
Marina, Vannessa dan Renata terkesiap mendapat tatapan tajam dari Alan. Diam-diam di bawah meja, mereka bertiga bergandengan tangan dengan erat. Bukankah tatapan yang Alan keluarkan sekarang seharusnya keluar hanya untuk orang semacam Farel?
"Kenapa diam saja? Baru sadar kalau nalar kalian gak nyambung?" tanya Alan sambil menatap sinis ketiga gadis di hadapannya satu per satu. Ketiganya malah mematung, membuat Alan terkekeh.
"Ya udah, gue gak mau maksa. Mending, balik ke kelas kalian. Gue mau sarapan," ujar Alan.
Namun Marina mengeraskan rahangnya. Ia pun melepas genggaman eratnya dan menatap lurus ke arah Alan.
"Kak Alan ..." dinginnya yang mampu menghentikan aktivitas makan Alan. Lelaki itu pun mengangkat kepalanya seraya menatap Marina dengan remeh.
"Apa? Bukannya kalian udah sele—" Tiba-tiba kepala Alan dibasahi oleh jus jeruk. Renata dan Vannessa langsung menoleh dan melihat bahwa gelas jus jeruk Alan kini ada di tangan Marina dalam keadaan terbalik tepat di atas kepala Alan.
"Sialan!" umpat Alan yang langsung menatap Marina sinis.
"Kak Alan padahal tahu, seberapa besar rasa suka Thalia ke Kak Alan!" geram Marina sambuo mengeraskan rahangnya.
"Tapi Kak Alan gak pernah menghargainya!" tukas Marina.
"Hah?" timpal Alan yang memasang wajah tanoa dosa. Hal itu membuat Marina mengepalkan tangannya.
"Hadiah ... semua hadiah dari Thalia juga Kakak tolak. Bahkan waktu Thalia dandan mati-matian buat Kak Alan, Kak Alan gak muji dia sama sekali! Kak Alan sebenarnya punya hati atau enggak, sih?" pekik Marina yang langsung membuat suasana Kantin menjadi sepi. Renata berusaha meraih tangan Marina, tetapi gadis itu malah menyingkir, seolah tahu apa niat Renata.
Marina langsung melirik sinis ke arah Renata dan mengancamnya lewat sorot matanya yang tajam. Renata pun langsung menunduk. Atensi Marina pun kembali pada Alan yang masih menatapnya datar tanpa merasa bersalah sedikit pun.
__ADS_1
"Emangnya ..." Suara Marina terdengar tercekat.
"Emangnya salah kalau Kak Alan balas sedikit perasaan Thalia? Setidaknya buat Thalia kami kembali!" tuntut Marina dengan berlinang air mata.
Namun Alan hanya sibuk membersihkan rambutnya yang lengket dan bajunya yang basah dengan jus jeruk. Untung kartu ujiannya dilapisi plastik, jadi tidak rusak.
"Kak Alan!" pekik Marina yang malah diabaikan.
Alan malah menghela napas.
"Jir, gue gak tahan lagi ..." ujar Alan mulai dingin. Dia pun menatap ke arah Marina dengan tatapan dinginnya.
"Kalian lebay banget," komentar Alan yang membuat ketiganya terkesiap.
"Thalia sendiri bahkan udah gak mengusik hidup gue. Bukannya itu berarti, dia gak mau berhubungan sama gue lagi?" lontar Alan, seketika suasana berubah jadi hening. Ketiga gadis di hadapan Alan menunduk.
"Kalau kalian gak mau pergi, biar gue yang pergi. Gue anggap, pembicaraan kita selesai dan jangan pernah muncul di hadapan gue, atau ..." Alan menarik kerah bajunya yang ketumpahan jus jeruk.
"Gue akan minta pertanggungjawaban ini, berkali-kali lipat! Terutama sama lu, Marina!" tekan Alan yang langsung menyingkir dari bangkunya dan mendorong bangku itu dengan kasar hingga ketiganya terhenyak.
Sepeninggalan Alan, tubuh Marina langsung meluruh ke kursinya. Vannesa dan Renata langsung merangkulnya.
"Dasar cowok kurang ajar!" geram Marina masih geram dengan sikap Alan.
__ADS_1
Vannessa pun menyandarkan kepalanya di bahu Marina.
"Mar ... Kayaknya bener, deh kalau Kak Alan memang gak pantas buat Thalia. Keputusan Thalia memang benar," ujar Vannesa dengan suara yang bergetar. Renata yang tak mampu berkata-kata hanya bisa mengelus lengan Vannessa dan mengeratkan rangkulannya pada Marina. Sikap Alan pagi ini benar-benar membuatnya mati kutu. Apa jadinya jika Thalia benar-benar bersama Alan. Pasti hidupnya tak akan bahagia.
*****
Alhasil, Mereka bertiga kembali ke kelas setelah mengelola perasaan mereka. Semoga saja, Thalia tidak marah karena tidak mendapati mereka bertiga di kelas.
"Farel! Hati-hati! Kamu harusnya cat kuku aku! Jangan jariku juga kamu cat!" protes Thalia yang suaranya langsung bisa didengar bahkan dari depan pintu kelas. Marina langsung berlari masuk kelas dan mendapati Thalia yang kini kukunya sedang diberi kutek oleh Farel yang bersimpuh di hadapannya.
"Ma-maaf, Thalia ... A-aku bersihkan!" sahut Farel yang langsung menuang aseton ke kapas dan membersihkan cat di jari Thalia.
"Duh, kamu jangan sedikit-sedikit mengecat jariku! Nanti asetonnya cepat habis," gerutu Thalia.
"Ma-maaf ..." ucap Farel lagi. Namun, Thalia malah tersenyum sambil mengelus kepala Farel seraya tersenyum, membuat cowok berkacamata itu sempat kaget dan reflek mendongak, tetapi malah mendapat senyuman di wajah Thalia.
"Lakukan dengan benar, atau jika tidak, aku akan menjitak kepalamu!" ancam Thalia.
"I-iya!" sahut Farel gemetaran yang malah membuat senyum Thalia semakin lebar.
"Kayaknya, emang Thalia gak butuh Kak Alan lagi ..." ucap Renata yang muncul dari belakang Marina.
"Iya, kayaknya menjadikan Farel lelucon udah cukup untuk bikin Thalia tersenyum," tambah Vannessa yang tahu-tahu sudah berdiri di samping Marina.
__ADS_1
Marina pun memandang ke arah Thalia yang kini tersenyum lebar sambil menatap Farel yang sibuk mengecat kukunya. Mungkin ucapan Alan ada benarnya, mereka sebagai sahabatnya, tidak memahami keinginan Thalia. Namun, sebenarnya apa yang diinginkan Thalia sekarang. Tidak mungkin 'kan senyum yang kini terlukis di wajahnya menunjukkan arti tersirat.
'Gak! Sekalipun dunia kiamat, Thalia gak boleh punya perasaan sama Farel!' jerit Marina dalam hati.