Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Duduk Sebangku


__ADS_3

Thalia langsung komat-kamit, sekalipun dirinya yang sebagai Putri Yayasan memiliki kuasa, ia tetap segan pada Bu Vera. Ia berharap bukan dirinya yang dipanggil. Jangankan mengerjakan, melirik materi saja tidak.


Bu Vera membaca dengan seksama buku absen kelas VII B, membuat setiap murid meneteskan keringat sebiji jagung di pelipis mereka.


"Huruf F!" seru Bu Vera yang membuat setiap murid dengan awalan huruf F saling lirik. Setidaknya ada 5 murid dengan huruf awalan F di namanya.


Sementara Thalia malah senyum-senyum sendiri sembari melirik diam-diam ke arah siswa berkacamata tebal yang sedang menggenggam tangannya erat-erat.


"Bakalan seru kalau Farel yang dipanggil," gumam Thalia sambil membayangkan wajah panik lelaki itu.


"Thalia!" Semua murid langsung bernapas lega karena sebuah nama disebut, meskipun yang bukan diawali dengan huruf F.


Namun Thalia sendiri malah asyik di dalam pikirannya, padahal semua mata tertuju padanya.


"Thalia!" bisik Marina yang duduk di sebelahnya.


"Apa?" sahut Thalia.


"Thalia!" tegur Bu Vera dengan suara lantang hingga membuat Thalia terhenyak. Gadis itu kini menatap kaget ke arah guru matematikanya.


"Ayo, kamu maju! Daripada kamu senyum-senyum tidak jelas!" seru Bu Vera.


Sekujur tubuh Thalia langsung membeku. Tentu saja, ia tidak tahu apa-apa tentang materi yang akan dibahas. Mau ditaruh dimana mukanya yang notabene sebagai Putri Kepala Yayasan.


"Ayo maju!" suruh Bu Vera.


Thalia diam-diam mendelik, tetapi tetap berdiri maju ke depan.


"Baiklah, satu lagi, Ayo Farel, kamu yang maju!" seru Bu Vera. Farel pun langsung kecewa karena merasa doanya tidak dikabulkan. Ia pun akhirnya berdiri dan maju ke depan.


Bu Vera pun menyuruh mereka mengerjakan sebuah soal yang berbeda dari PR mereka, tetapi penyelesaiannya sama.


"Ayo kerjakan, yang lain perhatikan!" seru Bu Vera.


Thalia hanya memandangi soal tanpa tahu harus memulai darimana. Ia bahkan tidak tahu ini materi apa. Sedangkan Farel dengan sangat serius mempelajari soal kemudian mengerjakannya dengan pelan-pelan.


10 menit berlalu, Farel sudah hampir selesai mengerjakannya. Sementara Thalia masih terdiam tanpa mengerjakan apa-apa.


"Thalia?" tegur Bu Vera yang membuat leher Thalia geli. Gadis itu pun menghadapkan tubuhnya pada Gurunya itu.

__ADS_1


"I-iya, Bu?" ujar Thalia terbata-bata.


"Kamu tidak tahu, atau lupa atau apa? Kenapa soalnya tidak dikerjakan? Jika kamu sudah mengerjakan PR, setidaknya kamu tahu harus memulai dari mana. Nanti saya bantu," ujar Bu Vera.


Namun Thalia malah melirik ke arah Farel yang baru saja menyelesaikan soal dan hendak memberikan spidol papan tulis pada Bu Vera.


Wanita berwajah sinis itu pun menerimanya.


"Farel, jangan duduk dulu sebelum saya izinkan," seru Bu Vera. Farel hanya menganggukkan kepala kemudian berdiri di samping papan tulis.


"Thalia, coba jelaskan, kenapa kamu tidak bisa mengerjakan? Bukankah materi ini sudah diajarkan dua hari lalu?"


Thalia langsung terkesiap. Memang benar kata Bu Vera, tetapi dia memang saat itu tidak memerhatikan karena asyik berbincang-bincang lewat chat dengan ketiga temannya.


"Seingat saya, kamu tidak ada izin sakit, atau apa dua hari yang lalu ..." ujar Bu Vera sambil melihat kembali buku absen. Di sana nama Thalia ditandai dengan titik yang berarti muridnya itu hadir dalam sesi pelajarannya.


"Sa-saya—" Bu Vera langsung mengambil buku PR Thalia dan memeriksa lembarannya.


"Buku PR kamu juga kosong, bukankah saya baru memberikan beberapa PR sehingga tidak perlu diganti dan ..." Bu Vera mengernyitkan dahinya lalu mengambil buku milik Farel.


