
"Memangnya kamu pacarnya Farel?" tukas Thalia.
Suasana kelas yang tadinya ramai, tiba-tiba jadi sepi karena ucapan Thalia. Bukankah jika yang Thalia ucapkan benar, maka akan sangat seru. Shei dan Farel akan jadi pasangan yang sangat unik, yang perempuan bertumbuh besar, berkulit hitam dan berwajah senga, sedangkan yang laki-laki bertubuh kurus, tinggi, culun dan selalu menunduk ketakutan. Mereka berdua sangat bertolak belakang.
"Cie ... ada pasangan baru di kelas kita, nih!" seru Harry si tukang provokasi. Sontak para murid yang lain langsung bersorak.
"Wah, siapa sangka kalau kalian pacaran!" Renata malah menambahi sambil tersenyum miring, sedangkan Thalia malah terdiam sambil menunduk. Bukannya menjelaskan, Shei malah terdiam, seolah pernyataan Thalia itu benar.
"Ti-tidak!" seru Farel tiba-tiiba membuat Thalia mengangkat kepalanya.
"Gue dan Shei gak pacaran!" tegas Farel.
"Kita ..." Farel memandang ke arah Shei yang masih terdiam. Farel sendiri bingung. Ia sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan Shei sebelumnya. Baru hari ini dan langsung merasakan getaran di dadanya.
Namun tiba-tiba Shei malah tersenyum.
"Kita gak pacaran ..." Shei malah memandang ke arah Farel kemudian ke arah Thalia.
"Jangan asbun. Aku cuman gak suka sama sikap kamu! Apa lagi, kamu buang tas Farel ke tempat sampah!" tuding Shei. Sontak seisi kelas langsung berbisik-bisik.
"Heh, Shei lu itu—"
"Itu bukan Thalia!" tegas Farel yang memotong ucapan Vannesa yang siap melemparkan sumpah serapah pada Sheilla.
Namun ucapan Farel malah membuat seisi kelas hening.
"Jangan salah sangka, Shei ...." Kini Farel menatap lurus ke arah Shei, terdapat kilatan di matanya yang mampu menyihir seorang Thalia hingga tak mampu bergerak.
"Tas gue yang ada di tempat pembuangan akhir itu, bukan karena ulah Thalia ..." lanjut Farel lagi.
"Tas kamu di tempat pembuangan akhir?" Kini Thalia tahu, mengapa Farel menenteng totebag jingga bermotif bunga-bunga.
'Siapa yang melakukannya?' batin Thalia heran sendiri.
"Terus siapa?" tanya Shei.
"Siapapun mereka, harusnya mereka dilaporkan ke guru!" lanjut Shei menyisir semua teman sekelasnya.
"Memangnya apa gunanya masuk sekolah kalau kelakuannya masih saja begitu! Tidak menghargai temannya sendiri!"
Vannesa dan Renata yang merupakan pelaku langsung tertohok.
"Halah! Gak usah sok ceramah, deh! Dasar The Beast!" tukad Vannesa angkat bicara.
"Tau! Lu ngomong gitu seolah hidup lu paling bener aja!" tambah Renata.
Shei hanya bisa menatap sinis dua gadis yang tersenyum penuh kemenangan di hadapannya.
__ADS_1
"Kalian—"
"Woy, guru dateng!" Tiba-tiba ketua kelas memotong perdebatan mereka. Para gadis yang berdiri di depan pun menoleh ke luar jendela dan mereka bisa melihat bahwa guru sekaligus wali kelas mereka datang.
"Kalau kalian mau berantem, keluar aja!" kata Sang Ketua Kelas.
"Hey, Shei, kali ini aku biarin kamu! Awas kalaunkamu berani macem-macem lagi sama aku!" bisik Thalia sinis.
"Lah, Thal? Gitu aja?" tanya Vannesa yang sudah sangat siap beraksi.
"Udah, balik aja ke tempat duduk," ujar Thalia malas ambil pusing. Hari ini sudah banyak sekali yang terjadi. Ia sangat malas berpikir untuk mengerjai orang. Mereka semua pun bubar tepat saat guru datang.
Farel dan Thalia kini duduk sebangku. Beberapa kali lelaki itu melirik ke arah teman sebangkunya yang menatap ke depan kelas.
"Maaf ..." ucap Farel tiba-tiba, membuat Thalia melirik.
"Maaf untuk apa?" tanya Thalia ketus.
"Ka-karena kamu harus dituduh lagi ... Hari ini semua tuduhan yang menimpa kamu karena aku ..."
