
Langkah yang terdengar ramai bak tentara yang sedang berlari lama kelamaan mendekati Farel yang tengah kebingungan dengan apa yang barusan ia terima dari Thalia—Perundung nomor satunya.
"Dia gak berniat ngeracunin gue lagi 'kan?" duga Farel seraya memandang toples coklat berbentuk hati itu.
"Kelihatannya menggiur—" Tiba-tiba ada orang yang menarik tubuhnya dari belakang dan merangkulnya.
"Apaan, tuh? Bagi, dong!" seru seorang laki-laki yang tentu saja Farel kenal. Ini pasti salah satu anak buah Aldo yang tidak pernah mengancingkan kerah dan memakai dasi. Tepat di depannya datang seseorang yang selalu jadi pemberi komando para gerombolan lelaki ini menghabisinya.
"K-kak Aldo ... A-ada apa?" tanya Farel.
'Ya ampun, gue lupa, selain Thalia, ada predator lainnya!' batin Farel.
Aldo hanya tersenyum miring sambil mendekati Farel, tetapi matanya malah terusik dengan toples coklat di tangan adik kelasnya itu. Ia pun langsung mengambil toples coklat itu. Kemudian memperhatikannya dengan seksama.
"Gila, dapet darimana lu? Lu punya cewek sekarang?" ujar Aldo asal.
Dahi Farel mengernyit.
'Punya cewek! Idih, amit-amit!' teriak Farel dalam hati. Jika yang dimaksud Aldo ia pacaran dengan pemberi coklat ini, Ia sangat enggan membayangkan itu.
"Bu-bukan, Kak ... I-itu dari ..." Farel terdiam, haruskah ia bilang itu dari Thalia?
"Halah! Gue gak peduli mau ini dari siapa!" sergah Aldo hingga membuat Farel mematung.
"Yang gue tahu, lu gak pantes dapat beginian!" seru Aldo yang membanting toples itu ke tanah hingga pecah dan isinya berceceran. Kemudian Aldo menginjaknya.
Mata Farel melotot.
'Gila! Kalau dia tau itu dari Thalia, apa yang akan terjadi?' batin Farel, tetapi belum sempat melanjutkan dialog dengan dirinya sendiri, anak buah Aldo langsung menghimpit leher Farel dengan lengan besarnya, membuat lelaki berkacamata itu sulit bernapas. Reflek, Farel berusaha menarik lengan besar kakak kelasnya itu, tetapi ia tak punya cukup kekuatan.
Sementara Aldo yang tengah puas menghacurkan coklat-coklat itu langsung menempelkan keningnya ke kening Farel.
"Gue denger, lu udah bikin cewek gue sedih karena lu mengahncurkan kencan sahabatnya?" bisik Aldo.
Farel sekali lagi membulatkan matanya, ia malah makin bingung? Siapa yang dimaksud Aldo? Jelas-jelas tadi Thalia datang dengan wajah baik-baik saja. Bankan memberikannya hadiah.
"Ta-tapi—" leher Farel malah dicekik makin erat oleh amak buah Aldo membuat, Farel semakin sulit bernapas.
__ADS_1
"Lu pikir gue mau denger alasan lu? Lu pikir gue mau denger omongan lu?" seru Aldo, tetapi Farel tak bisa dengar dengan jelas, kepalanya mulai pusing, seolah suplai udara ke otaknya berkurang.
"Gue gak akan percaya sama kebohongan lu!" sergah Aldo sambil memberikan aba-aba kepada teman-temannya.
"Ayo, kita sikat anak gak tahu diri ini!" perintah Aldo. Farel pun diseret sambil dicekik oleh anak buah Aldo ke tempat yang sudah mereka rencanakan.
***
Sheilla yang sedang asyik membaca komik online, tiba-tiba diganggu oleh pesan dari Alan. Gadis itu memutar bola matanya, tetapi tetap keluar dari web baca komik online dan beralih ke ruang obrolannya dengan sang Pacar Rahasia.
[Farel dimana? Udah datang belum?] Sheilla mendengus kesal membaca pesan dari pacarnya itu.
"Sebenernya pacarnya, tuh aku atau Farel, sih?" gerutu Sheilla, tetapi ia tetap menyisir seisi kelas untuk mencari keberadaan Farel. Jika diingat-ingat, Farel itu terbiasa datang pagi dan menghabiskan waktu di mejanya, kecuali jika diperintah sesuatu oleh Thalia. Namun, hari ini batang hidung Farel bahkan tak terlihat, begitu juga Thalia and the geng. Meskipun begitu, ia bisa lihat kalau tas Farel sudah menggantung di tempat duduknya.
