Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Kaget


__ADS_3

"Kamu cantik ..."


Sebenarnya adalah ungkapan yang sering Thalia dengar dari semua orang di sekelilingnya. Namun ungkapan itu entah kenapa terdengar begitu spesial ketika Farel menyebutkannya bahkan berkali-kali.


Belum lagi tiap sentuhan ibu jari Farel yang begitu lembut di setiap inci wajah Thalia, membuat jantung gadis itu berdebar-debar. Apalagi katika Farel menyentuh bibir mungilnya dengan sangat lembut, membuat getaran dalam dada Thalia semakin menjadi hingga tanpa sadar gadis cantik itu malah mencium pipi Farel membuat keduanya jadi canggung sekarang.


"Uhm ... Aku—"


"Jangan berpikiran aneh-aneh!" sahut Thalia. Dia sendiri juga jadi panik. Thalia tak pernah menduga akan melakukan itu pada Farel.


"I-itu ... itu cara aku berterima kasih ..." ucap Thalia malu-malu.


Namun hal itu malah membuat Farel membulatkan matanya.


'Jadi seorang Thalia juga tahu ada yang namanya terima kasih di dunia ini?' batin Farel.


"Kamu ... kamu jangan lihat aku begitu!" kesal Thalia yang semakin salah tingkah.


Farel pun reflek menunudukkan kepalanya.


"Ah, iya! Maaf, uhm ..." Lelaki itu mengangkat pelan-pelan kepalanya dan melirik ke arah Thalia yang kini wajahnya sangat merah.


"Sekarang kamu yang coba merias wajah aku ..." ujar Farel.


Thalia terkesiap. Apakah dirinya sanggup merias wajah Farel? Sekarang detak jantungnya saja belum bisa dikondisikan.


Sementara itu di luar kamar.


"Thalia sama Farel lama banget di dalem!" keluh Renata yang masih curiga.


"Udah, tunggu aja ... Nanti juga kelar. Toh kalo ada apa-apa, udah dijamin, Farel yang bakalan kenapa-napa. Tenang aja, deh!" sahut Vannesa yang masih sibuk memilih baju yang nantinya harus dikenakan Farel untuk mereka bersenang-senang. Sedangkan Marina yang diam saja sibuk memilihkan baju yang musti Thalia kenakan.


Ceklek!


Akhirnya pintu kamar mandi terbuka kemudian Thalia dan Farel keluar. Betapa terkejutnya Vannesa, Renata dan Marina melihat wajah dua remaja itu yang telah dirias dengan begitu natural, tetapi justru memancarkan kecantikan yang mempesona. Farel bahkan terlihat cantik ditambah lelaki itu malah tersenyum.


"Gimana, guys?" tanya Thalia bangga.

__ADS_1


Ketiga sahabatnya yang masih takjub hanya bisa mengangguk pelan dan mengelurkn ibu jari mereka.


"Thalia cantik gak ada obat!" seru mereka bertiga langsung memeluk Thalia. Seketika keempat cewek itu ribut, membicarakan kecantikan Thalia dan saling berbalas-balaskan pujian. Farel yang berdiri di samping mereka malah ikut tersenyum. Entah kenapa ia merasa bangga karena bisa menunjukkan keahliannya.


'Kalau disuruh gini tiap hari, gue gak akan protes, deh! Gue malah seneng! Apalagi gue gak harus denger ocehan yang menyebalkan dari mulut nenek sihir itu.' batin Farel.


'Seharusnya dia itu sering-sering senyum. Sayang, punya wajah cantik, dipake buat marah-marah melulu,' kekeh Farel dalam hati.


"Sorry, ya, lama ... tadi aku latihan dandanin wajahku sendiri juga ..." ujar Thalia.


"Ih, gak apa-apa! Mana kita tahu kalau ternyata hasilnya cantik banget!" sahut Renata.


Thalia pun melirik ke arah Farel sambil tersenyum. Begitu juga Farel yang membalasnya dengan senyuman.


"Oh, iya! Gue udah siapin baju juga buat Farel!" seru Vannesa.


Seketika senyum di wajah lelaki itu sirna.


"Ba-baju apa?" tanya Farel. Seingatnya, Thalia yang mau jalan sama Kak Alan besok, harusnya dia yang mempersiapkan pakaian yang akan dikenakan.


