Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S3: Janji yang Berakhir


__ADS_3

Farel terdiam mendengar ucapan Thalia. Cowok berkacamata itu menundukkan kepalanya sambil mengepalkan tangannya erat-erat .


"Aku tidak bisa lagi menepati janji itu," lirihnya seraya menatap Thalia dengan nanar.


"Jadi kumohon pulanglah." Tepat setelah itu Farel langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya rapat-rapat tanpa memedulikan Thalia yang menangis histeris di luar.


Di balik pintu tubuh Farel langsung meluruh ke lantai. Ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, karena mendengar tangisan Thalia di luar.


"Maaf, maaf .... " Suara Farel terdengar tercekat.


"Aku memang benar-benar tidak pantas berada di sisimu, Karena aku telah membuatmu menangis," ucapnya sambil membuka kacamatanya dan menutupi kedua matanya yang basah karena air mata.


...****************...


Beberapa hari kemudian, Farel kembali masuk. Cowok berkacamata itu terlihat lebih ceria dan lebih banyak bergaul dengan orang lain. Dia bahkan terlihat menikmati kehidupannya yang sekarang, sementara Thalia hanya bisa memperhatikannya dari jauh. Sesekali rasanya ia ingin memanggil cowok berkacamata itu seperti dulu untuk menyuruhnya sesuatu alih-alih berinteraksi dengannya. Namun hal itu tidak dapat Thalia lakukan.


Saat istirahat, Thalia baru saja kembali dari toilet dan hendak ke kelas. Seperti biasa, harinya begitu suram sehingga ia sering mengantuk, alhasil dia mencuci mukanya begitu bel istirahat berbunyi.


"Kak Farel!" Sontak langkahnya terhenti mendengar nama itu disebut oleh suara cemprengbkhas perempuan centil. Thalia reflek mencari asal suara dan tempat persembunyian. Rupanya Farel yang baru saja keluar dari kelas langsung dicegat oleh beberapa adik kelas yang selalu memujanya. Thalia mulai memicingkan matanya.


"Uhm, ada perlu apa, ya?" Seperti biasa, cowok itu selalu ramah. Diam-diam tangan Thalia mengepal. Biasanya, perlakuan ramah dari Farel hanya ditujukkan padanya!


Tiga gadis yang kini berdiri di hadapan Farel berlomba-lomba memberikan hadiah mereka masing-masing.


"Ini, Kak! Aku beliin jus mangga buat Kak Farel!" seru gadis yang paling mungil.


"Aku, aku buatin brownies, loh buat Kak Farel!" sahut gadis yang berambut panjang.


"Ini, aku juga beliin Kak Farel kentang krispy! Harus dimakan, ya!" ujar gadis yang suaranya paling cempreng.


Farel langsung menerima semuanya sambil melempar senyumnya.


"Ah, iya, iya ... Makasih, ya," ucap Farel hendak pergi, tetapi tangannya langsung dicegat.


"Kak Farel! Kak Farel mau ke mana? Mau ke Kantin, ya? Bareng, yuk sama kita!" seru si suara cempreng.


"Hah? Ba-bareng? Bukannya kalian baru daei Kantin?" tanya Farel.


Kemudian gadis yang paling mungil menggeleng.


"Iya, Kak! Tapi gak apa-apa kalau kita ke Kantin lagi sama Kak Farel!"


"Ah, Uhm, Ke Kantin? Siapa yang mau ke Kantin? Gue mau ke toilet! Iya, toilet!" serunya langsung melepas paksa genggaman adik kelasnya yang bertubuh mungil itu.


"Jadi, kalian gak mungkin ikutin, 'kan? Ya, uhm, kalian, mending balik ke kelas atau kemana, kek!" usul Farel yang dahinya mengernyit.


"Tapi, Kak, kita mau ngobrol sama Kak Farel!" ujar gadis yang berambut panjang.


