
Alan terpaku, selama 14 tahun ia hidup, baru kali ini ada seseorang yang berani membentaknya. Namun anehnya Alan sama sekali tidak marah, melainkan merasa bersalah. Ia bisa merasakan rasa sakit dalam hati Farel dari raut wajahnya.
"Lu gak pernah 'kan dibuat bungkam sama takdir? Takdir lu teralu bagus!" ujar Farel lagi yang tanpa sadar menitikkan sebulir bening dari sudut matanya.
Alan diam-diam mendelik mendengar ucapan seperti itu dari orang yang tidak tahu seaesak apa suasana dalam keluarganya.
"Lu kaya, lu tampan, lu pinter, semua orang berlomba-lomba buat deket sama lu!" tukas Farel.
"Lu ... Lu populer! Semua orang takut dan menghormati lu! Lu gak punya kekurangan sedikit pun!" cicit Farel sambil sesenggukan.
"Lu gak pernah 'kan berada dalam posisi ketika semua yang ada dalam hidup lu memojokan lu?" tukas Farel lagi.
Alan terdiam mendengar semua penuturan Farel. Kalimat Farel membuat Alan teringat betapa sesaknya ia tiap pulang ke rumah.
"Gak ... Di dunia ini gak ada yang sempurna, Farel ..." ujar Alan yang tak tahan dengan semua tuduhan Farel. Meskipun terdengar bagaikan pujian, tetapi tiap kata Farel terasa sesak baginya.
"Gue gak butuh ceramah lu saat ini!" sahut Farel kemudian membuang mukanya.
"Gue sekarang berada dalam posisi terlemah. Semua kekuatan gue udah diambil. Sekarang gue gak punya apa-apa. Gua gak bisa berbuat apa-apa ..." isak Farel seraya memandang keluar jendela yang menampakanan dunia malam yang begitu gelap.
"Gue berusaha ngelawan mereka, tapi gue sendiri! Mereka gerombolan, gak cewek, gak cowok, semua menjadikan gue tumbal untuk lelucon mereka!" Farel meringis, meratapi nasibnya yang menyedihkan.
"Kalau lu jadi gue, lu bakal apa, ha?" tantang Farel.
Alan terdiam, ia tahu kini Farel sedang marah, jika ia membalasnya, maka akan terjadi ledakan amarah di rumag sakit ini.
"Jawab! Jangan diem aja!" bentak Farel agak menuntut.
Alan memandang wajah merah padam Farel yang kini sedang menantikan jawabannya.
"Lu beneran mau tau jawaban gue?" tantang Alan.
"Iya! Gue mau tahu, lu akan apa jika berada dalam posisi gue!" sahut Farel agak menekankan.
Alan menarik napas panjang.
__ADS_1
"Kalau gue jadi lu ... gue akan berusaha jadi lebih kuat, supaya orang -orang seperti mereka gak akan menindas gue—"
"Lu masih aja halu!" tuding Farel sambil terkekeh, tetapi sebenarnya miris.
"Gimana coba, jadinya lebih kuat? Ngomong itu emang gampang!" tukas Farel sambil menertawakan jawaban Alan.
Sebenarnya Alan sangat geram dengan sikap Farel, tetapi ia tahu harus bersikap seperti apa.
"Kalau gitu, gue yang akan wujudkan buat lu jadi lebih kuat!" ujar Alan membuat tawa Farel terhenti.
"Kak Alan ... please, jangan halu—"
"Kalau gue ada di posisi lu tadi pas di kamar mandi, mereka semua ancur sama gue!" ujar Alan percaya diri.
Sekali lagi Farel terkekeh.
"Lu jangan kebanyakan halu! Sorry, ini bukan novel atau film yang satu orang bisa ngalahin lima orang atau lebih sekaligus! Kita ini manusia biasa! Lu harus sadar!" ujar Farel lagi.
Namun Alan masih memandang adik kelasnya itu dengan tatapan tajam.
"Gak, Rel ... lu yang salah! Pemikiran lu yang bikin diri lu gak mau berkembang. Pemikiran lu yang bikin lu meringkuk dan gak mau ngelawan semua takdir buruk yang ngurung diri lu!" tukas Alan.
