
Farel dibawa ke kemar Thalia. Lelaki itu begitu takjub sedari tadi masuk ke dalam rumah mewah nan megah ini. Kediaman Putri Kepala Yayasan memang sungguh menakjubkan. Mulut lelaki berusia 13 tahun itu bahkan tak berhenti menganga melihat setiap pajangan yang terpasang dengan rapih di setiap sudut rumah Thalia.
Namun anehnya, ia tidak menemukan orang tua atau saudara Thalia. Apa mungkin gadis cantik ini anak tunggal dan memiliki orang tua yang jarang ada di rumah? Yah, tetapi siapa yang peduli? Farel di sini hanya bisa mengikuti perintah Thalia yang kini memintanya duduk manis di atas bantal empuk, sementara gadis itu sedang ganti baju di kamar mandi.
"Kira-kira, gue bakalan di suruh ngapain, ya?" gumam Farel masih menerka-nerka.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, membuat Farel tersentak kaget, lelaki itu langsung bersimpuh dan menunduk. Ia mendengar Thalia mengambil suatu barang yang terdengar berat. Farel penasaran, tetapi ia lebih memilih mengubur rasa penasarannya. Hingga akhirnya Gadis Cantik itu meletakkan sebuah kotak besar berwarna merah muda di hadapan Farel.
"Kamu, cuci muka kamu dulu!" perintah Thalia.
Farel mengangkat kepalanya dan mengernyitkan dahi.
"Boleh pakai sabun cuci mukaku, setelah itu pakai bandana rub, ya!" perintah Thalia lagi.
Farel semakin bingung. Kenapa ia harus melakukan itu semua? Memangnya dia perempuan?
"Kenapa malah bengong? Kerjain!" bentak Thalia yang tak mendapati pergerakan dari Farel. Lelaki berkacamata itu yang tersentak langsung berdiri dan melakukan apa yang Thalia suruh.
Farel pun mencuci wajahnya dengan sabun cuci muka yang ada di dalam kamar mandi. Ia bahkan sempat takjub dengan desain kamar mandi Thalia yang bagaikan kamar mandi seorang Tuan Putri. Hidup gadis ini teralu enak, tetapi anehnya, kenapa masih suka menyiksa orang lain yang takdirnya berbanding terbalik dengannya?
Farel memandang wajahnya yang tanpa kacamata di depan cermin. Tentu ia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Namun wajahnya terasa lebih segar setelah mencuci muka dengan sabun itu. Ia pun mengenakan kembali kacamatanya dan memaki bandana rub berwarna putih yang terletak dekat cermin.
"Ya ampun, wajah ganteng siapa ini?" gurau Farel cekikikan sendiri.
Lelaki berkacamata itu pun keluar dari kamar mandi dan mendapati Thalia mulai mengeluarkan isi tas merah mudanya. Farel bisa melihat kalau gadis cantik itu sedang memilah-milah kuas dengan berbagai bentuk.
"Apa yang nenek sihir itu lakukan? Apa dia mau ngajak gue gambar?" gumam Farel dengan senyum semringah, mungkinkah perintah Thalia kali ini tidak akan memberatkannya? Jika disuruh gambar, Farel justru akan bersemangat. Ia pun segera menghampiri Thalia.
Tepat saat Farel menghampiri Thalia, gadis itu langsung menariknya hingga Farel terduduk di samping Thalia. Seketika senyum Gadus Cantik itu mengembang, tetapi Farel tahu, akan terjadi hal buruk padanya.
"Tugasmu hari ini adalah jadi modelku dan teman-temanku!" seru Thalia sambil menunjukkan kuas dengan berbagai bentuk dan ukuran.
Sementara Farel mengernyit.
"Mo-model? Maksudnya?" tanya Farel bingung. Ia tidak mungkin 'kan jadi model peraga yang nantinya akan dilukis oleh Thalia dan teman-temannya. Sontak Farel memeluk dirinya sendiri dengan wajah yang bersemu merah karena membayangkan fantasi liar di kepalanya.
Thalia yang memerhatikannya mengerutkan kening. Sontak gadis itu memukul paha Farel.
__ADS_1
"Hey! Apa yang kamu pikirkan?" tukas Thalia sambil memeicingkan matanya.
Farel segera menggeleng.
"Tidak ... tidak ada," bohong Farel. Mana mungkin ia ungkap bayangan apa yang muncul di kepalanya barusan.
Thalia yang malas ambil pusing pun tak memaksa Farel untuk mengungkapkannya. Sekarang dia sedang pusing sendiri karena besok akan jalan bersama Alan, tetapi dia sama sekali belum ada persiapan.
