Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S3 : Arti Kamu Untukku


__ADS_3

"Arti khusus?" ulang Farel yang sekarang debaran jantungnya tak karuan. Rasanya kepalanya mau meledak! Dia sama sekali tidak bisa mendefinisikan perasaannya untuk Thalia. Dia harus menyebut apa perasaan aneh ini? Perasaan yang selalu membuatnya merindukan kehadiran Thalia, perasaan yang selalu membuatnya sakit saat Thalia merasakan sakit, perasaan yang selalu membuatnya senang jika Thalia senang, dan perasaan yang juga selalu membuatnya ingin melindungi Thalia dari orang yang berbuat jahat pada gadis cantik itu. Farel harus menyebutnya apa?


"Bagi aku kamu ...." Lidah Farel sungguh kelu. Otaknya langsung kosong.


"Apa?"


Farel menggelengkan kepala agar otaknya bisa digunakan.


"Bagi aku, kamu teman yang berharga!" ucapnya.


"Te-teman yang berharga? Maksudnya?" bingung Thalia.


"Y-ya ... Teman yang berharga karena banyak waktu berharga yang kita habiskan bersama," jelas Farel, tetapi Thalia sama sekali masih tidak paham.


"Uhm, begini. Kita udah sama-sama bertukar rahasia. Aku tahu rahasia tentang Ibu tiri kamu dan Kamu adalah orang pertama yang tahu tentang papaku yang meninggal," beber Farel.


"Kamu juga orang pertama yang hadir di sisi aku," lanjutnya sambil tersenyum kecil ke arah Thalia. Sontak Thalia tertegun dan wajahnya langsung memerah.


"I-itu karena aku khawatir sama kamu. Kamu anak beasiswa, tapi malah bolos! Kalau beasiswa kamu dicabut gimana?" cerocos Thalia.


Namun Farel malah menatapnya lembut.


"Kamu juga sering khawatirin aku," ucap Farel yang sekali lagi membuat Thalia membeku.


"A-apaan, sih? Aku ... Aku cuman—"


"Kita udah saling berbagi rasa sedih dan saling menghibur. Aku gak pernah seterbuka ini sama orang lain. Aneh, padahal dulu hubungan kita gak kayak gini," ucap Farel.


Thalia hanya meremas roknya. Justru sejak dulu, sejak mereka pertama kali bertemu, sejak pertama Thalia mengenal Farel, Thalia selalu ingin memiliki hubungan yang seperti ini. "Teman Berharga". Bolehkah Thalia suatu saat berharap lebih dari sekedar teman?


Namun, hubungan itu baru bisa ia raih sekarang, setelah dua tahun lamanya. Andai saja saat itu Farel adalah orang pertama yang ia kenal, pasti mereka bukan hanya teman sekarang. Pasti mereka sudah pacaran sekarang. Persetan pada anggapan "yang cantik harus sama yang ganteng!" Hingga membuat Thalia berpaling dari Farel dan berusaha mengejar-ngejar Alan.


Meskipun begitu ini adalah awal yang baik. Sedikit lagi saja, Thalia harus bersabar. Sebentar lagi dia dan Farel pasti akan bersatu. Farel mungkin akan segera menyadari perasaan Thalia dan membalasnya. Setelah itu, Thalia akan memaksa ketiga sahabatnya menerima hubungan mereka.

__ADS_1


"Kita juga sering berbagi kebahagiaan. Apa lagi kalau ngeliat Tante Siska ketar-ketir, hahaha. Itu lucu banget!" lanjut Farel yang mengundang senyum di wajah Thalia. Siapa sangka cowok berkacamata ini punya sifat begini. Mungkin sebenarnya dia dan Farel punya sifat yang mirip.


"Farel ...." Thalia kini memegang kedua tangan Farel hingga menarik atensi cowok berkacamata itu.


"Ya?"


"Aku juga merasa kamu adalah teman berhargaku. Sangat berharga sampai aku gak mau berpisah lagi dari kamu. Aku mau terus berhubungan sama kamu. Ketemu kamu, ngobrol sama kamu, bercanda, curhat, semuanya sama kamu ...." Thalia menggenggam erat tangan Farel seraya menatapnya lekat-lekat, begitu juga Farel yang menatap Thalia secara mendalam. Sesaat waktu di antara mereka berdua seakan berhenti.


Hingga Farel mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Aku lega, ternyata kita punya harapan yang sama," ucapnya tanpa melepas tatapan lembutnya dari Thalia. Thalia malah melipat bibirnya, saat begini, ia sangat ingin mencium Farel! Namun tidak mungkin, mereka hanya teman. Mana ada teman yang main cium temannya? Apa lagi ini lawan jenis. Alhasil Thalia hanya mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Kalau begitu, Farel, setelah lulus SMP, kamu mau sekolah di SMA mana?" tanya Thalia yang agak keluar dari topik.


Dahi Thalia mengernyit.


"Kenapa kamu malah tanya itu?" bingung Farel.


"Y-yah ... Ka-karena aku mau satu sekolah lagi sama kamu!" beber Thalia.


