
Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Namun apa yang bisa dilakukan oleh anak berumur 15 tahun di depan Farel ini? Farel tahu, Alan sangat kaya dan ayahnya memiliki kewenangan di berbagai bidang, tetapi meminta hal yang tak dimasuk akal? Memangnya dia apa?
"Atau lu mau dapat pelatihan bela diri gratis seumur hidup? Gue akan sangat menghargai itu," sahut Alan yang membuyarkan lamunan Farel.
"Pelatihan bela diri?" ulang Farel sambil memicingkan matanya.
Alan mengangguk.
"Ya, jaga-jaga aja, meskipun sekarang lu udah ga dirundung pake kekerasan lagi, tapi siapa tahu 'kan?" ujar Alan. Namun Farel malah menunduk.
"Farel ... Bukannya ini ide yang bagus?" sahut Sheilla, tetapi Farel malah terkekeh, membuat Sheilla dan Alan saling pandang.
"Rel?" tegur Alan lagi, tetapi tawa Farel malah semakin keras. Cowok Berkacamata itu mengangkat kepalanya.
"Gila! Gue kira lu beneran bakal kabulin keinginan gue, ternyata ujung-ujungnya untuk mengabulkan keinginan lu!" tukas Farel malah geli sendiri.
Kerutan di dahi Alan semakin bertambah.
"Rel ... Gak gitu ... Yah kalau lu punya—"
"Gak usah sok-sok-an!" potong Farel dengan nada yang sinis.
"Gue sangat ikhlas kok menjauhkan Thalia dari lu. Jadi gak usah sok-sok-an mau kasih gue imbalan," tegas Farel kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Gue mau balik dulu sekarang. Kalau kalian mau pacaran, silakan. Karena nyamuk ini mau kembali ke kelas. Permisi." Tanpa menunggu jawaban, Farel langsung pergi begitu saja dari taman.
...****************...
Thalia memanyunkan bibirnya, dan berkali-kali melirik ke arah pintu kelas sambil menunggu kuteknya kering.
"Eh, kemarin, gue dibeliin masker wajah sama kakak sepupu gue. Kalian mau coba, gak? Katanya bisa menghilangkan jerawat!" sahut Vannessa.
"Serius?" seru Marina. "Sebenarnya gue lagi ada jerawat, nih di jidat," kecewa Marina sambil menyisihkan poni di keningnya.
Sontak mata Vannessa melotot.
__ADS_1
"Ya ampun! Marina, jerawat kamu gede banget! Ini harus ditreatment!" heboh Vannessa yang membuat Thalia menoleh.
"Sebesar apa, sih sampai heboh—" Tiba-tiba ujung matanya melihat kedatangan Farel. Gadis cantik itu pun langsung menoleh dan melihat Farel masuk sendirian ke kelas. Cowok itu duduk di bangkunya dengan wajah yang kusut dan kembali menyandarkan kepalanya di atas meja. Tanpa sadar, Thalia malah menaikkan kedua alisnya.
"Ih, kalau cowok lihat, bisa ilfeel, Mar! Lu harus membasmi jerawat ini sebelum ada cowok yang ngelirik lu!" sahut Renata yang kembali menarik atensi Thalia.
"Apa iya, cowok ilfeel sama jerawat? Emang yang bisa jerawatan cewek doang?" timpal Marina kembali menyembunyikan jerawatnya di balik poninya.
"Emangnya lu pernah lihat cowok jerawatan?" sahut Renata. Marina hanya mengendikan bahunya. Renata pun beralih ke arah Vannessa.
"Nes! Kak Aldo jerawatan, gak?" tanya Renata.
Dahi Vannessa mengernyit, seingatnya ia tidak pernah melihat benjolan kecil berwarna merah itu
di wajah tampan pacarnya.
"Entahlah," sahut Vannessa.
"Thalia!" Tiba-tiba Renata malah beralih ke arah Thalia yang matanya tak bisa lepas dari Cowok Berkacamata yang kini sedang menyandarkan kepalanya di meja.
"Thalia!" sahut Renata lagi yang sama sekali tak diggubris panggilannya, Thalia pun menoleh.
"Lu kenapa, Thal? Lihatin apa, sih?" penasaran Renata berusaha mencari sesuatu yang bisa menarik atensi Thalia sampai tak menggubris panggilannya.
