
"Jadi, apa semuanya sudah sampai di hotel yang aku pesan?" terdengar suara seorang Pria yang berat dari sebrang hingga membuat Siska mencengkram ponselnya.
"Semua? Ya, kami semua sudah sampai dan sedang bersantai sebelum nanti menikmati makan siang," jawab Siska.
"Thalia? Apa dia mau ikut?"
Kedua alis Siska langsung naik, ia langsung melipat bibirnya untuk mengkondisikan diri. Jarang-jarang sang Suami bertanya seperti itu. Siska pun menarik napas panjang.
"Se-sebenarnya itu yang membuatku tidak bisa menikmati liburan ini dengan nyaman ..." ujar Siska dengan nada sedih.
"Tidak nyaman? Apa maksudmu? Apa anak itu berbuat onar lagi?" selidik Suaminya.
"Tidak, Mas. Dia tidak berbuat onar. Cuman, kemarin aku memaksa dia untuk ikut, tetapi dia kukuh mau liburan sama sahabat-sahabatnya ke Bali," kecewa Siska, tetapi diam-diam ia menaikkan kedua sudut bibirnya.
"Ke Bali? Bukankah itu minggu depan? Aku sendiri yang memberikannya izin," selidik Ettan Septiadi—Ayah Kandung Thalia yang tidak bisa membiarkan putrinya diperlakukan berbeda.
Sontak Siska menggigit bibir bawahnya itu, ia sama sekali tidak pernah mendengar hal itu. Pasti Thalia sengaja melakukan ini untuk menjebaknya. Untung saja ia tak salah ucap nama tempat. Siska kembali memutar otaknya.
"E-enggak, Mas! Dia malah kemarin sudah siap packing. Aku udah bilang, kalau tiket dan hotel sudah dipesan Papa, tetapi dia malah bilang lebih baik menghabiskan liburan bersama teman-temannya dibanding bersama kita!" Tiba-tiba Siska mengubah suaranya jadi bergetar.
"Padahal aku sudah berusaha membujuknya, aku sudah bilang, setidaknya pergi drmi Papa, tetapi dia malah membentakku dan mengusirku pergi dari kamarnya. Dia tidak sudi jika harus berlibur denganku dan Vino," tangis Siska yang sama sekali tidak mengeluarkan air mata.
Dari sebrang sana hanya terdengar helaan napas panjang.
"Ya sudah, jika itu keinginannya. Aku tutup dulu. Kalian bersenang-senang lah. Aku baru bisa bergabung tiga hari ke depan. Dah." Seketika sambungan telepon langsung terputus.
Dahi Siska mengernyit.
"Reaksinya hanya seperti itu?" kesalnya tak terima.
"Padahal aku sudah susah-susah akting nangis. Harusnya hatinya tergerak untuk mengomeli putri kurang ajarnya itu!" gerutu Siska sambil melempar ponselnya ke tempat tidur.
"Yah, tapi gak apa-apa. Setidaknya aku bisa menikmati liburan bersama putraku di sini tanpa anak tak tahu diri itu!" Siska pun menyeringai.
"Sabar Siska, perlahan-lahan, mari kita singkirkan Thalia agar tidak mendapatkan bagian sama sekali dari harta warisan Ettan Septiadi!" tekad Siska.
...****************...
Farel duduk di samping Thalia sambil mendengarkan ceritanya. Ia tidak habis pikir kalau gadis ini ditinggal berlibur oleh keluarganya sendiri. Farel tahu, ibu tiri Thalia sangat menyebalkan, tetapi diperlakukan seperti itu, siapa yang tidak hancur?
"Makanya aku ke sini ..." ujar Thalia kemudian menoleh ke arah Farel yang sejak tadi setia mendengarkannya.
"Aku ... Aku gak mungkin cerita ke Marina, Vannessa atau Renata. Mereka gak tahu soal Tante Siska," tambah Thalia lagi sambil meremas lututnya.
"Gak apa-apa, kok. Rumahku selalu terbuka untuk kamu, Thalia ..." ucap Farel yang membuat Thalia tertegun.
