
Dahi Thalia mengernyit. Apa yang barusan Cowok Berkacamata ini katakan? Dia bahkan menatap Thalia dengan alis yang turun serta tatapan yang mendalam seolah memaksa agar Thalia mengikuti keinginannya. Namun, apa alasan Farel memintanya begitu?
Thalia tertegun. Lagi, jantungnya malah berdebar lebih cepat. Tidak, ini bukan hal yang harus Thalia rasakan sekarang! Ia langsung mengeraskan rahangnya seraya menatap Farel dengan mata yang menyalak
"Apa kamu bilang?" bentak Thalia dengan napas yang menderu-deru. Farel reflek memukul mulutnya, apa yang barusan ia katakan? Kenapa mulut ini malah bicara seenaknya?
"Farel ... Coba jelaskan kenapa aku gak boleh deketin Kak Alan?" tuntut Thalia sambil menatap Farel dengan tatapan yang tajam. Farel terkesiap, matanya langsung melirik ke arah tangan Thalia yang mengepal.
'Haduh, habis deh, gue! Sekarang gue harus jawab apa?' bingung Farel buntu.
"Farel!" paksa Thalia dengan suaranya yang melengking.
"Itu karena gue takut lu dikerjain Kak Alan!" reflek Farel dalam satu kali napas. Ia langsung menutup mulutnya. Sontak Farel mengangkat kepalanya untuk melihat ekspresi Thalia yang kini melotot padanya.
"Ma-maksudnya aku takut ..." Farel melipat bibirnya ketika tak sengaja mendapati dahi Thalia yang berkerut. Perlahan, mata bulatnya itu tidak melotot lagi.
Farel benar-benar bodoh! Kenapa ia menggali kuburannya sendiri? Cowok Berkacamata itu langsung bersimpuh dan menangkupkan kedua tangannya. Saatnya kemampuan tersembunyi Farel dikeluarkan!
"Maaf, Thalia ..." ujarnya penuh sesal. Lelaki 13 tahun itu menundukkan kepala.
"Aku gak bermaksud apa-apa. Ka-kamu tahu 'kan kalau Kak Alan itu pacarnya banyak?" sahut Farel.
'Maaf, Kak Alan. Tapi itu fakta 'kan?' batin Farel agak merasa bersalah pada idolanya itu.
Thalia menaikkan dagunya kemudian memalingkan wajah.
"Iya, aku tahu ... And then, what is your problem?" enteng Thalia.
Dahi Farel mengernyit. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Bekerjalah otak!
Farel pun berdehem seraya mengangkat kepalanya dan kembali menatap Thalia.
"Ya jelaslah, nanti gimana kalau kamu diduain, atau bahkan disakitin? Perasaan kamu yang dipertaruhkan Thalia!" cerocos Farel yang langsung menutup mulutnya lagi.
__ADS_1
'Duh, gue ngapain, sih? Kok gue jadi kayak khawatir sama dia?' heran Farel dalam hati.
Thalia terdiam seraya memandang Farel lamat-lamat.
'Ke-kenapa Farel kayaknya ... Enggak!' sangkal Thalia dalam hati.
'Emangnya kenapa kalau aku jadian sama Kak Alan? Itu adalah impianku! Cewek Cantik, cuman boleh jadian sama Cowok Ganteng!' tekad Thalia lagi dalam hati.
"Kamu apa-apaan, sih Farel?" sinis Thalia. Farel langsung merutuki dirinya sendiri ketika mendengar nada bicara Thalia.
"Kamu pikir, kamu siapa, ha?" lontar Thalia lagi. Gadis Cantik itu langsung berdiri dan menghampiri Farel.
Thalia menarik kedua rahang Farel hingga wajah Cowok Culun itu menghadap ke arahnya.
"Jangan mentang-mentang aku bersikap baik sama kamu, aku gak kasih kamu pelajaran akhir-akhir ini, terus kamu lancang!" Thalia langsung melempar wajah Farel dengan kasar.
Jantung Farel sesaat berhenti berdetak. Ini terjadi lagi. Tidak, dia harus melakukan apapun sebelum Thalia menghabisinya!
"Thalia ... Aku—"
"Lagian, aku tahu kalau Kak Alan emang Playboy!" sahut Thalia kemudian menoleh ke arah Farel yang masih setia bersimpuh sambil menunduk.
"Tapi, aku juga tahu potensi aku itu kuat!" tekan Thalia lagi. Farel langsung mengangkat kepalanya sambil mengernyitkan dahi.
"Po-potensi kuat?" Apa maksud Gadis ini?
