Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S3: Tamu yang Tak Diharapkan


__ADS_3

Thalia mendekati Farel yang menatapnya nanar.


"Thalia ... Aku ... Aku gak tau lagi harus ke mana ...." lirih Farel.


Namun atensi Thalia beralih pada bayi yang digendong Farel.


"Farel ... Tapi ini bayi siapa?" tanya Thalia yang langsung memandang wajah putus asa Farel. Kacamata cowok itu berembun.


"Begini ceritanya ...."


...****************...


Farel pulang ke rumah setelah menjalani hari yang cukup berat. Namun, karena bisa melihat senyum Thalia, rasanya hari berat Farel terasa agak ringan. Ia menatap pintu, di balik pintu itu pasti tidak ada siapa-siapa karena saat sang Mama sampai di Jakarta, sang Mama langsung menginap di rumah kakaknya untuk menenangkan diri. Farel pun menarik napas dalam-dalam.


"Assalamualai—"


"Farel?"


"—kum ...." Mata Farel terbelalak melihat sosok sang Mama yang sedang beres-beres di ruang tamu.


"Mama? Mama udah pulang?" Cowok berkacamata itu segera menghampiri ibunya. Ia memperhatikan wajah sang Mama yang begitu terlihat pucat. Farel paham, dibanding dirinya, sang Mama jauh lebih terpukul atas kehilangan sang Papa. Entah, mungkin cinta Mamanya pada mendiang Papanya sangat dalam karena telah melewati susah-senang bersama.


"Mama, kalau Mama masih mau sama Bude, Mama bisa nginap dulu di sana,"ucap Farel sambil mengelus pundak ibunya. Namun wanita berkepala empat itu mengelus tangan Farel.


"Enggak, Nak ... Mama udah baik-baik aja. Justru Mama pulang karena khawatirin kamu. Maaf, ya. Kamu tetep harus ke sekolah meskipun kita sedang dilanda musibah," sesal sang Mama seraya menatap pilu putranya.


Farel tersenyum kecil.


"Gak apa-apa, Ma ...." ucapnya.


"Gimana beasiswa kamu?" tanya Mamanya yang langsung disambut senyuman hangat Farel.


"Tadi pagi, Farel sudah jelaskan ke kepala sekolah dan wali kelas Farel. Untungnya, mereka mau mengerti, Ma. Jadi, Farel tetep bisa melanjutkan beasiswa, tetapi Farel tidak boleh bolos lagi seperti kemarin," jelas Farel.


Sang Mama hanya mengangguk-angguk seraya tersenyum. Ah, senyum sang Mama adalah hal yang paling Farel rindukan. Maklum, selama ada di Kalimantan, setiap hari, Farel hanya menyaksikan derai air mata sang Mama.


"Ya, sudah, kalau begitu, kamu istirahat, ya, Nak. Pasti kamu juga lelah," suruh sang Mama.


"Mama juga istirahat, ruang tamu ini, biar Farel yang beresin, abis itu Farel istirahat, ya, Ma?" ucapnya yang hanya mendapat senyuman tipis sang Ibunda kemudian wanita kepala empat itu pergi ke kamarnya.


Sementara, Farel membereskan ruang tamu. Semalam, ia mengerjakan PR di sini, makanya agak berantakan. Ia sama sekali tak menduga kalau sang Mama akan pulang secepat itu. Namun, sebenarnya ia merasa sedikit lega sekarang.


Farel menyeka keringat di dahinya.

__ADS_1


"Akhirnya beres—" Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk. Dahi Farel mengernyit. Mungkinkah Thalia datang? Namun, cewek itu tidak mengabarinya.


"Iya, sebentar!" sahut Farel seraya berjalan menuju pintu. Ketukan yang yerdengar memburunya, membuat Farel tidak sempat mengintip dari jendela.


"Oek ... Oek ... Oek ...." Dahi Farel mengernyit ketika ia mendengar suara bayi dari balik pintunya. Apakah di balik pintu ini adalah salah satu anggota keluarganya yang memiliki bayi? Namun siapa? Seingatnya, sang Mama adalah anak bungsu dan mendiang Papanya adalah anak tunggal. Dalam silisilah keluarganya, Farel adalah anggota paling muda.


Namun, Farel tidak mau memikirkannya lebih jauh. Ia langsung membuka pintu.


"Akhirnya dibuka juga!" seru seorang wanita yang wajahnya agak keriput, tetapi rambutnya masih didominasi warna hitam. Mata Farel mengerjap, haruskah ia panggil wanita ini dengan sebutan "Nenek"? Namun, dia Neneknya siapa?


"Uhm, ada perlu apa, ya, Bu?" Akhirnya Farel menyebut wanita itu dengan sebuta Ibu yang lebih umum.


Dahi wanita keriput itu berkerut.


"Mana ibu kamu?" sinisnya sambil menimang-nimang bayi yang terus saja menangis di gendongannya.


"Uhm, Mama ... Mama sedang distirahat. Ibu siapa, ya? Ada perlu apa dengan Mama saya?" tanya Farel berusaha sopan dan tidak terpancing dengan sikap ketus wanita tua itu.


