
Thalia kini duduk sendirian di dalam mobil city car-nya sambil melamun. Di kepalanya, tergambar jelas bagaimana perbincangan Farel dan Sheilla tadi saat istirahat.
'Jangan-jangan, selama ini, Farel dan Sheilla pacaran!'
Thalia langsung menggelengkan kepalanya begitu ucapan salah satu sahabatnya terlintas. Ia kemudian menatap keluar jendela, tetapi matanya malah menemukan dua sosok yang terus mengganggu pikirannya sejak tadi.
"Farel dan Sheilla ..." ucap Thalia sambil memegang kaca mobil yang tertutup. Di trotoar, keduanya sedang berjalan beriringan sambil berbincang-bincang serius. Tanpa sadar, tangan Thalia mengepal.
"Kenapa mereka kelihatan akrab banget? Jangan-jangan Farel beneran pacaran sama Sheilla ..." geram Thalia sambil menggigit bibir bawahnya.
Hingga ada sebuah angkot yang berhenti di depan Farel dan Sheilla. Thalia menajamkan pandangannya pada dua teman sekelasnya itu, kemudian angkot itu pergi, tetapi Farel masih berdiri di tempat yang sama.
"Pa-pak! Pak!" seru Thalia sambil memukul bangku supir.
"I-iya, Non? Ada apa?" panik supirnya.
"Pak, pergi ke trotoar, Aku mau temuin temenku di sana!" perintah Thalia. Pak Supir pun melirik ke arah trotoar yang Thalia maksud. Di sana ia juga menangkap sosok Farel yang beberapa bulan lalu pernah juga ditolong oleh Thalia.
"Baik, Non ..." Pak Supir langsung meminggirkan mobilnya ke trotoar.
Namun karena satu arah, Pak Supir tidak bisa putar balik, sehingga mobil dihentikkan agak jauh dari tempat Farel berdiri. Thalia pun turun dari mobil dan berlari menghampiri Farel yang dari tadi celingak-celinguk sendiri.
"Farel!" seru Thalia yang langsung menarik atensi Cowok Berkacamata itu. Ia pun berinisiatif menghampiri Thalia.
"Thalia? Kamu kenapa bisa ada di sini?" heran Farel. Seingatnya, gadis cantik ini sudah pulang duluan.
"Kamu ... Kamu ..." Thalia yang napasnya terengah-engah langsung meraih tangan Farel.
"A-aku kenapa?" bingung Farel.
"Ayo, ikut aku!" ujar Thalia yang langsung menarik Farel bersamanya. Farel hanya bisa mengikuti ajakan Thalia, sekalipun sebenarnya ia agak merinding.
'Duh, gue mau diapain lagi, nih?' batin Farel.
Alhasil mereka berdua berakhir di mobil Thalia.
"Pak, antar kami ke rumah!" sahut Thalia.
"Baik, Non ..." sahut Pak Supir. Sementara Farel hanya bisa memandang Thalia sambil mengernyitkan dahinya. Lagi-lagi ia harus ke rumah Thalia. Apa lagi tugas yang harus dia lakukan di sana?
__ADS_1
Sekali lagi Farel sampai di rumah mewah ini dan suasana rumahnya masih sama. Sepi. Namun, sejak turun dari mobil tadi, Thalia terus menggandeng tangannya, seolah Farel akan kabur.
Thalia pun membawa Farel ke kamarnya. Sekali lagi Farel melihat bantal berwarna merah jambu dan meja kecil yang sama dengan yang terkahir kali ia lihat saat ke kamar ini.
"Duduk!" titah Thalia. Farel pun hanya mengikutinya saja. Kemudian tak lama, Asisten rumah tangga Thalia datang sambil membawa nampan berisi cemilan.
"Bawa sini, Bi makanan dan minumannya," perintah Thalia yang langsung diikuti oleh Asisten Rumah Tangganya. Sedangkan Farel sejak tadi tidak bisa berhenti mengernyit. Hal aneh yang selalu tidak bisa Farel mengerti adalah, ia selalu diperlakukan bagaikan tamu di rumah ini. Kecuali saat ketiga sahabat Thalia juga datang.
"Kamu lapar, Farel?" tanya Thalia yang langsung mengambil cemilan di atas meja kecil dan memakannya.
"A-aku boleh makan itu?" tanya Farel agak ragu, tetapi Thalia malah menganggukkan kepala.
"Makanlah. Ini memang untuk kita," jawab Thalia santai. Farel pun mengambil satu potong cookies yang tersedia di piring sambil melirik ke arah Thalia yang asyik mengunyah. Apakah ia benar-benar bisa makan ini? Bagaimana jika dia diracuni? Namun, Thalia barusan memakan cookies dari piring yang sama? Atau jangan-jangan susunan cookies ini sudah diatur sedemikian rupa dan dibedakan mana yang beracun, mana yang tidak?