"Ya!" Thalia memutar tubuhnya dan kembali menghampiri Cowok Berkacamata itu.
"Tentu aja, Kalau aku jadi pacar Kak Alan, aku yakin, Kak Alan gak akan melirik cewek lain!" Thalia menaikkan kedua sudut bibirnya dengan angkuh.
"Jadi, gak mungkin Kak Alan bakal nyakitin aku kalau aku jadi pacarnya!" tekan Thalia lagi.
Farel meremas lututnya. Ia marasa ada gejolak besar dalam dirinya sehingga membuat lidahnya gatal untuk mencegah Thalia. Namun kenapa? Apa pedulinya jika Thalia disakiti? Toh, Gadis ini tidak pernah memikirkannya jika disakiti, dipermalukan, direndahkan!
__ADS_1
"Mendingan kamu pulang aja, deh!" sahut Thalia yang membuyarkan lamunan Farel. Sontak Farel mengangkat kepalanya. Ia langsung bisa melihat wajah Thalia yang murung.
"Aku lagi males lihat kamu! Nyebelin!" sinis Thalia langsung memunggungi Farel.
Farel pun berdiri dan mengambil tasnya.
"Thalia, apapun keinginanmu, semoga kamu berhasil!" ujar Farel yang membuat Thalia tertegun. Gadis Cantik itupun menoleh ke belakang, tetapi tepat pada saat itu Farel telah keluar dari kamarnya.
Tubuh Thalia langsung meluruh ke lantai. Ia meraba dada kirinya, tempat dimana jantungnya terus berdetak lebih kencang dari biasanya. Sebenarnya ia merasa darahnya mendidih sejak tadi. Entah karena apa.
'Bisa gak, kamu gak deketin Kak Alan?' Thalia ingat jelas, bagaimana raut wajah Farel saat melontarkan kalimat itu.
"Kenapa Farel gak mau aku disakitin sama Kak Alan? Kenapa dia se-peduli itu sama aku?" Sejujurnya Thalia tahu resiko itu. Ia juga tahu berapa banyak gadis yang dipacari oleh Lelaki Pujaannya itu. Namun, apakah kecantikan, kekayaan dan kecerdasan yang Thalia miliki tak cukup untuk membuat Cowok Paling Tampan di sekolahnya itu tidak sanggup berpaling?
"Padahal dia cuman aku suruh untuk menurut sama perintahku, tetapi kenapa malah ..." Thalia mengacak-acak rambutnya.
"Sebenarnya aku ini kenapa, sih?" bingungnya sama sekali tidak menemukan petunjuk.
***
Thalia tidak mau ambil pusing. Ia mengabaikan perasaan aneh yang muncul hanya karena ucapan Farel yang terdengar begitu memedulikannya. Kali ini ia mau fokus untuk jadi pacar Kakak Kelasnya yang super populer itu. Pagi-pagi sekali, ia sudah bangun untuk membuat puding cokelat.
Thalia sadar, kemarin keadaan Alan sedang tidak baik-baik saja, apa lagi Alvin sempat memukul wajah tampannya. Setelah selesai mandi, Thalia membuka kulkasnya. Di sana puding buatannya sudah jadi sempurna.
"Non Thalia, Ini Bibi letakkan kotaknya di sini, ya ..." sahut Asisten Rumah Tangganya dari belakang Thalia. Gadis 13 tahun itu menoleh sambil mengangguk dengan senyuman super cerahnya.
"Terima kasih, Bibi ..." seru Thalia. Gadis itupun mengambil satu cup pudingnya dan memasukkannya ke sebuah kotak paper di meja dapurnya. Thalia tersenyum lebar.
"Aku yakin, perasaan Kak Alan akan lebih baik setelah memakan ini," girangnya.
Thalia berjalan dengan girang ke kelasnya setelah sampai di sekolah. Ia tidak sabar memberikan puding buatannya pada sang Pujaan Hati sekalian mau menunjukkan betapa perhatiannya Thalia. Pasti Alan akan luluh padanya dan mau menerima cintanya. Thalia tersenyum lebar, ia sungguh tidak bisa membayangkan jika benar-benar menjadi pacarnya Alan.
Saat sampai di depan kelas, langkah Thalia terhenti. Pundakknya naik saat mendapati ada seseorang yang kini sedang duduk di bangku Farel sambil memasang raut sedih. Thalia pun mengucek matanya.
__ADS_1
"I-itu ... Itu beneran Kak Alan?" bingung Thalia.
"Tapi ... Kak Alan ngapain di sini?"