"Ya, ke mana lagi? Ke SMA yang satu Yayasan dengan SMP kita. Katanya aku bisa lanjutin beasiswanya, tapi kayaknya sekarang gak dari hasil akademik aja. Aku juga harus ikut beberapa kompetisi. Kayaknya matematika atau bahasa inggris bisa, deh," ujar Farel. Saat pembagian rapot kenaikan kelas sembilan, Farel, Ibunya, wali kelas, dan kepala sekolah sudah membicarakan hal ini.


Sontak mata Thalia berbinar.


"Serius? Itu berarti kita akan satu sekolah? Aku jadi gak harus bujuk Papa buat sekolah di sekolah lain?" seru Thalia girang. Farel hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Yeay!" Thalia langsung melepaskan genggamannya dan memeluk Farel dengan erat. Sontak Farel terhenyak.


"Aku gak nyangka, kita bakalan bisa tetap sama-sama. Aku seneng banget, Farel!" girang Thalia. Sementara Farel kebingungan, haruskah ia membalas pelukan Thalia? Namun belum sempat membalas pelukan gadis cantik itu, Thalia sudah keburu melepas pelukannya.


"Aku senang banget. Seneng banget!" Rasanya Thalia mau loncat setinggi-tingginya. Ini menambah peluang agar dia bisa jadian dengan Farel.


Farel hanya mengangguk sambil tersenyum lebar. Hatinya juga merasakan hal yang sama, apa lagi mendapati senyum cerah Thalia. Ini benar-benar anugerah. Farel rasanya mau menarik tubuh ramping gadis ini, mendekapnya kemudian menatap senyum indahnya sampai puas dan menciumnya! Tunggu! Apa yang barusan Farel pikirkan? Apa dia baru memikirkan hal kotor? Tidak! Thalia itu tidak boleh diperlakukan begitu, bahkan jika itu hanya angan-angan!

__ADS_1


"Farel, aku yakin, kalau kita satu sekolah lagi, temen-temen aku pasti nanti bisa nerima kamu. Terus, nanti kamu juga bakalan bisa akrab sama Kak Aldo. Aslinya dia baik, tau. Cuman ya, begitu," cerocos Thalia, tetapi ucapannya membuat Farel agak tidak nyaman. Kenapa dia malah bahas Aldo? Baik dari mananya? Jelas-jelas cowok itu salah satu perundungnya. Lebih kejam dari Thalia. Jika nanti mereka bertemu lagi, Farel akan menunjukkan, bahwa dirinya sudah tidak bisa diinjak-injak seperti sebelumnya. Maka dari itu, mulai besok, dia harus berlatih keras.


"Ya, ampun, aku sekarang sampai bingung berkata-kata. Aku seneng banget sampai—" Ucapan Thalia terhenti begitu ponsel Farel berdering. Keduanya pun melirik ke arah gawai canggih yang terletak di ataa meja tamu.


"Uhm, ada telepon, Farel. Mungkin mama kamu," ucap Thalia.


Farel mengernyitkan dahi, sebenarnya tidak mungkin ibunya. Seingatnya, sang Mama harusnya masih berada di pesawat jam segini. Namun Farel tetap mengambil ponselnya dan membaca nama yang tertera di layar. Sontak matanya membelalak.


'Kak Alan?' paniknya dalam hati. Ia langsung menatap wajah Thalia yang menanti ucapan Farel. Tidak! Thalia tidak boleh tahu kalau Farel dekat dengan Thalia, begitu juga Alan. Ia tahu, seberapa besar rasa benci Alan pada gadis ini.


"Uhm, Thalia. Kayaknya, kamu harus pulang, deh," ujar Farel.


Dahi Thalia mengernyit.


"Kenapa? Memangnya itu telepon dari siapa? Mama kamu udah mau sampai? Aku juga mau ikut mendoakan ayah kamu, Farel." Skak Mat! Kenapa juga Thalia punya niat sebaik ini di saat yang tidak tepat?


"Uhm, bukan. I-ini dari ... Dari ...." Farel memutar otak, bagaimana caranya agar Thalia pergi.


"Dari siapa?" cecar Thalia.


Tiba-tiba Farel dapat ide.


"Dari sodaraku! Dia orangnya ribet banget. Nanti kamu pasti ditanya-tanya gak jelas. Mendingan kamu pulang sebelum direcokin sama dia," beber Farel.


"Uhm, gak apa-apa Farel. Aku seneng, kok kalau keluarga kamu mau lebih dekat sama aku." Kacau! Kenapa juga tiba-tiba Thalia jadi punya sopan santun begini terhadap keluarganya.


"Enggak, Thalia. Kamu pasti bakalan gak nyaman, deh!" Farel terpaksa beranjak.


"Gak nyaman?" bingung Thalia, tetapi Farel sudah menariknya untuk berdiri.


"Sebaiknya kamu pulang, aku gak enak kalau kamu direcokin," ujar Farel sambil menarik Thalia untuk keluar dari rumahnya.


"Ta-tapi, Farel—" Belum sempat Thalia bicara, Farel sudah menutup pintu rumahnya. Apakah ia salah bicara lagi? Kenapa Farel malah mengusirnya. Thalia hanya menghela napas. Padahal tadi momennya sudah bagus. Thalia pun berbalik dan hendak melangkah, tetapi tiba-tiba pintu kembali terbuka.

__ADS_1


"Thalia! Sebaiknya kamu ikut aku!" seru Farel yang langsung menarik tangan Thalia dan membawanya masuk.


__ADS_2