Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S2: Aneh!


__ADS_3

Kedua mata Alan membulat. Ini bukan pertama kalinya Farel membentaknya, tetapi kali ini ia membentak Alan karena Thalia?


"Lu kenapa, sih? Aneh banget, Njir!" sahut Alan berusaha melepaskan cengkraman Farel dari tangannya.


Farel mengeraskan rahangnya.


"Aneh? Lu yang aneh!" tukas Farel langsung berdiri.


"Gue yang aneh? Gue aneh dimana, coba? Gue emang gak suka sama Thalia! Dan gue ngelakuin hal itu karena gue benci sama dia! Gue benci karena dia udah bikin gue putus sama Sheilla! And then, aneh, kalau gue balas dendam sedikit?"


Farel berbalik menghadap ke arah Alan sembari mengeraskan rahangnya.


"Padahal lu tahu sebesar apa rasa suka Thalia ke elu, dan lu malah manfaatin rasa suka dia buat balas dendam? Sumpah Kak Alan! Lu gak ngotak!" tukas Farel lagi yang membuat Alan mengepalkan tangannya. Cowok Tampan itu berdesis, menahan gejolak yang membakar dadanya.


"Gue gak ngotak lu bilang?" geram Alan. Dahi Farel mengernyit, ia jelas merasakan aura yang sangat kuat dari Kakak Kelasnya itu. Kakinya ingin melangkah, tetapi terasa berat. Apa dia baru saja menggali lubang kuburannya sendiri?


"Kak Alan, gu-gu—"


BUG!


Sebuah tinju mendarat dengan mulus begitu saja di wajah Farel hingga membuat tubuh Remaja Kurus itu tersungkur ke tanah. Farel merintih, menahan rasa sakit di pipinya hingga ia menemukan tetesan-tetesan cairan kental berwarna merah di tanah. Farel mengusap sudut bibirnya. Ternyata sudut bibirnya robek!


"Kurang?" tantang Alan dingin. Farel hanya terdiam sambil mengepalkan tangannya. Ia tidak pernah menyangka kalau Alan akan memukulnya. Farel mendengar langkah kaki yang semakin dekat, ia menoleh dan tepat saat itu rambutnya dijambak hingga kepalanya tertarik ke belakang.


"K-kak Alan ..." rintih Farel.


"Kenapa? Mau mohon ampun?" dingin Alan yang makin kuat menarik rambut Farel hingga Cowok Berkacamata itu berdesis.


"Kayaknya, lu harus gue hajar supaya sadar, supaya lu bisa pakai otak lu untuk mikir ..." geram Alan.


"Kak ... Lepas ... Please ... Sorry kalau gue salah ngomong," mohon Farel.


"Sorry? Rel, denger gue baik-baik, dibanding lu minta maaf sama gue, lebih baik, lu minta maaf sama diri sendiri lu karena lu udah membiarkan diri lu jadi 'Anjing' yang setia untuk orang yang salah!" Alan langsung melempar kepala Farel hingga terbentur ke tanah. Alan segera berdiri tegak sambil membersihkan debu di tangannya.

__ADS_1


"Ingat ucapan gue baik-baik!" tekan Alan kemudian pergi begitu saja meninggalkan Farel yang masih tengkurap di tanah. Farel hanya bisa meninju tanah setelah Alan meninggalkannya.


Alhasil Farel kembali ke kelas dengan baju yang kotor, pipi yang membiru dan sudut bibir yang robek. Diam-diam Cowok itu melirik ke arah Thalia yang sudah kembali tersenyum bersama ketiga sahabatnya, Farel menghela napas sembari duduk di bangkunya. Dia pasti tidak waras tadi karena bisa-bisanya membela Thalia di hadapan Alan. Alan benar, harusnya dia minta maaf pada dirinya sendiri. Hari ini memang dirinya sungguh aneh!


***


Bel istirahat berbunyi, beberapa anak langsung berhamburan keluar kelas, tetapi tidak untuk Thalia yang sedari tadi diam-diam mencuri pandang ke arah Farel yang menyandarkan kepalanya di atas meja. Tentu saja, baju Farel yang kotor tak luput dari perhatiannya. Namun, ia tidak bisa tiba-tiba mau duduk di samping Cowok Berkacamata itu, menginterogasinya tanpa alasan yang menurut ketiga sahabatnya logis.


"Thalia! Marina, Temenin gue ke Kantin, yuk!" sahut Renata yang menarik atensi Thalia, tetapi gadis itu hanya tersenyum sebentar kemudian kembali mencuri pandang ke arah Farel.


"Hah? Bukannya lu mau ke Kantin sama Vannessa?" timpal Marina.


