
Marina berjalan melewati lapangan dengan wajah yang ditekuk, begitu juga dengan Vannessa dan Renata.
"Sumpah, adek-adek kelas ini kenapa, sih? Kok bisa-bisanya mereka pada teriakin nama Farel?" gerutu Renata.
"Gak tahu! Selera mereka rendah, kali! Sukanya sama cowok culun!" timpal Marina. Ia masih ingat, pipinya sekarang terasa perih karena Cowok Berkacamata itu.
"Tapi, Farel itu emang agak berubah, sih ... Dia jadi lebih atletis gitu, gak sih badannya—" Vannessa langsung melipat mulutnya saat melihat tatapan sinis kedua sahabatnya.
"Lu udah bosen sama Kak Aldo, ya Nes? Bisa-bisanya merhatiin badan cowok lain!" sindir Marina.
"Eh? E-enggak! Kak Aldo is number one and one n' only in my heart!" cetus Vannessa.
"Terus, kenapa lu malah belain Farel?" cecar Renata.
Vannessa melirik ke kanan dan ke kiri. Ia langsung memalingkan wajahnya sambil menyisipkan anak rambut ke telinga.
"Y-yah ... Gue cuman kasih info dari yang kelihatan," bela Vannessa tanpa berani memandang wajah kedua sahabatnya yang kini memicingkan mata.
"Udah gitu, Farel makin jago olahraga, gak sih semenjak kelas delapan?" celetuk Vannessa lagi yang semakin mendapat tatapan tajam dari kedua sahabatnya.
"Oke, gue diem," ujar Vannessa sambil menutup mulutnya.
"Lu ngedukung Farel sama Thalia jadian?" tukas Marina yang langsung membuat Vannessa melotot.
"What? Enggak! Gila aja! Kenapa malah gue dukung mereka jadian? Gak banget! Lagian, Thalia gak mungkin suka sama cowok kayak Farel. Gak Level!!! Hiiy!" merinding Vannessa.
"Nah, tapi itu yang jadi pertanyaan gue ..." cetus Renata yang menarik atensi kedua sahabatnya.
"Sikap Thalia ke Farel kayak berubah seratus delapan puluh derajat gak, sih?" ujar Renata.
"Berubah gimana maksud lu?" selidik Marina.
"Ya, gue gak memungkiri, Farel tuh jadi nurut banget sama Thalia dan kesannya sangat memperioritaskan Thalia banget ... Tapi, sikap Thalia malah makin lunak, makin baik dan parahnya lagi itu hari ini! Dia bahkan lebih milih duduk sebangku sama Farel dibanding kita!" beber Renata panjang lebar.
"Iya, gue juga ngerasa Thalia jadi lebih suka temenan sama Farel dibanding kita. Padahal yang nemenin dia dari kelas tujuh 'kan kita. Ih, gue sebel, gue envy!" jerit Vannessa.
__ADS_1
"Tapi, anehnya, kenapa Farel jadi nurut banget sama Thalia, ya? Bukannya dia selalu ngelawan? Sebenarnya perubahan sikap Farel tuh sejak kapan, ya?" lanjut Renata lagi.
"Dari kelas tujuh," seru Marina yang membuat kedua sahabatnya memandang ke arahnya.
"Ke-kelas tujuh—"
"Aku gak bisa biarin kalau sampai cowok yang aku suka direbut cewek lain!" Tiba-tiba terdengar teriakan suara Thalia dari lapangan, membuat atensi Marina, Renata dan Vannessa beralih.
"Guys! Itu barusan suara Thalia gak, sih?" sahut Vannessa dengan mata yang melotot.
"Iya! Kalau gue gak salah denger, Thalia bilang ..."
"Cowok yang aku suka!" seru mereka bertiga kompak. Tiga cewek itu yang hampir sampai ke gedung kelas pun kembali berlari ke lapangan untuk meyaksikan apa yang terjadi.
Namun mereka malah melihat Farel yang sedang berdiri mematung sambil memegang jus ke arah pinggir lapangan. Arah pandang mereka pun beralih ke arah pandang Farel. Di sana, mereka melihat Thalia seolah sedang bicara dengan Sheilla. Mereka bertiga tidak bisa dengar apa yang dibicarakan oleh Thalia dan Sheilla, tetapi setelah bicara sebentar, Thalia lari begitu saja meninggalkan lapangan.
"Guys, Si The Beast ngomong apaan ke Thalia?" sahut Vannessa.
"Kita harus kejar!" ujar Marina, tetapi ia ditahan oleh Renata saat tak sengaja melihat Farel yang ikut mengejar Thalia.
...****************...
