Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S3: Aku Ada Urusan!


__ADS_3

Farel masuk ke dalam kelas, tetapi langkahnya melambat. Dia sama sekali tidak melihat sosok Thalia di sana. Lalu, Thalia ke mana?


"Cari siapa, Rel?" Tiba-tiba ada yang menegurnya, Farel pun berbalik.


"Shei?" kaget Farel. Ia ingat, sejak pagi, bahkan saat bel istirahat berbunyi, dia belum menyapa gadis berkulit sawo matang yang membelanya tadi.


"Kamu cari Thalia?" tebak Sheilla yang membuat Farel terhenyak. Farel reflek menggaruk belakang kepalanya lagi. Apa niatnya terlalu jelas terbaca?


"Uhm, itu ...."


"Aku dari tadi di kelas. Dia belum balik dari kantin sama temen-temennya," beber Sheilla lagi.


"Belum balik? Uhm, oh ...." Farel jadi bingung harus bicara apa.


"Kamu kenapa, Farel. Kok kayak gugup gitu?"


Farel memejamkan matanya erat-erat. Kenapa juga Sheilla menerjemahkan gelagatnya. Farel pun berhenti menggaruk belakang kepalanya.


"Maaf, Shei ...." tuturnya.


"Maaf? Maaf kenapa?"


"Uhm, itu ... Padahal lu udah belain gue tadi pagi, tapi gue bahkan belum sapa lu hari ini," ujar Farel agak merasa bersalah.


"Ya elah, tadi kamu, 'kan udah bilang makasih. Santai aja, kali. Lagian aku belain kamu tadi karena gereget aja sama temen-temen. Masa, orang lagi berduka malah dituduh yang enggak-enggak. Aneh," beber Sheilla lagi.


Farel tersenyum tipis.


"Padahal, lu gak perlu kayak gitu, juga sebenarnya gue gak apa-apa. Dari dulu udah biasa dianggap gitu sama anak-anak."


"Apanya yang gak apa-apa?" sewot Sheilla.


"Kamu ingat, 'kan? Kamu bilang ke Kak Alan mau berdiri dengan kaki sendiri?" sahut Sheilla yang langsung mendapat anggukan kepala Farel.


"Terus, apa hubungannya?"


"Belajar membela diri sendiri."


Sontak, kalimat Sheilla membuat Farel tertohok. Membela diri sendiri adalah hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.


"Orang menyerang gak cuman pakai tinju, tapi juga ucapan," lanjut Sheilla lagi. Farel tertegun. Sebenarnya ia juga setuju dengan perkataan Sheilla. Terlebih banyak kalimat dari teman-teman yang sebenarnya berkali-kali menusuk hatinya.


"Tapi, kita juga harus bijak untuk balas mereka," tambah Sheilla lagi.

__ADS_1


"Hah!" Farel menghela napas.


"Bersikap bijak itu yang susah, Shei! Lagian, kita masih terlalu muda buat bersikap bijak," timpal Farel.


"Kamu benar, haha! Masih harus banyak salah," imbuh Sheilla. Sontak keduanya malah tertawa bersama.


...****************...


Waktu berganti waktu, sejak waktu istirahat berakhir, Farel masih belum menemukan sosok Thalia. Gadis itu ke mana? Apa mungkin dia tidak enak badan dan pulang? Lidah Farel terasa gatal, rasanya dia mau bertanya pada salah satu dari ketiga sahabat Thalia, tetapi dia tahu itu tidak mungkin.


"Thalia Gwen Septiadi?" sahut guru yang sedang mengabsen, tetapi tidak ada yang mengangkat tangan atau menyahut di antara para murid. Farel pun memasang telinganya.


"Di UKS, Pak! Katanya gak enak badan," seru Vannessa. Atensi Farel tertuju pada gadis berambut lurus bak iklan sampo itu. Ternyata Thalia sedang di UKS. Dia sakit apa?


'Nanti gue temuin dia pas istirahat kedua,' batin Farel.


"Baik, kalau begitu, kita mulai pelajarannya!" sahut Pak Tora—Guru Bahasa Inggris mereka.


Beberapa saat kemudian, bel istirahat kembali berbunyi. Si Anak Lapangan baru saja membalikkan badannya untuk mengajak Farel main basket, tetapi Farel sudah berdiri.


"Rel! Loh? Lu mau ke mana?" tanya si Anak Lapangan. Farel melirik temannya itu.


"Uhm, gue ... Gue ada urusan. Nanti kalau sempet, gue gabung, ya," ujar Farel sambil melambaikan tangan dan langsung keluar kelas. Sementara Hans mendatangi si Anak Lapangan.


