
Akhirnya ujian akhir semester telah dilewati, kini semua orang hanya tinggal menikmati hari libur menuju semester baru.
Ting!
Suara sebuah notifikasi yang begitu nyaring seketika membuat Thalia bangun dari tidurnya. Semalam, ia begadang karena keasyikan ngobrol bersama tiga sahabatnya di facebook.
Di minggu pertama liburan semester, mereka sepakat untuk menikmati liburan bersama keluarga masing-masing. Bahkan kemarin Thalia sudah melihat postingan Vannessa yang berlibur di Yogyakarta tidak hanya dengan keluarganya, melainkan juga keluarga Aldo. Mungkin setelah lulus SMA, pasangan yang masih kasmaran itu akan langsung menikah.
Thalia pun langsung duduk seraya mengambil ponselnya. Di sana ada kiriman foto Marina yang berlibur ke kampung halamannya bersama kedua orang tuanya. Tak butuh waktu lama, Renata juga mengirim foto sedang pergi ke museum bersama keluarganya. Thalia hanya bisa menghela napas karena di hari ketiga liburan semesternya, ia hanya bisa menghabiskan waktu di kamar.
Jika itu tiga tahun lalu, ia malah menghabiskan waktu di rumah sakit merawat ibunya yang sekarat. Sekalipun bukan ke kota wisata, kampung halaman atau museum, dia sangat bahagia karena bisa melihat senyum ibunya dengan wajah yang pucat. Namun hal itu kini hanya bisa menjadi kenangan.
"Ma ... Mama pasti sudah bahagia, ya di sana?" gumam Thalia malah bicara sendiri. Namun tiba-tiba perutnya malah bunyi. Thalia pun melirik ke jam dinding di kamarnya. Sontak kedua matanya membulat.
"Ya ampun! Udah jam sepuluh!" Thalia pun langsung turun dari tempat tidurnya. Ia benar-benar bangun siang. Bisa-bisa ia akan dapat ocehan sekalian sindiran dari mulut wanita ular yang tinggal di rumahnya. Belum lagi, ejekan dari adik tiri kurang ajarnya.
Thalia langsung turun ke bawah untuk mendapatkan sarapan. Namun langkahnya melambat ketika mendapati rumahnya yang sepi. Tidak, rumahnya memang selalu sepi, tetapi biasanya wanita parasit dan anaknya itu pasti masih ada di rumah jam segini.
Thalia pun pergi ke dapur. Hebatnya lagi, di sana juga tidak ada siapa-siapa. Bahkan asisten rumah tangganya belum datang.
"Jangan-jangan, masih pagi, apa semua orang masih tidur?" bingung Thalia.
"Loh, Non? Non Thalia kok ada di sini?" Tiba-tiba Thalia mendengar suara asisten rumah tangganya dari belakang. Gadis itu pun memutar tubuhnya dan menemukan sang asisten rumah tangga yang masih mengenakan jaket. Itu menandakan bahwa dia baru saja datang.
"Loh, Bi? Bibi baru datang?" bingung Thalia. Biasanya asisten rumah tangganya ini datang tepat jam enam pagi. Namun, ada apa hari ini? Dia datang terlambat, atau memang sengaja datang terlambat.
"Bibi izin hari ini?" tebak Thalia.
"Enggak, Non ..." ujar sang Asisten Rumah Tangga sambil melepas jaketnya.
__ADS_1
"Kemarin, Nyonya Siska bilang, Bibi datang siang aja karena hari ini semua orang pergi," jawab wanita paruh baya itu.
"Semua orang pergi? Pergi kemana? Papa kemana? Dan Tente Siska? Vino?" Ia menyebut nama adik laki-lakinya juga. Mungkinkah mereka pergi berlibur bertiga? Namun, kenapa Thalia tidak diajak? Thalia anak papanya juga 'kan?
"Kalau Tuan, ada dinas di Singapore, Non. Nah, kalau Nyonya Siska dan Den Vino, mereka pergi ke Batam. Kata Nyonya Siska, nanti setelah urusan Tuan selesai, Tuan akan datang ke Batam dan liburan bersama. Kemarin Bibi dikabari, semua orang ikut termasuk Non Thalia," beber Asisten Rumah Tangganya.
Thalia hanya bisa mengerjapkan matanya. Jika Wanita Ular itu yang memberi perintah, sudah pasti, Thalia tidak dianggap ada. Entah tudingan apa lagi yang akan ia karang di hadapan sang Papa saat menanyakan, kenapa dirinya tidak ikut. Namun, di sisi lain begini lebih baik, entah berapa lama ia harus menunggu kehadiran sang Papa dan terjebak bersama wanita ular dan anak kesayangannya itu.
