Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Serangan Anak Kelas VIII


__ADS_3

Farel menguap selebar-lebarnya. Dirinya masih diselimuti rasa kantuk dan ia masih menggunakan totebag pemberian Shei sebagai tasnya. Ketika pulang, ia langsung mencuci tasnya dan ternyata pagi ini masih basah. Apa boleh buat, menggendong tas jingga dengan pola bunga-bunga ini harus ia lakukan setidaknya sampai tas ranselnya kering.


"Ugh ... kaki gue pegel!" gerutunya. Akibat berjalan jauh kemarin sampai menemukan angkutan umum, sekarang otot kakinya jadi agak tegang. Ingin rasanya ia naik suatu kendaraan untuk ke kelasnya.


Namun langkahnya terhenti begitu menemukan idolanya berdiri di depan kelas sambil celingak-celinguk.


"Kak Alan? Ngapain berdiri di situ?" gumam Farel bingung. Mungkinkah mencari seseorang?


Farel pun segera menghampirinya.


"Kak Alan?" sapa Farel yang membuat Alan terhenyak.


"Ugh, dikira siapa," timpal Alan spontan.


"Kak Alan cari siapa? Thalia belum datang." Farel sangat ingat bahwa Thalia sempat memamerkan kemajuan hubungannya dengan Alan sepanjang pelajaran sampai membuat telinganya panas.


"Thalia? Oh, anak kepala yayasan itu ..." Alan bergumam sambil garuk-garuk belakang kepalanya.


"Gue ... gue bukan cari Thalia," ungkapnya sambil berpikir.


Dahi Farel mengernyit. Lantas, siapa yang kakak kelas terpopulernya ini cari?


"Gue cari Shei ... Biasanya dia udah datang," ujar Alan agak malu-malu, bahkan wajah lelaki ini bersemu merah.


Sontak Farel membulatkan matanya.


'Cari Shei? Jadi Shei dan Kak Alan pacaran itu bukan gossip atau halu?' tebak Farel dalam hati tak percaya.


"Ck, tapi kayaknya dia datang agak siang-an hari ini ... kalau gitu, misal lu ketemu dia, bilangin Alan cariin! Nanti istirahat mau ketemu di Kantin! Oke?" pesan Alan.


Farel hanya mengangguk pelan, tetapi mata Alan malah tertuju pada totebag yang Farel gendong.


"Itu ... itu kayak punya Shei!" tunjuk Alan


Deg!


Sontak Jantung Farel seolah berhenti sesaat. Bisa habis dia jika Alan mengetahui ini benar-benar totebag milik Shei.


"Kenapa ada di elu?" ketus Alan.


Farel berusaha mengangkat kepalanya sambil berusaha terenyum, ia harus memutar otaknya untuk membuat alasan.


"I-ini ... y-yah ... tas ini 'kan bisa dibeli di supermarket, haha ... mu-mungkin kebetulan sama," ujar Farel.


"Bohong!" tukas Alan langsung merebut tas Farel dan mengeluarkan semua isinya. Farel hanya bisa melotot, mana pernah ia menduga kalau Alan juga akan bersikap seperti ini padanya.

__ADS_1


"Ini totebag, gue yang beliin buat Shei!" dingin Alan.


"Gue gak suka ada orang lain yang berusaha deketin milik gue!" tegas Alan seraya menatap Farel dengan tatapan intimidasinya.


Farel hanya bisa diam terpaku sambil memandangi buku dan alat tulisnya yang berserakan.


"Camkan itu!" tegas Alan lagi lalu pergi begitu saja meninggalkan Farel yang masih terpaku.


"Ke-kenapa?" ujar Farel sambil membereskan buku-bukunya. Ia agak kerepotan karena bukunya cukup banyak.


"Kukira, Kak Alan itu berbeda ... Tapi— Ugh!" Farel tak bisa protes, ia hanya bisa menggerutu. Tanpa ia sadari ada seseorang yang memperhatikannya. Orang itu menaikkan kedua sudut bibirnya.


"Baru tau rasa!" ujar gadis cantik itu.


***


Sedari tadi Thalia berusaha mencuri-curi pandang ke arah Farel. Ia sama sekali tidak melihat tas ransel hitam yang kemarin ia buang. Bahkan beberapa buku Farel bertumpuk di atas meja.


Sebenarnya gadis ini tahu, ia tadi pagi menyaksikan buku Farel yang dikeluarkan oleh Alan dari totebag yang sejak kemarin Farel bawa-bawa. Namun yang dipertanyakannya, mengapa Farel tidak menggunkan tas sampah itu?


