
Tujuh hari telah berlalu semenjak Farel masuk rumah sakit. Akhirnya ia diizinkan pulang karena semua hasil pemeriksaan sudah menunjukkan hasil yang baik. Remaja berkacamata itu melangkah dengan sangat mantap menuju sekolah. Akhirnya ia bisa kembali menghirup udara segar.
Hari ini, ia sengaja berangkat lebih pagi agar setidaknya bisa menikmati waktu tenangnya selama di sekolah sebelum para perundungnya beraksi. Sesuai dengan dugaannya, ia adalah orang pertama yang datang ke sekolah. Suasana tenang begini membuatnya bisa mendapatkan inspirasi. Farel pun mengambil buku sketsanya yang kemarin sempat ia beli setelah pulang dari rumah sakit kemudian mulai menggoreksan pensilnya.
Beberapa saat kemudian, gambarnya ternyata sudah jadi. Tangannya tidak kehilangan kemahiran meskipun libur seminggu. Ia berhasil melukis kelas yang kosong di atas kertasnya.
"Gambar yang agak membosankan ..." gumam Farel. Ia pun memandang keluar jendela.
"Kayaknya gue harus keluar!" ujarnya yang langsung beranjak sambil menyiapkan alat-alat gambarnya.
Farel pun melangkah dengan cepat menuju pintu kelas, tetapi langkahnya terhenti begitu tiba-tiba muncul seorang gadis cantik di hadapannya.
'Thalia!' seru Farel panik dalam hati. Dari sekian banyak penghuni kelas dan sekolahnya, kenapa orang pertama yang harus ia temui adalah gadis perundung ini?
Sementara Thalia malah terpaku sambil menatap Farel yang juga sedang memandangnya.
'Farel? Apa ini benar-benar Farel?' batin Thalia yang langsung memegang kedua pipi lelaki di hadapannya, kemudian menepuk-nepuknya.
Farel langsung tidak merasa nyaman atas perlakuan gadis di hadapannya ini.
"Uhm, maaf, Thalia ... Aku halangin jalan kamu ya—" Farel hendak menyingkir, tetapi Thalia langsung meraih tangannya.
"Kamu Farel?" tanya Thalia lagi.
Farel hanya mengangguk tanpa berani menatap mata Thalia.
Seketika senyum merekah tercipta di wajah Thalia. Secara spontan, gadis itu malah memeluk tubuh Farel dengan erat, membuat seorang Farel kebingungan.
'Akhirnya, akhirnya aku bisa melihatnya! Dia benar-benar sudah sembuh!'girang Thalia dalam hati. Seolah beban dalam hatinya hilang seketika.
"Thalia ... Maaf, uhuk! Ka-kamu erat banget meluknya!" ucap Farel yang membuat Thalia tersadar atas apa yang dia lakukan.
Namun Thalia malah mengeratkan pelukannya dan berkata.
"Aku bebas melakukan apapun padamu! Karena kamu masih Milikku!" tegas Thalia.
Farel menghela napas, ia baru ingat janjinya pada Thalia berlaku selamanya, Ia hanya bisa pasrah atas apa yang Thalia lakukan padanya.
Thalia pun melepas pelukannya dan memandang Farel dengan serius.
"Kamu ke mana saja selama ini? Kenapa tidak menunjukkan batang hidungmu kenapa baru muncul sekarang!!" omel Thalia.
Farel diam-diam memutar bola matanya.
'Apa maksudnya? Apa dia tidak tahu kalau aku tidak masuk akibat ulahnya?'
__ADS_1
"Jawab!" paksa Thalia.
Farel pun menunduk sambil garuk-garuk kepala.
"Yah ... Aku masuk rumah sakit karena babak belur—" Tiba-tiba tangan Thalia menyentuh pipi Farel seraya memandang lelaki itu dengan tatapan nanar.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Thalia yang membuat Farel mau muntah. Haruskah ia jawab pertanyaan memuakkan ini?
"Aku juga gak tahu, aku gak kenal mereka!" Farel malas membahasnya. Jika mengingat saat-saat yang sangat menyesakkan sampai dirinya tak bisa bernapas.
'Dasar sok suci! Jelas-jelas dia yang nyuruh temen-temennya buat habisin gue! Sok-sokan nanya! Kalau lu bukan anak kepala yayasan, udah gue kasih sumpah serapah lu!' geram Farel dalam hati.
"Farel ..." Thalia memegang kedua pipi lelaki berkacamata itu dengan kedua tangannya.
"Dengar aku!" tegas Thalia.
"Jangan pernah, dengarkan perintah siapa pun kecuali perintahku!" tekan Thalia yang membuat Farel langsung menatap mata gadis cantik di hadapannya.
"Apa maksudnya?"
