
"Kenapa ... kenapa ka-kalian melakukan ini sama gue? Apa salah gue?" Farel merintih, menahan rasa sakit akibat tendangan bertubi-tubi di perutnya. Ia sungguh tak bisa bangkit lagi, semua tubuhnya terasa sakit, matanya juga terasa begitu berat.
Aldo pun berjongkok dan mencengkram dagu Farel kemudian mengangkatnya.
"Lu mau tau, kenapa, ha?" tanya Aldo. Farel hanya berkedip tanda mengiyakan pertanyaan Aldo.
Namun kakak kelasnya itu malah melempar dagunya hingga membuatnya terbentur ke lantai kamar mandi. Lengkap sudah rasa sakit di sekujur tubub Farel.
"Karena bagi gue lu menjijikan dan masih berani-beraninya bertingkah seenaknya! Apa lagi bikin cewek gue nangis!" seru Aldo kemudian berdiri sambil menatap sinis ke arah Farel.
"Asal lu tau, gue gak akan biarkan siapa pun nyakitin cewek gue, karena gue sayang sama dia!"
'Sayang? Cih? Sayang apa yang bentuknya begini ...' Mata Farel sekarang sungguh terasa berat, penglihatannya juga kabur, telinganya masih masih mendengar ocehan Aldo, tetapi tidak jelas.
'Persetan!' seketika pandangan Farel benar-benar gelap.
***
Secerca cahaya tiba-tiba menyilaukan mata Farel yang terpejam. Lelaki 13 tahun itupun berusaha membua matanyanyang terasa begitu berat. 'Ca-cahaya apa ini?' gumamnya.
Farel pun berusaha membuka matanya lebij lebar dan mendapati cahaya lampu yang menyilaukannya, telinganya bahkan bisa mendengar suara monitor patient yang memantau tanda vital manusia.
"I-ini dimana?" gumamnya dengan suara agak berat.
"Farel! Lu udah sadar?" Farel langsung menoleh ke arah suara dan mendapati Alan tengah menatapnya penuh rasa khawatir.
Dahinya mengernyit, pasti matanya salah lihat.
"Kak Alan? Kok bisa di sini?" bingung Farel.
"Sebentar, gue panggil dokter!" Alan tak menjawab pertanyaan Farel dan langsung pergi begitu saja. Farel pun memandang ke arah langit-langit ruangan.
"Gue kira, gue udah di surga ..." gumamnya. Kemudian ia terdiam sembari mengingat kalimat terakhir yang ia dengar sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
"Kenapa harus gue?" Tiba-tiba bulir air matanya menetes.
"Kenapa dari sekian banyak orang di dunia ini, harus gue yang jadi incaran Thalia dan teman-temannya?" isaknya.
"Kenapa nasib buruk terus darang bertubi-tubi kepada gue?" ucapnya dengan suara yang bergetar menahan tangis akibat rasa pedih dan kecewa akan takdir yang tak mampu ia tanggung lagi.
***
__ADS_1
Thalia kini duduk bersama ketiga temannya di Kantin. Gadis ini maaih berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak marah. Ia tahu, akan aneh jika ia marah karena teman-temannya menyakiti Farel.
'Bagaimana jika mereka memusuhiku jika aku membela Farel?' khawatir Thalia dalam hati. Namum tangannya mencengkram dengan kuat.
'Tapi kenapa dada ini terus merasa sesak setiap memikirkan keadaan Farel sekarang?' batin Thalia.
'Kira-kira dia sudah sadar atau belum, ya? Bagaimana jika besok atau lusa atau besok lusa aku tidak bisa melihat Farel lagi—'Thalia langsung menggeleng pelan.
'Tidak, Farel pasti kembali! Dia milikku, dia sudah berjanji padaku akan selamanya bersamaku!' sahut Thalia dalam hati.
'Farel, aku perintahkan kamu untuk segera sembuh dan datang kembali padaku!' batin Thalia agak memohon.
"Thalia!" seru Marina yang tadi melihat raut wajah khawatir Thalia.
"Eh, ada apa, Mar?" tanya Thalia pura-pura baik-baik saja.
"Itu, makanan lu gak dimakan?" tabya Marina yang melihat hidangan di depan Thalia masih utuh.
Thalia pun menoleh ke makanannya. Tiba-tiba ia jadi tidak berselera.
"Aku tidak mau makan ..." ucap Thalia.
"Uhm ... Itu ... Farel ..." Sontak ketiga sahabatnya langsung terhenyak dan saling lirik mendengar nama lelaki berkacamata itu.