Sheilla pun membalas pesan Alan.
[Dia gak ada di kelas, mungkin ke toilet...]
[Oke. Thanks, Sayang] Alan bahkan menambahkan emot "Love" di akhir pesannya.
Sheilla hanya berdecih.
Di sisi lain, Alan yang sudah punya firasat buruk karena Farel tidak ada di kelas pun langsung pergi ke seluruh toilet di sekolah. Namun ia tidak menemukan sosok adik kelasnya itu, sehingga ia tak sengaja berpapasan dengan Thalia yang sedang jalan sendirian dengan wajah semringah.
"Kak Alan! Pagi!" seru Thalia girang. Ia masih ingat, betapa perhatiannya Alan semalam.
"Pa-pagi ..." ujar Alan agak il-feel.
"Kak Alan mau kemana? Kalau mau ke kelas, ayo bareng! Kelas Kak Alan 'kan ada di atas kelas aku," ajak Thalia girang.
"Uhm, y-yah ... Thalia! Lu lihat Farel, gak?" Alan langsung saja. Jika Farel tidak ada, bisa dipastikan bahwa gadis ini penyebabnya.
"Kak Alan ngapain cari dia? Mau disuruh-suruh, ya?" tukas Thalia.
'Cih, rendah banget pemikirannya,' komentar Alan dalam hati, tetapi lelaki ini tetap menorehkan senyumnya.
"Ya ... Gue mau suruh dia ..."
__ADS_1
"Kalai gitu, harus izin aku dulu! Farel itu cuman mau dengerin aku!"
Rasanya Alan ingin bersumpah serapah mendengar ucapan dan sikap Thalia. Namun ia harus menahan diri dan tetap tersenyum.
"Oh, iya? Kalau begitu, Kakak Alan izin, ya, Sayang ..." Alan mulai menggunakan senjata yang disebut lidah manis.
"Boleh! Apa, sih yang enggak buat Kak Alan!" seru Thalia girang.
'Boleh, gak, gue lenyapkan anak ini sekarang juga?' kesal Alan dalam hati.
"Oke, sekarang jawab, Farel dimana? Gue punya tugas buat dia!" ucap Alan dengan nada kesal, membuat Thalia mengernyitkan dahinya.
Alan buru-buru menorehkan senyumnya.
"Ya, kamu bisa kasih tau Kak Alan, 'kan Thalia Cantik?" tanya Alan lembut.
Senyum Thalia langsung mengembang. Ia pun mengatakan kalau Farel sedang main bersama kucing di taman sekolah. Tanpa menunggu lagi, Alan segera pergi ke sana.
Langkah Alan terhenti begitu ia sampai di taman sekolah dan hanya menemukan coklat berserakan begitu juga dengan toplesnya. Dahinya mengernyit. Tentu ia mengenal bentuk cokelat juga toples itu. Sama persis seperti yang Thalia berikan kemarin.
"Thalia ngasih cokelat ke Farel?" duga Alan. Ia menggeleng.
"Pasti tuh anak mau ngerjain Farel!" duga Alan kemudian menyisir seluruh isi taman sekolah. Namun ia tak menemukan sosok Farel.
Pandangannya pun kembali ke cokelat yang berserakan di tanah.
"Jangan-jangan dia dihajar!" duga Alan lagi. Jika Farel ingin membuangnya, tidak mungkin jatuh berserakan begini.
Alan mengumpat.
"Dia dimana? Ugh!" Alan menggertakkan giginya.
"Gue telat!" sesalnya. Ia tahu, sikapnya pada Thalia kemarin pasti berimbas pada apa yang Farel dapatkan hari ini. Thalia and the geng pasti selalu melampiaskan kegagalan mereka pada Farel tanpa sebab. Sebenarnya itu yang selalu jadi pertanyaan Alan selama memperhatikan gelagat mereka selama ini. Alasan apa yang membuat seseorang melampiaskan kegagalannya pada orang lain tanpa alasan.
Hingga akhirnya Alan sampai di sebuah toilet laki-laki yang tertutup di gedung belakang yang tak terpakai. Biasanya toilet ini tidak pernah ditutup. Alan pun menempelkan telinganya di pintu toilet itu dan berusaha mendengar apa yang ada di dalamnya.
"Aargh!" Sontak mata Alan terbelalak.
__ADS_1
"Sial! Itu suara Farel!" duga Alan.
"Apa yang mereka lakukan di dalam sana?"