Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Wanita yang Berisik


__ADS_3

Thalia pulang dengan baju kotor akibat kejadian menegangkan tadi. Setelah membuat perhitungan dengan Farel, gadis itu meninggalkannya begitu saja. Namun selama perjalanannya menuju rumah, Thalia tak henti-henti memegangi perutnya. Tadi di sana ia bisa merasakan bagaimana Farel memegangnya dengan sangat erat.


Rasanya aneh, hangat dan nyaman. Padahal tubuh Farel kurus dan mungkin saja berkeringat. Gara-gara itu Thalia jadi melontarkan kalimat intimidasi pada lelaki itu. Namun ketika memasuki rumah ia tertegun.


"Kenapa aku membelikannya kacamata?" Ia bahkan lupa tujuannya.


"Ah, iya! Itu karena Farel menyulitkanku. Aku membelikan kacamata untuknya—" Tiba-tiba ada sebuah kertas dan amplop yang dilempar hingga menimpa wajahnya, membuat Thalia kaget. Ia pun mencari siapa orang yang berani melemparnya dengan kertas.


"Thalia! Kamu bolos les hari ini dan malah membeli barang tak beguna hingga tagihan karrtu kredit membengkak!" tuding seorang wanita bergaya glamour yang melihatnya saja membuat Thalia malas. Gadis itu hanya membersihkan pakainnya.


"Ya, Thalia bolos karena ada urusan!" ujarnya malas dan hendak pergi ke kamarnya, tetapi wanita itu mencegahnya. Ia memerhatikan pakaian Thalia dari atas hingga bawah.


"Ya ampun, Thalia!" seru wanita itu dengan suara melengkingnya. Thalia yang kesal hanya memutar bola matanya.


"Thalia capek! Mau ganti baju terus tidur!" cicitnya, tetapi wanita itu malah mencegahnya lagi.


"Siapa yang izinin kamu kabur dari Mama!" sinis Wanita glamour yang menyebut dirinya "Mama".


Thalia malah terkekeh.


"Cuih!" Wanita itu melotot melihat perilaku anak gadis di depannya.


"Kamu berani kurang ajar, ya sama Mama?" tukasnya sambil berkacak pinggang.


"Kalo iya, kenapa? Mau ngadu ke Papa? Ngadu aja! Emangnya Thalia takut?" tantang Thalia sambil mengangkat dagunya.


"Kamu—" Wanita itu hendak melayangkan tangannya, tetapi Thalia sama sekali tak gentar dan malah menatap tajam ke arahnya.


"Kenapa berhenti? Lanjutin aja! Biar nanti, Thalia sekalian bilang sama Papa kalau Tante Siska udah nampar Thalia," tantang gadis remaja itu tanpa rasa takut sama sekali.


Sementara Wanita yang bernama Siska itu terdiam, ia juga tidak mau terlihat buruk di mata suaminya.

__ADS_1


"Tante takut?" kekeh Thalia.


Siska pun mengangkat tangannya sembari menunjuk wajah anak sambungnya.


"Heh, Thalia, asal kamu tau, ya, saya gak pernah takut sama kamu! Saya hanya mencoba menahan diri," ujar Siska.


"Oh, iya? Kenapa ditahan, Tante? Lepasin aja!" tantang Thalia lagi.


"Pukul aja Thalia! Pukul, biar puas sekalian!" tekan Thalia sambil menatap wanita itu dengan tajam.


Siska menarik napas dalam-dalam.


"Kamu ini benar-benar, ya? Makin gede, bukannya makim sopan, malah semakin tidak tahu sopan santun!" tuding Siska dengan suaranya yang memekikkan telinga.


"Masa bodo!" sergah Thalia yang tak mau kalah. Berteriak pada Siska bukan hal yang segan ia lakukan. Keputusan Sang Papa lima tahun lalu yang menikahi Siska tidak pernah disetujui oleh Thalia. Hanya saja Siska sudah terlanjur hamil akibat perbuatan Sang Papa.


Namun kehamilan Siska bukan lah murni kesalahan Sang Papa. Siska yang merupakan sekertaris baru Papanyan yang baru seumur jagung, bertindak nekat dengan menjebak Sang Papa yang merupakan duda kaya hingga membuat dirinya sendiri hamil.


