
Sontak pundak Marina naik. Gadis berwajah oriental itu langsung menoleh sambil memasang senyumnya.
"Thalia! Ada apa?" sahut Marina yang menatap lurus ke arah Thalia. Bukankah Thalia tadi sedang asyik mengobrol dengan Vannesaa dan Aldo di ruang tamu Apartemen Aldo? Padahal Marina dari tadi duduk di meja makan sambil berselancar melalui ponsel Thalia. Ya, kini mereka sedang berkumpul di Apartemen Aldo setelah selesai nonton bioskop bersama karena harusnya hari ini adalah hari kencan Vannessa dan Aldo, tetapi sejoli ini rela mengalah dengan menghabiskan akhir minggu bersama-sama.
"Uhm, enggak, aku cuman mau tanya, apakah ada pesan masuk? Kayaknya tadi aku denger notif," ujar Thalia. Pendengaran gadis ini ternayat cukup tajam. Ya, wajar, sih karena Apartemen Aldo juga tidak terlalu besar.
"Pesan masuk? Oh, i-itu ... Iya! Ada pesan masuk, tapi dari operator!" bohong Marina.
"Operator? Oh ..." Thalia hanya mengangguk-angguk.
"Uhm, Marina, bisa sekalian minta tolong hapus pesan-pesan dari operator juga, ya. Biar gak spam," pinta Thalia.
"I-iya. Tenang. Gue bakal hapus semua pesan spam di hape lu," ujar Marina yang masih setia memasang senyum palsunya.
"Oke, Thanks. Uhm, kalau Papaku atau Tante Siska sms, kabarin, ya. Aku masih milih jam tangan. Aku jastip sama kakaknya Vannessa. Dia, 'kan lagi ke US. Soalnya model-modelnya gak ada di Indo," beber Thalia.
"Iya, sana lu pilih model-model jam sepuasnya sampai dapet. Soal spam, serahin aja sama gue," ujar Marina sambil menunjuk dirinya.
"Oke, tolong, ya." Thalia pun kembali menghampiri Vannessa lagi di ruang tamu. Sementara Marina menatap kepergian Thalia dan mengamatinya sejenak.
"Kayaknya, perhatian Thalia udah fokus sama katalog jam," gumam Marina yang atensinya kembali ke layar ponsel Thalia. Gadis berwajah oriental itu mendelik kesal. Tanpa pikir panjang, ia menghapus pesan dari Farel yang baru saja masuk.
"Dasar Culun menjijikan! Apaan lu? Kangen sama Thalia? Ck! Ternyata bener dugaan gue, dia suka sama Thalia!" geram Marina.
"Lu pikir, Thalia mau sama lu? Yang ada dia alergi! Dasar sinting, gila, miring!" rutuk Marina sembari menghapus semua pesan operator di ponsel Thalia. Namun matanya malah semakin membelalak. Ternyata banyak pesan masuk dari Farel! Mereka bahkan mengobrol lewat sms!
"Apa-apaan ini? Thalia sering dateng ke rumah Farel? Dan Farel juga sering datang ke rumah Thalia? Mereka bahkan bertukar hadiah saat ulang tahun?" merinding Marina. Mau dilihat bagaimanapun, interaksi mereka mirip seperti dua sejoli yang sedang menjalin kasih! Kepala Marina menggeleng, sangat tidak mungkin mereka diam-diam pacaran! Marina pun reflek memilih pilihan "hapus semua pesan" di ponsel Thalia. Tepat setelah semua pesan yang masuk terhapus, tangannya langsung lemas dan menjatuhkan ponsel Thalia begitu saja di atas meja makan.
"Gila! Thalia gila!" rutuk Marina lagi yang tidak mau percaya dengan apa yang barusan ia lihat. Ini baru percakapan lewat sms, kira-kira, bagaimana percakapan mereka lewat media sosial? Marina yang memikirkannya saja sudah mau muntah! Namun di saat genting begini, tiba-tiba ada sebuah tangan yang kokoh merambat ke pundaknya.
"Hei, Marina ...." Terdengar suara seorang lelaki yang terdengar agak berat, membuat pundak Marina naik. Cewek berwajah oriental itu pun menoleh dan menemukan seorang cowok jabrik berkalung rantai sedang tersenyum di sampingnya.
"Uhm, ada apa, ya, Kak?" Marina langsung menggerakkan bahunya sembari menyingkirkan tangan cowok jabrik itu kemudian menjauh.
__ADS_1
"Kok, kamu menjauh, sih?" Cowok jabrik itu langsung merangkul Marina hingga membuat mata Marina melotot.
"Kak!" panik Marina yang langsung menyingkirkan tangan cowok jabrik itu. Cowok jabrik ini bernama Randy, salah satu teman Aldo yang suka ikut bergabung jika Aldo ikut jalan atau berkumpul dengan Vannessa dan ketiga sahabatnya. Namun, dia secara terang-terangan, akhir-akhir ini terus berusaha tebar pesona pada Marina.
"Hei, hei, Marina! Kenapa reaksi kamu berlebihan. Aku, 'kan baru rangkul kamu aja," kekehnya yang cara bicaranya sok akrab dengan Marina.