"Saya di sini mau ketemu ibu kamu! Saya mau menyerahkan bayi ini!" tekan wanita itu dengan suara agak lantang. Namun, ucapan wanita itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Farel.


"Bayi?" Farel melirik ke arah bayi yang terus menangis itu, kemudian atensinya kembali pada wanita tua di hadapannya.


"Bayi siapa itu, Bu?" tanya Farel.


Farel buru-buru mencegahnya.


"Te-tenang, Bu. Ibu boleh masuk dulu dan silakan duduk. Biar saya panggil Mama saya dulu," ucapnya. Wanita itu hanya mendengus kesal, sementara Farel memepersilakannya masuk dan duduk di ruang tamu. Tanpa biacara apa-apa, ia segera masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamar ibunya.


Farel mengetuk pintu kamar sang Mama.


"Ma, Mama sudah tidur? Ada tamu, Ma ..." ucap Farel agak keras, tetapi dengan nada yang lembut. Diketukan pertama, tidak ada jawaban. Farel kemudian mengetuknya lagi.


"Ma ... Ada tamu, Ma ... orang itu cariin Mama—" Tiba-tiba pintu terbuka. Wajah sang Mama terlihat sayu, mungkin ibunya ini tadi memang sempat tidur.


"Siapa, Farel?" tanya sang Mama.


Farel menggeleng.


"Katanya, dia mau menjelaskan kalau Mama sudah ketemu Mama," ucap Farel.


Sang Mama hanya menghela napas.


"Ya, udah, kamu suguhin minum aja dulu, Mama mau cuci muka," suruh Mamanya yang langsung disanggupi oleh Farel.

__ADS_1


Farel pun menyuguhkan minuman berupa teh manis pada tamu itu yang wajahnya masih kelihatan masam, seolah-olah Farel adalah musuh besarnya.


"Silakam diminum, Bu ...." ujar Farel, tetapi wanita tua itu malah membuang muka.


"Mana Ibu kamu?" ketusnya.


"Mama sebentar lagi—"


"Saya di sini, Ibu siapa, ya? Dan ada perlu apa dengan saya?" sahut Mama sambil mengambil tempat duduk di sofa ruang tamu.


Tanpa menjelaskan apa-apa, wanita tua itu langsung bangkit, kemudian menghampiri Mamanya Farel dan menyerahkan bayi dalam gendongannya. Mamanya Farel, mau tidak mau menggendong bayi malang itu sambil menatap heran wajah wanita tua tersebut yang terus merengut.


"Ini, tolong rawat dia! Saya dan keluarga saya sudah tidak sanggup!" ujar wanita tua itu yang membuat Mamanya Farel makin bingung.


"Uhm, Maaf, Bu ... Tapi, ini bayi siapa? Kenapa Ibu menyerahkannya pada saya?"


"Udah, gak usah munafik! Kami juga tahu, kalau semua harta dan aset milik Ridwan jatuh ke tangan kamu! Anak saya tidak dapat bagian apa-apa!" sungut wanita tua tersebut.


Ridwan adalah nama Ayahnya Farel, tetapi kenapa wanita tua ini membahas harta milik Ayahnya? Lalu, apa hubungan sang Ayah dengan anaknya? Berdasarkan ucapan wanita tua itu, sepertinya anaknya juga mendapat bagian dari harta peninggalan sang Ayah.


"Maksud Ibu apa, ya? Memangnya, apa hubungannya, harta peninggalan suami saya dengan anak ini dan anak Ibu?" korek sang Mama yang juga tidak paham.


Wanita tua itu mendelik kesal.


"Jangan pura-pura gak tahu, deh! Kamu harusnya juga tahu, 'kan kalau suami kamu itu menikahi putri saya?"


Bak suara petir menyambar, berita macam apa yang dibawa oleh wanita tua ini?


"Ayah menikah dengan ...." Tubuh Farel kaku, begitu juga sang Mama, tetapi wanita berkepala empat itu berusaha tetap tenang.


"Suami saya menikah dengan putri Anda? Saya tidak mengerti sama sekali. Maksudnya apa? suami saya hanya bekerja di Kalimantan ...." bela sang Mama pada suaminya.


Namun wanita tua itu terkekeh kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ia mengeluarkan sebuah kertas dengan keterangan "Bukti Keterangan Nikah Siri". Di sana tertulis nama sang Ayah yang menyatakan bahwa nama wanita di bawah biodatanya adalah nama istrinya. Bahkan ada tanda tangan sang Ayah di sana.


"Ni-nikah siri?" tutur Mama agak tercengang. Suaminya tidak pernah membicarakan hal ini, bahkan sekedar izin.


"Karena Ridwan tidak kunjung mengurus pernikahannya dengan putri saya di KUA, maka putri saya sama sekali tidak mendapatkan hak warisnya!" sungut wanita tua itu.


"La-lalu bayi ini ..." sang Mama memandang bayi dalam gendongannya.


"Ya, bayi itu adalah putri dari Ridwan!"


Sontak Farel terjatuh mendengar ucapan wanita tua itu. Tidak, ini terlalu random! Sang Ayah menikah lagi dan punya anak? Ini pasti mimpi!

__ADS_1


__ADS_2