"Kita ini manusia yang luar biasa, kita sebenarnya bisa melakukan lebih dari apa yang kita bayangkan meskipun harus melalui kegagalan!" Alan sangat ingat kalimat Ayahnya ketika mengajak dirinya untuk mencari investor di negara tirai bambu dan mengalami penolakan padahal perusahaan ayahnya cukup besar kala itu.
"Terus kalau gagal, lu mau apa? Lu kepikiran—"
"Cari kelemahannya, perbaiki, coba lagi!" potong Alan.
"Lu cuman gak bisa menerima kegagalan yang lu dapatkan, makanya lu selalu berandai-andai ke jalan yang gak mungkin lu lalui! Ke jalan masa lalu yang udah bukan milik lu lagi!" tukas Alan.
"Masa lalu boleh dilihat kembali untuk dipelajari dan diperbaiki, bukan untuk disesali apalagi dilupakan ..." tutur Alan.
"Sekarang, dengan segala takdir yang memojokan lu, lu seharusnya cari cara agar mereka semua bisa lu dorong ke belakang dan berhenti memojokan lu!" lanjut Alan lagi.
"Kalau lu kayak gini, masalah lu gak akan ada penyelesaian! Lu akan tersiksa sampai mati!" tekan Alan.
__ADS_1
Diam-diam Farel meremas seprai tempat tidurnya.
"Lu tau apa, sih?" geram Farel.
"Rel, gue—"
"Sejujurnya, gue mengidolakan elu, Kak Alan ... Tapi ... denger lu kayak gini ... bikin gue jadi muak sama lu!" ketus Farel sambil menatap Alan dengan sorot mata yang tajam.
Namun Alan malah tersenyum miring.
"Oke, gue anggap ini kegagalan gue membujuk diri lu untuk keluar dari takdir buruk yang lu bilang—"
"Gak ada yang bisa ubah takdir!" potong Farel semakin muak.
"Yah, terserah lu, deh ... Tapi gue gak akan berhenti. Kalau lu mau bisa ngalahin lima orang sekaligus, lu cari gue. Gue bisa bikin lu jadi sehebat itu ... Sekarang mending lu istirahat," ujar Alan memilih untuk menyudahi perdebatan ini. Ia tahu, Farel masih keras kepala dan tak akan menerima sarannya.
"Maksud lu apa? Lu mau—"
"Gue mau pulang dulu. Daah!" sagut Alan sambil berjalan keluar kamar Farel.
Farel hanya mendelik kesal karena ia merasa dirinya kalah dari perdebatan, meskioun sebenarnya tidak ada yang menah atau pun kalah.
"Lihat aja, gue punya cara gue sendiri untuk bisa keluar dari semua masalah ini. Gue gak harus ikutin dia!" geram Farel. Ia bahkan lupa dengan semua rasa sakit akibat dirinya yang tadi oagi dikeroyok.
"Gue masih punya kartu AS yang kalau gue pake, semua orang seharusnya gak akan nge-bully gue lagi," ujar Farel.
Sementara itu Alan yang baru saja keluar dari kamar rawar Farel pun menyenderkan punggungbya ke dinding. Ia sedikit merasa bersalah karena asal ucap dan sok tahu tentang hidup Farel. Pasti dirinya terlihat sangat menyebalkan.
"Tapi mau gimana lagi? Gue harus ungkapin itu semua biar dia sadar ..." ujar Alan membela dirinya sendiri.
"Tapi sampai akhirnya malah gagal ..." kecewanya lagi.
Alan pun memandang langit-langit bangsal.
"Yah, benar kata Daddy ... Hal yang paling sulit dilakukan di dunia ini adalah berubah ..." ucap Alan sembari menghela napas.
__ADS_1
"Gue harap ada satu hal yang bikin Farel terpukul dan membuat anak itu mau berubah ..." Alan sekali lagi menghela napas.
"Dia harus sadar, sampai akhirnya yang bisa nolong dia hanya lah dirinya sendiri ..." ucap Alan lagi yang tidak lama kemudian didatangi oleh seseorang bersetelan serba hitam.