Thalia tertegun, tetapi ia tidak mau menatap ke arah Farel.
"Maaf juga karena tadi saat kamu dituduh Bu Vera, aku gak bisa belain kamu ..." ujar Farel lagi dengan nada yang lirih.
Thalia diam-diam menggigit bibir bawahnya.
"Apaan, sih!" ketus Thalia.
"Kamu kira dengan minta maaf, maka semuanya akan selesai?" sinis Thalia masih tanpa menoleh ke arah Farel.
Farel kini memandang ke arah Thalia.
"La-lalu, apa yang harus aku lakukan supaya kamu gak sedih?"
Sebuah panah seolah menancap di dada Thalia hingga membuat tubuhnya tersengat listrik.
'Sedih? Kenapa dia harus repot agar aku tidak sedih?' batin Thalia.
"Me-memangnya aku memerintahkanmu untuk membuatku tidak sedih?" ujar Thalia masoh ketus. Ia langsung menyenderkan kepalamya di atas meja. Ia sangat tahu bahwa Farel masih memandangnya.
"Ti-tidak ... tapi kalau kamu sedih, maka aku akan dapat sial ..." jawab Farel sambil bergumam.
'Dapat sial? Apa maksudnya?' batin Thalia.heran sendiri.
"Jadi ... bagaimana kamu memaafkan—"
"Sudah! Ikuti saja semua keinginanku seperti janjimu!" ketus Thalia.
__ADS_1
Thalia kembali mengangkat kepalanya kemudian menoleh ke arah Farel sembari menatapnya tajam.
"Dan ingat! Janjimu itu berlaku selamanya! Jadi kamu gak akan pernah lepas dari perintahku!" tegas Thalia.
Farel teretegun sekaligus menyesali ucapannya sendiri. Kedua pundaknya langsung turun. Ia pasti teralu terbawa suasana sampai meminta maaf pafa seorang Thalia. Harusnya ia tidak perlu minta maaf karena Thalia juga sudah membuat hidupnya sulit selama ini. Dirinya bahkan lupa kalau punya janji pada Thalia dan siapa sangka kalau itu berlaku seumur hidup. Itu berarti hidupnya tidak akan pernah lepas dari perundungan Thalia.
"Awas kalau kamu ingkar janji! Aku akan membuat hidupmu semakin sulit!" kesal Thalia kemudian kembali menatap ke depan kelas.
Farel hanya menghela napas pasrah.
"Dan, kamu jangan sok-sokan teraniaya dan mengadu pada orang lain, terutama Shei! Ini 'kan ucapanmu sendiri!" tekan Thalia lagi.
"I-iya—"
"Farel! Thalia!" Tiba-tiba wali kelas memanggil nama mereka, membuat kedua sama-sama tersentak.
"Sepertinya seru sekali, ya obrolan kalian?" sindir Sang Wali Kelas.
"Maaf, Bu! Farel tanya-tanya mulu!" Thalia malah melempar tudingan terhadap teman sebangkunya.
"Farel! Bisa perhatikan ke depan kelas dulu? Nanti kalau ada yang tidak jelas, baru tanyakan pada Ibu, ya?" ujat wali kelas mereka ramah.
"I-iya, Bu, maaf." Farel hanya bisa menunduk. Ia diam-diam melirik ke arah Thalia yang ternyata tersenyum miring penuh kemenangan.
'Dasar, ternyata dia masih semena-mena!' kesal Farel dalam hati.
Tiba-tiba guru mereka memukul meja dengan penggaris kayu besar.
"Yang lainnya juga, ya! Tolong perhatikan ke depan kelas sampai ibu selesai jelaskan!" tegas Bu Arina—Wali kelas mereka.
Semua murid pun menurut dan memperhatikan penjelasan Bu Arina.
Sementara Farel masih terbayang-bayang ucapan Thalia.
'Janji jadi babu dia seumur hidup? Gue bener-bener gila!' tukasnya dalam hati pada diri sendiri.
'Emangnya gue gak boleh punya kehidupan gue sendiri? Ugh, emang mulut gak tahu diuntung— Eh?' Tiba-tiba Farel menyadari sesuatu.
"Thalia!" bisik Farel.
"Apaan lagi, sih? Kamu mau dimarahin Bu Arina?" ketus Thalia.
"Enggak, gu— maksudnya aku mau tanya satu hal lagi!"
"Apa cepetan!" kesal Thalia.
"Kalau semisal kita berpisah, apakah janji itu masih berlaku?"
__ADS_1
Thalia tertegun dan langsung menoleh cepat ke arah Farel sambil mengernyitkan dahinya.