"Ngobrol? Aduh, lain kali aja! Gue sibuk! Daah!" Farel langsung berlari ke arah Thalia karena jalan menuju toilet hanya satu. Reflek, Thalia langsung membalikkan badannya menghadap tembok sementara Farel berlari menuju toilet sambil membawa hadiah-hadiah dari adik kelasnya. Untung saja, Farel tidak menyadarinya.

__ADS_1


"Ugh! Kak Farel kok masih cuek aja, sih?" gerutu si gadis mungil.


"Iya! Padahal aku yakin, Kak Farel udah gak deket lagi sama Kak Thalia!" seru gadis bersuara cempreng.


"Nah, itu anehnya! Padahal Kak Farel udah jomlo dan gak dibayang-bayangin Kak Thalia yang sok kecantikan itu! Dasar Nenek Lampir!" hardik gadis berambut panjang yang membuat Thalia membulatkan matanya.


"What? Aku dibilang Nenek Lampir? Sok Kecantikan? Woy, sadar! Aku, tuh emang cantik! Cantikan juga aku daripada kalian!" geram Thalia di tempat persembunyiannya.


"Atau jangan-jangan mereka cuman lagi berantem? Duh, jangan sampai baikan, deh!" seru si gadis mungil yang semakin membuat Thalia geram.


"Dasar adik kelas kurang ajar—"


"Thalia!" seru Sheilla yang tiba-tiba muncul di belakangnya, membuat tiga adik kelasnya itu menoleh. Mereka bertiga langsung saling pandang dengan melotot sambil menutup mulut mereka.


"Thalia, kamu mau ke Kantin?" seru Sheilla lagi yang agak meninggikan suaranya. Tiga adik kelas mereka langsung saling bergandengan tangan kemudian lari begitu saja.


Thalia pun keluar dari persembunyiannya sambil melipat tangannya.


"Sheilla, kamu apa-apaan, sih? Jangan sok akrab, ya, sama aku!" tukas Thalia sambil membuang wajahnya.


"Apaan lagi, tadi, sok-sok-an suaranya digedein!" gerutu Thalia.


"Yah, buat gertak mereka aja," jujur Sheilla yang langsung membuat Thalia menoleh.


"Gertak? Emangnya kamu punya masalah sama mereka?" duga Thalia yang dijawab dengan gelengan kepala Sheilla.


"A-apaan, sih kamu? Emangnya kamu tahu mereka bicara apa?" tutur Thalia agak malu.


"Tahu. Mereka bilang kamu Nenek Lampir," jawab Sheilla enteng.


"Ugh! Dasar nyebelin! Bukannya kamu seharusnya seneng? Gak usah munafik deh!" tukas Thalia lagi.


"Enggak seneng, tuh! Malah geregetan. Harusnya kamu labrak aja mereka. Kenapa malah diam di sini?" timpal Sheilla.


"Apaan, sih? Terserah aku mau ngapain!" balas Thalia ketus.


Sheilla menghela napas.


"Sayang ... Padahal kamu, 'kan ahlinya labrak orang. Dulu aja aku sering kamu labrak."


Thalia sontak berdesis.


"Apa-apaan, sih? Dasar nyebelin, deh! Minggir sana! Males aku lihat kamu!" kesal Thalia sambil mendorong tubuh Sheilla. Namun gadis berkulit sawo matang itu hanya tersenyum.


"Uhm, jadi, kamu mau ke toilet, ya, Thalia?" tegur Sheilla yang membuat Thalia tertegun.


"Toilet? Ugh! Aku, tuh mau ke Kelas! Dasar nyebelin!" rutuk Thalia yang langsung memutar tubuhnya dan berjalan dengan langkah besar meninggalkan Sheilla.


...****************...

__ADS_1


Keesokan harinya, Thalia bangun pagi-pagi sekali demi membuat cookies untuk Farel. Ia ingat, saat Farel datangbke rumahnya, dia paling menikmati cookies buatannya. Jika Thalia bisa memberikannya diam-diam, pasti ia punya kesempatan untuk berinteraksi dengan Farel dan mengatur ulang hubungan mereka.


