
Farel berlari sekuat tenaga, menyusuri jalur car free day untuk yang keempat kalinya. Rasanya udara yang masuk ke saluran pernapasannya sudah menipis.
"Woy, jangan kasih kendor! Ingat, lima putaran untuk hari ini!" Tiba-tiba Alan muncul sambil berlari dengan santai melewati Farel begitu saja.
Cowok Berkacamata itu berusaha mengangkat kepalanya seraya memandang punggung Alan yang semakin lama tenggelam dalam kerumunan.
Farel menggeram.
"Kak Alan gila!" umpatnya yang memaksa kakinya untuk mengeluarkan seluruh sisa tenaga untuk mengejar seniornya itu.
Farel akhirnya telentang di rerumputan taman yang masih satu jalur dengan jalur car free day. Hingga sebuah botol air mineral dingin menyentuh pipinya. Farel pun langsung bangun dan menemukan Alan yang kini duduk di sampingnya.
"Nih, minum ... Air lu udah abis 'kan?" sahut Alan seraya melempar senyum tampan khasnya. Farel mengangguk sambil mengambil botol mineral dingin itu.
"Thanks," seru Farel kemudian menenggak air mineral itu dalam satu teguk hingga habis setengah botol.
"Wah! Akhirnya, tenggorokan gue basah!" seru Farel girang.
"Hahaha, kocak lu!" kekeh Alan sambil meninju pelan pundak Farel.
Farel pun memandang seniornya itu, sampai membuat tawa Alan perlahan-lahan berhenti.
"Gimana rasanya? Badan lu udah mulai ringan?" tanya Alan. Namun langsung dijawab gelengan kepala oleh Farel. Sontak, Alan langsung mengapit leher Farel dengan lengannya.
"Gimana, sih lu? Katanya kemarin tiga putaran udah biasa, Sekarang malah geleng kepala?" omel Alan.
"I-iya, Kak Alan. Lagian lu langsung naikin target ke lima putaran, gue gempor lah!" bela Farel sambil berusaha melepas apitan tangan Alan, tetapi Alan malah semakin mengencangkan apitannya.
"Aduduh, Kak! Gue gak bisa napas! Woy, lepas!" Farel memukul-mukul lengan Alan hingga Alan melepaskannya.
"Sialan lu!" umpat Farel sambil mengusap lehernya.
Alan pun malah tiduran di atas rumput sambil tertawa.
"Yah, gue sengaja, siapa tahu naik dua level sekaligus lu sanggup. Toh, ini udah hampir satu tahun lu akhirnya latihan fisik. Meskipun kemampuan lu payah banget pas pertama kali, tapi lumayan lah gue seneng ..." ungkap Alan.
Farel memandang seniornya itu sambil mengernyitkan dahi.
"Seneng? Seneng kenapa?"
__ADS_1
"Yah, karena lu datang ke gue dan bilang, lu mau berdiri dengan kaki lu sendiri. Sumpah, gue mau nangis rasanya," kenang Alan seraya memandang langit biru yang cerah.
Farel menghela napas panjang.
"Yah, menurut gue, ucapan lu ada benernya ..." ujar Farel yang membuat Alan langsung duduk. Cowok tampan itu menghadapkan tubuhnya ke arah Farel sambil melengkungkan mulutnya ke bawah.
"Farel!" Alan langsung memeluk Farel erat-erat.
"Kak Alan! Aduh ... Lu—" Alan lagi-lagi memeluk Farel dengan keras sampai sulit bernapas.
"Kak Alan, lepas, aduh! Gerah, woy! Gue keringetan!" protes Farel, untungnya Alan langsung melepas pelukannya.
"Sumpah, gue terharu dan senang ... Oh, iya, sekarang, gimana keadaan lu di sekolah? Lu masih dibully sama Thalia?" tanya Alan.
Sontak Farel tertegun.
"Dibully?" ulang Farel sambil menggerakkan kedua bola matanya ke kanan dan ke kiri.
"E-enggak, kok. Thalia udah baik sama gue—"
"Baik?"
"Uhm, maksud gue, yah, dia udah gak ganggu gue kayak dulu," ralat Farel.
Dahi Alan berkerut.
"Gak ganggu? Tapi kata Shei, dia masih suka nyuruh-nyuruh lu ..."
