
"Bagaimana jika kita berpisah?"
Thalia terdiam atas pertanyaan Farel. Ia tidak pernah memikirkan kata "Pisah" akan ia hadapi.
'Lantas, jika aku berpisah dengannya, memang kenapa?'gumam Thalia dalam hati.
"Apa janjiku sudah tidak berlaku?"
Thalia langsung sadar arah pembicaraannya. Gadis cantik itu pun menggeram.
"Memangnya siapa yang mengizinkanmu berpisah dariku?" sinis Thalia agak berbisik.
"Ta-tapi, bagaimana jika aku pindah—"
"Pokoknya kamu harus ikuti aku kemana pun aku pergi! Tidak peduli mau bagaimana!" tekan Thalia.
"Apa? Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapian! Awas membantahku! Maka hidupmu tidak akan tenang!" ancam Thalia lagi.
Farel hanya bisa diam sambil mengangguk. Jika sudah diancam begitu, ia tidak akan berkutik lagi.
Ketika waktu pulang telah tiba, Farel segera membereskan barang-barangnya karena ia harus membantu Sang Mama. Namun tiba-tiba Thalia menggebrak meja. Tepat pada saat itu, ketiga teman satu geng Thalia juga datang ke mejanya.
Farel memandang keempat gadis remaja itu dengan heran.
"Ka-kalian mau apa?" tanya Farel. Ia setidaknya harus berhati-hati pada keempat gadis yang sedang menatapnya dengan sinis.
"Kamu harus ikut kita!" tekan Thalia.
"I-ikut? Ikut kemana? Tapi, aku harus bantuin Ma—"
"Gak ada yang lebih penting daripada keinginanku! Kamu 'kan udah janji, Farel!" tuntut Thalia lagi.
Farel berdecak kesal dan langsung disadari oleh Renata. Sontak gadis itu menggebrak meja.
"Heh! Kamu barusan ngapain? Mau ngelawan? Mau ngebantah? Iya?" bentak Renata.
Lelaki berkacamata itu hanya bisa menunduk.
"E-enggak ... gu—a-aku ... aku cuman gak bisa karena a-aku harus—"
Thalia menggebrak meja lagi, hingga Farel tersentak sambil memejamkan matanya.
"Gak ada tapi-tapi-an! Kamu harus ikut aku!" paksa Thalia lalu menarik tangan Farel dengan paksa.
Akhirnya kini Farel duduk di dalam mobil Thalia. Ia benar-benar canggung dan hanya bisa duduk dengan tegang.
"Ugh! Bau apa ini?" keluh Thalia yang tak sengaja mencium aroma busuk di dalam mobilnya. Farel langsung merasa tersindir.
__ADS_1
"Uhm, Thalia ... maaf ... i-ini tasku tadi ada di tenpat sampah jadi ..."
"Tempat sampah? Yang tadi Shei tuduh ke aku?" ujar Thalia.
Farel pun mengangguk pelan, entah kenapa ucapan Thalia seilah menudingnya.
"Aku, aku gak punya tas lagi, jadi ... aku akan cuci ini lalu aku pakai lagi. Maaf—"
Melempar tas Farel ke tempat kaki mereka berpijak, membuat lelaki verkacamata itu melotot.
"Thalia ... Apa yang kamu—"
"Pak, minggir sebentar, cari tenpat sampah!" perintah Thalia.
Bulir-bulir keringat Farel mulai menetes di pelipisnya. Ia paham apa maksud seorang Thalia.
"Thalia, tas aku jangan dibuang! Aku gak mungkin pakai totebag ini terus 'kan?"
"Berisik!" tekan Thalia.
"Yang namanya sampah, ya tetap sampah!" ujar Thalia ketus.
"Kenapa pakai dibawa-bawa? Masuk ke mobilku lagi?" gerutu Thalia dan tepat pada saat itu, mobil berhenti. Thalia segera mengambil tas Farel lalu keluar dan membuang benda itu le tempat sampah.
"Thalia—" Namun Farel sendiri bahkan tidak bisa mencegah tindakan gadia cantik itu. Ia hendak keluar, tetapi Thalia sudah ke uru kembali dan menahannya.
"Tapi aku gak punya tas lagi, Thalia!" ujar Farel dengan suara yang agak lantang.
"Terus kamu mau ngotorin mobil aku? Emangnya kamu punya uang buat perawatan mobil aku, ha?"
Farel hanya menutup mulutnya rapat-rapat sambil menunduk.
"Aku ... aku bisa, kok gak harus naik mobil kamu! Kan kamu juga yang memaksa aku naik mobil ini!" Farel membalikkan lagi membuat seorang Thalia menggertakkan giginya.