Seketika Farel langsung bisa merasakan bahwa akan ada ide gila selanjutnya yang akan dilakukan oleh Thalia and the geng.


***


Farel tidak bisa menunjukkan senyumnya meskipun sudah dipaksa berkali-kali oleh Vannesa dan Renata.


Bagaimana tidak? Kini ia mengenakan gaun berwarna pink seatas lutut dengan renda di bagian bawahnya dan pita besar di bagian dada. Belum lagi ia mengenakan bandana cantik berwarna pink senada dengan renda juga gliter di kepalanya. Orang yang melihat dirinya pasti mengira dia adalah "Loli" yang keluar dari game online.


Tidak hanya itu, Vannesa dan Renata begitu antusias mengambil foto dirinya.


"Cantik banget Farel! Cantik!" seru mereka tertawa puas.


Namun Farel tak suka dengan pujian yang bagaikan hinaan itu. Ia ingin sekali membungkam mulut mereka dengan peniti besar yang tak sengaja ia lihat di kota rias Thalia tadi.


"Farel, senyum dong ... Biar makin kelihatan cantik, hahaha!" tawa Vannesa benar-benar puas.


Mau tidak mau Farel berusaha sekuat tenaga mengangkat kedua sudut bibirnya meskipun ia sangat kesal dengan perlakuan mereka. Harga dirinya sebagai laki-laki benar-benar diinjak-injak. Sebenarnya apa, sih masalah mereka? Kenapa terus mengganggu dirinya?

__ADS_1


Diam-diam Farel melirik ke arah Thalia yang duduk di belakang kedua sahabatnya yang paling tengil ini. Gadis itu malah sedang sibuk menjajal baju yang akan ia kenakan di kencannya besok dengan Kak Alan.


'Dasar, apanya yang terima kasih!' keluh Farel dalam hati yang masih ingat rasanya bibir lembut Thalia yang menyentuh pipinya.


'Kalau mau terima kasih, berhenti gangguin hidup gue!' kesal Farel lagi.


"Farel!" pekik Renata tiba-tiba.


"Mana senyumnya! Kalau gak mau senyum, gue tarik ya bibir lu pake peniti!" ancam Renata.


'Sial, itu ide gue!' gerutu Farel kemudian memaksakan senyumnya lagi demi kepuasan dua manusia antagonis dalam hidupnya.


Akhirnya acara foto-foto selesai juga. Ketiga sahabat Thalia sudah pulang dan tinggal Farel sendiri di kamar ini, sementara Thalia mengantar ketiga sahabatnya.


Farel pun menggunakan kesempatan itu untuk segera mengganti baju manis ini juga menghapus riasan di wajahnya. Toh, pasti Thalia akan menyuruhnya pulang. Semoga saja.


Tepat setelah Farel selesai ganti baju, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya yang membawa minum juga setoples kecil coklat ke dalam kamar. Farel tahu, wanita itu adalah asisten rumah tangga Thalia. Namun Farel benar-benar heran, bukankah tadi mereka sudah dibawakan cemilan? Lalu, kenapa asisten rumah tangga Thalia membawakan cemilan lagi, padahal teman-teman Thalia sudah pulang?


"Den ... Ini dimakan coklatnya. Buatan Non Thalia," ucap Bibi itu membuat Farel mengernyitkan dahi. Untuk apa sampai disebut buatan Thalia?


"Uhm, saya sudah kenyang, Bi ..." ujar Farel.


"Ya sudah, kalau sudah kenyang, dibawa saja," sahut Bibi. Farel hanya melempar senyum agar asisten rumah tangga itu segera pergi. Untungnya Bibi tak teralu memaksa dan langsung pergi. Farel pun bisa bernapas lega. Kini tinggal menunggu Thalia datang dan ia mau pamit pulang meskipun nanti harus melakukan hal gila lainnya.


"Kenapa gak dimakan coklatnya?" seru Thalia yang muncul setelah Bibi keluar.


Farel malah bingung, haruskah ia makan coklat ini. Bisa saja ini adalah coklat beracun 'kan?


"Uhm, gue ... eh, aku udah kenyang," ujar Farel berdalih.


Namun dahi Thalia berkerut.


"Kamu berani, nolak perintah aku?" seru Thalia.


Farel mendengus.


'Beneran udah diracunin, nih coklat!" duga Farel dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2