"Sorry, sayang. Gue mau ketemu Ayang Aldo. Soalnya hari ini, dia ada latihan basket, jadi gak bisa pacaran, deh abis pulang sekolah," ujar Vannessa.


Renata menutup telinganya sambil meringis.


"Ugh, iya, deh, Si Paling Laku, tiap hari kerjaannya pacaran mulu sama ayang!" goda Renata.


"Ih, Sorry, kalau sayang, mah gak akan bosen. Malah kangen mulu. Makanya, cepetan, dong kalian cari pacar. Jadi yang ngerasain manisnya pacaran bukan cuman aku doang," girang Vannessa sambil menaik-turunkan alisnya.


"Ih, belum nemu, nih cowok yang keren ..." timpal Renata.


"Keren? Kenapa gak incar aja tuh temen-temennya Kak Alan, ada Kak Andra sama Kak Alvin. Jadi pas tuh, Thalia sama Kak Alan, Marina sama Kak Alvin, Renata sama Kak Andra," ujar Vannessa.


"Eh, Lu lupa, Nes! Kak Andra udah jadi incaran Reyna, si mantan sahabatnya Si The Beast. Gue males banget bekas incarannya dia," sahut Renata lagi.


"Ya, kenapa emangnya, Ren? Lagian, Reyna juga akhir-akhir ini gak masuk semenjak Sheilla gak masuk. Gue yakin, dia pindah saking merasa bersalahnya sama sahabat jeleknya itu, jadi Kak Andra udah bukan incarannya siapa-siapa lagi," timpal Marina.


"Ih, Marina bener, tuh!" seru Vannessa kemudian melirik ke ara Thalia. "Kalau menurut lu gimana, Thalia?"


"Farel kenapa, ya?" sahut Thalia yang membuat ketiga sahabatnya membulatkan matanya.


"Farel?" tekan Marina yang membuat Thalia tertegun kemudian menoleh ke arah ketiga sahabatnya yang kini menatapnya aneh.

__ADS_1


"Uhm, A-aku —"


"Gue tadi tanya ke elu tentang ide gue yang mau jodohin lu sama Kak Alan, Marina sama Kak Alvin dan Renata sama Kak Andra, terus kenapa lu malah bahas Farel?" Mata Thalia mengerjap mendengar ucapan Vannessa yang penuh penekanan. Sahabatnya itu tidak salah, tetapi otaknya sama sekali tidak bisa bekerja.


Thalia hanya menggerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri dengan peluhnya yang menetes di pelipis. Marina hanya bisa menghela napas melihat gelagat sahabatnya itu.


"Kalian pada kenapa, sih? Maksud Thalia, dia pasti mau nyuruh Farel sesuatu lagi 'kan?" ujar Marina yang membuat Thalia menatapnya.


"I-iya! Itu maksudku!" ujar Thalia kemudian kembali mencuri pandang ke arah Farel.


"Oh, iya! Daripada kita capek-capek ke Kantin, gimana kalau nyuruh Farel? Ide bagus, tuh! Biar tuh anak kerja!" Renata melirik ke arah Farel yang masih menyandarkan kepalanya di meja.


"Kesel banget gue lihat dia males-malesan gitu!" keluh Renata.


"Iya, akhir-akhir ini, kita juga terlalu lunak sama dia. Kangen, deh ngerjain tuh anak lagi," tambah Vannessa.


"Setuju! Tapi kita harus dapat persetujuan Thalia 'kan?" sahut Renata lagi yang membuat kedua sahabat lainnya menatap Thalia.


"Uhm, U-udah, mending kita ke Kantin aja! Aku tuh lagi kesel sama Farel! Lagi enek lihat mukanya! Mendingan kita makan aja biar hepi!" ujar Thalia sambil mendorong Renata dan Marin keluar dari bangkunya.


"Yah, gak jadi nyuruh tuh anak culun?" kecewa Renata.


"Udah, udah! Ke kantin aja!" ujar Thalia lagi sambil menggandeng kedua sahabatnya, sementara Vannessa ditinggal.


"Ih, Beb, Kok gue ditinggal?" rengek Vannessa sambil mengejar ketiga sahabatnya.


"Ih, lu 'kan mau pacaran sama Kak Aldo!" usir Renata.


"Ih, tapi bareng ke Kantinnya, dong!" rengek Vannessa lagi. Lama kelamaan suara cempreng cewek-cewek itu menghilang, tepat saat itu Farel mengangkat kepalanya.


Farel menatap jauh ke arah pintu kelas.


"Barusan, Thalia ngapain? Dia ngelindungin gue?"

__ADS_1


__ADS_2