Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S2: Hubungan yang Mungkin Berubah


__ADS_3

Atensi Thalia beralih pada Renata yang meneriakinya. Kenapa sahabatnya ini meneriakinya? Apa karena dia tidak lagi tertarik pada Alan? Apa aneh jika Thalia tidak tertarik pada kakak kelasnya yang paling tampan itu?


"Renata, udah! Cukup!" sahut Vannessa menjauhkan Renata dari Thalia.


"Cukup apanya? Thalia, gue gak salah dengar 'kan? Lu gak mau lagi berusaha deketin Kak Alan?" Sekali lagi Renata malah mengulang ucapannya yang membuat Thalia memutar bola matanya.


"Iya!" tegas Thalia yang juga membuat Marina tertegun. Gadis berambut hitam itu menoleh sambik menatap lurus ke arah Thalia. Satu pertanyaan di kepalanya, "Kenapa?" Namun mulutnya terkunci.


"Renata, Marina, kalian ingat 'kan, gimana sikap Kak Alan sama aku minggu lalu di Kantin? Aku capek, sakit hati terus setiap menghadapi Kak Alan. Padahal cewek-cewek yang lain dia perlakukan dengan baik, bahkan dia pacarin, sementara aku? Dia bahkan gak melirik aku sama sekali," beber Thalia sambil menatap saru per satu ketiga temannya.


"Tapi Thalia, ini gak seperti lu yang gue kenal! Lu itu akan berusaha mendapatkan apa yang lu mau!" kukuh Renata.


"Ya, ini yang aku mau!" tegas Thalia lagi.


"Lagipula, Cowok kayak Kak Alan itu gak pantas buat aku!"


"Terus?" Tiba-tiba Marina menyerobot, membuat atensi Renata, Vannessa dan Thalia beralih padanya.


"Terus, siapa cowok yang pantas buat lu, Thalia?" sinis Marina yang diam-diam menubrukkan ujung-ujung jarinya. Ada sebuah nama yang sangat tidak ingin ia dengar dari mulut sahabatnya itu. Ia tidak mau kecurigaannya selama ini malah diakui oleh Thalia. Tidak, jika memang kecurigaannya benar, pasti bukan Thalia yang memiliki perasaan duluan. Jelas-jelas Thalia sebelumnya menyukai Alan.


"Seseorang yang tulus! Aku juga gak tahu siapa, tapi setidaknya dia juga memiliki perasaan yang tulus sama seperti aku," jawab Thalia yang seketika membuat Marina bisa bernapas lega.


"Baguslah kalau gitu ..." sahut Marina.


"Mar!" protes Renata.


"Kenapa? Gue setuju, kok sama Thalia! Kak Alan emang sosok yang sempurna, tapi dia gak pantas dapat cinta Thalia! Sikapnya itu menjengkelkan. Gue heran, kenapa banyak cewek yang suka sama dia!" gerutu Marina.


"Wait, sebenarnya apa yang terjadi, sih? Emangnya Kak Alan ngapain?" bingung Vannessa.


"Kak Alan sindir Thalia kalau Thalia bukan tipenya sama sekali. Tapi cara sindirnya itu, ugh!" Marina tiba-tiba meledakkan uneg-unengnya.


"Thalia ... Sorry, gue gak ada di saat lu sedih. Sorrt my baby ..." Vannessa langsung menggenggam tangan Thalia seraya menatap sahabatnya itu penuh simpati.


"It's ok, my dear. Aku baik-baik aja, kok sekarang," ujar Thalia lagi. Sedangkan Renata hanya terdiam sambil melihat dua sahabatnya yang begitu mendukung keputusan Thalia.


"Oke, kalau gitu, gue juga gak bisa apa-apa lagi. Kalau emang ini keputusan lu. Gue akan dukung," sahut Renata.


"Ya ampun, bukannya ini saatnya berpelukan. Kita saling kasih semangat, dan beri energi positif!" seru Vannessa.


"Good idea! Sini, peluk!" ujar Thalia. Marina, Renata dan Vannessa pun langsung mendekati Thalia dan mereka berempat berpelukan. Namun diam-diam Thalia melirik ke arah pintu kelas.


'Farel kok lama banget. Dia ngapain, ya sama Sheilla?' batin Thalia dalam hati.

__ADS_1


...****************...


Farel membawa Sheilla ke Taman.


"Farel! Tunggu ..." Napas Sheilla tersengak-sengal karena Farel membawanya sambil berlari.


"Emangnya, kita harus banget lari, ya?" tanya Sheilla yang agak heran dengab gelagat Farel.


"Gue ... Soalnya, gue cuman gak mau temen-temennya Thalia dengar jawaban gue dari pertanyaan lu," tutur Farel yang langsung duduk di bangku taman. Napasnya juga terengah-engah karena berlari.


Sheilla mengernyitkan dahi sambil ambil posisi di samping Farel.


