Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S2: Karena Kita Teman


__ADS_3

Suara detak jantung yang keras—yang bahkan bisa Farel dengar ketika melihat wajah cantik Thalia yang kini berwarna merah muda. Tunggu, dia mungkin memang sempat tertarik karena paha polos Thalia, tetapi kenapa melihat gadis ini tersenyum, malah menciptakan reaksi aneh di tubuhnya?


"Farel?" Seketika lamunan Farel pecah ketika mendengar suara Thalia menyebut namanya. Cowok itu pun memandang gadis cantik yang kini menatapnya.


"Uhm, ya ... Aku ..." Seketika otaknya tidak bisa bekerja. Ia bahkan lupa pertanyaan Thalia barusan.


"Ya?"


"Kamu cantik banget, Thalia." Farel reflek menutup mulutnya. Ucapan itu keluar begitu saja seperti air yang mengalir. Ia langsung melihat ke arah Thalia yang kini menunduk. Pasti Farel salah bicara. Ditanya apa, malah jawab apa. Ia sungguh lupa pertanyaan Thalia barusan!


"Dasar kamu!"


Farel memejamkan matanya erat-erat mendengar ucapan ketus Thalia. Dia pasti salah jawab!


Namun gadis itu malah mengangkat kepalanya dan menunjukkan wajah yang kini semerah tomat.


"A-aku tahu, aku cantik. Tapi, kamu gak usah bilang itu terus, dong!" kesal Thalia yang sebenarnya jantungnya mau meledak.


Sejujurnya ia bahkan memilih dress sebaik mungkin dan agak memoles wajahnya sedikit setelah mandi tadi. Entah, kenapa ia melakukan itu. Namun, siapa sangka, hasil yang ia dapatkan malah jauh lebih baik dari ekpetasi.


"O-oh, ma-maaf—"


"Kenapa malah minta maaf?" bentak Thalia yang membuat Farel membeku.


"Memangnya kamu bohong bilang aku cantik? Kamu bilang itu karena mau buat aku ge-er, ya? Mau bikin aku kelihatan kayak orang bodoh?" tukas Thalia.


Farel sama sekali tidak bergerak. Ia sendiri bahkan tidak tahu, kenapa mulutnya bisa berucap begitu saja, bahkan ucapan itu tidak terpikir di kepalanya.


"Uhm, ma-maaf, Thalia. Sebenarnya, aku lupa pertanyaanmu ... Jadi, mungkin aku mencari jawaban lain," jelas Farel tanpa berani melihat wajah gadis di depannya. Bukankah ucapan dia terdengar seperti cari-cari alasan? Masa bodo! Yang penting bisa selamat.


"Dasar Farel bodoh!" ejek Thalia yang membuat Farel panas. Sepertinya keputusan untuk datang ke sini memang salah. Thalia yang kejam sepertinya sudah kembali.


"Aku tanya, kenapa kamu ke sini?"


Farel mengangkat kepalanya, siapa sangka, Thalia malah mengulang pertanyaannya!


"O-oh ... Jadi itu pertanyaannya. Uhm, ya, kalau itu ..." Farel menunduk untuk mencari inspirasi. Matanya pun tak sengaja melirik ke totebag yang sejak tadi ia bawa.


"Ah, aku mau kasih ini ke kamu!" ujar Farel sambil menyodorkan totebag itu. Thalia langsung menerimanya dan mengambil isinya. Dahinya mengernyit saat mendapatkan dua buah muffin yang ditaburi choco chip di atasnya.


"Muffin?" bingung Thalia.


"Yah, kemarin, aku mau kasih kamu muffin untuk tanda terima kasihku atas kacamata ini ..." Farel menunjuk kacamatanya.

__ADS_1


"Ya, gak seberapa, sih ... Tapi itu 'kan hancur. Jadi ini gantinya. Dan ... Mungkin muffin yang satunya lagi, bisa untuk mengiburmu ..."


"Menghiburku?" ulang Thalia.


Farel mengangguk tanpa berani menatap wajah gadis di hadapannya itu.


"Yah, Mamaku bilang, kemarin kamu pulang tanpa pamit, mungkin karena sesuatu terjadi. Makanya, Mama minta aku datang ke sini dan kasih sesuatu yang bisa bikin kamu terhibur ..." Farel melirik ke arah Thalia yang masih melongo.


"Yah, kamu pernah bilang 'kan, kalau cokelat bisa bikin orang senang, makanya—"


Tiba-tiba Thalia meletakkan muffin itu di dalam totebag dan langsung memeluk Farel. Sontak tubuh Farel membeku. Terlebih gadis itu malah mengeratkan pelukannya.


"Tha-thalia—"


"Terima kasih, Farel. Terima kasih juga untuk Mamamu," bisik Thalia dengan suara yang berat. Mungkinkah gadis ini menangis?


"I-iya—"


"Peluk aku!" titah Thalia yang membuat Farel terhenyak.


"Pe-peluk?" ulang Farel.


"Ya, peluk aku seerat mungkin. Aku mau kamu memelukku," tutur Thalia.


