Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S2: Sebuah Perasaan yang Terdeteksi


__ADS_3

Tubuh Thalia malah jadi terasa panas. Semakin ia memikirkannya, jantungnya akan berdetak semakin cepat. Darahnya seolah mendidih. Thalia oun langsung mengambil gelas berisi air di meja dan meminumnya.


"Thalia!" Seketika ia terhenyak dan meletakkan gelas di atas meja. Thalia reflek menoleh ke arah asal suara. Itu adalah Farel yang kini membawa dua kantong plastik—yang satu berwarna hitam dan yang satu berisi tiga gelas jus dengan warna yang berbeda-beda.


Farel buru-buru mengeluarkan jus yang berwarna merah maroon.


"Ini, buat kamu. Jus terong belanda tanpa susu dan dengan sedikit gula. Tadi, untung tukang jusnya punya terong belanda. Biasanya jarang ada," kekeh Farel, tetapi Thalia malah bengong sambil menatap segelas jus yang disodorkan padanya.


"Farel bahkan ingat jus yang biasa aku pesan ..." takjub Thalia.


"Uhm, Thalia?" tegur Farel yang membuat gadis cantik itu terhenyak lagi. Dia pun mengangkat kepalanya seraya memandang Cowok Berkacamata di hadapannya. Sontak ia tertegun. Poni lurus Farel yan meneteskan bulir-bulir air seketika malah membuat wajahnya jadi terlihat lebih segar. Ditambah senyum manis yang terlukis di wajah Cowok Berkacamata itu, membuat hati Thalia seolah meleleh.


"Thalia? Kamu baik-baik aja?" Sontak Thalia terhenyak. Lamunannya langsung buyar. Ia pun menggelengkan kepalanya sembari mengerjapkan mata. Thalia buru-buru mengambil segelas jus yang disodorkan padanya.


"Terima kasih," ucap Thalia malu-malu tanpa berani menunjukkan wajahnya. Pasti wajahnya semerah tomat sekarang karena ia merasa kedua pipinya begitu panas.


"Ya udah. Aku mau simpan belanjaan mama di dapur dulu. Gak lama, kok. Oh, iya. Katanya kamu juga bawa brownies, ya? Aku sekalian potongin. Maaf, kamu tunggu sebentar lagi, ya," izin Farel dengan lembut yang hanya dijawab dengan anggukan pelan oleh Thalia.


Farel pun tersenyum dan meninggalkan gadis cantik itu lagi. Sepeninggalan Farel, Thalia langsung menyandarkan tubuhnya. Ia merasa dirinya kehabisan energi hanya karena jantungnya yang berdetak lebih cepat. Reaksi macam apa ini? Ia bahkan tidak pernah selelah ini saat berhadapan dengan Alan.


"Apa mungkin aku benar-benar suka sama Farel? Tapi apa alasannya?" bingung Thalia. Ia langsung mengucek-ngucek matanya.


"Bisa-bisanya mata ini membuat fantasi aneh tentang wajah Farel!" rutuk Thalia pada dirinya sendiri. Namun kemudian ia termenung.


"Farel itu aslinya emang manis. Apalagi senyumnya. Lembut dan manis ..." Thalia tertegun dan reflek menutup wajahnya.


"Duh, aku ini kenapa, sih? Malah jadi muji-muji dia? Jelas-jelas dia culun, miskin dan—"


"Uhm, Thalia? Apa kamu lagi mengeluhkan aku?" Tiba-tiba terdengar suara Farel. Thalia pun perlahan-lahan membuka wajahnya dan mendapati Cowok Berkacamata itu sudah ada di depannya sambil memegang sepiring brownies.


'Ya ampun, dia denger dari mana? Apa dia denger kalau aku muji-muji dia? Kalau gitu, nanti dia mikir aku apa?'


Farel pun meletakkan piring berisi brownies itu dan duduk di sofa untuk satu orang di hadapan Thalia.


"Thalia, maaf, ya. Aku cuman bisa suguhin kamu ini. Pasti duduk di kursi rotan ini gak nyaman buat kamu. Maaf, karena rumah aku gak sebesar dan semewah rumah ka—" Tiba-tiba Thalia memegang kedua tangan Farel sambil menatap lurus ke arahnya.

__ADS_1


"Kamu bicara apa, sih?" kesal Thalia.


"Y-yah ... Tadi kamu bilang kalau aku culun, miskin ... Pasti kamu gak nyaman di sini. Atau, kalau kamu mau kita ketemuan, jangan di sini, mungkin bisa di tempat yang bisa bikin kamu nyaman?" usul Farel yang malah mendapat wajah merengut Thalia. Farel langsung menunduk.


"Sorry, gue salah, ya?" duganya.


"Aku suka, kok di sini," ungkap Thalia.


"Aku datang ke sini karena aku mau. Aku nyaman-nyaman aja!" tegas Thalia lagi.


"Ta-tapi ... Tadi ..."


"Maaf, aku gak seharusnya bilang kayak gitu ..." Thalia menggantung kalimatnya, membuat Farel mengangkat kepalanya dan melihat wajah murung gadis di depannya.