"Ya udah, deh, Bi. Bibi bisa buatin Thalia sarapan? Thalia laper," tuturnya lesu.
"I-iya, Non. Non tunggu sebentar, ya. Bibi mau gantu baju dulu," izin Asisten Rumah Tangganya yang langsung mendapat anggukan kepala Thalia. Gadis Cantik itu pun pergi ke ruang makan.
Sembari menunggu, Thalia terus menatap ruang obrolan bersama ketiga sahabatnya. Ia sudah mengetik pesan panjang, tetapi masih belum menekan tombol kirim.
"Kalau aku cerita tentang kejadian hari ini, pasti aku akan merusak kebahagiaan mereka," gumam Thalia yang langsung menghapus pesan panjang yang telah ia tulis. Toh, ketiga sahabatnya tidak ada yang tahu bagaimana hubungannya dengan ibu tirinya itu.
"Farel, Aku mau ke rumah kamu hari ini. Pastikan nanti siang kamu ada di rumah. Jangan kabur, jangan pergi, jangan kemana-mana, atau nanti aku kasih kamu hukuman!" ujar Thalia menyebutkan apa yang ia tulis dan langsung mengirimkan tanpa ragu.
"Non, ini makanannya," ujar Asisten Rumah Tangganya. Seketika senyum Thalia semakin mengembang.
"Bi, Bibi bisa buat brownies? Thalia mau bawa untuk dikasih ke temen Thalia," ujar gadis cantik itu. Sang Asisten Rumah Tangga tertegun, jelas ia ingat beberapa saat yang lalu, wajah nonanya murung, tetapi tiba-tiba tersenyum cerah. Tanpa ragu, wanita paruh baya itu pun mengangguk.
...****************...
Sebuah garukan sampah menyelam ke dalam selokan kotor dan menarik sampah-sampah yang tertimbun di sana. Para jentik-jentik nyamuk yang berkumpul langsung pergi menghindari bahaya. Garukan sampah itu pun ditarik keluar setelah berhasil mendapat sampah-sampah yang tertimbun di dalam sana.
"Ya ampun, kenapa banyak banget sampah di sini?" keluh Farel yang sudah hampir tiga jam membersihkan sampah di selokan. Ia bahkan belum membersihkan kipas angin karena selokan mampet. Akibatnya, airnya malah meluap. Bisa-bisa kalau hujan lebat nanti, daerah rumahnya akan banjir.
"Farel!" Tiba-tiba ia mendengar teriakan ibunya. cowok berkacamata itu pun berbalik.
__ADS_1
"Farel!" sahut Ibunya lagi, Farel pun langsung menghampiri ibunya itu.
"Kenapa, Ma?" tanya Farel. Apakah ada pekerjaan lain yang harus ia lakukan? Namun dahi ibunya malah mengernyit. Tangan putranya ini ditempeli bekas air selokan, tubuhnya juga bekeringat karena dijemur sinar matahari, bahkan aroma tubuh yang dikeluarkan agak busuk.
"Kamu dari tadi ngapain aja? Masa bersih-bersih selokan sampai kayak gini?" komentar sang Mama sambil menutup hidungnya.
Farel langsung sadar. Ia pun menyeka tangan kotornya dengan tangan lainnya yang juga kotor.
"Ah, ini, Ma ... Tadi ada sampah yang tertimbun di bawah tempat sampah di atas selokan, jadi tadi, yah agak nyemplung sedikit tangannya," jelas Farel.
"Udah, udah, mendingan kamu bersih-bersih, gih. Ada temen kamu datang, tuh!" perintah Mamanya.
Dahi Farel mengernyit.
"Hah? Temen? Cewek apa cowok, ma?" heran Farel. Seingatnya, kemarin Sheilla bilang keluarganya mau liburan dengan Alan. Tidak mungkin pasangan itu datang.
"Cewek," jawab sang Mama yang malah menambah kerutan di dahi Farel. Siapa? Memangnya dia punya teman cewek selain Sheilla?
"Udah, sana mandi! Kamu bau banget! Malu kalau ketemu cewek, kamu malah kotor dan bau gini," suruh Mamanya lagi.
"I-iya, Ma. Tapi, sampahnya?"
"Udah, itu nanti urusan Mama. Tinggal dibuang 'kan?"
"Hah? Kok jadi Mama? Nanti tangan Mama kotor—"
"Ya, tinggal diberisihin! Udah, sana kamu temenin temen kamu. Kasihan, masa dibiarin nunggu!"
Farel pun terpaksa menyerahkan garukan sampah ke mamanya dan pergi masuk ke dalam rumahnya. Kira-kira, siapa yang datang?
__ADS_1