
Farel bingung, kenapa tiba-tiba ia diajak ke rumah Thalia. Memang hari ini adalah hari Sabtu, sehingga ia tidak memiliki kegiatan lain selain mengerjakan pekerjaan rumah saat pulang nanti, sisanya ia akan menggambar.
"Ki-kita mau kemana?" tanya Farel memberanikan diri. Pasalnya hanya ada ia dan Thalia dalam mobil ini. Mungkin kah ia akan didandani seperti perempuan lagi? Atau mungkin tugas yang lebih sulit?
"Ke rumah aku," girang Thalia. Farel sendiri heran kenapa Thalia begitu bersemangat. Apa dia tidak sedih mendengar gosip tentang Alan yang merupakan pujaan hatinya? Namun Farel enggan berkomentar. Dia 'kan hanya bisa menurut.
Farel kembali lagi ke rumah mewah dan besar, tetapi sepi ini. Seperti kemarin, Farel tidak menemukan anggota keluarga Thalia yang lain, tetapi Farel memilih untuk tidak menghiraukannya. Memangnya, untuk apa dia tahu?
"Hari ini aku mau buat cake cokelat!" seru Thalia girang.
"Aku ingat, kamu pernah membuat muffin buatku dan kamu menghias itu dengan baik ..." ujar Thalia lagi. Farel hanya mengangguk-angguk menimpali semangat Thalia yang begitu menggebu-gebu.
'Kenapa harus ajak gue, sih kalau mau bikin kue doang? Kenapa gak beli aja!' gerutu Farel dalam hati.
"Maka dari itu, aku butuh bantuan kamu buat menghias cake cokelat yang akan aku buat untuk Kak Alan."
Farel tertegun mendengar ucapan Thalia, ia mengerti, sampai akhirnya gadis ini melakukan sebuah usaha lebih untuk pujaan hatinya yang sama sekali tidak ada harapan.
"Buat Kak Alan?" Farel mengulang ucapan Thalia.
Thalia melempar senyum semringahnya.
"Iya, gosip yang beredar pasti bikin Kak Alan sedih ..." ucap Thalia. Farel bisa lihat bahwa gadis ini sedang berempati dari raut wajahnya.
"Aku denger, rasa cokelat itu bisa membuat orang yang lagi sedih jadi kembali ceria. Makanya aku mau buat kue coklat buat Kak Alan. Kamu bisa 'kan bantu aku?" tanya Thalia bersemangat.
Farel malah terbengong melihat wajah Thalia yang tersenyum begitu. Terlihat lebih cerah daemripada sinar mentari di siang hari.
"Farel! Jawab!" jerit Thalia yang menyadarkan Farel dari lamunannya. Lelaki itu segera menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eh, iya. Maaf, Thalia. Kamu cantik banget kalau lagi senyum, jadi—" Farel malah menghentikan kalimatnya. Ia sendiri bingung kenapa tiba-tiba bilang Thalia cantik? Kesambet apa dia barusan?
Sementara, Farel tidak sadar bahwa gadis yang ia sebut cantik tadi wajahnya sedang memerah. Gadis itu malah tiba-tiba merasakan debaran aneh dalam dadanya.
"Ka-kamu, kenapa tiba-tiba bilang aku cantik? Uhm, a-aku memang cantik, tapi ..." Thalia malah jadi salah tingkah sambil menyisipkan helaian rambutnya di belakang telinga.
"I-iya, kamu cantik. Iya 'kan? Dari dulu kamu memang cantik. Dan selalu cantik ..." Farel malah terpesona melihat wajah Thalia yang memerah. Gawatnya, dalam dadanya ia malah merasa debaran jantung yang menggebu-gebu.
__ADS_1
'Parah, perasaan apa ini?' bingung Farel seraya menelan salivanya. Matanya bahkan tak berkedip lebih dari 10 detik hanya karena melihat kulit putih Thalia yang berubah jadi merah jambu, membuat gadis itu terlihat makin cantik dan menggemaskan.
"Kue!" seru Thalia mengagetkan Farel.
"Ayo kita mulai buat cake-nya! Jangan buang waktu!" seru Thalia lagi. Farel pun tersadar dan mulai bergerak.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan dulu, Thalia?"
tanya Farel.
"Buat adonannya," ujar Thalia, mereka pun mulai menimbang bahan yang telah disediakan asisten rumah tangga Thalia di meja dapur.
Farel pun bertugas mengocok mentega, gula dan telur. Sementara menunggu adonan mengembang, Thalia menimbang tepung yang akan dibutuhkan.
"Uhuk ... uhuk ..." Thalia malah terbatuk-batuk karena tepung halus yang menyembur.
