
Marina kini sampai di depan pintu UKS. Pintunya tertutup. Tidak mungkin, 'kan si Culun itu menguncinya untuk menodai Thalia? Marina menggelengkan kepalanya. Pikirannya kenapa jadi liar begitu? Dia pun membuka pintu UKS pelan-pelan dan sebisa mungkin tak berdecit. Pintunya tak terkunci dan tidak ada guru UKS. Dia pun masuk dengan mengendap-endap.
"Khayalan? Maksudnya?" Marina mendengar suara Farel di bagian dalam UKS. Tidak salah lagi, dia pasti sedang bicara dengan Thalia. Marina pun segera menghampiri mereka, tetapi segera bersembunyi.
"Uhm, itu ..." Thalia terkesiap. Kenapa juga Farel mencecarnya? Itu berarti, ia ketahuan kalau selama ini selalu memikirkan cowok berkacamata ini. Bagaimana menjelaskannya? Apakah Thalia jujur saja kalau sebenarnya dia ada hati untuk Farel?
"Uhm, Thalia, maaf. Aku gak mau kamu salah paham," ujar Farel yang membuat lamunan Thalia buyar. Begitu juga Marina yang sedang bersembunyi, gadis itu agak kagey dengan kalimat yang keliar dari mulut Farel.
"Sa-salah paham? Maksudnya?" bingung Thalia.
"Uhm, soal yang diomongin sama temen-temenku di lapangan tadi. Kau gak tahu, kamu dengernya dari mana, tapi, kamu jangan salah paham," ucap Farel lagi sementara Thalia hanya mengerjapkan matanya. Sedangkan Marina memasang pendengarannya. Memangnya, apa yang dibicarakan oleh teman-teman Farel tentang mereka berdua?
"Oh, itu, aku—"
"Aku memang sangat berterima kasih sama kedatangan kamu waktu itu ke rumahku. Kalau gak ada kamu, aku mungkin udah dikeluarin sari sekolah ini," tutur Farel yang membuat mata Marina membulat. Thalia? Kapan dia datang ke rumah Farel? Jangan-jangan saat mereka sudah bersepakat belajar bersama! Namun, untuk apa? Kenapa Thalia bisa lebih tega mengingkari janji bersama dengan ketiga sahabatnya hanya untuk Farel?
"Farel, aku tahu kamu sangat berterima kasih tentang itu," ucap Thalia.
"Makanya, meskipun kamu berharga buat aku, tapi kamu bagiku cuman teman," ujar Farel yang makin membuat Marina tercengang. Berharga? Thalia berharga bagi Farel? Sebenarnya apa yang selama ini Marina lewatkan?
"A-apa? Teman?" ulang Thalia.
Farel mengangguk.
"Aku tahu, aku gak pantas buat kamu, kamu tahu sendiri, kamu kaya, cantik, pintar, sementara aku miskin, jelek ...." Farel malah terkekeh.
"Jadi, jangan salah paham," lanjut Farel lagi sambil menatap wajah Thalia yang terlohat kaget. Namun, perlahan gadis itu mengangkat kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
"Ya ... Kamu benar Farel ...." ucap Thalia.
"Kita cuman teman," lanjutnya seraya mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar. Sementara Marina mengernyitkan dahinya.
"Mereka berteman? Sejak kapan?" gumam Marina.
"Aku ngerti, kok. Aku gak salah paham sama sekali, uhm ..." Thalia bergumam, sementara Farel tersenyum lega.
"Ju-justru, aku merasa bersalah, tadi pagi di kelas, aku gak bisa belain kamu kayak Hans ataupun Sheilla. Maaf, ya," ucap Thalia penuh penyesalan, tetapi Farel malah tersenyum.
"Gak apa-apa. Aku ngerti posisi kamu. Mau kamu gak belain aku, juga, aku paham, kok. Lagian, sebelum mereka, kamu udah kasih aku support paling besar," ujar Farel yang sekali lagi membelalakan mata Marina. Kaki gadis berwajah oriental itu langsung lemas. Ia tidak menyangka kalau Thalia akan berkhianat di belakang mereka. Tanpa berkata-kata, Marina langsung pergi meninggalkan UKS.
"Ya udah, kalau gitu, aku balik dulu. Uhm, kamu ... Mau balik ke kelas? Sayang loh, kalau sampai ngelewatin pelajaran," ajak Farel.
Thalia menghela napas.
"Yah, aku udah ketahuan cuman pura-pura sakit, jadi mau gimana lagi?" kekeh Thalia yang disambut dengan tawa Farel.
"Dengan senang hati," ucap Thalia sambil menerima uluran tangan Farel. Sontak keduanya tertawa bersama.
...****************...
Thalia dan Farel pergi bersama-sama ke pinggir lapangan. Farel yang langsung bergabung dengan anak-anak lapangan, sementara Thalia berdiri di pinggir lapangan. Atensinya fokus pada Farel yang mulai beraksi di lapangan. Namun, tiba-tiba ada yang menyodorkan segelas jus terong Belanda. Thalia langsung menoleh.
"Mau terong Belanda tanpa susu dan sedikit gula?"
Mata Thalia membelalak melihat sosok yang menyodorkan segelas jus itu.
__ADS_1
"Sheilla?" kagetnya yang malah membuat si empunya nama tersenyum lebar.
"Udah terima aja. Farel yang minta aku beliin ini buat kamu," ujar Sheilla lagi yang membuat wajah Thalia memerah. Tanpa mengambil gelas jus itu, Thalia memandang Farel yang sedang tersenyum lepas sambil bermain bola basket bersama yang lain.
"Mau diterima, gak? Kalau enggak, aku yang minum," ancam Sheilla yang langsung membuat Thalia merebut gelas jus terong Belanda tersebut.
"Enak aja! Farel beli ini buat aku, tahu!" sungut Thalia.
Sheilla hanya geleng-geleng kepala melihat perilaku Thalia.
"Ternyata kamu konsisten, ya?" komentar Sheilla yang langsung mendapat lirikan sinis dari Thalia.
"Konsisten? Konsisten apa maksud kamu?" selidik Thalia.
"Yah, bersikap dominan, padahal sekarang sukanya sama Far—" Thalia langsung menutup mulut Sheilla.
"Ssst! Jangan ember banget, napa jadi orang!" Thalia langsung mengedarkan pandangannya. Khawatir ada orang yang mendengar pembicaraannya dengan Sheilla. Namun Sheilla malah senyam-senyum. Thalia pun melepas mulut Sheilla.
"Jadi, kamu masih backstreet, nih?" tanya Sheilla yang mendapat anggukan kepala Thalia.
"Asal kamu tahu, ya! Aku aja baru baikan sama Farel. Kalau kamu nyebar gossip lagi, nanti susah lagi aku deketnya sama dia!" sungut Thalia agak mengecilkan suaranya.
Sheilla hanya angguk-angguk kepala.
"Oke, good luck, deh. Moga segera jadian, ya," ujar Sheilla yang menepuk pundak Thalia kemudian pergi meninggalkam Thalia yanh tengaj sibuk menyedot jus terong Belandanya.
Gadis berparas cantik itu mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Ih, sok akrab banget, sih!" keluh Thalia. Sayang, tanpa ia sadari, ada seseorang yang memperhatikannya.
"Ternyata bukan cuman Farel! Tapi juga Sheilla! Thalia emang aneh. Apa jangan-jangan, dia mau berkhianat?" gumam orang tersebut.