedari tadi merasa panas.


"Ya, ampun, Dasar Farel! Sesuatu banget!" kekehnya.


***


Kini Farel bersimpuh sambil meremas kedua lututnya menunggu Thalia selesai ganti baju. Ia berusaha menyiapkan mental jika Thalia mungkin saja memberikan tugas di luar nalar lagi atau menghancurkan sesuatu yang sangat ia sukai, misal buku sketsanya seperti waktu itu.


Bunyi pintu kamar mandi Thalua yang terbuka sontak membuat lelaki berkacamata itu terhenyak dan langsung menunduk, tak berani melihat wajah Thalia.


"Kamu mau minum apa, Farel?" Sontak Farelengakat kepalanya sambil memesanga raut wajah yang kebingungan. Mimpi apa dia semalam sampai Thalia menawarkan minuman untuknya?


"Nanti aku minta Bibi siapin minum ... Aku haus karena ketawa terus dari tadi, pft!" Thalia bahkan masih berusaha mengerem tawanya.


"Y-yang kamu mau aja," ujar Farel, memangnya dia berhak meminta?


"Oke, orange jus, ya," seru Thalia yang langsung dapat anggukan dari Farel. Thalia pun menelpon bibinya dan meminta dua gelas orange jus dibawakan ke kamarnya.


Kemudian Thalia duduk di hadapan Farel yang masih menunduk.


"Farel! Cepat lihat wajahku!" pinta Thalia sambil memegang kedua pipi lelaki berkacamata itu.


Peluh Farel menetes melihat wajah semringah Thalia, ia yakin, meskipun wajah Thalia terlihat indah, tetapi ia pasti menyimpan rencana. Farel diam-diam menelan salivanya.


"Kamu pasti bingung 'kan atas apa yang terjadi?" ujar Thalia. Farel hanya mengangguk. Namun gadis cantik itu malah tertawa geli.


"Baik lah ... Sebelumnya aku mau bilang terima kasih!" ujar Thalia yang membuat mata Farel membulat, seolah mau copot.


'Thalia dari tadi kenapa, deh? Udah ketawa sendiri dari tadi, sekarang bilang terima kasih? Apa dia kesambet, ya?' batin Farel sambil memandang heran gadis cantik di depannya yang masih cekikikan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2