
Farel berakhir di mobil Thalia. Lelaki itu menggenggam erat tali ranselnya saat duduk di samping cewek dominan yang selalu memerintahnya semena-mena. Sesekali ia melirik ke arah gadis cantik yang selalu memandang keluar jendela itu sembari menantikan perintab selanjutnya. Sayang, Thalia tak berucap apa-apa di sepanjang perjalanan.
"Tha-thalia ..." ucap Farel yangd dibalas dengan gumaman saja.
"Ka-kamu gak pergi sama temen-temen kamu? Apa mereka gak marah karena aku duduk di sini?" tanya Farel agak khawatir, apalagi Vannesa dan Renata.
"Mereka sudah pulang duluan tadi. Kamu gak lihat?" jawab Thalia tanpa menoleh.
"Lihat, tapi ..." Farel teringat bagaimana Marina marah sambil menunjuk wajahnya tadi pagi.
"Lalu, apa yang kamu khawatirkan?" Thalia kemudian menoleh dan menatap Farel yang menunduk.
"Uhm, Seperti yang biasa kamu bilang ... A-aku gak pantas duduk di mobil mewah kamu," ujar Farel yang sebenarnya tidak mau berurusan dengan Thalia. Cukup saat di sekolah saja. Bagaimana jika anak perempuan ini membawanya ke suatu tempat dan malah menghabisinya karena dia kesal.
Tadi saja di sekolah mulutnya tak berhenti mengomel sampai membuat telinga Farel panas. Semua gerak-gerik Farel dikomentari olehnya.
Namun kini Thalia hanya memandang Farel dengan tatapan yang entah artinya apa, antara iba atau merasa bersalah.
"Ehm!" Thalia mengembalikan ekspresi cantiknya sambil menyisipkan rambut lurusnya yang tergerai ke belakang telinga.
"Kamu gak usah pikirin itu sekarang! Anggap aja hari ini aku kasih kamu keringanan," ujar Thalia sambil menaikkan dagunya.
"Keringanan?" Sontak sebuah senyum semringah terbit di wajah Farel, membuat paras lelaki itu terlihat semakin manis.
Thalia bahkan tak bisa berhenti memandang wajah seorang Farel. Gadis cantik itu diam-diam menelan salivanya.
"Oh, iya, Thalia!" seru Farel hingga membuat Thalia tersentak.
Farel yang menyadarinya malah bingung.
"Kamu kenapa? Aku mengagetkanmu, ya?" tanya Farel bingung.
Bola mata Thalia bergerak ke kanan dan ke kiri, gadis itu bergumam.
"E-enggak, kok. Aku ... uhm, ugh! Udah, deh! Kamu diam aja!" ujar Thalia berakhir dengan nada yang ketus.
Seketika Farel langsung membungkam mulutnya. Ia pun memosisikan tubuhnya menghadap ke depan sembari menunggu mobil sampai di tujuannya.
Hingga akhirnya mobil berhenti di sebuah daerah yang sepanjang jalannya berjejer toko-toko kelas atas. Farel bisa melihat bahwa mobil berhenti di depan sebuah optik yang terkenal mengeluarkan kacamata berkualitas.
"Ayo cepat turun!" suruh Thalia.
Farel menoleh ke arah gadis cantik itu.
"Kamu mau beli kacamata?" tanya Farel.
"Udah, gak usah banyak tanya! Ikut aja!" ketus Thalia. Farel pun hanya bisa terdiam dan mengikuti Thalia. Dua anak remaja itu pun turun sementara Pak Supir pergi ke area parkir.
"Thalia, memangnya tidak apa-apa kita masuk ke sini tanpa orang tua?" tanya Farel lagi.
__ADS_1
"Hello, Farel! Emangnya kita anak SD? Kita udah gede kali! Udah, jangan banyak omong! Kenapa kamunjadi cerewet, sih?" keluh Thalia yang langsung berjalan di depan Farel dan masuk duluan ke optik mewah itu, sedangkan Farel berlari kecil untuk mengikuti Thalia.
Tepat saat Farel masuk, rupanya Thalia sedang bicara dengan seorang Pria yang agak melambai dengan mengenakan blouse satin yang dibuka kancingnya hingga memamerkan bulu dadanya.
"Jadi, yang mana Nona Thalia orangnya?" tanya Pria melambai itu.
Thalia langsung menunjuk Farel.
"Periksa matanya, buat lensa terbaik dan desain kacamata terbaik!" perintah Thalia.
Farel langsung mengernyitkan dahi.
"Hah? Maksudnya apa, Thal?" bingung Farel.
Namun Pria melambai itu malah menghampiri Farel dan memegang kedua pundaknya dari belakang.
"Udah, yuk, dek ... ikut kakak aja. Gak lama, kok," bujuknya.
