
Marina mendekati Thalia yang berbalik sambil tersenyum paksa.
"Marina? Kamu ... Kamu, kok ke sini?" tanya Thalia agak was-was sambil melirik ke kanan. Dahi Marina mengernyit melihat gelagat aneh sahabatnya.
"Uhm, enggak ... Gue penasaran aja, lu ngapain, kok lama banget gak balik-balik," ujar Marina sambil menyisir seluruh isi dapur.
"Gak balik-balik, itu soalnya—"
"Oek!" Mata Thalia membulat saat terdengar suara bayi di belakangnya.
"Hah? Suara apa, tuh?" Marina malah mendekat, dia langsung menggeser Thalia dari hadapannya. Sontak matanya membulat.
"Bayi?" serunya yang langsung berbalik dan menatap ke arah Thalia.
"Bayi siapa yang digendong Bibi, Thalia?" cecar Marina. Sontak Thalia terkesiap.
"I-itu ... Itu bayi ...."
"Ponakan Bibi, Non Marina!" seru Bibi yang kembali menimang-nimang bayi tersebut. Namun, dahi Marina malah mengernyit.
"Ponakan Bibi? Siapa yang bawa bayi itu, Bi? Saudara Bibi?" penasaran Marina sambil celingak-celinguk. Tidak mungkin bayi itu datang sendiri, 'kan?
"Uhm, itu ... Gini, tadi saudara Bibi datang, saudara Bibi tinggal gak jauh dari sini dan minta Bibi jagain bayinya karena dia ada urusan, nanti malem mau diambil," karang Bibi.
"Ooh ..." Atensi Marina beralih pada Thalia yang wajahnya terlihat lega.
"Ya udah, ayo kita balik, Thal. Anak-anak udah nunggu, terutama Kak Vicko," ucap Marina sambil menaik-turunkan alisnya. Sontak Thalia melirik ke arah meja dapur.
"Kak Vicko? Kenapa lagi dia? Dasar gak jelas!" ketus Thalia.
"Ih, udah, ah! Jangan judesin Kak Vicko mulu, kasihan, tahu!" ujar Marina sambil menggandeng tangan Thalia. Thalia hanya bisa diam sambil melirik ke arah samping kulkas.
'Semoga Farel tidak salah paham,' batin Thalia yang akhirnya pergi bersama Marina.
Selepas Thalia dan Marina pergi, Farel langsung kekuar dari tempat persempunyiannya di samping kulkas.
"Duh, untung gak ketahuan," lega Farel sambil mengelus dadanya. Sementara Bibi memandangnya heran.
"Emangnya kenapa, sih Den Farel? Bukannya Non Marina juga temen satu sekolah Den Farel? Kok, Den Farel malah ngumpet?" selidik Bibi.
__ADS_1
Farel menghela napas.
"Duh, Bibi, Marina, Vannessa sama Renata itu gak suka sama saya, Bi!" ujar Farel sambil melirik ke pintu dapur, khawatir Marina atau yang lainnya muncul lagi.
"Loh? Kok gak suka? Emangnya kenapa? Padahal Den Farel baik, kok." Bibi malah semakin penasaran.
"Udah, Bi, nanti ajak jelasinnya. Sekarang, Bibi bisa, 'kan anterin saya ke kamar Thalia tanpa ketahuan mereka?"
Bibi hanya menghela napas.
"Ya, sudah, ayo!" ajak Bibi.
****
Thalia kembali ke ruang tengah dan di sana semua oranh tengah membereskan barang-barangnya.
"Loh? Kalian sudah mau pulang?" tanya Thalia.
"Iya, Thal! Gue ditelponin Mama," ujar Renata.
"Iya, gue sama Randy dan Vicko juga ada janji sama anak-anak lain," sahut Aldo.
"Kak Vicko mending pulang, ya." Thalia mana mau berinteraksi lama-lama dengan cowok yang suka cari perhatian seperti Vicko.
"Yah, gue diusir. Sedih, deh," rengek Vicko yang makin membuat Thalia muak.