"Ah, itu ..." Farel terdiam, di saat seperti ini otaknya malah tak bisa bekerja.
"Yah, mau gimana pun, lu harus bisa lepas dari dia. Ingat kata Coach—"
"Jangan pernah menundukkan badan karena kamu harus menghadapi dunia dengan membusungkan dada," potong Farel yang mengundang seulas senyum di wajah Alan. Sekali lagi Cowok Tampan itu meninju pelan pundak Farel.
"Camkan itu baik-baik! Jangan lupa, lu harus lepas dari dia tanpa—"
"Rasa bersalah atau pun sesal," lanjut Farel lagi yang mengembangkan senyum Alan.
"Keren lu!" sahut Alan sambil mengacak-acak rambut juniornya.
__ADS_1
Farel hanya melempar senyum pada Alan, tetapi diam-diam tangannya meremas celana pendeknya.
...****************...
Liburan kenaikan kelas sembilan telah berakhir. Kini Farel berjalan ke papan pengumuman utama di lobby sekolah. Di sana tertera daftar nama dan kelas masing-masing murid. Kerumunan murid yang berebut mencari namanya, membuat Farel agak sulit untuk mencari namanya, tetapi tiba-tiba pinggangnya dicolek. Reflek, Farel berbalik dan menemukan seorang gadis cantik sedang tersenyum padanya.
"Thalia?" sahut Farel yang langsung keluar dari kerumunan sambil menarik gadis itu.
"Ada apa Thalia?" tanya Farel yang menunduk. Entah kenapa, semenjak kelas delapan, tinggi badannya naik pesat. Padahal, dulu Thalia setinggi telinganya, tetapi sekarang gadis itu setinggi dagunya.
Thalia melempar senyum lebarnya sambil menarik tangan Farel.
"Farel, kita sekelas!" seru Thalia girang. Farel sontak melotot kemudian memandang wajah Thalia yang memerah.
"Kita sekelas? Aku gak salah denger?" tanya Farel yang langsung dapat anggukan kepala Thalia. Thalia pun menggenggam tangan Farel seraya menatapnya.
"Aku senang, kita sekelas lagi!" girang Thakia sampai loncat-loncat. Farel hanya bisa melioat bibirnya untuk menahan senyum. Thalia yang tersenyum dan loncat-loncat ini jadi lebih mirim seekor kelinci.
"Uhm, kamu gimana? Kamu senang 'kan sekelas sama aku?" tanya Thalia yang membuat Farel tertegun. Cowok Berkacamata itu hanya memandang Thalia sambil terdiam.
'Mau gimana pun, lu harus bisa lepas dari dia.'
Tiba-tiba terngiang ucapan Alan saat hari Minggu kemarin di benaknya. Farel pun menatap Thalia seraya tersenyum.
"Iya, aku senang, kok," jawab Farel. Seketika tercipta senyum yang lebih cerah di wajah Thalia.
"Kalau gitu, nanti kamu jangan duduk jauh-jauh dari aku, oke?" pinta Thalia sambil melebarkan pupilnya.
"Jangan jauh-jauh? Apa kita gak bisa duduk sebangku lagi kayak waktu kelas delapan?" tanya Farel. Thalia tertegun, tahun lalu mereka memang duduk sebangku, tetapi itu karena secara kebetulan Thalia tidak sekelas dengan ketiga sahabatnya. Alhasil, dia meminta Farel duduk sebangku dengannya karena dia tidak mudah akrab dengan yang lain.
"Memangnya, kamu mau duduk sebangku sama aku?" tanya Thalia seraya mengeratkan genggamannya di tangan Farel.
Sontak Farel mengerjapkan matanya. Tunggu, barusan ia bilang, mau duduk sebangku dengan Thalia? Kenapa? Jika ia memggunakan logikanya, ia harus duduk sebangku dengan Thalia agar segala perintah Thalia lebih mudah ia kerjakan. Namun, tidak mungkin ia menjawab begitu. Bola mata Thalia yang berwarna cokelat terang seolah mengharapkan jawaban lain.
"Uhm, i-itu ..." Lagi-lagi ia harus memutar otak untuk memberikan jawaban pada Thalia, tetapi otaknya sekali lagi tidak bisa digunakan!
"Apa Farel?" tuntut Thalia.
"I-itu—"
__ADS_1
"Thalia!" Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Thalia.