"Farel?" Seketika lamunan Farel buyar. Cowok Berkacamata itu langsung menatap ke arah Thalia yang kini sedang menatapnya lurus.
"Kenapa tidak dimakan?" Thalia langsung merebut cookies yang ada di tangan Farel dan memakannya. Farel tertegun, kenapa Thalia memakan cookies yang ada di tangannya? Bukankah harusnya itu beracun?
'Ah, dasar, kenapa gue malah mikir yang enggak-enggak?' rutuk Farel dalam hati. Ia pun mengambil cookies lainnya dan langsung memakannya.
"Uhm, Farel ..." Tiba-tiba Thalia memanggilnya, membuat atensi Farel beralih.
"Uhm ..." Thalia malah membuat lingkaran kecil dengan telunjuk lentiknya.
"Uhm, ada yang mau aku tanyakan ..." sahut Thalia sambil melirik ke arah Cowok Berkacamata di depannya.
"A-apa? Apapun pertanyaanmu, akan aku jawab, Thalia," imbuh Farel yang mampu mengembangkan senyum di wajah cantik Thalia.
"Uhm, I-ini soal hubunganmu sama Sheilla ..."
"Kami hanya teman," jawab Farel seolah tahu kemana arah bicara Thalia.
Namun dahi Thalia malah mengernyit.
"Hanya teman? Lalu, kenapa hari ini kamu sama Sheilla berlagak kayak pacaran? Kamu jangan bohong sama aku, ya!" Tiba-tiba nada bicara Thalia meninggi.
Dahi Farel mengernyit.
"Kayak Pacaran? Dari mananya?"
__ADS_1
"Tuh, 'kan! Kalian beneran pacaran!" tukas Thalia yang langsung memunggungi Farel sambil melipat tangannya.
Dahi Farel mengernyit. Kenapa gelagat Thalia terlihat agak aneh.
"Emangnya kenapa kalau aku pacaran sama Sheilla?" tanya Farel yang malah dapat tatapan sinis Thalia.
"Dasar tukang ingkar janji!" tukas Thalia lagi yang semakin menambah kerutan di dahi Farel.
"Ingkar janji? Janji apa yang aku ingkari, Thalia?" bingung Farel. Apa ia pernah berjanji untuk tidak pacaran selamanya pada gadis ini?
Thalia memalingkan wajahnya sambil memonyongkan bibirnya.
"Kamu berjanji akan jadi milikku!" Thalia kini menoleh ke arah Farel sambil menatap lurus ke arahnya.
"Dan itu termasuk, kamu gak boleh pacaran sama siapapun!" tekan Thalia.
"Hah?" Farel sama sekali tidak mengerti jalan pikir gadis gila ini. Apakah selamanya ia akan hidup sendiri dan mengabdikan diri pada gadis ini? Sungguh itu adalah neraka dunia!
"Masalahnya, kalau kamu punya pacar, kamu pasti akan menghabiskan lebih banyak waktu sama pacarmu, padahal kamu janji akan mengikuti semua keinginanku!" ucap Thalia yang suaranya semakin lama semakin mengecil.
Gadis itu kemudian melirik ke arah Farel yang masih menganga.
"Farel! Kenapa kamu diem?" kesal Thalia sambil mengguncangkan tubuh Cowok Berkacamata di depannya.
Farel menatap Thalia yang kini juga menatapnya. Wajah gadis berkulit putih ini tiba-tiba berubah jadi merah jambu. Sebebarnya apa yang sedang berusaha dijelaskan oleh Thalia. Farel sama sekali tidak mengerti.
"Katakan padaku, kamu bukan pacar Sheilla!" titah Thalia dengan suara melengkingnya.
"Bukan! Aku bukan pacar Sheilla! Dan itu gak mungkin!" jawab Farel reflek. Kini sorot mata tajam Thalia mulai mereda.
"Benarkah?" tanya Thalia lagi yang langsung dijawab anggukan Farel. Sontak Thalia berdiri dan langsung menghampiri Farel.
"Yeay!" serunya yang memeluk Farel begitu saja, sontak Farel merasakan ada sebuah setruman listrik di kulitnya yang bersentuhan dengan kulit Thalia. Farel pun menoleh dan tak sengaja wajahnya bertemu dengan wajah Thalia yang kini tersenyum cerah.
"Kamu milikku selamanya!" seru Thalia lagi seraya membuka matanya dan malah mendapati tatapan mendalam dari seorang Farel. Seketika tubuhnya membeku.
"Uhm ... Tha-thalia ..." Bahkan lidah Farel kelu, entah kenapa wajahnya terasa panas sekarang. Sontak, kedua mata Thalia membulat dan langsung melepas pelukannya hingga ia terjatuh.
"Thalia! Hati-hati!" reflek Farel, tetapi terlambat. Sementara Thalia masih terpaku.
__ADS_1
"A-apa yang aku lakukan barusan?"