Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S2: Janji Baru


__ADS_3

Farel terdiam seraya memandangi kelingkingnya. Bukankah ia akan habis sekarang? Apa yang ada di pikirannya sampai berani melepaskan tautan kelingkingnya dengan kelingking Thalia? Bukankah barusan ia menolak perintah Thalia?


"Bukan, tadi bukan perintah ..." gumam Farel. Ia sendiri tidak begitu paham dengan tujuan ucapan Thalia barusan.


"Farel?" Sekali lagi Thalia menegurnya. Cowok Berkacamata itu langsung menunduk.


"Maaf, Thalia!" sahutnya.


"Ma-maaf?" Thalia reflek meremas lututnya. Kenapa Farel malah minta maaf?


"A-apa maksud kamu?" tanya Thalia dengan suara yang bergetar.


Farel menarik napas panjang dan mengembuskannya.


"Gue ... Sama sekali gak ngerti maksud ucapan lu barusan dan gue ngerasa kalau itu ... Itu berlebihan ..." Cowok Berkacamata itu bahkan tidak berani mengangkat kepalanya. Ia tidak kuat hati melihat ekspresi wajah Thalia sekarang.


"Maksud ucapanku?" ulang Thalia seraya memegang bibirnya. Gadis itu bergumam.


"Apa kurang jelas?" tanya Thalia yang nadanya masih terdengar lembut. Berbeda dari biasanya, bukankah gadis ini harusnya meninggikan suara?


Farel reflek mengangkat kepalanya dan malah menemukan wajah Thalia yang memerah. Gadis itu juga sama sekali tidak memandang dirinya.


"Aku ... Aku cuman mau temenan sama kamu lebih lama, sampai SMA, terus, mungkin kita bisa kuliah bareng, kerja di tempat yang sama ..." Thalia langsung mengusap belakang lehernya sembari melirik ke arah Farel.


"Yah, orang-orang juga melakukan hal itu 'kan?" sahut Thalia sambil tersenyum lembut.


Farel terdiam. Pemikirannya juga tidak jauh beda dengan Thalia. Kebanyakan orang memang seperti itu.


"Pasti asyik kalau kita bisa saling berkeluh kesah. Lagian, kamu juga udah tahu rahasia terbrsar aku dan ..." Thalia kembali menunduk.


"Aku cuman bisa cerita sama kamu," tuturnya.


"Kenapa?" sosor Farel yang menarik atensi Thalia.


"Kenapa gak lu ceritain tentang Tante Siska ke sahabat-sahabat lu? Kenapa lu malah ceritain ke gue?" cecar Farel.


Thalia tertegun, tetapi gadis itu malah terdiam. Sedangkan Farel menunggu gadis di hadapannya membuka mulutnya.


"Karena ... Mungkin karena kebetulan kamu yang menyadari sifat busuk Tante Siska," ungkap Thalia yang membuat Farel mengernyitkan dahi.


"Wanita itu ... Dia selalu pasang muka dua di depan sahabat-sahabatku. Jadi, mereka menganggap, aku bahagia. Toh, mereka juga baru kenal aku pas SMP dan Tante Siska datang ke keluargaku sejak aku masih SD ..." tutur Thalia panjang lebar.


Thalia kemudian mendekati Farel dan meraih tangannya.

__ADS_1


"Jadi, setelah lulus SMP, ayo kita sekolah di SMA yang sama juga!" ajak Thalia lagi dengan senyum cerahnya.


Namun Farel hanya terdiam sambil memandang wajah cerah Thalia. Kini hatinya dilanda kebimbangan. Lidahnya sangat ingin berkata "Ya", tetapi kepalanya terus berusaha mengatakan tidak.


"Gue gak tahu!" Farel langsung menarik tangannya dan menjauh.


"Sumpah, gue gak tahu!" sahut Farel frustasi. Ia sangat bingung dengan sikap Thalia sekarang. Gadis ini bersikap sangat baik seolah mereka teman akrab, tetapi ia tidak yakin apa yang akan terjadi di sekolah nanti. Mungkinkah Thalia akan tetap baik padanya? Tidak, setidaknya gadis ini tidak mengganggunya. Farel tidak mendapat kepastian itu sama sekali.


Thalia pun terdiam.


"Kalau begitu, kamu boleh pulang," dingin Thalia.


"Pu-pulang?" ulang Farel.


"Ya, aku mau sendiri. Kamu boleh pulang," tekan Thalia lagi.


"Ta-tapi, kamu yakin baik-baik aj—"


"Aku bilang, kamu pulang, ya pulang! Apa susahnya, sih?" pekik Thalia tiba-tiba yang membuat Farel membeku. Terpampang jelas bahwa ada air mata menggenang di netra gadis cantik di hadapannya.


