
Tiba-tiba saja terjadi pertengkaran antara Thalia dan Farel. Marina yang curiga pun diam-diam memperhatikan gelagat dua orang itu. Hingga akhirnya Thalia berlari keluar kelas dan Farel mengejarnya. Marina ingin sekali mengejarnya, tetapi masih ada Vanessa yang masih sedih. Ia hanya ingin memastikan, apakah dugaannya akan terjadi atau tidak.
"Uhm, Nes, Ren, sorry, gue ke toilet dulu, ya," izin Marina akhirnya.
"Iya, gak apa-apa. Jangan lama-lama, ya," sahut Renata, tetapi mengernyitkan dahinya seraya menyisir seluruh isi kelas.
"Thalia mana?" tanya Renata.
"Nanti gue sekalian nyari dia, ya," usul Marina, setidaknya ia tidak sepenuhnya bohong.
"Iya, Mar. Lu cari, gih Thalia. Entar kalau guru dateng bisa gawat," timpal Vanessa yang masih sesenggukan.
Marina hanya mengangguk kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Setelah di luar kelas, ia tidak pergi ke toilet, melainkan ia langsung menyusuri seluruh sekolah, mencari keberadaan Thalia dan Farel.
"Mereka dimana, sih—" Ucapannya terhenti begitu melihat Farel dan Thalia yang wajahnya bersentuhan di taman sekolah.
"Gila! Mereka berdua ngapain?" kaget Marina langsung berlari menghampiri Thalia dan Farel. Ia harus menghentikan Thalia sebelum terlambat. Tidak mungkin dugaanya benar.
"Kamu harus jawab!" tekan Thalia.
"Kalau kamu jadi pacarku, mau atau enggak?"
Langkah Marina terhenti begitu saja ketika mendengar ungkapan Thalia. Gadis itu menutup mulutnya seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.
'Gila! Thalia gila! Dia nembak Farel?' duga Marina yang kakinya langsung lemas. Gadis itu pun terduduk di atas tanah yang ia pijak.
"Hah? Apa?" seru Farel malah bingung.
Thalia yang langsung sadar jadi salah tingkah.
"Bu-bukan! A-aku gak lagi nembak kamu! Ma-maksud aku ..." Thalia benar-benar bingung harus menjelaskannya bagaimana.
Farel memandang wajah Thalia yang berusaha menghindari tatapannya.
'Dia bener-bener nyebelin! Maksudnya semua cowok harus suka sama dia gitu? Karena dia cantik?' racau Farel sambil diam-diam berdecih, tetapi hal itu tak luput dari pandangan Marina yang masih memantau mereka berdua.
__ADS_1
"Aduh, maksud aku, harusnya kamu juga ikut berharap bisa jadi pacarku karena aku cantik! Aku paling cantik di sekolah ini. Jadi—"
"Iya!" seru Farel yang langsung membuat Thalia menghentikan ocehannya.
"Aku ngerti, kok. Dan jawabanku iya," ujar Farel sambil menatap Thalia dengan tatapan lembut. Thalia pun langsung memalingkan pandangan. Wajahnya kini terasa sangat panas.
'Cih, ogah banget. Pacaran sama cewek dominan kayak dia! Yang ada bikin diri sendiri sengsara. Saking aja, biar dia diem kayak sekarang ... eh?' Tiba-tiba Farel menyadari sesuatu ketika sedang menggerutu dalam hati.
Lelaki itu pun kembali memandang Thalia yang sedang tersipu malu.
"Aku tahu ... kalau kamu akan bilang gitu. Justru aneh kalau kamu bilang enggak," ujar Thalia manja sembari memonyongkan bibirnya.
"Iya. Lagian, mana ada cowok yang bisa nolak kecantikan kamu?" tambah Farel yang sudut bibirnya terangkat.
"Udah, Farel cukup. Malu tau, dengernya!" ujar Thalia dengan nada manja. Dalam hati Farel malah geli sendiri dengan reaksi Thalia.
'Meskipun malesin banget, gak apa-apa, dah! Yang penting hidup gue aman,' batin Farel. Lelaki itu kembali memasang raut lembutnya.
"Tadi 'kan kamu yang nanya," ujar Farel yang sudah menyadari cara menghadapi gadis ini.
"Yah, bilang aja kalau kita dari toilet!" seru Farel yang sontak membuat Thalia tertegun, begitu juga Marina yang tak sengaja mencuri dengar.