Thalia hari ini bahkan datang lebih pagi agar ia bisa berduaan dengan Farel karena ia tahu, cowok berkacamata itu selalu datang lebih pagi. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Farel dan beberapa anak cowok seangkatannya sedang duduk-duduk di pinggir lapangan. Thalia pun menghampiri mereka.


"Gue udah bilang berapa kali, gue bukan pacarnya Thalia!" sahut Farel yang menghentikan langkah Thalia. Cewek cantik itu segera bersembunyi.


"Serius? Jadi lu bener-bener udah fix putus sama dia?" seru cowok yang hanya mengenakan kaos hitam.


"Putus apaan, sih? Pacaran aja gak pernah! Yang ada, dia bully gue dari kelas tujuh!" ungkap Farel yang membuat Thalia tersentak.


"Bully? Iya, sih, emang pas kelas tujuh lu diresein mulu sama tuh cewek," sahut cowok yang mengenakan seragam olahraga.


"Iya, tapi pas kelas delapan, lu berdua mesra banget, njir! Kita kira lu kena apa, tuh namanya, stock ... stock ...."


"Stockholm sindrome!" ucap cowok berkaos hitam membantu cowok berseragam olahraga.


"Nah, iya! Stocklom sindrome!" seru cowok berseragam olahargam


"Stockholm, woy! Lidah lu belibet, dah!" kekeh cowok berkaos hitam.


"Nah, iya apalah itu, namanya!"


"Sindrom apaan, tuh?" tanya Farel.


"Yah, itu kayak lu suka sama orang yang udah jahatin elu. Gue baca di Internet, contohnya korban penculikan yang suka sama penculiknya," jelas cowok berseragam olahraga.


"Lah? Tapi, gue gak diculik sama Thalia! Buktinya dari dulu, gue masih bisa pulang, ke sekolah. Aneh-aneh aja lu," timpal Farel sambil geleng-geleng kepala, tetapi pundaknya langsung ditepuk oleh cowok berkaos hitam.


"Ye, Korban penculikan suka sama penculik itu contoh aja, woy! Tapi dari artikel yang gue baca di internet, sindrom itu juga berlaku ketika lu suka sama orang yang membatasi lingkar pertemanan lu, pokoknya lu bolehnya sama dia terus! 'Kan asem!" jelas cowok berkaos hitam yang membuat Farel mengernyitkan dahinya.


"Membatasi lingkar pertemanan?" ulang Farel. Jika dipikir, beberapa kali, Thalia selalu menginginkan Farel terus ada di sisinya. Apakah itu termasuk membatasi lingkar pertemanan?


"Yah, tapi lu bilang, lu, 'kan gak pacaran sama dia. Itu berarti lu gak kena sindrom itu, bro!" sahut cowok berkaos hitam lagi. Farel pun hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Ya udah, mulai, yok! Bola oren kasian, tuh dianggurin!" seru cowok berseragam olahraga. Farel dan kedua anak cowok yang lain pun langsung beranjak dan turun ke lapangan smabil menderibble bola basket.


Sementara Thalia memegang erat kotak cookies buatannya.


"A-apa ... Apa aku selama ini udah membatasi Farel?"


'Kalau aku dekat-dekat terus sama kamu, maka hidupku pasti akan hancur!'


Tiba-tiba terngiang ucapan Farel ketika terkahir kali mereka bicara. Thalia menggigit bibir bawahnya.


"Aku ... Aku emang udah jahat sama Farel!" lirihnya sambil menitikkan air mata. Seketika tangannya melemah, hingga kotak cookies yang ia pegang terlepas begitu saja.


"Aku ... Aku emang cewek jahat!" rutuknya pada diri sendiri kemudian berlari menjauhi lapangan. Tanpa Thalia sadari Farel yang baru saja memungut bola di pinggir lapangan, menyadari keberadannya.


"Thalia? Dia ... Apa dia denger obrolan gue sama anak-anak?"

__ADS_1


__ADS_2