"Kita 'kan teman kalau di luar sekolah," lanjut Farel lagi yang mampu menciptakan senyuman lebar di wajah Thalia.
Thalia pun mengulurkan jari kelingkingnya.
"Janji, kita teman kalau di luar sekolah?" sahut Thalia. Farel pun mengangguk dan mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Thalia.
"Janji," ujar Farel.
"Farel! Bawa temennya ke sini!" Tiba-tiba sang Mama memanggilnya, membuat atensi mereka berpaling.
__ADS_1
"Thalia, kayaknya udah waktu makan siang. Ayo, kamu ikut makan sama kita," ajak Farel.
"Ma-makan?" ulang Thalia.
"Y-yah ... Mungkin gak semewah makanan di rumah kamu, karena Mamaku hari ini masak seadanya, setelah makan siang, Mamaku sudah harus berangkat kerja. Mama hari ini tukeran shift sama temennya," beber Farel lagi.
"Gak, gak apa-apa, kok," ujar Thalia buru-buru.
Farel pun tersenyum.
"Lain kali, aku akan menghidangkan makanan yang lebih layak buat kamu. Maklum, kamu datangnya dadakan, sih," kekeh Farel lagi.
"Dadakan?" heran Thalia.
"I-iya. Kamu gak kabarin aku kalau mau datang," jawab Farel.
Dahi Thalia mengernyit.
"Aku kabarin, kok. Aku sms kamu, tau jam sepuluhan!"
"Hah? Kamu sms aku?" Farel langsung menepuk jidatnya.
"Ya ampun, maaf, aku gak megang hape dari tadi pagi!"
"Udah, gak apa-apa. Jus terong belanda tadi udah cukup, kok buat aku. Lagian, kita temen. Kata kamu, teman itu setara 'kan? Jadi jangan perlakukan aku kayak tuan putri gitu," protes Thalia.
Farel menghela napas panjang.
"Gimana gak memperlakukan kamunkayak tuan putri, kamu aja cantik kayak gitu—" Sontak Farel menutup mulutnya. Apa yang barusan ia bilang? Farel langsung menoleh ke arah Thalia yang terdiam.
"Udah! Ayo kita makan!" potong Thalia yang langsung beranjak dan pergi meninggalkan Farel.
"Uhm, ya!" Farel langsung beranjak dan mengejar Thalia.
Namun ketika mereka berdua sampai di dapur sekaligus ruang makan, Mereka masih menemukan makanan yang belum tersaji. Farel pun mendatangi ibunya.
"Mama, ada yang bisa Farel bantu?" tanyanya yang membuat Thalia tertegun.
Wanita berwajah oriental itu melempar senyumnya sambil mengelus kepala Farel.
"Bisa tolong taruh piring di meja makan? Mama masih buat sambal ..." Wanita utu pun menoleh ke arah Thalia yang masih berdiri di depan pintu.
"Nak Thalia, kamu suka sambal?"
Sontak Thalia mengerjapkan matanya. Ia pun mendekati Mamanya Farel.
"Uhm, su-suka, kok, Ma— Eh, Tante!" gugup Thalia yang mampu menarik atensi Farel, tetapi mamanya malah tertawa.
"Ya ampun, Nak Thalia. Kamu boleh, kok panggil Mama ..." Wanita berwajah oriental itu langsung menoleh ke arah putranya yang mengerutkan dahi.
"Lagian, kamu teman pertama Farel yang datang ke sini, loh. Teman Farel sama juga anak Mama," ujar Mamanya Farel sambil mengelus rambut Thalia.
Perlahan senyum di wajah Thalia merekah.
'Aku teman pertama Farel yang datang ke sini?' bangga Thalia dalam hati sambil menoleh ke arah Farel. Kemudian atensi Thalia kembali ke wanita di hadapannya.
__ADS_1
"Ma! Ada yang bisa Thalia bantu?" tanyanya antusias.