"Thalia, kamu baik-baik aja?" tanya Farel agak berteriak karena bunyi mixer yang keras.
"Kamu lanjut kocok aja, ingat, harus sampai kaku dan berwarna putih!" pesan Thalia. Farel mengiyakan. Kemudian Thalia lanjut menimbang bahan yang lain.
Setelah semua bahan siap, Thalia pun menghampiri Farel.
"Apa yang lucu? Kamu berani menertawakanku?" kesal Thalia.
Farel pun berusaha mengerem tawanya.
"Ma-maaf, Thalia, habisnya ada tepung di wajahmu," ujar Farel, ia pun memeriksa dahulu adonan yang sedang ia kocok.
"Apa seperti ini sudah cukup?" tanya Farel. Thalia yang cemberut karena ditertawakan hanya mengangguk saja.
"Baiklah ..." Farel menurunkan kecepatan mixer kemudian mengambil tissue. Setelah itu Farel membasahinya dengan sedikit air. Sedangkan Thalia malah ngedumel sambil memasukan sedikit demi sesikit tepung yang ia timbang.
"Dasar tidak sopan! Bisa-bisanya dia menertawakanku!" gerutu Thalia.
"Thalia, boleh menghadap ke arahku sebentar?" pinta Farel membuat gadis itu menoleh, tepat saat itu Farel mengelap wajah Thalia yang terkena tepung.
"Nah, kalau begini, cantiknya jadi balik lagi, haha," ujarnya yang sekali lagi membuat Thalia terpana. Ia sama sekali belum pernah melihat tawa lepas dari seorang Farel. Wajah Farel yang menurutnya tampan, jadi terlihat lebih cerah dari sebelumnya, membuat debaran jantung Thalia semakin menjadi.
__ADS_1
"Farel!" jerit Thalia yang membuat tawa Farel berhenti. Sejujurnya ada sedikit rasa kecewa di hati gadis itu, tetapi ia tahu tidak bisa membiarkan Farel menertawainya.
"Kenapa malah asyik ketawa sendiri? Kamu berani, ya menertawakanku? Kamu mau aku hukum, ha?" ancam Thalia.
Farel langsung terkesiap mendmegar kata hukuman dari mulut gadis itu. Ia sontal menunduk sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Ma-maaf, Thalia. Aku mohon, jangan hukum aku. Aku yang salah!" panik Farel.
"Kamu kira, semudah itu mendapatkan maafku?" ancam Thalia lagi. Sebenarnya ia juga malas memikirkan hukuman yang cocok untuk Farel. Namun ia suka melihat Farel yang memohon padanya.
Farel pun hendak bersimpuh, tetapi sikunya entah bagaimana malah mengenai ujung baskom berisi adonan yang sedang dikocok dengan pelan hingga adonan itu malah menyembur ke wajah Thalia dan juga wajahnya juga hampir seluruh dapur.
Sontak Farel membulatkan matanya atas apa yang baru saja terjadi akibat ulah cerobohnya. Ia yakin amarah Thalia akan meledak, ia hanya bisa pasrah.
"Ya ampun!" Belum sempat Thalia memgeluarkan sepatah kata pun, tiba-tiba muncul seorang wanita dengan dandanan agak tebal sambil geleng-geleng kepala dengan apa yang terjadi di dapaurnya.
"Apa yang udah kamu lakukan Thalia? Kamu mau caei perhatian, ya dengan buat dapur kacau—" Omelan wanita itu berhenti ketika tak sengaja melihat sosok Farel di dapurnya.
"Siapa ini?" tunjuknya pada Farel.
Thalia yang berusaha menyimpan emosinya hanya menggeram dan menatap tajam wanita itu.
"Temen—"
"Ya ampun, Temen?" Wanita itu mengelap keringat di dahinya.
"Please, deh Thalia, kamu bisa gak, sih caro temen yang gak sejenis sama kamu? Pe-nga-cau!" tukas Wanita itu yang semakin membuat amarah Thalia naik ke ubun-ubun.
"Tante—"
"What?!" pekik Wanita itu ketika sisa adonan di baskom tersembur ke bajunya yang mencolok.
"Oh my God! Baju ini susah kalau dicuci!" panik Wanita itu yang membuat Thalia melotot ke arah Farel yang kini sedang menyeringai. Sontak Thalia merasa merinding.
"Kalian ini, ugh!" geram wanita itu.
"Usir dia dari sini dan jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini!" perintah Wanita itu dengan suaranya yang menggelegar.
__ADS_1
"Ups!" gumam Farel yang agak geli melihat reaksi Wanita itu, tetapi senyumnya langsung sirna begitu sadar Thalia tengah memelototinya.