'Apa dia mau bilang kalau kemarin bukan atas suruhannya?' duga Farel dalam hati.
"Sekalipun itu perintah Kak Alan, Kak Aldo, ataupun ketiga temanku!" sambung Thalia lagi sambil menatap Farel dengan serius.
"Apa kemarin itu ..."
"Aku tidak menyuruh siapapun untuk menghajarmu! Itu inisiatif mereka sendiri!" ujar Thalia.
Farel hanya berdecak dan enggan memandang wajah Thalia.
"Jika mereka menyuruhmu sesuatu, sebut namaku, apapun yang mau mereka lakukan padamu, harus atas izinku!" tekan Thalia lagi.
Namun Farel malah terkekeh, membuat Thalia bingung.
"Apaan, sih? Sumpah, jijik banget, tau, gak!" ujar Farel sambil menyi gkirkan tangan Thalia dari pipinya.
Thalia mengernyitkan dahi. Apa maksud ucapan lelaki di depannya ini?
"Sumpah, gue muak sama lu, Thalia!" jujur Farel.
"Gua mau muntah setiap denger suara lu!"
"Rasanya perut gue bergemuruh dan mau mengeluarkan cairan tiap lihat muka lu!"
Farel kembali terkekeh.
__ADS_1
"Lu cantik?" Farel pun pura-pura muntah.
"Mereka harus izin lu? Terus, kalau lu izinin apa untungnya bagi gue? Sampai akhirnya gue juga akan hancur! Itu 'kan tujuan lu! Mau menghancurkan hidup gue sebagai bentuk pelampiasan lu?" tuding Farel.
Thalia hanya terdiam melihat Farel yang tiba-tiba berubah 180 derajat. Mana pernah laki-laki ini bicara begitu dengannya.
"Kenapa? Kenapa lu diem? Kenapa lu gak bilang iya aj—"
Tangan Thalia melayang dan mendarat dengan keras di pipi Farel, membuat lelaki itu berhenti dan sadar atas apa yang baru saja ia lakukan.
"Aku cuman gak suka kalau ada orang yang nyakitin kamu! Apa lagi mereka melakukannya di belakang aku!" pekik Thalia.
"Meskipun mereka sahabat aku, aku tetap gak suka! Aku gak suka mereka menghajar kamu sampai kamu masuk rumah sakit!" Akhirnya tangisan Thalia pecah. Perasaan yang selama ini ia pendam terucap semua dari mulutnya.
Namun Farel terdiam. Ia sendiri bingung, apa maksud dari perkataan Thalia. Gadis ini bahkan hanya menamparnya seyrlah ia brrucap keteraluan begitu. Bukankah harusnya ia habis sekarang juga.
"Kamu milik aku. Cuman aku yang boleh perintah kamu ..." lirih Thalia.
'Haruskah gue jadi anjing cewek ini?' gumam Farel dalam hati.
"Hatiku sakit kamu berkata seperti itu barusan!" ucap Thalia denfan nada suara tercekat.
"Pokoknya, kamu harus menuruti semua perintahku, karena itu janji kamu!" pekik Thalia lagi.
Farel pun langsung bersimpuh sambil menunduk, membuat Thalia bingung.
"Maafin gu— Maafin aku, Thalia! Aku gak akan menyakiti hati kamu lagi!"
'Gue terpaksa melakukan ini!' batin Farel agak menyesal sedikit, tetapi nasi telah menjadi bubur.
"Aku akan menuruti semua perintah kamu tanpa terkecuali, tapi ..." Farel mengumpulkan segala keberaniannya untuk membuat penawaran.
"Please, lindungin aku ..." Farel mengangkat kepalanya dan menatap wajah Thalia.
"Please ... Aku gak mau lagi masuk rumah sakit ... Aku gak mau babak belur ... Aku mohon Thalia!" Farel bahkan menangkupkan kedua tangannya di hadapan Thalia.
Thalia terdiam. Ia sedang berpikir, apa yang harusnya ia lakukan terhadapan lelaki di hadapannya.
"Aku milik kamu, maka buat aku tetap ada di sisi kamu," ucap Farel yang rasanya mau muntah. Namun ia terpaksa melakukan ini semua demi keselamatan dan pembuktiannya terhadap Alan.
'Cuman dengan begini gue bisa bungkam ocehan Kak Alan dan baik-baik saja,' pikir Farel.
Tanpa terduga, Thalia malah menggenggam tangkupan tangan Farel seraya mengangguk.
"Ya, kamu milikkku, dan aku akan membuatmu tetap di sisiku! Kamu hanya boleh mendengarkan aku!" ucap Thalia.
__ADS_1
'Hah, gue gak tahu, apakah keputusan gue benar atau enggak. Setidaknya gue cuman berharap bisa bernapas sedikit dengan cara begini,' gumam Farel dalam hati.