"Ya, udah, kalian hati-hati di jalan, ya. Kabarin kalau udah sampai." Thalia memilih mengabaikan Vicko.
"Aku kalau mau ngabarin kamu, gimana, Sayang?"
Sontak semua orang membulatkan matanya mendnegar penuturan Vicko. Mulut cowok ini benar-benar luwes. Bisa-bisanya menyebut Thalia "Sayang" sambil modus minta nomor ponsel!
Aldo yang tadinya gandengan dengan Vannesaa langsung melepasnya dan merangkul Vicko.
"Ko, ayo balik. Udah-udah," ujar Aldo yang sebenarnya agak malu melihat tingkah temannya.
"Yah, Thal, benerean, ya, besok aku dateng lagi, kita udab tukeran nomor," ujar Vicko yang langsung ditarik Aldo.
"Dah, Thalia. Thanks, ya!" Aldo buru-buru menarik Vicko pergi dari hadapan Thalia. Kepergian aldo dan Vicko pun diikuti oleh Randy, dan ketiga teman Thalia. Akhirnya semua orang pergi.
__ADS_1
Tubuh Thalia langsung meluruh ke lantai. Kenapa juga Aldo membawa orang se-aneh Vicko. Thalia pun segera membereskan meja dan langsung pergi ke kamarnya. Sekarang yang paling penting adalah sang Pujaan Hati yang sedang menunggu di kamarnya.
"Tenang, Farel! Aku pasti akan bantu kamu!" gumam Thalia.
Thalia hendak membuka pintu kamarnya, tetapi pintu kamarnya langsung terbuka.
"Bibi?" kaget Thalia, tetapi Bibi langsung meletakkan telunjuknya di depan bibir.
"Den Farel sama adik bayi lagi tidur," ujar Bibi.
Sontak mata Thalia terbelalak.
"Hah? Tidur? Secepat itu?" kaget Thalia yang langsung dapat anggukan kepala Bibi.
"Mungkin Den Farel kecapekan. Tadi juga sebenarnya wajahnya sudah pucat," beber Bibi.
Thalia melongo ke dalam, di sana terlihat Farel yang tertidur di atas kasurnya sambil memeluk adik bayi. Thalia diam-diam tersenyum.
"Ya, sudah, Bi. Uhm, tadi Bibi udah ajarin Farel cara menenangkan bayi?" tanya Thalia. Bibi langsung mengangguk.
"Yah, untungnya, Den Farel cepat belajar. Kayaknya Den Farel serius mau rawat adiknya," ujar Bibi yang tadi ikut mendengar semua cerita Farel. Thalia pun tersenyum lagi.
"Ya, sudah, Bi ... Thalia masuk dulu, nanti Thalia panggil Bibi lagi kalau butuh apa-apa," ucap Thalia.
"Siap, Non," sahut Bibi kemudian Bibi turun ke bawah, sementara Thalia pun masuk ke dalam kamarnya.
Saat di dalam kamar, Thalia menatap wajah Farel yang benar-benar terlihat pucat. Barusan ia terlalu terpaku pada cerita Farel sampai tak memperhatikan wajah cowok idamannya ini. Diam-diam Thalia pun mengelus pipinya.
"Maaf, Farel, aku pasti terlalu lama sampai kamu ketiduran," tutur Thalia lembut. Harinya yang terasa berat, seolah menjadi lebih ringan karena mendapati kedatangan cowok berkacamata ini, sekalipun dia datang membawa masalahnya.
'Sejujurnya aku bingung harus menceritakan ini ke siapa. Di otakku cuman ada kamu ....'
Thalia kembali tersenyum setelah mengingat sepotong ucapan Farel. Bukankah itu berarti Farel selalu memikirkannya?
"Thalia ...." Sontak terdengae suara Farel yang memanggil namanya. Thalia pun menoleh dan tanpa sadar tangannya yang ada di pipi cowok berkacamata itu telah digenggam oleh Farel.
"Farel, uhm, aku—"
"Kamu ... kamu kenapa sentuh pipiku?"
__ADS_1