"Peluk aku, Farel ..." bisik Thalia lagi.


Farel pun langsung memeluk gadis yang sudah memeluknya duluan itu dengan sangat erat.


"Jangan menangis sendirian lagi, Thalia," bisik Farel yang membuat Thalia tertegun, tetapi gadis itu mengangguk.


"Terima kasih, Farel ..." ucap Thalia. Sekarang ia mengerti, mungkin Farel di sini karena mengkhawatirkannya. Entah rasa khawatirnya timbul sendiri atau karena suruhan ibunya, tetapi satu hal yang Thalia rasakan dalam pelukan hangat ini, ia merasa lega dan tenang. Luka yang dibuat oleh ucapan tajam ayahnya seakan-akan memudar.


Sang Mama mungkin memang meninggalkannya di tengah keluarga yang tak berperasaan ini, tetapi sang Mama tak lupa mengirimkan sosok Farel yang selalu ada untuknya. Entah sampai kapan ia bisa seperti ini dengan Farel, yang jelas, ia ingin selamanya Farel bisa terus bersamanya, sekalipun itu adalah paksaan darinya.


...****************...


Setelah puas berpelukan, kini Thalia mulai mencicipi muffin dari Farel, sementara Farel memakan cemilan yang disediakan oleh Asisten Rumah Tangga Thalia.


"Farel, kamu beli muffin ini dimana? Kenapa teksturnya lembut dan manisnya pas?" sahut Thalia sambil menggoyang-goyangkan kepalanya. Bahkan rasanya ia ingin loncat saking enaknya, tetapi posisinya sedang duduk.


"Oh, itu aku gak beli. Aku buat sendiri. Resep Mama. Kata Mama, pemberian hadiah lebih berarti kalau buatan sendiri," jawab Farel.


Seketika Thalia berhenti mengunyah. Gadis Cantik itu memandang Farel yang malah senyum-senyum sendiri sambil menikmati cookies buatannya. Ia kemudian memandang muffin di tangannya.

__ADS_1


'Ini adalah buatan Farel. Farel buat ini untukku. Ini sungguh berarti untukku!' jerit Thalia dalam hati seraya mengangkat kedua sudut bibirnya.


"A-aku gak tahu kalau kamu bisa masak juga," sahut Thalia.


Farel menghentikan aktivitas makannya.


"Masak? Yah, bisa, sih kalau yang simpel, soalnya suka bantuin mama. Kalau mama dapat shift malam, juga aku yang harus siapin makan malam 'kan ..." timpal Farel seraya memandang Muffin di tangan Thalia.


"Tapi, muffin itu makanan paling sulit yang aku bikin. Karena tekniknya harus benar supaya dapat tekstur yang bagus, takarannya juga gak boleh asal-asalan," tambah Farel lagi.


Diam-diam Thalia melebarkan senyumnya. Rasanya jantungnya mau lompat mendengar penuturan Farel. Bukankah itu berarti, Cowok ini rela berusah-susah demi dirinya? Selain itu, Farel melakukan ini atas kemauannya sendiri, bukan atas perintah Thalia.


"Itu 'kan yang dilakukan teman?" tambah Farel yang seketika membuat pesta pora di dalam pikiran Thalia sirna.


"Hah? Apa? Teman?" bingung Thalia.


Farel malah mengangguk.


"Ya, teman. Kita sekarang teman 'kan? Kecuali nanti di sekolah," ujar Farel.


Pundak Thalia langsung turun. Ia lupa kalau meminta Farel jadi temannya kemarin. Bisa-bisanya ia berpikir Farel menganggapnya lebih dari teman.


Gadis itu pun terpaksa mengangguk.


"Ya, kita teman ..." ucapnya agak kecewa.


Farel langsung melirik ke arah Thalia. Ia sadar, bahwa nada bicara Thalia berubah jadi agak berat.


"Thalia? Kamu baik-baik aja?" tanya Farel. Apakah ia salah bicara sampai membuat gadis ini kembali sedih. Haruskah ia ubah kata "teman" jadi kata lain?


Namun Thalia menggeleng seraya mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Aku baik-baik aja, Farel. Aku suka, kok kalau kita jadi teman," ujar Thalia lagi.


Farel pun bernapas lega.


"Tapi, Thalia ... Kemarin saat buat muffin itu, aku sempat berpikir ..." Farel bergumam kemudian melirik ke arah Thalia. "Uhm, tapi apa aku boleh bilang ini sama kamu?" tanya Farel agak ragu.


"Berpikir apa? Cepat bilang, jangan bikin aku penasaran!" paksa Thalia.


"Uhm, Aku buat muffin itu untuk menghibur temanku, Thalia ... Tapi, kamu bilang, kita teman 'kan di luar sekolah?"


Thalia langsung mengangguk. Namun Farel malah menunduk.

__ADS_1


"Yang aku pikirkan, kira-kira sampai kapan kita jadi teman? Apa setelah lulus, kita akan berpisah dan hubungan kita berubah?"


__ADS_2