"Ta-tapi —"
"Udah, ikutin aja kata-kata Om Roger!" titah Thalia sambil melipat kedua tangannya.
Seperti biasa, Farel tak bisa melawan, lelaki itu pun pasrah begitu saja dibawa oleh Pria bernama Roger sementara Thalia menunggu di ruang tunggu. Gadis itu pun duduk di sofa sambil membaca majalah yang tersedia di sana.
Tak lama kemudian Farel datang menghampiri Thalia.
"Terus, gak dipake kacamatanya?" tanya Thalia.
Farel menggeleng.
"Lagi dipasang ... uhm, tapi Thalia ..." Farel agak tidak yakin menanyakan hal ini pada Thalia.
"Apa?" ketus Thalia.
"Y-yah ... Se-sebenarnya kenapa kamu tiba-tiba suruh aku bikin kacamata?" selidik Farel.
"A-aku gak punya uang, loh. Uang aku cuman buat ongkos pulang ..." melas Farel.
"Kayaknya kacamatanya mahal banget. Ta-tadi ada beberapa pilihan dan Om Roger cuman bolehin aku pilih yang paling bagus ..." Farel menggaruk-garuk belakang tengkuknya.
"Ka-kamu gak lagi ngerjain aku 'kan? Ka-kamu gak bakalan ninggalin aku di sini sendirian dan ditangkap polisi karena gak bisa bayar kacamata 'kan?" tukas Farel.
Thalia menghela napas kasar kemudian membanting majalah yang tadi ia baca hingga Farel tersentak.
"Kamu nuduh aku?" tuding Thalia.
Farel menggeleng.
"Y-ya ... A-aku jaga-jaga aja ... Aku gak nuduh kamu, kok! Aku cuman mau kasih tau keadaan aku ..." Farel bergumam.
__ADS_1
"Aku gak keberatan kalau kamu mau ngerjain aku kayak biasanya, tetapi kalau sampai menipu aku dengan suruh bayar hal semahal kacamata ... aku gak sanggup, Thalia," ujar Farel memelas, tetapi ia merutuki sebagian kalimatnya.
'Mana ada orang seneng dikerjain! Dasar Farel!" gerutu lelaki kurus itu dalam hati.
Namun Thalia sudah terlanjur memonyongkan bibirnya sambil menatap Farel tajam.
"Kamu jahat!" tukas Thalia yang matanya indahnya sudah diselimuti lapisan tipis sebening kristal.
Farel pun melotot saat mendengar suara berat Thalia.
"Thalia ... kamu nangis?" duga Farel.
'Dasar drama queen!' tukas Farel dalam.hati agak muak.
"Kok bisa, sih kamu nuduh aku kayak gitu? Kamu jahat banget!" tukas Thalia.
'Harusnya itu kalimat gue!' teriak Farel dalam hati.
'Untung gak ada temen-temennya. Kalau ada, habis gue sama mereka,' batin Farel lagi agak bersyukur.
"Asal kamu tahu, aku itu kesel sama kamu!" tekan Thalia sampai membuat Farel.kaget, tetapi lelaki itu diam-diam tersenyum.
'Nah, gini, nenek sihirnya keluar. Jangan som lemah, deh!' batin Farel.
"Kamu itu dua hari ini bikin aku risih, tau!" lanjut Thalia.
"Kamu sadar, gak, sih kalau sering ngerecokin aku! Banyak omong, bikin pusing!" omel Thalia.
'Helo, lu gak ngacak, bu?' kesal Farel dalam hati.
"Aku gak tahan lagi!" ujar Thalia lagi.
"Ini semua karena mata rabun kamu!" tukas Thalia lagi.
"Jadi, kamu jangan ge-er, ya! Aku ngelakuin ini semua demi diriku sendiri dan aku gak ada niatan buat ngerjain kamu!" tegas Thalia.
Farel tertegun, ia merasa kalimat Thalia barusan ada yang aneh. Ada makna lain dari kalimat tersebut.
"Aku udah muak sama kamu yang menggunakan mata cacat kamu buat gangguin aku!" tukas Thalia yang seketika membuat suasana ramai di sana sepi.
Sementara Farel hanya memandang Thalia dengan nanar. Entah kenapa kalimat barusan terdengar kasar di pendengarannya.
"Mata cacat?" ulang Farel.
Thalia yang sadar akan kalimatnya pun refleks menutup mulutnya. Ia memandang ke sekeliling dan orang-orang mulai berbisik. Tanpa bicara apapun, Thalia tiba-tiba berlari keluar dari optik meninggalkan Farel sendirian.
"Thalia! Tunggu, kacamatanya belum dibayar—Ugh! Dasar!" gerutu Farel yang sudah bisa menebak ini semua akan terjadi. Sekarang bagaimana? Siapa yang akan bayar kacamatanya?
...****************...
__ADS_1