"Ah, kamu bisa kupas timun?" tanya Mama.
Thalia langsung mengangguk dengan percaya diri.
"Oke, timunnya ada di baskom, dan pengupasnya ada di dekat situ," tunjuk Mama. Thalia pun dengan semangat mengambil baskom dan serutannya.
Ia mengambil sebuah timun yang terlihat segar itu. Ia percaya bisa mengupasnya. Sesekali ia melihat Asisten Rumah Tangganya melakukan itu. Ia pun menggenggam timunnya dan mulai mengupas dengan pisau kupas.
"Aw!" jerit Thalia. Farel yang baru mengambil piring di lemari, kembali meletakkannya dan menghampiri Thalia.
"Kamu kenapa, Thalia?" panik Farel yang langsung menarik tangan Thalia. Ia melihat ada setetes cairan kental berwarna merah di sana. Farel pun menatap tajam ke arah Thalia.
"Ma, Thalia terluka lagi. Farel obatin dulu!" izin Farel.
"Ya ampun, ya usah sana, nanti keburu infeksi!" suruh Mama.
Farel pun langsung membawa Thalia ke ruang tamu lagi. Untungnya kotak obat belum dikembalikan. Thalia kini duduk sambil memperhatikan Farel yang mengobati jarinya. Begitu serius dan penuh perhatian, sehingga tabpa sadar sebuah senyum terlukis di wajah gadis cantik ini. Seumur-umur, ia belum pernah diperlakukan seperti ini.
"Tidak sakit 'kan?" Tiba-tiba Farel malah mengangkat kepalanya, membuat Thalia terhenyak dan reflek memalingkan wajah.
Sakit? Thalia bahkan tidak ingatbkalau tadi jarinya berdarah. Apa ini karena dia terlalu sibuk memperhatikan Farel? Dia pasti sudah gila sekarang!
"Thalia? Aku tutup plester dulu, ya? Nanti kalau kamu di rumah, diganti plesternya," ucap Farel yang sama sekali tak mendapat jawaban. Thalia hanya mengangguk tanpa mau menoleh ke arah Farel. Cowok Berkacamata itu pun melanjutkan pengobatannya di jari Thalia.
"Selesai," ucap Farel. Thalia akhirnua berani melirik ke jarinya yang kini terbalut plester.
Farel menghela napas.
"Kalau gini caranya, mendingan kamu tunggu di sini. Mamaku belum selesai masak. Kalau udah siap semua, nanti aku panggil, oke?" ujar Farel.
Namun Thalia malah menyatukan alisnya.
"Kenapa? Aku bisa bantu, kok!" tekan Thalia.
"Tapi tangan kamu di plester semua! Kamu gak sadar?" Tiba-tiba nada bicara Farel meninggi.
Thalia memandang kedua tangannya, ucapan Farel memang benar.
"Ta-tapi, aku masih bisa! Katanya kita teman, tapi kenapa kamu—"
Tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon dari tas kecil Thalia yang tergeletak di sofa rotan.
"I-itu ada telepon, coba angkat dulu," ujar Farel yang nadanya mulai merendah sambil memijat keningnya.
Thalia hanya meliriknya sinis dan mengambil ponselnya. Ia kaget saat melihat kayarnya tertulis "Papa" di sana.
"Kayaknya penting. Gue ke belakang dulu dan ..." Farel menatap wajah Thalia. "Sorry, tadi aku bentak kamu," tutur Farel yang langsung meninggalkan Thalia sendirian.
Thalia hanya menggigit bibir bawahnya. Sejujurnya ia ingin Farel di sampingnya. Namun, kenapa dia malah tidak bisa bicara apa-apa seperti biasanya? Panggilan dari sang Papa pun berhenti.
Thalia menggunakan kesempatan itu untuk bisa ikut kembali membantu, tetapi ponselnya lagi-lagi berdering. Sekali lagi sang Papa menelpon.
"Tumben, Papa menelpon sampai dua kali ..." gumam Thalia. Gadis itu pum menekan tombol hijau.
__ADS_1