"Sorry, Kak Randy. Gue gak nyaman!" tegas Marina yang membuat kedua alis Randy itu terangkat.
"Gak nyaman?" ulang Randy sambil mengelus paham Marina yang kebetulan mengebakan hot pants. Sontak kedua matanya membelalak.
"Kak—" Sebuah telunjuk langsung menempel di depan bibir Marina, siapa lagi kalau bukan telunjuk Randy.
"Jangan keras-keras, Marina ... Nanti orang-orang mikir yang enggak-enggak," ucap Randy sambil menyeringai. Namun, Marina malah membalas senyum itu dengan tatapan tajam. Marina pun menyingkirkan tangan Randy.
"Kak, sebenarnya Kak Randy begini kenapa, sih? Jangan-jangan Kakak suka aku, ya?" tebak Marina yang malah menaikkan kedua alis Randy.
"Suka kamu?" Kali ini Randy memainkan helai-helai rambut panjang Marina.
"Emangnya, aku udah pernah bilang suka sama kamu?" tanya cowok itu yang membuat Marina mati kutu. Memang benar, Randy sama sekali tidak pernah bilang suka atau menyatakan perasaannya apa lagi mengajak Marina pacaran, tetapi dari gelagatnya yang terus ingin berada di dekat Marina sangat terlihat jelas. Apa selama ini ia salah membaca kode cowok jabrik ini?
"Kira-kira, apa yang bisa buat kamu mau luluh sama aku, Marina sayang?" tanya Randy lagi.
Dahi Marina mengernyit.
"Emangnya, Kakak bisa apa?" tanya Marina.
"Apa aja. Apapun yang kamu mau, aku akan kabulin, asalkan, kamu jangan tolak aku ..." ujar cowok jabrik itu sambil mencolek dagu Marina.
"Kakak yakin, bisa melakukan apa aja?" tekan Marina.
"Apapun buat kamu, Marina sayang."
Jawaban Randy mampu menciptakan senyum lebar di wajah Marina.
__ADS_1
"Oke, gue punya keinginan, tetapi agak berbahaya. Cuman, kalau Kakak berhasil, aku akan kabulin satu permintaan Kakak!"
"Ayo liburan ke Puncak pas liburan semester berdua aja!" seru Randy yang membuat mata Marina membulat. Liburan ke Puncak? Berdua saja? Bukankah itu agak aneh? Namun, bukan saatnya ia memikirkan hal itu, toh ia bisa melakukan apa yang ia mau tanpa bilang-bilang pada ketiga sahabatnya terutama Thalia.
"Oke, deal!" ujar Marina sambil mengulurkan tangannya. Cowok jabrik itu pun menjabat tangan Marina.
"Deal!" serunya.
"Kalau begitu, apa tugasku, Sayang?" tanya Randy.
"Gue cuman mau Kakak ngelakuin sebuah tugas, kayaknya tugas ini gak sulit, deh buat Kakak," ujar Marina.
"Tugas apa?"
"Uhm, Hajar, habisi, buat dia babak belur sampai gak bisa masuk sekolah!" ujar Marina yang membuat Randy menegakkan tubuhnya.
"Waw! Ternyata, Marinaku agak sadis juga. Uhm, tapi siapa orang yang mau kamu habisi ini?" tanya Randy lagi.
"Teman satu sekolah gue. Namanya Farel Barata Septian!" jawab Marina sambil menyeringai.
"Waw, kayaknya menarik ...." ujar Randy bak drakula yang kehausan darah.
...****************...
Farel berjalan menyusuri trotoar menuju gedung sekolahnya. Hari ini adalah minggu terakhir sebelum ujian semester. Sebenarnya, tekanan selalu datang tiap semester karena nilainya akan dievaluasi. Jika ia mengalami penurunan, maka beasiswanya bisa dicabut. Pasalnya, ia sudah mendapat teguran setelah ujian tengah semester kemarin. Satu-satunya cara adalah meningkatkan nilai ujian semester karena memiliki persentase paling tinggi di penilaian akhir.
Farel langsung menepuk kedua pipinya.
"Semangat! Semangat! Semangat!" ujarnya, tetapi malah kembali lesu karena teringat pesannya yang masih belum dapat balasan dari Thalia.
"Dia udah baca belum, ya? Apa dia langsung ilfeel sama gue, ya?" pikir Farel yang malah menghela napas pasrah. Namun langkahnya terhenti ketika ada tiga lelaki yang menghalangi jalannya.Farel langsung menunduk dan berjalan lebih pinggir, tetapi sebuah tangan mencekal tangannya.
"Hai, Farel!" ujar lelaki berambut jabrik yang mau Farel lewati. Sontak atensi Farel beralih.
__ADS_1
"Uhm, ma-maaf, apa kita kenal?" tanya Farel yang malah membuat cowok berambut jabrik itu menyeringai.
"Kenal? Hem ... Karena kita belum kenal, maka, ayo kita kenalan!" Sontak lengan Farel ditarik paksa oleh cowok berambut jabrik itu dan tubuhnya diseret pergi ke gang kecil di samping sekolah.