"Tulisan di buku kamu dan buku Farel sama."


Ucapan Bu Vera tepat membuat Thalia tertohok sampai ingin batuk-batuk.


"I-itu ..." Farel ternyata juga ikut tertohok, selain itu ketiga teman Thalia juga menatap sinis ke arah anak culun berkacamata itu.


"Kenapa Farel? Kamu mau menjelaskan sesuatu?" sosor Bu Vera.


"Uhm ..." Farel juga dipelototi oleh Thalia, membuat lidah bocah SMP itu kelu.


"Tidak jadi, Bu ..." ujar Farel.


Bu Vera pun menghela napas. Ia pun bangkit dari kursinya dan memeriksa pengerjaan Farel. Untungnya kedua sudut bibir wanita kepala 3 itu terangkat.


"Apa yang Farel kerjakan benar ya, teman-teman." Bu Vera memang biasa memanggil muridnya dengan sebutan teman-teman agar mengikis rasa canggung di antara para murid, tetapi tetap saja, aura Bu Vera terasa menakutkan.


Bu Vera pun menjelaskan kembali penyelesaian yang Farel buat, kemudian para murid pun mengambil buku catatan mereka dan menuliskan penyelesaian Farel di papan tulis.


"Baiklah, Farel kamu boleh kembali ke bangku kamu," ujar Bu Vera.

__ADS_1


Farel pun mengucapkan terima kasih dan langsung kembali ke bangkunya, sedangkan Thalia juga buru-buru mengikuti Farel.


"Tunggu Thalia!" cegah Bu Vera, membuat Thalia menghentikan langkahnya.


"Siapa yang mengizinkan kamu duduk?" tanya Bu Vera. Thalia diam-diam mengumpat. Bukankah soal yang ia kerjakan dan soal yang Farel kerjakan sama. Ia masih ingat perkataan Bu Vera saat menjelaskan tadi.


"Terus, saya ngapain, Bu?" tanya Thalia.


"Kamu boleh duduk, tetapi kamu pindah, ya. Ke samping Farel!"


Sontak ketiga sahabatnya menatap dengan kecewa ke arah Bu Vera. Begitu juga dengan Thalia. Kenapa ia harus duduk dengan Farel? Harinya akan sangat membosankan tanpa berbincang-bincang dengab ketiga sahabatnya.


"Tapi, kenapa, Bu?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga.


"Coba kamu belajar dari dia. Sepertinya kamu belum paham betul tentang materi ini," jawab Bu Vera.


"Tapi, Bu ... saya bisa, kok belajar tanpa dia. Saya tidak mau duduk di samping dia, Bu ..." mohon Thalia.


Sementara Farel sudah komat-kamit melontarkan umpatan tanpa suara akibat nasib buruknya.


"Lalu, jika kamu duduk di sana, apakah kamu bisa menjamin, bahwa kamu akan mengerjakan PR sendiri?"


Sekali lagi Thalia dibuat tertohok.


"Kamu pikir, saya tidak tahu, bahwa dua hari lalu kamu main hape selama saya menjelaskan? Bahkan kamu meminta Farel mengerjakan PR kamu!" Seketika suasana kelas jadi hening dan tegang. Thalia benar-benar tidak tahu harus menaruh muka dimana. Ia benar-benar dihina di sini.


"Tapi ... bukankah yang bisa mengubah posisi duduk adalah wali kelas? Kenapa ibu enak-enak ngatur?" geram Thalia yang tak tahan dengan ucapan Guru Matematikanya itu.


"Loh? Gampang, saya bisa minta wali kelas kamu mengubah posisi duduk kamu!" timpal Bu Vera.


Sekali lagi Thalia dibuat bungkam. Mau tidak mau ia hanya bisa menerima perintah Sang Guru Matematika itu. Toh, ia sudah tak tahan dengan tatapan murid lainnya akibat tuduhan Bu Vera yang 100% benar.


Thalia terpaksa mengambil barang di bangku lamanya kemudian pindah ke samping Farel. Teman sebangku Farel pun pindah ke temoat Thalia.


Farel langsung menarik napas, tepat saat Thalia mendaratkan bokokng di bangku barunya. Gadis itu pun berdecak kesal.


'Awas saja kau Farel! Kamu pikir bisa bebas setelah mempermalukanku?' tukas Thalia dalam hati.


***

__ADS_1


...Apakah yang akan Thalia Lakukan?...


__ADS_2