"Ada yang kamu inginkan, Thalia?" seruan Farel sontak mengagetkan Thalia, gadis itu langsung salah tingkah dan mengambil bukunya.


Farel menoleh ke arah Thalia, lalu mengernyitkan dahinya.


"Baca apa? Ya, kamu gak lihat ini buku judulnya apa?" ketus Thalia.


"Lihat, sih, tapi aku susah bacanya, pft! Karena terbalik." Farel malah cekikikan sendiri. Ternyata gadis menyebalkan ini bisa bertingkah lucu juga.


"Te-terbalik?" Wajah Thalia langsung berwarna merah padam ketika tahu buku yang ia baca terbalik.


"Heh! Siapa yang mengizinkanmu tertawa?" kesal Thalia.


"Haha, maaf, Thalia ... tapi itu lucu." Farel tak bisa berhenti tertawa. Thalia yang melihat wajah tersenyum Farel tiba-tiba malah merasa ada dentuman aneh di dalam dadanya.


'K-kok gini lagi, sih?' batin Thalia sambil menggigit bibir bawahnya, wajah gadis itu bahkan terasa panas. Sementara Farel tertawa sambil memandang Thalia yang terlihat kesal.


Thalia sontak menendang kaki Farel, membuat lelaki itu berhenti tertawa seketika.


"Memangnya aku izinin kamu buat ketawain aku?" oceh Thalia agak sinis.


Farel rasanya ingin menepuk jidat, ia lagi-lagi kelepasan.


"Ma-maaf—"


"Maaf? Aku bosen dengernya!" bentak Thalia.

__ADS_1


Farel hanya bisa menunduk.


"Awas! Kalau kamu ngetawain aku lagi!" ketus Thalia. Farel hanya bisa bungkam sambil mengangguk pelan.


Dari tempat duduk lain, Ketiga sahabat Thalia menatap tajam ke arah Farel.


"Kayaknya ada yang harus disadarin, nih posisinya," batin Vannesa.


Farel setidaknya beruntung, hari ini Thalia tidak secerewet biasanya. Saat istirahat pun ia tidak harus melakukan apapun. Farel bisa bernapas lega hari ini.


Laki-laki berkacamata itu pun pergi ke kantin untuk menghilangkan rasa lapar. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Shei yang sedang duduk satu meja dengan Kak Alan, tetapi tidak terlihat seperti pasangan.


"Jangan-jangan Shei dimarahin Kak Alan gara-gara gue ..." gumam Farel agak bersalah. Mau bagaimana pun biat Shei sebenarnya baik, tetapi melihat sikap Kak alan tadi, bisa-bisa Shei diputusin.


'Bagus, kalau Kak Alan mutusin aku!'


Tiba-tiba Farel teringat ucapan Shei yang sempat ia curi dengar kemarin.


'Apa jangan-jangan Shei sengaja?' tebak Farel, ia kembali memperhatikan Shei dan Alan yang bicara dengan sangat serius.


Namun tiba-tiba Farel tersadar akan satu hal.


'Gimana kalau mereka beneran putus dan Kak Alan nuduh gue sebagai penyebabnya?' pikir Farel. Ia tidak pernah melihat Alan merundung seseorang, akan bagaimana jadinya jika orang seperti itu melakukannya? Apakah alan lebih parah?


Farel menelan salivanya. Ia pun menggeleng-gelengkan kepala.


'Jangan berpikir yang aneh-aneh, Farel! Kak Alan gak mungkin begitu ... Ta-tadi pagi pasti cuman karena cemburu,' Farel masih berusaha berpikir positif, terutama untuk idolanya itu.


"Mending hari ini gue menikmati hari saja—"


Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang merangkulnya.


"Heit! Mau kemana lu?" tanya seorang anak laki-laki berambut jabrik. Farel tahu siapa dia, tak lama gerombolan lainnya datang.


"Jadi ini yang namanya Farel?"ucap Laki-laki dengan kerah atas yang dibuka.


Farel tentu tahu siapa mereka. Namun, ia bingung, kenapa tiba-tiba Kakak kelas VIII yang terkenal suka mencari masalah ini tiba-tiba mendekatinya.


"Jadi ini yang kata Thalia bisa jadi babu kita hari ini?"


Mata Farel membulat ketika mendmegar ucapan seorang laki-laki berkulit gelap.


"A-apa?" ujar Farel, tetapi tiba-tiba lelaki yang merangkulnya menarik rambutnya hingga kepalanya tertarik ke belakang.


"Tadi lu barusan bilang apa?" pekik Lelaki berambut jabrik itu.

__ADS_1


__ADS_2