"Kamu mau ngelawan aku? Oke! Kamu mau keluar dari mobil ini? Keluar aja sana! Emangnya siapa yang mau lihat muka jelek kamu! Ugh dasar!" Thalia langsung memalingkan pandangannya sembaei melipat kedua tangan.
"Oke! Aku turun!" Tanpa basa-basi, Farel langsung turun dari mobil Thalia dan menghampiri tempat sampah—tempat dimana tasnya dibuang.
Thalia yang mendelik kesal melihat Farel yang berani melawannya.
"Jadi, gimana, Non?" tanya Pak supir.
"Pulang saja, Pak! Biar saja dia!" kesal Thalia. Rencananya hari ini gagal karena seorang Farel. Lihat saja apa yang akan dihadapi oleh lelaki itu besok.
Sementara itu Farel berdiam diri setelah mendapatkan tasnya. Ia benar-benar tidak mengenali daerah dimana dirinya berpijak.
"Aduh ... bagaimana gue bisa pulang—" Tiba-tiba ianmendapati ponselnya bergetar. Sudah bisa dipastikan itu adalag sms dari Sang Mama.
Farel pun membuka pesan itu dan benar saja dugaannya. Farel hanya bisa menghela napas. Ia harus berpikir jernih untuk mendapatkan penyelesaian atas masalahnya.
__ADS_1
"Uang? Ah ... Haruskah aku pakai uang cadangan?" gumamnya. Pasalnya uang sakunya benar-benar hanya cukup untuk ongkos dari sekolah ke rumahnya.
"Tapi, kalau gue naik angkot, pasti ongkosnya gak jauh beda," gumamnya. Farel pun menyisir jalanan, adakah angkutan umum yang bisa ia naiki. Namun peluhnya mulai menetes. Di daerah tempatnya berdiri sama sekali tidak ada angkutan umum yang lewat. Hanya ada taksi dan itu pasti akan menghabiskan banyak ongkos.
"Ugh, sial! Sebenarnya Thalia turunin gue dimana, sih?" gerutu Farel hingga ponselnya berdering. Farel segera mengambilnya dan ia bisa melihat kontak dengan nama "Mama" di layar ponselnya. Farel kembali menghela napas sambil menerima panggilan dari Sang Mama.
Baru saja Farel mau menyapa, Sang Mama langsung menanyai keberadaannya. Tidak biasa Farel pulang begitu telat. Farel pun terpaksa berbohong kalau ia sedang kerja kelompok sambil berjalan menyusuri trotoar.
[Kerja kelompok? Tapi kenapa terdengar seperti di jalan raya?] Ternyata telinga Sang Mama begitu peka dengan hiruk-pikuk kendaraan.
"Ah ... i-iya, Ma ... i-ini Farel lagi beli jajanan sama temen Farel—"
[Kamu naik motor sama temen kamu?]
Farel tertohok, tetapi tidak ada cara lain selain mengiyakannya.
[Ya ampun, kalau begitu hati-hati, ya ... bilang sama temen kamu kalau bawa motornya jangan kenceng-kenceng ...] Sang Mama malah menasihati.
Farel pun hanya bisa mengiyakan sambil diam-diam memggigit bibir bawahnya. Dirinya kini diselimuti rasa bersalah. Padahal Sang Mama begitu khawatir padanya, tetapi dia malah membohonginya.
[Kalau begitu, Mama tutup dulu, ya, Sayang ... Yang giat belajarnya.]
Farel sekali lagi hanya bisa mengiyakan. Hatinya benar-benar bagaikan diiris-iris karena harapan Sang Mama.
"Gue bener-bener anak durhaka ..." gumamnya sambil menahan sedih. Anak laki-laki tidak boleh menangis.
"Ini semua karena Thalia!" geram Farel dengan sorot mata yang tajam. Ia pun hanya bisa berjalan menyusuri.trotoar sampai menemukan angkutan umum.
***
Vannesa, Renata dan Marina memandang heran ke arah Thalia yang datang terlambat sambil cemberut.
"Lu gak bawa Farel, Thal?" tanya Renata.
Thalia menggeleng sambil membuang mukanya.
"Aku buang dia di jalan! Salah sendiri menolak Thalia!" kesal Thalia.
"What? Dia nolak elu? Kurang ajar emang si anak culun!" timpal Vannnesa.
"Atau gini! Besok gue aduin dia ke cowok gue! Biar tahu rasa dia!" sahut Renata.
Rahang Thalia mengeras, sorot matanya juga berubah jadi tajam.
"Oke! Kita lihat, permainan apa yang akan dia terima besok!" ujar Thalia penuh amarah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Apa yang akan Thalia lakukan?...
__ADS_1