
Seketika suasana berubah jadi mencekam.
"Apa kamu bisa jelaskan, Thalia?" sarkas Papa.
Thalia yang tadinsempat terhenyak, menarik napas dalam-dalam dan berusaha tenang.
"Maaf, Pa ... Thalia tadi menggunakan uang itu untuk mengganti kacamata teman Thalia yang tidak sengaja Thalia pecahkan," ujar Thalia dengan nada penuh penyesalan.
"Tapi satu juta loh, Mas! Satu juta! Memangnya ada kacamata semahal itu?" tukas Siska memperpanas keadaan.
Thalia menoleh ke arah Ibu Sambungnya sambil menatap tajam.
"Ada! Tante bisa lihat struknya kalau tidak percaya!" Gadis itu menunduk sambil memasang raut sedih.
"Lagian ... Thalia membelikan kacamata terbaik yang juga nyaman digunakan bahkan memiliki frame dengan bahan yang lentur jadi tidak akan mudah pecah!" tambah Thalia.
"Thalia sangat merasa bersalah karena dia jadi tidak bisa belajar dengan baik ..." Gadis remaja itu mengangkat kepalanya kemudian menatap Sang Papa dengan wajah memelas.
"Papa boleh potong uang jajan Thalia untuk bulan depan jika Papa keberatan," serunya.
Sedangkan Siska diam-diam menggertakkan giginya mendengar pembelaan Putri Sambungya.
Aura kemarahan yang tadi menyelimuti Pria berkepala empat itu pun mereda. Kemudian ia melirik ke arah istrinya.
"Siska, jangan asal tuduh putriku! Apa kau sudah bertanya padanya?" tekan Papa.
Siska sontak terkesiap.
"Ta-tapi, Mas ..."
"Sudah lah! Jangan menciptakan masalah yang sebenarnya tidak perlu jadi masalah!" tekan Papa lagi. Siska hanya menunduk mendengar segala tudingan Papa, membuat Thalia diam-diam menyunggingkan senyumnya.
"Thalia, tenang, Sayang, Papa tidak akan memotong uang sakumu. Lagipula kau benar, kau sudah bertanggung jawab dan melakukan hal baik. Sampaikan maaf Papa juga pada temanmu itu, ya?" ujar Papa lembut. Thalia pun mengangguk. Ia diam-diam melirik ke arah Siska yang sedang memonyongkan bibirnya.
'Sorry, orang rendahan kayak kamu, gak bakal bisa ngelawan aku!' angkuh Thalia dalam hati.
***
Keesokan paginya, Farel berjalan menuju sekolah sambil membawa sebuah muffin yang dibungkus sangat cantik oleh Sang Mama.
__ADS_1
"Mama aneh. Kenapa juga harus dibungkus sencantik ini? Padahal gue gak bilang buat cewek!" gerutu Farel.
Sebenarnya ia agak malu membawa barang manis begini, bisa-bisa bukan hanya Thalia and the geng yang mengganggunya, tetapi juga teman-teman lain mengejeknya.
"Kalau bukan karena permintaan Mama, gue juga males banget!" keluhnya.
Akhirnya Farel sampai di kelas. Untungnya kelas masih sepi, setidaknya Farel bisa bernapas lega, ia bisa buru-buru menyembunyikan muffin itu di laci mejanya. Tanpa menunggu lagi, Farel langsung pergi ke tempat duduknya. Ia menyimpan tas dan mendekatkan muffin itu ke laci meja, tetapi sayang ... Muffinnya teralu besar.
"Sial!" umpatnya. Ia pun meletakkan muffin itu di atas meja kemudian menggosok-gosok kedua telinganya.
"Telingaku harus jadi telinga baja!" serunya mempersiapkan diri.
Tak lama gerombolan Thalia pun datang sambil bercanda-canda ria.
"Dia mau ngelawan gue? Emang, gak bisa mikir tuh cewek! Yang ada habis 'kan?" Sontak gelak tawa keempat perempuan itu meledak.
Farel yang tak sengaja mendengar hanya menelan salivanya.
'Apa ada korban lagi selain gue? Gila, nih cewek emang! Apa dia hidup untuk menghancurkan hidup orang lain?' tukas Farel dalam hati yang pura-pura tak menyadari kehadiran 4 cewek cantik itu.
"Eh, Si Anak Culun udah datang!" seru Vannesa yang memergoki kehadiran Farel, padahal lelaki itu mau keluar kelas.
