
Kalau ditanya, apakah seorang Farel mau menjauhi Thalia? Tentu saja jawabannya adalah IYA. Memangnya siapa yang tahan diperlakukan semena-mena hampir setiap hari? Kalau perlu, mereka tidak usah kenal saja, maka Farel akan lebih bersyukur. Namun, Farel tahu, bukan begitu cara mainnya ketika gadis cantik di hadapannya ini sedang marah.
"Jawab!" perintah Thalia yang masih tidak mendapat jawaban.
"Enggak, Thalia ..."
"Apanya yang enggak! Yang jelas, dong!" tegas Thalia yang amarahnya mulai naik ke ubun-ubun.
"Yah, enggak. Aku enggak suka sama Sheilla dan enggak mungkin jauh dari kamu ..." Farel berpikir sejenak.
"Kalau aku jauh dari kamu, nanti aku gak bisa menepati janji aku, dong?" Farel rasanya mau muntah, ia jelas merasa dirinya seperti sedang menggombali seorang gadis, padahal ia hanya berniat agar nasibnya baik-baik saja. Terlebih, gadis itu seorang Thalia.
Sontak Thalia terkesiap. Gadis cantik itu langsung menundukkan kepala. Hal itu membuat Farel mengenryitkan dahinya.
'Kenapa tiba-tiba, nenek sihir ini diam?' batin Farel.
Sementara Thalia malah memainkan ujung-ujung jari lentiknya.
'Apaan, sih Farel? Kenapa tiba-tiba dia ngomong gitu? Aku kenapa lagi?' heran Thalian dalam hati. Gadis itu kini merasa darah di sekujur tubuhnya mendidih. Namun ia teralu malu untuk menujukkannya pada Farel.
"Thalia? Kamu gak apa-apa 'kan?" tanya Farel sambil berusaha melihat wajah Thalia yang disembunyikan.
"Iya! Aku gak apa-ap—" Seketika mata Thalia membulat saat mendapati wajahnya yang begitu berdekatan dengan wajah Farel.
"Jauh-jauh sana!" usir Thalia sambil mendorong kedua bahu Farel hingga hampir terjatuh dari kursi. Untung saja, ia masih selamat.
***
Hari Sabtu, sepanjang jam extrakulikulernya—melukis, Farel terus saja menguap karena baru sempat tidur pukul 02.00 malam. Ini semua akibat perintah Thalia yang mengharuskan dirinya mengerjakan tugas yang super duper banyak. Ditambah lagi, ia tidak rela jika harus menyelesaikan tugas milik Thalia saja, maka ia juga ikut menyelesaikan tugasnya. Toh, hanya tinggal menyalin saja. Untung ia masih mengikuti salah satu teknik baru di extrakulikulernya.
Tin!
Tiba-tiba ada suara bunyi klakson yang membuyarkan lamunanya. Hampir saja lelaki berkacamata itu tidur sambil berdiri dengan membawa tas yang besar. Ya, apalagi kalau bukan berisi alat lukis dan tugas Thalia.
"Farel! Ayo, cepat masuk!" seru Thalia yang kepalanya muncul dari jendela mobil yang terbuka. Farel yang masih setengah sadar pun sempat kaget, tetapi ia mengangguk saja. Lelaki itu pun membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
Baru saja Farel menutup pintu, Thalia sudah mengulurkan tangannya.
"Mana tugasku?" tagih gadis cantik itu.
Farel langsung tahu dan membuka tasnya. Lelaki itu mengambil sebuah buku yang disampul sangat rapih dengan label nama bermotif bunga di pinggirnya. Ia menyerahkannya begitu saja.
__ADS_1
Sementara Thalia yang sudah menerimanya langsung memeriksa jawaban yang Farel buat, setidaknya ia harus memastikan, bahwa lelaki di sampingnya ini melakukan perintahnya dengan baik.
"Lebih baik dipelajari isinya, nanti kalau dipanggil, jadi tidak menyalahkanku lagi—Aww!" Mulut Farel berceletuk begitu saja dan langsung dapat cubitan maut di pinggangnya dari Thalia.
"Sakit, sakit, Thalia!" rintih Farel tak tahan. Rasanya cubitan Thalia begitu perih dan panas.
"Lagian, berani-beraninya perintah aku! Yang boleh kasih perintah itu aku, tau!" tegas Thalia.
"Iya, ampun! Ampun!" mohon Farel berusaha melepaskan cubitan Thalia, tetapi gadis itu malah mencubitnya makin keras.
"Thalia!" jerit Farel yang suaranya malah mengecil.