"Ah, uhm, enggak, kok! Lagi melamun aja," sanggah Thalia sambil menarik kedua sudut bibirnya tinggi-tinggi. Namun diam-diam, Marina melirik ke arah Farel.
Tentu saja ia tahu kemana arah pandang sahabat yang duduk di sampingnya ini. Namun, apa alasan Thalia memandang ke arah Farel? Jika Thalia mau memberikan perintah pada Cowok Culun itu, harusnya Thalia panggil saja, tetapi kenapa Thalia hanya memandangnya saja? Tidak mungkin 'kan Thalia sejak tadi berusaha curi pandang ke arah Cowok Culun itu? Untuk apa?
"Farel!" Tiba-tiba atensi mereka berempat beralih pada Sheilla yang datang ke kelas sambil menyebut nama teman sebangkunya dengan agak lantang. Cewek Berkulit sawo matang itu berjalan cepat ke arah bangku Farel.
"Farel! Kamu kenapa? Apa ada yang salah sama ucapan aku?" cecar Sheilla, tetapi Farel hanya mengangkat kepalanya dengan malas.
"Udah, gak usah dibahas lagi!" sinis Farel yang kembali menenggelamkan kepalanya di antara dua tangan. Sheilla hanya bisa menghela napas.
"Asal kamu tahu, maksud aku bicara begitu, buat kebaikan kamu. Maaf kalau aku salah bicara," ujar Sheilla yang hanya dibalas deheman oleh Farel kemudian gadis itu pergi ke tempat duduknya.
__ADS_1
Vannessa melirik ketiga temannya yang juga fokus ke arah Farel dan Sheilla.
"Hey, menurut kalian, mereka kenapa? Kayak cowok yang lagi berantem sama ceweknya, gak sih?" cerocos Renata. Sontak mata Thalia membulat.
"Ma-maksud kamu apa, Ren? Mereka pacaran?" tukas Thalia dengan suara agak bergetar.
"Iya, kayak cowok yang lagi berantem sama ceweknya. Tapi, kapan jadiannya? Apa jangan-jangan, selama ini Farel sama Sheilla pacaran? Ingat 'kan, Farel atau Sheilla gak keberatan pas kita paksa duduk sebangku!" sahut Vannessa.
Thalia menggigit bibirnya sambil menatap sinis ke arah Farel dan Sheilla.
"Jadi mereka backstreet, gitu?" tekan Thalia.yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Vannessa.
"Iya, bisa jadi! Tapi, menurut gue, cocok, sih. Lagian, selera Farel aneh," kekeh Vannessa lagi. Sementara Thalia hanya bisa diam dan memutar tubuhnya menghadap ke papan tulis.
"Udah! Ngapain, sih malah bicarain orang gak berguna kayak mereka? Kurang kerjaan!" ketus Thalia. Ketiga sahabatnya hanya bisa saling pandang saja. Sementara Marina diam-diam menghela napas. Sepertinya barusan ia hanya berprasangka buruk saja.
...****************...
Saat pulang sekolah, Thalia langsung keluar kelas tanpa bicara apapun pada ketiga sahabatnya. Sekali lagi mereka bertiga saling pandang.
"Guys, Thalia hari ini aneh banget, gak sih?" seru Renata.
"Iya, kayaknya dia udah aneh dari bilang kalau gak peduli lagi sama Kak Alan, deh," sahut Vannessa.
"Apa jangan-jangan, ini karena dia terpukul banget, ya sama perlakuan Kak Alan?" tebak Marina.
"Maksud lu, perlakuan Kak Alan di Kantin waktu itu?" tanya Renata memperjelas. Marina langsung mengangguk.
"Terus, menurut kalian kita ngapain, guys?" sahut Vannessa. Kedua sahabatnya pun terdiam.
"Gue punya ide!" seru Renata yang menarik atensi kedua sahabatnya.
"Gimana kalau kita minta Kak Alan untuk minta maaf sama Thalia! Gue yakin, Thalia kita bakal balik normal lagi!" beber Renata panjang lebar.
"Lu yakin, Ren?" tekan Marina.
__ADS_1
"Gue pikir, itu ide bagus! Mumpung anak kelas sembilan masih datang ke sekolah buat ujian praktek!" timpal Vannessa.
"Oke, berarti, besok kita mulai rencananya!" tekad Renata.