"Jawaban kamu? Jadi beneran kamu—"


"Iya, gue yang bikin Thalia gak mau ngejar-ngejar Kak Alan lagi. Puas lu?" ujar Farel agak ketus.


"Se-serius?" cecar Sheilla agak tak percaya.


Farel mengangguk.


"Gue juga gak ngerti, gue kesambet apa, tapi gue gak suka aja lihat sikap Kak Alan yang beda sama Thalia. Entah karena dipengaruhi perbuatan Thalia ke elu, atau karena apa ..." beber Farel lagi. Sementara Sheilla malah senyum-senyum sendiri.


"Lu kenapa, Shei? Lu seneng?" selidik Farel. Sheilla langsung menoleh.


"Tapi, gimana caranya kamu bikin Thalia jadi gak mau ngejar-ngejar Kak Alan lagi? Apa ucapan yang Thalia bilang itu asalnya dari kamu?" selidik Sheilla. Sontak Farel tertegun, Cowok Berkacamata itu langsung garuk-garuk belakang kepala sambil mengalihkan pandangannya.


"Uhm, bisa dibilang gitu, sih ... Tapi—"


"Woah, jadi kamu bilang ke Thalia, apa tadi ... Untuk apa aku menpertaruhkan perasaanku untuk cowok yang gak tulus? Begitu tadi 'kan?" antusias Sheilla yang malah membuat Farel mengerutkan keningnya.


"Uhm, kenapa pas lu yang ngulang jadi agak menjijikan, ya?" komentar Farel yang langsung membuat wajah Sheilla jadi datar.


"Yah, mau gimanapun, itu 'kan kalimat kamu, Rel ... Aku gak inget semuanya, jadi cuman ambil kesimpulan aja," bela Sheilla untuk dirinya sendiri.


"Yah, tapi gue bilang ke Thalia kayak gitu gak langsung. Sepotong-potong dan ..." Farel menggigit bibir bawahnya. Atensi Sheilla pun beralih dan malah memandang wajah Farel.


"Dan?"


Farel melirik ke arah Sheilla.


"Gue kebawa emosi, makanya bilang kayak gitu. Sumpah, gue gak sengaja! Gue lihat perlakuan Kak Alan ke Thalia dengan mata kepala gue sendiri ... Dan entah kenapa gue kesel! Kenapa Kak Alan gak adil sama Thalia ..." Farel menghentikan kalimatnya ketika melihat wajah Sheilla yang malah semringah.


"Lu kenapa, Shei?" tanya Farel.

__ADS_1


Sheilla menaikkan kedua alisnya.


"Aku? Uhm, aku senyum. Ada yang salah?"


Farel mengangguk. "Sumpah, senyum lu aneh banget. Ada yang lucu di kata-kata gue?"


Sheilla malah melipat bibirnya.


"Gak lucu, sih ... Tapi ... Sweet aja," ungkap Sheilla.


Ucapan gadis berkulit sawo matang di samping Farel membuat Cowok Berkacamata itu menambah kerutan di dahinya.


"Sweet? Sweet apaan, sih?" heran Farel.


Bola mata Sheilla bergerak ke atas.


"Ya, kayaknya kamu sweet aja gitu ke Thalia."


Sontak kedua mata Farel membulat.


'Gue kira lu sama Cewek Nyebelin itu jadian.'


'Asal lu tahu, lu gak akan pernah pantas buat Thalia!'


Tiba-tiba ucapan yang pernah dilontarkan oleh Alan dan Marina malah berputar-putar di kepala Farel membuat tangan Cowok Berkacamata itu gemetaran.


"Gue—"


"Tapi kamu kayak gitu 'kan karena kamu harus berada di pihak Thalia 'kan?" Tiba-tiba ucapan Sheilla memusnahkan semua kalimat yang berputar-putar di kepala Farel. Cowok Berkacamata itu langsung mengangguk.


"Itu wajar, kok. Siapa tahu, sebenarnya, tanpa sadar, kamu sama Thalia udah jadi teman. Yah, meskipun awalnya Thalia se-dominan itu sama kamu," beber Sheilla.


"Teman? Gue sama Thalia?" ulang Farel.


"Yah, lagian akhir-akhir ini, sikap Thalia ke kamu gak semena-mena kayak dulu. Sekalipun gak mungkin, aku juga maunya temenan sama Thalia. Tapi dia nolak berteman sama aku, ya gimana, ya? Haha ..." Sheilla malah tertawa sendiri.


"Uhm, jadi ... Maksud lu, lu senang sama pernyataan Thalia yang udah gak suka Kak Alan lagi karena kalian bukan rival lagi?" tebak Farel yang membuat mata Sheilla mengerjap.


"Uhm, itu ..."


"Wait, tapi bukannya lu sama Kak Alan udah putus?" Sheilla tersentak mendengar pertanyaan Farel. Mulut cewek itu langsung bungkam.


"Kata siapa?" Tiba-tiba muncul seseorang di belakang mereka.

__ADS_1


__ADS_2