Sejak awal wanita itu muncul, Thalia sudah tahu kalau ia hanya berusaha menjebak kemudian memanfaatkan keluarganya. Andai saja Mama kandungnya tidak meninggal karena penyakit ganas tiga tahun lalu, hidup Thalia pasti tidak akan begini jadinya. Hal itu yang membuat Thalia tidak pernah sudi bahkan membenci wanita kotor nan licik ini.


Tidak hanya itu, kehamilan wanita ini juga malah melahirkan seorang anak laki-laki yang selalu jadi kebanggaannya dan berusaha menyingkirkan Thalia dari posisi pewaris utama keluarga ini.


"Hey, apa kamu tidak bisa bicara lembut pada Mama?" ketus Siska sambil menatap sinis anak sambungnya.


"Jangan pernah memanggil dirimu Mama di hadapanku! Aku tidak pernah sudi!" pekik Thalia lalu pergi sambil menghentakkan kakinya meninggalkan Siska.


"Hey, Thalia, Mama belum selesai bicara!" teriak Siska, tetapi tak digubris oleh gadis 12 tahun itu ia terus melanjutkan langkahnya sampai ke lantai atas, tempat dimana kamarnya berada.


Sesampainya di kamar, Thalia langsung masuk kamar mandi, ia membuka keran shower yang airnya langsung mengguyur seluruh tubuhnya yang masih mengebakan seragam sekolah yang kotor. Thalia duduk di lantai kamar mandi samnil meringkuk, ia tak tahan lagi dengan perlakuan Ibu Sambungnya itu. Ia hanya bisa menitikkan air mata yang disamarkan oleh rintik air dari shower yang membasahi wajahnya.


***

__ADS_1


Sepanjang perjalan Farel memandangi tempat kacamata baru pemberian Thalia, sedangkan kacamatanya telah ia pakai. Penglihatannya lebih jelas dan juga lebih nyaman dipakai dari yang sebelumnya.


"Aneh ... Sejak kapan Nenek sihir berubah menjadi baik hati begini?" gumam Farel masih tak menyangka. Dahinya sejak tadi berkerut, berusaha menemukan jawabannya, tetapi ia masih belum menemukannya.


Meskipun kalimatnya sejak awal ketus dan menyakitkan, tetapi dengan berpikir jernih dan menyaring semua perkataannya, Farel menemukan kebaikan di sana. Kemudian, ada hal laim yang membuat Farel penasaran, Thalia tidak mau kebaikannya diketahui orang lain.


"Apa karena orang yang mendapat kebaikan itu gue? Makanya dia gak mau orang tau?" Namun Farel malah terbesit kalimat Marina yang menggertaknya tadi pagi.


"A-atau Thalia suka sama— Gak mungkin! Itu adalah hal paling mustahil! Lu mikir apa, sih, Rel! Kalau suka, dia gak mungkin nyiksa orang yang disukain!" ujar Farel berusaha meluruskan pikirannya.


"Lu sekali dibaikin sama dia aja langsung mikir ke sana! Dasar!" gerutu Farel pada dirinya sendiri.


"Dek, adek mau turun dimana?" tegur supir angkutan umum yang dia naiki.


Farel tertegun, ia langsung memerhatikan sekeliling dan baru sadar, ternyata hanya dia penumpang angkutan umum ini.


"Uhm, di gang pasar, Bang!" seru Farel menyebut lokasi biasa ia turun.


"Gang Pasar udah lewat, Dek. Ini udah mau ke pangkalan!" seru supir angkutan umum yang membuat mata Farel membulat.


"Waduh, pangkalan? Jauh, dong!" gumam Farel.


"Mending adek saya turunin di sini, ya!" Tiba-tiba supir angkutan umum meminggirkan mobilnya.


"Eh, iya, tapi—"


"Nanti naik aja angkot yang ke arah balik," ujar Sang Supir. Farel pun tak bisa berkutik. Memang satu-satunya jalan itu, tetapi uang sakunya sudah habis karena lokasi dari tempat ia beli kacamata ke rumahnya cukup jauh.


"Udah, tuh, dek. Abang mau ke pangkalan, udah ditungguin setoran!" seru Sang Supir. Farel pun hanya bisa turun dari angkutan umum itu sambil memasang wajah lesu.


***

__ADS_1


__ADS_2