Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Tidak Rela


__ADS_3

Meskipun kakinya terasa sangat remuk akibat berjalan teralu jauh, Farel tetap berusaha memakasakan dirinya untuk membersihkan rumah. Ia bertekad, tidak boleh membuat Sang Mama lebih lelah lagi karena harus mengurusnya. Toh, hari ini ia bisa melakukan dengan maksimal karena kacamata baru pemberian Thalia.


Seperti biasa, tepat setelah ia pulang dari Masjid, Sang Mama sudah ada di rumah, tetapi kali ini Mama sudah mandi dan sedang memasak makan malam. Ya, karena pulang terlambat, Farel lupa memasak makan malam.


Anak lelaki itu pun menghampiri Sang Mama sambil mengucap salam.


"Maaf, Ma, Farel belum sempat masak," ujar lelaki berkacamata itu melakukan pengakuan dosa.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ini Mama juga hanya memanaskan makanan tadi pagi. Mama belum sempat," timpal Mama yang sibuk menata meja.


"Kalau begitu, Farel bantu, ya! Tapi Farel mau ganti baju dulu," ujarnya. Sang Mama hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah putranya.


Farel dengan semangat membantu Sang Mama. Setidaknya rasa bersalahnya bisa terobati. Kini sepasang Ibu-anak itu duduk bersama di meja makan. Sang Mama berkeluh kesah tentang suasana kantornya yang lebih baik dari kantor sebelumnya. Farel senang mendengarnya, jika begitu, beban Sang Mama bisa berkurang.


"Oh, iya, Farel!" seru Mama menganggetkan lamunan Farel.


"Sejak kapan kacamatamu kembali? Katanya kacamatamu pecah?"


Farel benar-benar lupa bilang ini pada Sang Mama. Anak 13 tahun itu pun menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"I-ini, Ma ... Uhm, ta-tadi temen Farel yang gak sengaja pecahin kacamata, ngajak Farel bikin kacamata," ujarnya mengikuti arahan dari Thalia jika Sang Mama bertanya.


"Ya ampun, baik sekali teman kamu, Sayang ..." seru Mama agak terharu.


'Baik apanya, Ma? Itu memang harusnya dia tanggung jawab!' celetuk Farel dalam hati.


"Kalau gitu, sebagai balas budi, Mama mau kasih dia sesuatu ... tapi apa, ya?" sahut Mama sambil berpikir.


"Hah? Buat apa, Ma? Gak usah!" cetus Farel yang langsung dapat tatapan lurus dari ibunya.


"Gak usah? Kamu gak boleh gitu, Farel. Dia itu udah baik loh, gantiin kacamata kamu. Setidaknya kita harus tahu terima kasih," nasihat Mama.


Farel hanya mendengus kesal, Sang Mama yang teralu baik ini tidak pernah berubah, padahal putranya sudah diperlakukan semena-mena. Bahkan harga kacamata ini tidak sebanding dengan kesengsaraan yang telah diciptakan oleh Thalia dan kawan-kawan. Namun ia tak bisa mengatakan itu karena nanti ibunya bisa khawatir.

__ADS_1


"Ah, Mama bikin muffin aja! Kayaknya bahannya ada semua deh!" sahut Mama langsung beranjak.


"Ma, udah, gak usah! Temen Farel huga gak minta apa-apa, kok!" cegah Farel lagi.


"Gak, Farel. Kalau kamu gak mau kasih, mama tetep mau kasih. Meski dia gak minta, tetapi dia bisa belajar dari kita, Sayang," nasihat Mama lagi.


Farel diam-diam menggertakkan giginya.


'Untuk apa, sih kita terus jadi orang baik, padahal orang lain gak pernah baik sama kita!' geram Farel dalam hati.


"Oke, pokoknya habis ini Mama mau bikin muffin dulu, kamu ya, Sayang cuci piring?" pinta Mama.


Farel hanya bisa mengangguk sembari menyembunyikan kemarahannya.


Sayangnya, ternyata tidak hanya sampai mencuci piring saja. Sang Mama yang beriskukuh untuk membuatkan muffin, meminta Farel untuk membeli beberapa bahan yang tidak ada di rumah.