"Ih, apaan, sih Farel! Dasar cowok! Pikirannya jorok!" tukas Thalia langsung beranjak.
"Eh? Pikirannya jor—" Farel langsung sadar akan kalimatnya sendiri dan langsung malu saat itu juga.
"Thalia, bu-bukan begitu!" sahut Farel berusaha meralat ucapannya.
"Pokoknya, aku gak mau dengar!" cetus Thalia sambil meninggalkan taman. Marina yang tahu Thalia datang ke arahnya langsung bersembunyi.
"Thalia, tunggu dulu, aku gak bermaksud ngomong begitu!" ujar Farel masih mengejar Thalia.
"Udah! Pokoknya kamu jauh-jauh dari aku!" titah Thalia.
Farel pun hanya bisa mengikuti perintah Thalia. Lelaki itu pu berjalan mengikuti Thalia dengan jarak beberapa meter.
Setelah memastikan dua orang itu pergi agak jauh, Marina kemudian keluar dari tempat persembunyiannya. Ia memandang Thalia dan Farel yang lama-lama menghilang dari pandanganya.
__ADS_1
"Gila! Kok rasanya mereka kayak baru aja jadian, sih?" ujar Marina agak tidak percaya dengan semua yang ia dengar dan lihat.
"Duh, amit-amit. Jangan sampe. Gak cocok banget!" ujar Marina geli sendiri. Ia pun juga ikut kembali ke kelas sebelum guru mata pelajaran selanjutnya datang.
***
'Ini semua gara-gara kamu! Coba aja kamu gak nyuruh-nyuruh aku kayak tadi! Pasti Kak Alan gak akan mempermalukan aku kayak gini! Males banget punya cewek kayak lu!'
Tiba-tiba sebuah penghapus papan tulis mendarat dengan mulus di kepala Aldo, membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya.
"Aldo? Kamu gak mendengarkan penjelasan saya?" tukas Pak Tora—Guru Fisikanya.
"Eh? Uhm ..." Aldo jadi kikuk sendiri.
"Coba, kalau begitu kamu kerjakan soal di depan!" perintah Pak Tora.
Diam-diam Aldo berdecih.
"Saya gak bisa, Pak! Mendingan hukum saya aja!" ujar Aldo pasrah.
"Jadi kamu lebih mau dihukum daripada mengerjakan soal? Kalau begitu keluar dari kelas saya!" bentak Pak Tora. Aldo pun langsung beranjak dari bangkunya dan keluar dari kelas.
"Ada lagi yang mau ikuti langkah Aldo?" gertak Pak Tora, salah satu guru killer di sekolah. Anak-anak langsung menunduk, bahkan kawanan Aldo tidak berani melawan amukan Pak Tora. Masih untung Aldo tidak pakai dipukul dengan tongkat stick kayu yang sering dibawa-bawa olehnya.
Kini Aldo berdiri di depan kelasnya. Bagi remaja ini, berdiri sambil merenungi perbuatannya bisa membuat hatinya lebih lega daripada harus mendengar celotehan Pak Tora.
Di hatinya masih terbesit rasa bersalah akibat pertengkarannya dengan sang Pacar, Vanessa. Padahal tadi saat ia jatuh tersungkur, hanya Vanessa yang menghampirinya dan membantunya bangkit, tetapi ia malah melampiaskan rasa malu, kesal dan marah pada gadis cantik itu. Bahkan sempat mengancam untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Gue bodoh banget. Justru Vanessa yang setia sama gue," pikirnya. Ia pun menoleh ke dalam kelas, memandang anak buahnya.
"Gak kayak pengecut-pengecut di dalam!" tukasnya. Ia pun membentur-benturkan ujung sepatu seraya berpikir.
"Gue harus datengin Vanessa! Gue gak boleh putus dari dia!" tekad Aldo, tetapi laki-laki itu langsung mengacak-acak rambutnya.
"Duh, tapi gimana caranya? Dia masih marah, gak, ya sama gue? Jangan-jangan dia mau putus lagi sama gue?" panik Aldo sendiri. Padahal untuk mendapatkan hati Vanessa butuh perjuangan hampir satu semester, tetapi Aldo malah menyia-nyiakannya.
"Gue emang gak pantes buat cewek se-baik Vanessa!" sesal Aldo.
__ADS_1