"Sekarang kita berdua sudah cuci muka—" Tiba-tiba pintu kamar Thalia diketuk.
"Mereka sudah datang!" sahut Thalia.
"Masuk, Ladies!" seru Gadis Cantik itu yang membuat Farel mengernyitkan dahi.
Tepat pada saat itu, pintu kamar terbuka dan muncul lah tiga sahabat Thalia. Sontak di telinga Farel seolah mendengar bunyi sambaran petir. Jika keempat gadis ini berkumpul, maka malapetaka akan segera menghampirinya.
'Gue mau diapain, nih ... Duh, kacau!' panik Farel dalam hati.
"Ih, modelnya udah siap aja!" seru Vannesa gemas.
Farel makin bingung, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba ia disebut model?
"Mu-mulai? Mulai apa, ya?" bingung Farel sambil memandang keempat gadis itu satu per satu.
"Yah, mulai dandanin elu lah! Sini, copot kacamata lu!" paksa Vannesa yang menarik kacamata Farel begitu saja, bahkan Thalia tak sempat mencegahnya. Seketika tiga cewek di hadapan Farel terkesima melihat wajah lelaki culun itu tanpa mengenakan kacamata.
"Waw!" seru Renata agak takjub karena baru pertama kali melihat wajah Farel yang ternyata cukup tampan.
Sementara Thalia meremas roknya melihat reaksi ketiga sahabatnya.
'Apa-apaan mereka?' kesal Thalia dalam hati yang langsung menghadapkan Farel padanya.
"Pokoknya, Farel, aku yang dandanin!" seru Thalia sewot, membuat ketiga temannya tersentak kemudian saling pandang.
'Respon Thalia kayaknya agak berlebihan, deh ...' batin Marina.
"Uhm, ya sudah ... Silakan, lu bisa belajar dari dandanin dia. Uhm, gue udah bawa bajunya!" seru Renata sambil menunjukkan totebag besar.
'Baju? Dandanin? Sebenarnya gue mau diapain, sih?' panik Farel, sementara Thalia mulai mengambil kuasnya.
__ADS_1
"Uhm, Thalia, sebenernya aku mau disuruh apa?" tanya Farel agak berbisik.
Namun tatapan Thalia malah menajam.
"Diam aja! Gak usah banyak tanya!" ketus Thalia langsung mengambil kapas dan menuangkan sedikit toner.
Farel mengernyitkan dahi, rasa penasarannya sungguh meronta-ronta, tetapi lidahnya kelu karena ucapan ketus Thalia.
"Pokoknya aku mau dandanin kamu dan kamu cukup diam aja!" tegas Thalia sambil mengusap wajah Farel dengan kapas.
"Dandanin? Buat apa? Aku 'kan laki-laki!" sahut Farel spontan.
Thalia yang kesal langsung mencubit paha kurus Farel.
"Aww! Sakit, Thalia!" rintih Farel.
"Lagian, siapa suruh banyak tanya? Bisa diam, gak?" ancam Thalia sambil melotot.
"Iya-iya! Tapi—" Mata Farel melotot karena lahi-lagi Thalia mencubit pahanya.
"Diam, atau aku cubit kamu lebih keras lagi!" ancam Thalia lagi.
Farel hanya bisa mengangguk lemas. Ia selalu tidak sanggup melawan seorang Thalia. Lelaki itu pun hanya bisa pasrah, mendapatkan perlakuan semena-mena Thalia.
Sementara ketiga temannya memandangi tingkah Thalia yang terlihat agak berlebihan pada Farel.
"Kok Thalia kelihatannya kayak posesif gitu, sih?" gumam Renata. Marina tertegun mendengar komentar dari mulut Renata. Ia pun buru-buru berdehem.
"Posesif apaan, deh? Gila kamu, ya Ren?" Marina pura-pura tertawa meskipun ia juga merasakan hal yang sama.
"Iya, aneh aja kamu, Ren! Lagian, Thalia gak mungkin posesif sama Farel. Apa coba alasannya? Jelas, Thalia sukanya sama Kak Alan!" timpal Vannesa.
Renata kembali memandang Thalia yang begitu serius mendandani Farel kemudian menarik napas panjang.
"Yah, mungkin kalian betul juga ..." sahut Renata.
Seketika rasa lega datang di hati Marina.
'Duh, moga aja dugaan gue selama ini tentang Thalia dan Farel beneran hanya dugaan doang,' doa Marina dalam hati.
__ADS_1