"Mau ketemu doi, kali. Belum kelar kangennya, haha," gurau si Anak Lapangan yang menarik atensi Marina.


Hans hanya merangkul si Anak Lapangan sambil geleng-geleng kepala.


"Haduh, namanya juga lagi kasmaran, haha!" tawa Hans.


Sedangkan Marina diam-diam mengeraskan rahangnya.


'Doi? Sejak kapan Farel punya Doi? Gak mungkin, 'kam Doi-nya itu .... Harus gue pastiin sendiri!' tekad Marina.


"Mar, ke perpus lagi, gak?" ajak Renata.


"Gue ada urusan!" sahut Marina yang langsung pergi begitu saja meninggalkan kedua sahabatnya.


"Hah? Urusan apa?" bingung Renata yang tangannya langsung dipeluk oleh Vannessa.


"Udah, lah, Ren! Sama gue aja ke perpus! Let's go!" seru Vannesa riang.


Farel langsung pergi ke UKS dengan jantung yang berdebar. Dia harus menjelaskan pembicaraannya dengan kedua temannya di lapangan itu pada Thalia. Entah kenapa, Farel merasa bahwa dia tidak boleh membuat Thalia salah paham. Lagipula, Farel itu sama sekali tidak cocok bersanding dengan Thalia. Semoga saja guru UKS tidak ada, jadi Farel tidak harus membuat alasan.

__ADS_1


Farel pun membuka pintu UKS. Benar saja, UKS kosong. Dia pun masuk ke bagian tempat todur UKS sambil mencari tempat tidur yang terisi.


"Thalia ...." ucapnya agak berbisik sambil melongo. Jangan sampai ada anak lain juga yang tiduran di UKS. Bisa-bisa kesalahpahaman akan semakin jauh.


"Thalia ...." panggil Farel lagi hingga menemukan sepasang sepatu perempuan di bawah tempat tidur. Itu pasti sepatu Thalia! Farel pun mendekati tempat tidur itu.


Sontak ia tertegun ketika melihat sosok polos Thalia yang sedang memejamkan matanya. Sepertinya gadis ini tertidur. Tanpa sadar kedua sudut bibir Farel terangkat.


"Ternyata dia tidur ...." ucap Farel sambil menyisipkan helai rambut Thalia yang menutypi wajah polosnya ke belakang telinga gadis itu.


Farel memandang lembut ke arah wajah polos gadis itu. Jika sedang terlelap begini, kecantikan Thalia semakin terpancar.


"Kalau kamu tidur begini, aku mana berani ganggu," tutur Farel lembut.


"Ternyata kamu bener-bener sakit, ya?" Farel bahkan menempelkan punggung tangannya ke kening Thalia, kemudian dahinya mengernyit.


"Gak panas," ujar Farel yang kemudian malah menempelkan punggung tangannya ke pipi Thalia.


"Pipinya juga gak hangat ...." gumamnya. Tanpa Farel sadari, Thalia malah senyum-senyum sendiri.


"Mungkin Thalia capek aja, kali. Uhm ...." Farel bergumam sambil menatap wajah polos Thalia.


"Kayaknya, aku bicara sama kamu lain kali aja, ya," tutur Farel yang hendak berbalik, tetapi tangannya malah ditarik. Sontak, tubuh Farel yang tak siap jatuh begitu saja, untungnya ia berhasil mengurung tubuh Thalia.


Kini mata Farel membulat seraya memandang Thalia yang juga melebarkan matanya. Jakun Farel bergerak naik-turun.


"Uhm ... Tha-thalia ... Kamu udah bangun?" gagap Farel sambil berusaha berdiri dengan tegak, sementara Thalia memalingkan wajahnya.


"I-iya ... Aku—"


"Ka-kamu bangun sejak kapan? Uhm, ta-tadi, maaf kalau kamu kebangun gara-gara aku," panik Farel, tetapi Thalia malah tersenyum. Gadis itu pun memandang wajah khawatir Farel.


"Gak apa-apa. Aku juga gak tidir terlalu pulas. Aku bosen aja," ujar Thalia.


"Hah? Bo-bosen? Terus, tadi kamu denger, dong kalau aku panggil-panggil?" selidik Farel. Thalia hanya mengangguk sambil senyum-senyum.


"Kenapa kamu gak nyahut?" cecar Farel.


Thalia menggerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri kemudian ke atas.


"Uhm, aku kira, suara kamu cuman khayalanku. Jadi, eh?" Thalia tertegun, kenapa dia malah bilang begitu?


"Khayalan? Maksudnya?"

__ADS_1


__ADS_2