Farel pun terpaksa keluar dengan berjalan kaki sementara kakinya masih terasa sangat remuk. Sepanjang perjalanan ke toko kue yang berjarak 1 km ia hanya mengumpat saja.


'Lu aja gak bisa ngelawan mereka, apalagi mau ngelawan gue?'


Farel hanya bisa menggeram sambil mengepalkan tangannya. Tidak hanya itu, bahkan ketika sampai di toko bahan kue, tokonya tutup. Farel berlari ke arahbpintu besinya dan di sana terdapat tulisan.


"Tutup sampai tanggal 31 Maret," baca Farel.


"Ya ampun!" keluh Farel yang refleks menendang pintu besi toko itu.


"Pakai tutup lagi!" gerutunya yang tiba-tiba tidak bisa berpikir. Farel pun jongkok di depan toko itu sambil mengingat-ingat, apakah ada lagi toko bahan kue di sekitar rumahnya.


"Ah, ada sekitar lima ratus meter lagi," seru Farel baru ingat. Ia pun beranjak dan pergi meninggalkan toko itu. Semoga saja toko bahan kue itu tidak tutup.


***


Thalia terbangun setelah ketiduran sambil duduk di lantai kamar mandi. Kini sekujur tubuhnya telah basah kuyup. Ia terbangun karena kedinginan dan mendengar gedoran pintu kamarnya. Thalia pun melepas vajunyanyang basah dan menggantinya dengan bathrub. Gadis itu pun keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Non? Non ada di dalam?" Rupanya itu adalah asisten rumah tangganya.


"Iya, Bi ... Kenapa?" tanya Thalia dengan suara agak lemas.


"Non diminta Tuan untuk makan malam," sahut asisten rumah tangganya.


"Iya, Bi ... lima belas menit lagi Thalia turun," jawab Thalia yang merasa kepalanya agak sakit.


Asisten rumah tangganya pun pergi. Sementara Thalia malah duduk di atas tempat tidur sambil memijat-mijat keningnya.


"Aduh, aku sangat malas makan bersama. Pasti wanita kotor itu membuat kesempatan buat jelek-jelekin aku di depan Papa!" gerutu Thalia.


Namun tidak mungkin ia mengecewakan hati Papanya, itu sama saja membenarkan tuduhan ibu sambungnya di hadapan Sang Papa.


Thalia akhirnya turun setelah selesai mandi dan mengganti bajunya. Di ruang makan sudah berkumpul Sang Papa, ibu sambung dan putra ibu sambungnya.


"Akhirnya Tuan Putri kita datang," seru Siska agak menekankan. Vino—Sang Adik Tiri hanya memutar bola matanya, seolah tidak mengharapkan kehadiran Thalia.


"Malam, Pa ... maaf, Thalia tadi ketiduran. Habisnya lelah banget—"


"Yah, gimana gak lelah!" potong Siska kemudian memegang tangan Sang Suami seraya menatapnya, berharap Sang Suami membalas tatapannya.


"Dia habis pulang sekolah, bukannya les, malah jalan-jalan, belanja sampai menghabiskan uang hampir satu juta!" tukas Siska yang menohok Thalia.


"Satu juta?" Atensi Sang Papa malah fokus pada nominal uang yang disebutkan Siska.


"Iya, entah dia beli apa? Padahal udah dikasih uang saku lima juta tiap bulan, tapi masih kurang." Siska memijat-mijat keningnya.


"Aku tidak habis pikir, Mas. Kenapa Putri kamu boros banget, aku udah bilangin, tapi dia malah bentak aku" Kemudian Siska tersedu-sedu, tetapi Thalia sangat tahu, bahkan tak ada air mata yang menetes dari mata wanita itu. Diam-diam Thalia berdecak, muak dengan sikap ibu sambungnya yang tidak pernah berubah.


"Thalia!" bentak Sang Papa, membuat Thalia terhenyak. Namun gadis itu tak takut dan malah menatap Papanya.


"Apa yang kamu lakukan ha? Apa uang saku yang papa berikan tidak cukup?" tukas Sang Papa.

__ADS_1


__ADS_2