"Aku cuman merasa ini pertama kalinya, jadi ..." Thalia melirik ke arah Farel, tetapi ternyata Cowok itu tengah menataonya lekat-lekat.


"Jadi?" penasaran Farel.


Thalia pun langsung memejamkan matanya.


"Oh ... Kamu gak harus maksain diri, kok, Thalia. Aku juga tahu, rasanya berat kalau tadinya kaya terus berubah jadi gak punya apa-apa, haha!" tawa Farel, tetapi Thalia sama sekali tak tertawa. Dahi Thalia pun mengernyit.


"Ma-maksud kamu apa, Farel?" bingung Thalia.


Farel menatap wajah bingung Thalia, tetapi ia langsung tertegun.


"Oh, iya, aku 'kan gak pernah cerita ke siapa-siapa kalau dulu papaku pernah menjalankan usaha, tapi bangkrut. Yah, jadi aku juga pernah ngerasain hidup enak kayak kamu, Thalia. Haha," tawa Farel lagi.


Mata Thalia mengerjap. Fakta macam apa yang ia dengar ini? Jadi sebenarnya Farel itu orang kaya? Namun sekarang semuanya berubah. Andai saja keberuntungan terus menikuti keluarga Farel, pasti hubungan mereka sekarang berbeda. Thalia pun melepas genggamannya di tangan Farel dan malah memeluk tubuh kurus cowok di hadapannya itu.


"E-eh? Tha-thalia? Kamu ngapain?" heran Farel. Namun Thalia malah menyandarkan kepalanya di dada Farel.


"Kamu ketawa, tapi sebenarnya kamu sedih 'kan?" tutur Thalia sembari memejamkan matanya. Farel pun terdiam. Sedangkan Thalia malah menikmati detak jantung Farel yang berdetak semakin cepat.


"Thalia ..." Tiba-tiba suara Farel jadi berat. Thalia pun membuka matanya seraya memandang wajah Cowok yang lebih tinggi darinya itu. Seketika matanya membulat ketika melihat Farel yang tersenyum lembut padanya.

__ADS_1


"Terima kasih, ya," ucap Farel sembari membelai rambut lurus nan halus Thalia. Sekali lagi Thalia malah merasakan sengatan listrik di seluruh tubuhnya. Gadis itu reflek menunduk dan diam-diam tersenyum tipis.


Farel pun melepaskan kedua tangan Thalia yang melingkar di pinggangnya, membuat Thalia menatap sinis ke arah Farel.


"Kenapa kamu lepas pelukanku?" protes Thalia. Sontak mata Farel mengerjap.


"Hah? Uhm, i-itu ..." Otak Farel tiba-tiba tak dapat bekerja.


"Aku mau peluk kamu sekarang! Pokoknya kamu gak boleh lepas tanganku!" tekan Thalia kembali melingkarkan tangannya di pinggang Farel.


"Uhm, ta-tapi Thalia, ke-kenapa kita pelukan terus hari ini? Memangnya apa alasannya kita pelukan?" heran Farel. Ia benar-benar merasa aneh dengan sikap Thalia hari ini. Namun hal itu malah membuat Thalia melepaskan kedua tangannya dari pinggang Farel. Wajah Thalia langsung berubah jadi murung.


"Jadi, kamu gak mau aku peluk?" lirih Thalia sambil duduk di sofa rotan. Farel sangat tahu, sekarang Thalia sedang kesal, tetapi bagaimana ia membujuknya?


Farel pum menghampiri Thalia dan bersimpuh di depannya.


"Bu-bukan gitu ... Tapi ... Kita bahkan bukan teman—" Sontak Thalia menoleh sambil menatap Farel dengan soto mata tajam.


"Bukan teman?" ulang Thalia.


Farel mengangguk.


"Yah, aku tahu, kamu ngaku ke mamaku sebagai teman pasti karena gak mau buat mamaku khawatir ... Tapi, pelukan terus menerus ..." Farel langsung menunduk. Sejujurnya detak jantungnya sungguh tak terkontrol dari tadi. Entah karena penampilan Thalia yang begitu cantik atau karena sejak tadi mereka berpelukan.


Rasanya, berpelukan dengan gadis ini, membuat hatinya yang keras meleleh dan terasa hangat. Sejujurnya Farel merasa nyaman, tetapi ia sadar diri, bahwa ia tidak boleh merasakan itu.


Thalia pun menarik kedua pipi Farel hingga mendongak. Thalia tertegun, ternyata wajah cowok ini semerah tomat! Apa artinya ini? Namun Farel langsung menyingkirkan tangan Thalia dan kembali menunduk.


Thalia pun menggigit bibir bawahnya sambil menatap lurus ke arah Farel.


"Farel, dengarkan ini baik-baik ..." tutur Thalia yang membuat Farel mengangkat kepalanya.


"Aku akan kasih tahu kamu sebuah rahasia," ujar Thalia lagi.


Dahi Farel mengernyit.

__ADS_1


"Ra-rahasia? Rahasia apa?"


__ADS_2