Farel pun berbalik dan tersenyum.
Namun keempat cewek cantik itu malah memandangnya dingin hingga peluh Farel menetes di pelipis.
'Ya ampun, gue salah apa lagi, sih?' panik Farel dalam hati.
"Eh?" seru Vannesa yang matanya terusik dengan sebuah muffin yang dibungkus dengan cantik. Gadis itu pun mengambil muffin itu.
"Apaan, nih?" kekeh Vannesa.
Marina memerhatikan bungkus muffin itu dan langsung menoleh ke arah Farel.
"Va-vannesa ... kembaliin!" pinta Farel menghampiri gadis cantik itu dan hendak merebutnya, tetapi Vannesa langsung melempar muffin itu pada Renata.
"Hati-hati! Nanti rusak!" seru Farel.
"Rusak? Dih, peduli amat gue!" Renata memerhatikannya. Bahkan cup muffin itu berbentuk hati.
__ADS_1
"Lu mau nembak cewek, ya?" tebak Renata yang membuat Marina tertegun dan langsung menatap Farel tajam.
"Nembak cewek? Ngaco!" ucap Farel buru-buru.
"Terus, ini apa? Idih, berani juga lu nembak cewek!" kekeh Renata.
"Enggak! Enggak, itu buat ..." Farel menoleh ke arah Thalia yang dari tadi diam saja. Mulutnya seolah terkunci, meskipun mata mereka sempat bertemu, tetapi Thalia malah kabur dari tatapan Farel. Sayang, hal itu disadari oleh Marina. Emosi gadis itu tiba-tiba meningkat.
"Apaan, sih lu, Cupu! Menjijikan!" sontak Marina langsung merebut muffin di tangan Renata kemudian melemparnya ke lantai.
"Lu harus mikir seribu, enggak, jutaan bahkan triliun kali buat nembak cewek!" pekik Marina yang langsung menginjak-injak muffin itu hingga hancur.
Renata, Vannesa dan Thalia hanya terpaku melihat reaksi Marina yang tiba-tiba, sedangkan Farel hanya membeku melihat hasil jerih payah ia dan ibunya diinjak-injak hingga tak berbentuk.
"Marina ..." Seketika kaki Farel terasa lemas dan tubuhnya terjatuh begutu saja.
"Awas lu, coba-coba nembak cewek di sekolah ini! Lu pikir ada yang mau sama cowok culun dan miskin, menjijikan kayak elu. Ewh!" sergah Marina sambil menoyor kepala Farel.
Thalia menoleh ke arah Marina yang tidak pernah semarah ini sebelumnya. Sebagian hati Thalia tak rela lelaki berkacamata yang sedang mematung sambil meratapi muffin-nya hancur.
"Itu padahal buat ..." Farel melirik sejenak ke arah Thalia, sontak Thalia memalingkan pandangannya, khawatir Farel menyadari dirinya sedang memerhatikan lelaki berkacamata itu.
"Kenapa? Emangnya kenapa kalau gue mau kasih itu?" lirih Farel yang berusaha berdiri meski kakinya masih gemetaran.
Marina mundur satu langkah, tetapi matabya masih menatap Farel tajam.
"Emangnya kenapa kalau gue mau kasih mufgin ke orang yang baik sama gue? Salah gue mau berterima kasih, ha?" sergah Farel.
"Lu berani teriak sama gue?" Marina langsung mendorong Farel hingga membuat tubuh lelaki itu menubruk pinggir meja dan terjatuh.
"Farel!" seru Thalia panik yang membuat ketiga temannya menoleh ke arah gadis cantik itu.
"Thalia? Lu barusan bilang apa?" curiga Renata.
"Lu belain dia, Thal?" tuding Vannesa. Sedangkan Marina malah menurunkan pundaknya.
'Gawat! Mulut aku ngapain nyebut nama Si Culun itu?' bingung Thalia dalam hati.
"Thal, bilang sesuatu!" paksa Renata. Namun Thalia malah diam saja. Gadis itu malah melihat ke sekeliling kelas untuk, tetapi matanya malah bertemu dengan Farel yang sedang menatapnya, membuat Thalia tertegun, gadis itu pun langsung memalingkan pandangan.
__ADS_1
Sementara Farel masih memandangnya, sembari menunggu apa yang akan keluar dari mulut seorang Thalia.
'Sebenernya nih nenek sihir kesambet apa, sih? Kenapa jadi baik sama gue dari kemaren?' gumam Farel dalam hati.