"Ugh!" Akhirnya Thalia melepaskan cubitannya kemudian melipat tangan sambil mengumpat.
"Lagian, ngeselin banget, sih! Aku juga tahu kalau itu!" ketus Thalia.
Farel diam-diam memgangkat sudut bibirnya sebelah.
"Aku 'kan cuman khawatir, kalau kamu dihukum sama guru." Tepat setelah itu Farel berpaling dan mulai kembali merasa mual.
Sementara Thalia malah bengong sampai mulutnya menganga. Namun gadis itu langsung menyadarkan dirinya. Pertama, ia tutup dulu mulutnya.
Diam-diam Farel tersenyum, suara manja Thalia menandakan ia berhasil membuat hidupnya selamat. Biarlah mau muntah tiap hari akibat melontarkan kalimat-kalimat menjijikan. Yang terpenting, ia bisa bernapas dengan leluasa.
Sesekali Thalia melirik ke arah Farel yang menoleh ke jendela. Matanya yang jeli itu, tentu sempat memergoki sudut bibir Farel yang terangkat. Thalia pun segera menarik bahu Farel dan menemukan lelaki berkecamata itu tersenyum.
"Kamu menertawakanku, ya?" tukas Thalia sewot.
Farel membulatkan matanya kaget. Ia bingung harus bicara apa. Tindakan Thalia begitu spontan.
"Uhm ... Bu-bukan, Thalia ... A-aku hanya senang karena—"
"Karena aku terlihat konyol? Iya 'kan?" tukas Thalia lagi. Farel langsung menggeleng cepat.
"Lalu apa?" paksa Thalia.
"Ka-karena ... karena kamu ..."
"Cepat jawab!" paksa Thalia lagi sambil menjewer telinga Farel. Lelaki itu hanya bisa merintih dan memohon pengampunan Thalia.
"Iya, iya! Aku jawab! Ta-tapi lepasin dulu telinga aku!" mohon Farel.
__ADS_1
Thalia pun melepasnya.
"Cepat bilang!" perintahnya kesal.
Farel pun terdiam sembari memandang Thalia lagi. Ia langsung memutar otaknya. Tidak mungkin 'kan jika dia bilang, dia tersenyum karena berhasil mengelabui Tgalia dengan gombalannya yang menjijikan?
Lelaki itu menarik bapas dalam-dalam.
"Ehm!" Farel mulai pembukaan.
"A-aku tersenyum, soalnya wajah kamu cantik banget ..." ucap Farel berusaha menahan rasa mualnya.
Thalia pun menoleh, debaran di dada gadis cantik itu semakin menjadi-jadi.
'A-apa ini? Kenapa aku merasa senang mendengar ucapan Farel?' batin Thalia sambil menatap wajah Farel lamat-lamat.
"Kamu beneran bilang aku cantik?" tanya Thalia.
Farel mengangguk sambil berusaha tersenyum, meskipun ia lebih ingin muntah.
Thalia pun memegang kedua pipinya yang terasa panas.
"Kata Farel, wajahku cantik. Apakah Kak Alan akan tertarik padaku?" gumam Thalia.
Farel diam-diam berdecih dalam hati.
'Yang ada lu dimainin doang!' batin Farel kesal. Ia tentu sangat tahu kebiasaan idolanya itu yang hobi mendua, meskipun masih SMP. Pacarnya pun juga memiliki paras di atas rata-rata. Namun Sheilla adalah pengecualian. Entah apa yang membuat Alan mau menjadikan Sheilla pacarnya.
Tanpa mereka berdua sadari, ternyata mobil yang mereka naiki sudah masuk ke halaman rumah yang begitu mewah. Mata Farel terbuka sangat lebar melihat halaman rumah yang begitu luas. Bahkan sebelum keluarganya bangkrut halaman rumahnya tak seluas ini.
"Ini rumahku," seru Thalia.
Farel langsung memandang Thalia dengan perasaan was-was.
'U-untuk apa gue dibawa ke rumahnya?' batin Farel.
"Kamu harus siap-siap!" sahut Thalia.
Dahi Farel mengernyit, di otaknya penuh dengan berbagai spekulasi, tugas apa yang akan diberikan oleh nenek sihir berwujud gadis cantik seperti Thalia. Ucapan Thalia seolah terdengar mengerikan, hingga membuat bulu kuduknya berdiri.
"Sebentar lagi, kamu akan tahu tugasmu!" seru Thalia. Farel hanya bisa menelan salivanya, menantikan tugas yang akan diberikan oleh Thalia.
__ADS_1