"Jujur padaku, apa itu ulah kalian?" tanya Thalia berusaha bersabar seraya menatap ketiga sahabatnya.
Renata, Marina dan Vannesa pun mengangguk.
"Itu karena dia udah bikin kencan lu gagal! Kak Alan gak suka sama dandanan lu, makanya kita kasih dia pelajaran!" bela Renata bucara duluan.
"Iya! Gara-gara dia, lu dicuekin abis sama Kak Alan dan kita gak terima itu!" tambah Vannesa.
"Makanya aku minta bantuan Kak Aldo," lanjutnya kemudian menunduk. Kalau boleh jujur sekarang Vannesa, Renata dan Marina tengah dibaluti rasa bersalah. Mereka tak pernah menduga jika Farel akan sampai masuk rumah sakit. Vannesa bahkan tidak berani menanyakan pada Aldo, apa yang sudah dilakukan pacarnya itu pada Farel.
"La-lain kali ... Biar aku saja yang menghukumnya!" ujar Thalia agak terbata-bata dan sama sekali tidak ingin menatap ketiga sahabatnya. Kini hatinya benar-benar panas.
"Thalia ... Kita sama sekali gak menduga—"
"Farel itu milikku!" tegas Thalia sambil menatao tajam ketiga temannya.
"Hanya aku yang boleh menghukumnya, hanya aku yang boleh memberikannya pelajaran! Jadi jangan bertindak sendiri!" ujar Thalia dalam satu napas dan ia segera tersadar apa yang baru saja ia ucapkan. Kini ketiga sahabatnya menatap ia dengan heran.
__ADS_1
"Sorry ... Kita sudah gegabah ..." ucap Marina. .
"Aku ... aku mau sendiri dulu!" ujar Thalia segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi begitu saja.
Thalia berlari dengan kencang ke taman sekolah. Tanpa ia sadari bulir air matanya menetes. Rasanya ia ingin berteriak. Untuk melepas semua amarah dan rasa sesak ini.
"Kalian semua jahat!" jerit Thalia begitu memastikan hanya dirinya yang ada di taman sekolah.
"Kenapa kalian tega melakukan itu pada Farelku! Dia milikku! Hanya aku yang berhak menghukumnya ..." tangis Thalia yang terduduk begitu saja di bangku taman.
"Bagaimana ... bagaimana jika aku tidak bisa melihatnya lagi? Bagaimana jika dia tidak mau menurutiku lagi? Bagaimana jika dia pindah sekolah?" tangis Thalia putis asa.
"Farel ... cepat lah kembali ..." tangis Thalia.
"Farel udah sadar ..." Tiba-tiba ada suara seorang perempuan yang nerat dari belakamg Thalia, membuat gadis itu menghentikan tangisannya. Ia pun menoleh ke asal suara dan menemukan Sheilla yang sedang berjalan ke bangku taman yang ia duduki.
"Farel baru aja sadar ... Jadi cepat atau lambat, dia bakalan masuk lagi," ujar Sheilla sambil duduk di samping Thalia kemudian menusuk sedotan ke susu kotak rasa stroberi miliknya.
Thalia pun buru-buru menghapus air matanya.
"Apaan, sih? Jangan sok deket!" ketus Thalia.
"Aku gak tau kalau kamu ternyata peduli sama Farel juga," sahut Sheilla.
Thalia tertegun.
"Si-siapa yang peduli! Aku itu mau di-dia masuk supaya aku bisa suruh-suruh lagi!" sangkal Thalia sambil memalingkan pandangannya.
"Oh, begitu ... Kalau itu terjadi, mungkin dia akan pilih pindah sekolah. Toh, masih kelas tujuh—"
"Gak boleh! Aku gak akan izinin. Yayasan gak akan izinin dia pindah sekolah!" potong Thalia.
Sheia malah terdiam sambil memandang Thalia penuh arti. Gadis itu pun tersenyum.
"Yah, kalau gitu mungkin dia akan kembali lagi," sahut Sheilla sambil terkekeh.
Thalia hanya bisa mengeluh.
"Kamu jangan salah paham loh! Aku ... Aku itu benci sama Farel! Aku sukanya sama Kak Alan!" ucap Thalia lagi.
"Oh iya? Kamu yakin?" Sekali lagi Thalia dibuat terkesiap. Entah kenapa pertanyaan Sheilla barusan menjadi pertanyaan sulit baginya.
__ADS_1