"Thalia, tapi—" Tiba-tiba Thalia bangkit dan menarik tangan Farel.


"Pulang sana! Pulang!" jeritnya.


"Sana pergi! Pergi dari kamarku!" pekik Thalia lagi yang menyeret Farel menuju pintu.


"Thalia ... Gue—"


"Jangan pake gue-elu kalau ngomong sama aku! Dasar jahat!" tukas Thalia lirih.


Farel langsung terdiam seraya memandang Thalia. Akhirnya Thalia yang sesungguhnya kembali. Cowok Berkacamata itu pun menarik tangannya dari genggaman Thalia.


"Oke!" sahut Farel yang menarik atensi Thalia.


"Oke, kita satu sekolah lagi nanti pas SMA," ujar Farel yang langsung mengulurkan kelingkingnya.


Thalia langsung memandang Cowok di hadapannya dengan mata membelalak. Farel yang tidak mendapat respon sama sekali langsung mengambil tangan Tgalia dan menautkan jari kelingking mereka.


"Gue—Uhm, maksudnya aku udah janji sama kamu. Lihat?" Farel menunjukkan kelingking mereka berdua yang tertaut. Thalia pun memandangnya.


"Jangan nangis lagi ..." lirih Farel yang menarik atensi Thalia. Cowok Berkacamata itu langsung merutuki dirinya sendiri. Entah ia kerasukan apa, melihat air mata Thalia yang menetes di pipinya membuat nafas Farel sesak dan tak kuasa mengikuti saran akal sehatnya.


Sekarang Cowok Berkacamata itu memandang lurus ke arah Thalia yang masih tercengang.

__ADS_1


"Kita ... Kita te-teman selamanya," ucap Farel lagi.


Ia sama sekali tidak mengerti maksud perkataannya sendiri. Biarlah waktu yang memperjelas semuanya nanti. Toh, mustahil jika di masa depan mereka akan terus bersama. Farel juga bermimpi punya kehidupan yang bebas, hanya saja ia perlu mengatur strategi sekarang. Mungkin untuk langkah pertama ia akan membiarkan dirinya semakin jauh terjerat ke dalam hubungan ini, tetapi ia harus mencari cara untuk bisa lepas dari jeratan Thalia.


...****************...


Sebuah ponsel terus berdering. Ponsel yang tergeletak di atas tikar itu diambil oleh seorang gadis.


"Farel? Siapa lagi Farel?" gumam Gadis berambut panjang itu yang melirik ke arah adiknya yang sedang asyik bermain voli dengan cowok yang disebut pacarnya.


Gadis berambut panjang itu hanya geleng-geleng kepala.


"Ternyata banyak juga cowok yang deketin dia," kekehnya sembari bangkit dari tempat duduknya.


Gadis itu melangkah mendekati sang Adik.


"Shei! Ada telepon, nih!" seru Laila—Kakak Perempuan Sheilla.


Sheilla langsung menoleh tanpa sadar bola voli malah mengenai kepalanya. Sontak, tubuhnya langsung rubuh ke pasir.


"Shei! Sorry, kamu gak apa-apa?" panik Alan yang segera menghampiri Sehila karena ia adalah pelaku yang melempar bola voli itu. Laila hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua sejoli ini.


"A-aku gak apa-apa Kak Alan," rintih Sheilla yang mengusap kepalanya, Alan dengan secakatan ikut mengusap bagian kepala Sheilla yang terkena bola.


"Aduh, maaf, ya," tuturnya penuh sesal.


"Hey, jangan drama mulu, kenapa? Ini mau diangjat gak teleponnya?" tegur Laila. Jika tahu begini, harusnya ia tidak setuju Alan ikut ke acara liburan keluarganya.


Dahi Alan mengernyit.


"Telepon? Dari siapa?" selidik Alan. Seingatnya, Sheilla tidak memiliki teman yang akan menghubunginya di tengah liburan.


"Farel," jawab Laila yang langsung membuat kedua mata Alan membulat.


"Farel? Ngapain dia telepon kamu? Gak telepon aku aja?" selidik Alan lagi sambil menatap lurus pacarnya.


Sheilla hanya mengendikan bahunya. Ia kemudian langsung bangkit dan mengambil ponselnya.


"Makasih, Kak," sahut Sheilla. Laila hanya mengangguk kemudian pergi dari hadapan dua sejoli itu.


Tepat saat ponsel itu telah samoai di tangan Sheilla, dering ponsel itu berhenti. Sementara sekarang atensi Alan tertuju pada besi canggih milik pacarnya itu.


"Shei, coba telepon balik, aku mau denger, dia mau bicara apa sama kamu," dingin Alan.

__ADS_1


__ADS_2