
Ketika Thalia sampai di kelas, untungnya guru belum datang. Matanya langsung bisa menangkap bahwa bangku Marina kosong dan Vanessa sudah tidak menangis lagi.
'Nanti aku tanyain lagi, deh Vanessa. Dia pasti sedih banget,' batin Thalia.
"Thalia—" Tiba-tiba Farel datang dan menubruk punggung Thalia hingga gadis itu terjatuh.
"Aww!" seru Thalia yang langsung bisa menarik atensi seluruh kelas.
Farel menyipitkan matanya sambil berjongkok, berusaha melihat apa yang barusan ia tabrak.
"Thalia? Itu kamu?" tanya Farel yang melihat sosok gadis di depannya. Thalia yang kesal pun langsung menjewer telinga Farel.
"Aaww! Thalia—" Thalia malah semakin menarik telinga Farel hingga lelaki itu merintih dalam kebisuan.
"Kamu kira aku jatuh gak sakit? Dasar!" kesal Thalia sambil menyeret Farel ke bangku mereka.
"Maaf, maaf, maaf!" sahut Farel, tetapi tak didengar oleh Thalia. Hingga tak lama kemudian guru pun datang. Thalia sontak melepaskan tangannya dari telinga Farel.
"Awas kamu, nanti!" ancam Thalia. Farel hanya bisa menunduk.
"Maaf, Bu, saya dari toilet!" seru Marina yang tiba-tiba datang. Bu Guru pun langsung mempersilakan Marina duduk dan jam pelajaran terakhir pun dimulai.
Sementara Thalia mengernyitkan dahinya.
"Marina dari luar? Nyariin aku?" duganya langsung tertohok.
'Dia denger gak, ya? Aduh, dia bisa salah paham!' panik Thalia.
"Thalia, perhatiin papan tulis," bisik Farel.
Thalia tertegun. Gadis itu hanya mengangguk dan mengangkat kepalanya sembari memerhatikan papan tulis.
Akhirnya bel pulang pun berbunyi. Akibat dugaannya, Thalia yang biasanya cerewet jadi bungkam. Matanya tak bisa lepas dari Marina, tetapi ia juga enggan untuk bertanya. Gadis itu hanya bisa duduk terpaku di bangkunya. Bahkan ia tidak menyadari Farel yang pergi dengan begitu repotnya karena tidak punya tas. Tiga temannya juga sedang disibukkan oleh kesedihan Vanessa karena bertengkar dengan pacarnya.
"Heh! Awas lu! Minggir! Ngehalangin jalan gue aja!" bentak seorang lelaki di depan kelas VII B, membuat atensi Thalia berpaling.
Ia melihat Farel yang menjatuhkan buku-bukunya akibat tidak sengaja menubruk Aldo yang kini ada di depan kelasnya. Anak kelas delapan itu masuk begitu saja, bahkan sempat menginjak beberapa barang Farel yang berserakan. Diam-diam Farel berdecih, tetapi ia tidak punya waktu untuk balas dendam. Ia harus buru-buru pergi sebelum Thalia mengoceh.
"Nessy!" seru Aldo memanggil Vanessa dengan sebutan spesialnya, membuat Vanessa yang sudah tenang kembali menangis lagi.
Gadis manis itu pun beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Aldo yang kini sedang memalingkan pandangan.
"Kak Aldo ..." ucap gadis itu dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Sorry! Aku salah! Aku udah jahat sama kamu!" ujar Aldo dalam satu napas sambil menunduk. Mana sanggup ia melihat wajah sedih gadis yang membuat hari-harinya indah beberapa waktu terakhir ini.
"Kakak ..." Vanessa malah bingung, seingatnya tadi Aldo mau mengakhiri hubungan mereka.
"Aku ... aku bodoh banget tadi. Aku—" Vanessa langsung memeluk tubuh pacarnya itu sambil menangis sejadi-jadinya.
"Vanessa ..." Aldo juga tak kuasa, ia membalas pelukan pacarnya dan ikut menitikkan air mata.
"Sorry, aku gak bermaksud begitu. Aku bodoh malah melampiaskan kemarahnku sama kamu," beber Aldo melakukan pengakuan.
"Terus, terus abis ini apa? Kak Aldo minta maaf doang?" lirih Vanessa yang masih menangis.
Aldo pun melepas pelukannya dan memandang wajah sembab Vanessa. Lelaki itu menghapus air mata yang membasahi pipi gadisnya.
"Enggak lah ... kamu ... kamu ..."
"Aku apa?" tanya Vanessa.