Thalia duduk di taman sambil menutup wajahnya. Sejujurnya dia malu setengah mati, apa lagi semua mata tertuju padanya. Ini semua gara-gara ulah adik-adik kelas yang sinting! Buat apa mereka cari-cari perhatian Farel! Apa mereka tidak lihat, bahwa Farel adalah milik Thalia seorang?
"Thalia!" Pundak Thalia naik saat mendengar namanya dipanggil oleh seorang Cowok yang membuat lidahnya bertingkah seenaknya. Ditambah lagi, Sheilla menyadari hal itu! Mungkin kah, dia akan memberitahu Farel? Atau jangan-jangan akan memberitahu ketiga sahabatnya sehingga ia dibenci dan dikucilkan. Dulu, Thalia pernah membuat sahabat Sheilla pergi meninggalkannya bahkan sampai pindah sekolah. Bagaimana kalau sekarang Sheilla balas dendam?
"Thalia? Kamu baik-baik aja?" Thalia bisa merasakan suara Cowok itu semakin jelas. Ia bahkan bisa merasakan keberadaan Cowok Berkacamata itu di belakangnya.
"Buat apa kamu ke si—" Tiba-tiba pipinya ditempel oleh gelas jus yang dingin. Thalia pun reflek menoleh dan langsung disambut oleh senyuman hangat seorang Farel. Seketika rasa amarah, kesal dan malunya lenyap begitu saja.
"Fa-farel?"
Cowok Berkacamata yang disebut namanya itu langsung duduk di sebelah Thalia sambil menyodorkan gelas jus padanya.
"Ini, jus terong belanda tanpa susu kental manis dan sedikit gula ..." beber Farel dengan senyum merekahnya. Thalia hanya mengernyitkan dahi sambil menerima gelas jus pesanannya itu.
__ADS_1
Tak lupa, Farel memberikan sedotannya juga. Thalia pun menusukkan sedotan itu di gelas jusnya, tetapi sedotannya malah bengkok.
"Ugh! Kamu kenapa gak ambil sedotan yang bagus, sih?" gerutu Thalia yang mencoba menembus plastik penutup gelas jusnya yang begitu elastis.
"Coba, aku yang bukain," tawar Farel. Thaliayang menekuk wajahnya pun menyerahkan gelas jusnya pada Farel. Farel langsung mengambilnya.
"Lakukan jika kamu bis—"
"Nih, udah," ujar Farel sambil menyodorkan kembali gelas jus Thalia. Sontak, gadis itu membelalak serata menerima gelas jus terong Belandanya.
"Thanks ..." ucap Thalia agak takjub dan langsung menyedot jusnya. Segar buahnya yang dingin seketika membuat kepalanya jadi dingin. Sementara Farel diam-diam melirik wajah Thalia. Sepertinya amarah gadis di sampingnya ini sudah mereda. Dia pun hanya memandangi Thalia yang sedang menikmati jusnya.
Thalia yang sadar dipandang oleh Farel pun melirik Cowok itu.
"Ka-kamu ... Kamu katanya mau main di lapangan? Ke-kenapa masih di sini?" tanya Thalia agak malu. Kenapa juga Farel memandanginya terus sambil tersenyum. Apa hari ini dia begitu cantik sampai Cowok ini tak sanggup mengalihkan pandangannya?
"Main? Kamu yakin?" tanya Farel.
Mata Thalia pun mengerjap dan menghadapkan tubuhnya pada Farel.
"Ke-kenapa kamu malah balik tanya, sih? Lagian, kamu ngapain ke sini?" gerutu Thalia sambil memalingkan wajahnya.
"Aku mau antar jus pesanan kamu," jawab Farel yang membuat Thalia tertegun.
"Sekalian, kalau kamu butuh teman ..." ujar Farel seraya melirik ke arah Thalia yang kini menatapnya lamat-lamat.
"Te-teman?" tutur Thalia. Farel mengangguk sambil menatap Thalia. Kemudian ia menyisir seisi taman. Atensinya pun kembali pada Thalia sambil memegang punggung tangannya.
"Ya, aku akan menemanimu, sampai perasaanmu lebih baik ..." ujar Farel yang menatap Tgalia secara mendalam. Namun Thalia mengernyitkan dahinya.
"Me-menemaniku?" ulang Thalia lagi yang langsung dijawab dengan anggukan kepala.
"Apa maksudmu, Farel?" cetus Thalia dingin.
"Hah? Apa maksudku?" bingung Farel. Bukankah, di saat seperti ini Thalia paling membutuhkan seseorang di sampingnya? Itu yang ia pelajari selama satu tahun terakhir dari gadis ini.
__ADS_1
"Apa tujuanmu? Kenapa kamu meperlakukanku begini? Apa kamu mendengar ucapanku di lapangan tadi?"