"Kamu cantik banget, aku jadi gak rela putus sama kamu. Maafin aku, Sayang." Aldo kembali memeluk Vanessa. Lelaki yang terkenal pembuat onar itu benar-benar menangis untuk mendapatkan pengampunan dari kekasihnya.
"Dasar! Lihat Kak Aldo ke sini aja udah bikin aku seneng. Aku juga sayang sama Kak Aldo! Aku gak mau pisah sama Kak Aldo!" balas Vanessa ikut menangis.
Sementara ketiga temannya akhirnya bisa bernapas lega. Setidaknya kesedihan Vanessa tidak akan berlarut-larut.
"Ih, kapan bisa punya pacar kayak Vanessa, ya?" harap Renata.
"Coba aja Kak Alan kayak gitu sama aku," celetuk Thalia yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Marina, sedangkan Marina malah memicingkan matanya. Gadis itu diam-diam terkekeh. Namun Marina masih belum yakin atas apa yang ia dengar tadi.
'Sebaiknya gue simpen dulu, sampai gue nemu bukti-bukti lainnya,' batin Marina.
Sedangkan Farel di depan pintu kelas yang sudah membereskan barangnya langsung keluar.
'Ada-ada aja, tiba-tiba ada adegan film dadakan,' komentar lelaki kurus itu, dia segera pergi ke kantin untuk meminta kantong. Membawa buku-bukunya juga cukup repot.
Di kelas, setelah puas berpelukan, Aldo memandang wajah manis pacarnya seraya tersenyum.
"Kamu cantik banget, sih?"godanya yang langsung menerbitkan senyum Vanessa.
"Ih, ayang beb, apaan, sih!" sahut gadis manis itu tersipu malu.
"Mau gak, pulang aku anterin. Aku belum mau pisah sama kamu," ujar Aldo malah manja.
Vanessa malah semakin tersipu dengan sikap manja pacarnya yang lebih tua satu tahun ini. Kemudian menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Yes! Kamu gak dijemput?" tanya Aldo yang tahu kebiasaan Vanessa.
"Nanti aku bilang Pak Supir kalau mau pulang sama kamu. Mama juga pasti izinin, kok," kata Vanessa masih malu-malu.
"Oke, makasih, Sayang!" Aldo memeluk pacarnya lagi dengan gemas.
"Kalau gitu, ayo—" Niatnya terhenti ketika sadar bahwa sedari tadi jadi bahan tontonan ketiga teman Vanessa.
"Eh, sorry. Vanessa-nya gue pinjem dulu. Kalian pulang tanpa Vanessa gak apa-apa 'kan?" ujar Aldo.
Ketiga teman Vanessa langsung mengangguk sambil tersenyum.
"Boleh, asal dijagain, jangan dibikin nangis lagi sahabat gue!" seru Renata.
"Pasti!" sahut Aldo.
"Awas, kalau Vanessa tau-tau nangis lagi!" ancam Thalia.
"Siap, Bos!" seru Aldo kemudian memandang pacar kesanyangannya lagi.
"Lagian, siapa, sih yang sanggup lihat cewek semanis ini nangis," goda Aldo sambil memainkan dagu Vanessa.
"Ih, Kak Aldo! Malu, tau!" celetuk Vanessa, tetapi lelaki jabrik itu hanya cengengesan, kemudian menggenggam tangan Vanessa erat.
"Kalau gitu, gue cabut dulu, ya sama cewek gue! Jangan iri!" ledek Aldo iseng yang mampu membuat Vanessa dan ketiga temannya melotot.
"Ih, Kak Aldo! Malu ah!" ujar Vanessa sambil menepuk pundak Aldo.
"Biarin, yang penting aku bisa lihat senyum kamu!" seru Aldo sembari membawa Vanessa pergi bersamanya.
Kini tinggal Thalia, Marina dan Renata di kelas.
"Unch! Romantis banget, sih mereka!" celetuk Renata.
"Iya, beneran bikin iri. Gak nyangka juga Kak Aldo bisa kayak tadi, padahal biasanya dia senga banget, bahkan sama guru-guru," timpal Thalia.
"Oh, iya, Thal! Lu gimana sama Kak Alan? Ada kemajuan, gak? Kak Alan udah hubungin Elu? Atau ... uhm ..." Renata bergumam, membuat Thalia mengernyitkan dahi.
"Atau apa, Ren?" selidik Thalia.
"Yah, Lu marah gak, sih sama Vanessa?" celetuk Renata.
"Marah? Marah kenapa?" Thalia malah bingung.
__ADS_1